
Arion pulang saat jam makan siang. Raut wajahnya sudah lebih baik. Kekesalannya yang ia pendam sudah ia habiskan di sirkuit. Kini seulas senyum ia sunggingkan.
Pak Anton dan Bik Mirna saling tatap kemudian mengendikkan bahu tidak paham dengan suami nona mereka ini. Mereka tidak ambil pusing dengan sikap atau tingkah Arion.
Bik Mirna menyiapkan makan siang untuk Arion di meja makan sedangkan Pak Anton mencuci mobil yang Arion gunakan tadi.
Setelah mandi, Arion mengerjakan salat zuhur terlebih dahulu sebelum turun ke meja makan. Wajahnya kini berseri-seri. Tiba di meja makan, tatapan Arion berubah menjadi datar. Ia kira Karina akan keluar.
Mengapa tidak keluar juga? Apa ia tidak bersiap untuk pesta perusahaan-nya?batin heran Arion.
"Karina ada mengatakan sesuatu?"tanya Arion, menarik kursi lalu duduk.
"Tidak ada, Tuan. Nona belum keluar juga," jawab Bik Mirna.
Arion menghembuskan nafas kasar. Arion berdiri.
"Makan siang untuk Karina mana Bik? Biar saya yang antar sekalian saya makan di sana," ujar Arion.
"Ah tunggu sebentar, Tuan." Bik Mirna bergegas kembali ke dapur, kembali dengan membawa nampan berisi makan siang untuk Karina. Menu yang komplit. Empat sehat lima sempurna.
Dengan sedikit tergesa Arion menuju laboratorium. Seperti tadi pagi panggilan Arion dijawab dengan lengan robot yang meminta makan siang.
"Sayang apa kamu tidak lelah? Sudah hampir tiga hari kamu di dalam. Besok tahun baru. Nanti malam pesta tahun baru, apa kamu tidak menghadiri acaramu sendiri? Sayang jawab aku," tutur AArion duduk di kursi di dekat pintu.
Setelah mengatakan hal itu, Arion makan beberapa suap. Karina tidak juga menjawab.
Jujur Arion sangat ingin mendobrak pintu yang memisahkannya dengan Karina ini. Tapi apa daya, jika dibuka paksa yang ada malah rumah yang akan meledak. Bukannya pelukan rindu, bisa-bisa masuk ICU.
"Sayang," panggil Arion lagi.
Arion menoleh cepat saat mendengar suara pintu terbuka. Matanya melebar dengan senyum merekah. Arion bangkit, menghampiri Karina yang berdiri di ambang pintu dengan wajah lelah tapi bahagia.
"Sayang, akhirnya kamu keluar. Apa sudah selesai?"
Arion memegang kedua pundak Karina, kemudian memeluk Karina. Tak lupa kecupan hangat ia daratkan di kening Karina.
"Ar aku belum mandi dua hari," keluh Karina.
"Kalau begitu ayo mandi," ajak Arion, menggenggam jemari Karina.
Karina mengangguk. Arion tersenyum.
"Tapi sebelum itu bisa perintahkan orangmu untuk mencari seseorang yang menderita kanker otak? Kalau bisa yang sudah merasa putus asa tapi tidak berani bunuh diri. Yang sekarat menunggu ajal, bisa?"pinta Karina menatap dalam Arion.
Arion mengernyit.
"Mencari penderita kanker otak? Untuk apa?"tanya Arion.
Karina sedikit bergeser, menunjukkan lab pribadinya. Jari Karina menunjuk pada salah satu rak kecil yang berisi jajaran tabung uji dan beberapa botol kecil mirip botol vaksin.
"Uji coba. Aku membuat sesuatu yang bisa menyembuhkan kanker. Akan tetapi belum teruji ini aman atau bagaimana. Makanya aku memintamu mencari pasien kanker yang sekarat di mana pasien sudah putus asa sedangkan keluarga juga menyerah dan ikhlas," jelas Karina.
"Obat untuk kanker otak? Apa ini karena Joya?"
Arion ingat bahwa sepupu Karina itu menderita kanker otak. Karina mengangguk.
"Dia adalah satu-satunya keluarga kandungku. Selain itu dia juga istri dari pria yang sudah seperti kakakku. Ketiga ia sedang hamil. Sebenarnya ini adalah hasil penelitian separuh jalan yang kuambil di lab markas juga beberapa sampel dari rumah sakitku. Selama dua hari aku menguji dan mencocokkan mereka, maka ini adalah hasilnya, aku hebat bukan?"jelas Karina dengan nada bangga di akhir.
Arion mendengus senyum. Dengan lembut Arion mengusap rambut panjang Karina.
"Ya kau hebat, sangat hebat. Jenius. Bahkan aku sampai ragu bahwa usiamu adalah 24 tahun. Aku lebih yakin usiamu 200 tahun," jawab Arion, melemparkan candaan.
Karina terkekeh, mencubit gemas pinggang Arion. Arion menyipitkan mata mendapat capitan kepiting.
"Kau kira aku kaum Alchemist? Yang usianya ratusan tahun tapi wajahnya masih belia? Yang tidak akan mati karena penyakit tapi bisa mati karena senjata? Apa kau kira aku minum ramuan awet muda?"ucap Karina dengan nada galak plus mata mendelik.
Arion menelan ludah kasar.
"Ya kau kan tidak pernah sakit karena penyakit. Tapi kau sering terluka karena senjata. Selain itu kau punya banyak talenta. Apa kepalamu tidak pecah menyimpan semua informasi?"
Arion malah menempelkan punggung tangannya di dahi Karina. Karina melirik ke atas.
"Apaan sih? Otak adalah penyimpanan yang paling besar di dunia ini," bantah Karina, tapi tidak menepis tangan Arion.
"Ya baiklah. Aku akan mencari apa yang kau minta. Kalau begitu apa kau sudah menghabiskan makan siangmu? Jika belum …."
Ucapan Arion dipotong oleh Karina.
"Tentu saja belum. Ayo makan bersama."
Karina masuk ke dalam dan kembali dengan membawa nampan. Arion mengambil alih nampan tersebut. Karina tersenyum lebar.
"Terima kasih, Ar," ucap Karina.
__ADS_1
"Sudah kewajibanku, Sayang," sahut Arion.
Mereka berdua menuruni tangga menuju meja makan. Melihat kedatangan Nona dan Tuan mudanya, Bik Mirna langsung mendekat, berdiri di samping Karina.
"Nona, apakah Anda tidak memesan gaun untuk acara nanti malam?"tanya Bik Mirna sopan.
Karina yang sibuk dengan makanannya mengangkat kepala menoleh ke arah Bik Mira dengan mulut masih mengunyah. Matanya mengerjap polos, menyiratkan pertanyaan.
"Memangnya acara apa nanti malam? Sepenting apa hingga aku harus membeli gaun baru?"tanya Karina, membuat Arion tersedak dan Bik Mirna mengerutkan dahi tipis.
"Sayang kamu lupa dengan acaramu sendiri?"tanya Arion tidak percaya.
"Acaraku?"beo Karina.
"Nona nanti malam ada perayaan tahun baru di Tirta Hotel yang mana perusahaan Andalah yang menyelenggarakannya," timpal Bik Mirna.
Karina ber-oh-ria kemudian lanjut makan.
"Gaun di lemariku sudah banyak, tidak usah beli lagi," ucap Karina acuh tidak peduli.
Bik Mirna hanya mengangguk sebagai jawaban.
Karina menatap heran Karina. Istrinya ini antara memang malas atau bagaimana?
*
*
*
Beberapa jam menjelang pesta. Acara dimulai pukul 08.00. Karina bukannya bersiap dengan segala persiapan menghadiri pesta malah berjalan menuruni tangga dengan daster dan rambut diikat asal.
"Sayang?"
Arion yang berada di ruang tamu langsung memanggil Karina saat Karina tiba di bawah. Karina menghentikan langkah, menoleh ke arah Arion.
"Mau kemana?"tanya Arion mendekat.
"Cari angin," jawab Karina.
"Tapi kamu baru istirahat. Nanti malam juga acara panjang. Lebih baik kamu kembali istirahat, ya," pinta Arion.
Karina menggeleng.
"Aku mau makan angin," tegas Karina meninggalkan Arion.
Arion mengejar Karina. Ternyata Karina menuju garasi bawah tanah. Arion sedikit gugup ketika Karina mengedarkan pandangan.
"Hm seperti ada yang berbeda," gumam Karina, melangkah melewati jajaran roda empat.
"Ferrari ini? Seperti baru digunakan."
Karina menghentikan langkah di samping ferrari yang Arion gunakan tadi.
"Benarkah?"tanya Arion mengurangi rasa gugup.
"Ini baru dicuci," jawab Karina.
"Dan hanya mobil yang baru digunakan yang dicuci. Ar kamu gunakan ini kemana?"
Karina menatap tajam Arion yang terkesiap.
"Em … itu … tadi aku."
Dengarlah suara terbatanya. Arion mundur saat Karina mendekatinya.
"Kamu balapan?"
Tepat! Langsung melesat di tujuan.
"Em … iya. Aku balapan tadi."
Mata Karina langsung menyalang marah. Menyadari dalam kondisi terancam, Arion langsung menyilangkan kedua tangan di dada.
"Aku nggak balapan liar. Lagian mana ada balapan liar di siang bolong begini!"
Arion membela dirinya, menjelaskan agar selamat dari amukan Karina.
"Oh aku tahu, kau balapan di sirkuit bukan? Kau menang?"
Mata Karina berubah berbinar, memegang kedua tangan Arion lembut, bersemangat.
Arion mengerjap.
__ADS_1
"Kau menang kan? Apa hadiahnya?"
Ya wanita tetaplah wanita. Bersemangat jika sudah membahas hadiah, terlebih yang gratis.
"Ya aku menang dan itu …."
Arion menunjuk dua mobil yang diletakan berdampingan. Satu lamborghini berwarna biru dan satu lagi maserati berwarna putih.
"Wah hebat Ar! Tapi kau melawan berapa orang?"seru Karina.
"Hanya dua, yang satu pergi keluar negeri bersama keluarganya," jawab Arion.
Karina mengangguk dengan mata tertuju pada lamborghini biru itu.
"Kunci."
Pak Anton yang memang langsung ke garasi begitu mendengar pintu dibuka langsung memberikan kunci yang Karina minta.
"Test drive, bolehkan?"
"Aku temani."
Karina menyamankan posisi duduknya. Arion memasang sabuk pengaman ketika Karina menyalakan mesin.
Jalan garasi terbuka lebar, Karina menekan pedal gas untuk keluar dari garasi.
Kini mobil sport merk ternama itu menderu bebas di jalanan. Karina tersenyum lebar. Arion ikut tersenyum, dengan lembut Arion membelai rambut Karina.
"Kau senang?"tanya Arion.
Karina mengangguk.
"Oh iya aku sudah menemukan apa yang kau minta, kapan kau ingin menemuinya?"ujar Arion serius.
Karina memperlambat laju mobil, menoleh sekilas ke arah Arion dengan tatapan tidak percaya.
"Secepat itu?"
"Ayolah aku sudah lebih hebat dari sebelumnya. Ku rasa sebentar lagi aku akan menyaingimu," jawab merak Arion.
Karina mendengus senyum.
"Akan aku temui setelah tahun baru. Uji coba harus segera dilakukan agar Joya bisa sembuh," ucap Karina.
Arion mendengarkan dengan serius.
"Tapi sebelum itu aku khawatir mengenai satu hal," lanjut Karina.
Arion mengernyit tipis.
"Apa itu?"
Karina menghela nafas pelan.
"Kau tahu bukan bahwa penderita kanker itu punya tubuh yang rentan dan sangat berbahaya jika melakukan operasi. Dan Joya hamil, kelahiran anaknya tinggal menghitung hari."
Arion mengangguk dan seketika paham maksud Karina.
"Artinya kita harus bertindak cepat untuk mengurangi resiko Joya, benarkan?"
"Ya. Setidaknya kita bisa mengurangi resiko kematiannya," setuju Karina.
Karina kembali menekan pedal gas, menyalip kendaraan yang ia anggap lamban.
"Sayang ayo kita kembali saja. Suasana hatimu kembali berubah," seru Arion.
Karina tidak menggubris. Ia malah mengemudikan mobil menuju jalan bebas hambatan.
Arion mengelus dada. Memang tidak terasa jika mobil ini sedang melaju dengan kecepatan 200km/jam.
Tapi tetap saja, Karina tengah hamil tua. Arion jadi ingat saat Karina masih hamil muda, kejadian yang sama.
Inilah salah satu cara Karina melepaskan beban di dalam hati. Wajah Karina berubah suram, hanya beberapa detik saja. Karina kembali mengubah raut wajah menjadi ceria.
Pesta tahun baru?
Arion menghembuskan nafas lega saat kembali ke rumah.
"Aku akan gunakan meraseti tadi ke sana," ucap Karina seraya melemparkan kunci mobil pada Pak Anton.
"Baik, Nona," jawab Pak Anton, segera mempersiapkan mobil dengan baik.
"Kita pergi bareng?"tanya Arion.
__ADS_1
"Hm, tapi beda mobil," sahut Karina.
"Ya aku tahu," balas Arion.