Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 137


__ADS_3

"Kakak, kapan dia akan bangun?" tanya Siska menatap Ferry dengan alat kesehatan yang mendukung di tubuhnya.


"Dia akan bangun jika sudah saatnya, temani dia, beri dia dorongan. Bimbing dia ke arahmu," ujar Karina.


Siska mengangguk dan segera duduk di samping Ferry lagi. Siska menggenggam lembut tangan kanan Ferry. Siska mulai berceloteh tentang kisah mereka berdua.


"Ayo keluar, biarkan mereka berdua," ajak Karina melangkahkan kakinya keluar.


"Ah kakak, kami tak akan baper karena itu. Lagipula jika baper, di samping kami ada yang siap untuk dibaperin. Kurang di sini lanjut di rumah," celetuk Sam yang dihadiahi mata melotot Lila.


"Kau ini!" kesal Lila mencubit pinggang Sam.


"Kan benar, ya kan Kak?" keluh Sam mengusap bekas capitan Lila.


"Hm," gumam Karina singkat menoleh sekilas ke arah Sam dan Lila. Sam tersenyum penuh kemenangan. 


"Kakak!" keluh Lila yang dihadiahi kekehan Raina dan Calvin.


Karina acuh. Langkahnya terhenti kala membuka pintu ruangan Arion dan masuk ke dalam. Sedangkan Sam, Lila, Calvin dan Raina masih di luar.


"Sudahlah, jika mau bertengkar, bertengkar saja di rumah. Pakai alunan lagu biar tambah seru dan romantis," ucap Raina.


"Heh? Kau saja yang coba, aku tak mau. Biar suara laknat kalian tak terdengar oleh kami," balas Lila.


Ck. Gara-gara kamar yang berkedap suara kedengaran deh suara nyanyian kami, dasar resort gaje. Katanya privasi kok malah saling bersahutan, kesal Calvin dalam hati.


"Benar, kami sudah ada alunan yang lebih indah dari itu," tambah Sam merangkul Lila mesra.


"Hei salahkan resort sialan itu," kesal Calvin.


"Hmph!" Semua mendengus kesal. 


Ceklek.


"Jika mau ribut, ribut saja di luar atau di gladiator. Biar lebih seru. Jangan di sini. Mengganggu. Lebih baik kalian pulang ke rumah masing-masing. Suara laknat kok dibanggakan," ucap Karina dingin.


Sam, Lila, Calvin dan Raina tersenyum dan mengangguk canggung. Layaknya bawahan yang sudah kena marah habis-habisan, mereka menunduk, Karina menyamping. Keempat orang itu masuk dengan tangan yang dijulurkan ke bawah badan setengah membungkuk.


Karina menyilangkan kedua tangannya di dada, melihat Sam, Lila, Calvin dan Raina berpamitan pada Amri dan Maria.


"Kami pulang kak, Assalamualaikum," ujar Calvin kala sudah berada di depan Karina.


"Oke, Waalaikumsalam," sahut Karina.


Ke empat orang itu langsung keluar, menuju parkiran di mana mobil mereka berada. Naik, jalan dan pulang ke rumah masing-masing. (Awas salah rumah, Karina).


"Sayang, kamu kamu tidur dulu gih, kamu dan anakmu pasti lelah. Biar Mama sama Papa yang jagain Arion," ujar Maria saat Karina mendudukan dirinya di sofa.


"Baik," jawab Karina berdiri kembali.


"Kamu pulang ke rumah?" tanya Amri.


"Gak Pa," jawab Karina. Karina berjalan menuju dinding biru muda yang di depannya kosong. Ada tombol kecil di dinding itu. Karina menekannya.


Terdengar suara klik, krek dari dalam. Ada sebuah garis persegi panjang tergambar di dinding.

__ADS_1


Tak lama dinding yang tergambar itu bergerak dan berputar lalu turun perlahan, berubah menjadi sebuah ranjang. 


Amri dan Maria saling tatap. Takjub, ternyata ada rahasia yang mereka bahkan orang lain ketahui tentang ini. 


"Bukankah tertulis jelas di bagian tambahan, pengguna ruang VVIP mendapat ranjang untuk tidur menemani pasien yang di tunggunya," ujar Karina menaik turunkan alisnya.


"Kami lupa tak membacanya. Mana sempat lagi, saat panik membaca informasi. Perhatian dan pikiran fokus pada pasien," jawab Amri menutupi rasa gengsinya.


"Lagian, kalau tidak salah ingat tulisannya super kecil, hilang ditelan tulisan yang normal," tambah Maria.


Karina hanya tertawa. Merapikan ranjang untuk ia tiduri. 


"Pasien dan penunggu harus nyaman dong," ujar Karina. Kini ia sudah duduk di ranjang. Karina diam menatap Amri dan Maria. Wajah mereka tampak lelah. Karina menghembuskan nafas pelan. Mengambil handphonenya dan membuka cassing yang membungkus bagian utama handphone.


Karina mengambil sebuah kartu tipis, kemudian berjalan mendekati Amri dan Maria.


"Papa sama Mama istirahat saja di penthouse lantai paling atas, ini kunci masuknya," ujar Karina meletakkan kartu berwarna biru itu di atas meja.


Amri dan Maria sudah sudah ngantuk berat membuka mata mereka dengan lebar. Mengerjap melihat kartu tersebut.


"Tidak usah Karina, kami tidur di sofa saja, atau kamu saja yang tidur di sana," tolak Amri. Karina tersenyum dan menggeleng.


"Papa sama Mama saja, Karina biar di sini. Tidur di sofa gak baik untuk Mama sama Papa," tegas Karina. Mendengar itu kedua orang itu hanya bisa menurut. Mengambil kartu biru itu dan segera berdiri.


"Kamu yakin, Sayang?" tanya Maria ragu.


"Iya Ma, sudah sana tidur yang nyenyak di atas, awas salah lift. Liftnya yang sebelah kanan, jangan kiri," jelas Karina memperingati. Keduanya kembali mengangguk. Mereka segera keluar dari ruangan Arion menuju penthouse rumah sakit.


Karina mendekati ranjang Arion dan mengecup dahinya singkat sebelum kembali ke ranjangnya untuk tidur.


***


Aktivitas terlihat ramai di Tirta Hospital. Para suster dan dokter silih berganti memeriksa keadaan pasien yang mereka tangani, sesuai jadwal mereka masing-masing. 


Tak terkecuali Karina, dengan handuk kecil berwarna putih yang basah akibat dicelupkan ke air hangat, Karina dengan telaten membersihkan tangan, wajah serta telapak kaki Arion.


Setiap gerakannya dan usapan Karina berdoa agar Arion cepat sadar. 


"Cepatlah bangun, kau ini tak sadarkan diri atau koma? Jika kau tak bangun dalam hitungan tiga, aku akan mencekikmu sekalian," ujar Karina dengan nada ancaman. Tak benar, hanya main-main melampiaskan kesedihannya karena Arion tak kunjung sadar.


"Satu." Karina mulai berhitung. Tak ada gerakan dari Arion.


"Dua," lanjut Karina. Masih sama. Tak ada sedikit gerakan pun.


"Tiga." Hitungan ketiga, belum ada gerakan. Karina tersenyum kecut. 


Mungkin aku harus bertindak, batin Karina.


Karina mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya ke leher Arion. Baru saja menempel dan memberi sedikit tekanan, kelopak mata Arion bergerak pelan. Perlahan mata Arion membuka. Kini mata yang baru saja bangun itu menatap langit-langit kamar.


Karina refleks menarik tangannya.


"Syukurlah kamu sudah sadar. Kamu membuatku takut," ujar Karina memeluk Arion.


"Karina? Kamu Karina kan? Ahh… sakit," tanya Arion. Meringis kala tanpa sengaja Karina menyentuh tulang rusuk yang patah.

__ADS_1


Karina langsung melepaskan pelukannya dan menatap khwatir Arion.


"Aku lupa," ringis Karina menyesal.


"Tak apa, oh ya, apa masih malam ya? Sayang bisa kamu hidupkan lampunya, gelap aku gak bisa lihat apa-apa," ujar Arion yang membuat Karina membeku. 


Tak aneh Arion mengatakan itu, sebab mereka punya kebiasaan mematikan lampu kala sudah tidur. Mereka biasa tidur dalam kegelapan. Tapi masalahnya ini sudah pagi. 


Jangan katakan suamiku buta, batin Karina.


"Sayang kamu kok diam? Kamu sudah menghidupkan lampunya?" Suara Arion menyadarkan Karina.


"Tapi Ar, ini sudah pagi, lampunya masih hidup, terang-benderang lagi," jawab Karina pelan. Arion diam. Mengerjapkan matanya berulang kali. 


"Pagi? Terang? Tapi aku gak bisa melihat apa-apa. Semua gelap, kamu di mana?"ujar Arion jujur. Semua gelap, tak ada yang terlihat. 


Karina memegang tangan kiri Arion dan mengarahkannya ke wajahnya. Arion mengusap lembut pipi Karina.


"Hm, kemarin dokter bilang mata kamu kemasukan serpihan kaca. Untuk kondisi mata kamu setelah pengambilan serpihan itu dipastikan setelah kamu sadar, kamu yang sabar ya, aku akan selalu setia dan berada di samping kamu, sampai kamu sembuh," jelas Karina. Tanpa sadar air matanya kembali jatuh. Hm, sejak hamil Karina sering menangis.


"Aku buta?" tanya Arion dengan suara tercekat. Air matanya ikut turun. Dadanya sesak, sedih dengan keadaannya. Tapi, Arion gak boleh lemah. Ia harus semangat. Demi Karina, anaknya, dia sendiri dan semua orang terdekatnya.


"Jangan menangis," ujar Arion, tangannya meraba, mengusap air mata Karina.


"Kamu juga," balas Karina menghapus air mata Arion.


"Kita jalani sama-sama," tambah Karina.


Arion mengangguk. 


Ceklek. Pintu terbuka. Amri dan Maria masuk dengan kantongan plastik berwarna putih. Karina menoleh dan tersenyum. 


Mereka tersenyum lebar dan bernafas lega ketika melihat Arion sudah sadar. Maria meletakkan kantongan yang ia pegang di meja dan menghampiri ranjang Arion.


"Syukurlah kamu sudah sadar, Ar," ucap Amri lega.


"Iya Nak, Mama hampir jantungan mendengar kamu kecelakaan," ujar Maria mengusap lembut rambut Arion. Arion menggerakkan kepalanya pelan. Menebak di sisi mana posisi Amri dan Maria.


"Sayang, Mama sama Papa di sebelah mana?" tanya Arion tak mau capek.


"Di kanan kamu," jawab Karina dengan wajah sendu. Amri dan Maria bertatapan bingung. Jelas di kiri, sudah tahu kok nanyak. Kayak orang tak bisa melihat saja, pikir Amri dan Maria, mengusir pikiran buruk yang datang. 


Karina melepaskan tangan Arion. Arion mengarahkan tangan kiri meraba mencoba menyentuh tangan kedua orang tuanya.


Mata Karina mengkode Amri dan Maria agar menyambut rabaan tangan Arion. Kedua menurut walaupun hati mereka bingung.


"Pa? Ini tangan Papa kan?" tanya Arion menoleh ke kanan.


"Iya Ar," jawab Amri.


"Arion ada gangguan pada penglihatannya Pa, kita pastikan saat dokter datang. Lima menit lagi," ujar Karina melihat jam tangannya. 


Maria menatap sedih Arion, Amri langsung merangkul Maria. Bulir air mata turun juga. 


Amri mengeratkan pegangannya kepada Arion. Arion tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Berbeda di luar dan di dalam. Di dalam, Arion pastinya sangat sedih. Membuat istri dan orang tuanya khawatir dan sedih.

__ADS_1


Sekarang mau tidak mau, Arion akan bergantung pada mereka. Arion ingin mengumpat kesal. Tetapi apalah arti dari mengumpat. Tak ada gunanya. Lebih baik jernihkan pikiran dan cari jalan keluar untuk masalahnya. 


"Tidak usah bersedih. Arion gak papa kok. Pasti ada jalan keluar. Kita diuji karena kita mampu. Dan Arion pasti bisa melalui semuanya, apalagi ada pendukung yang setia mendukung Arion," ujar Arion menenangkan keduanya. Karina tersenyum tipis. Tak lama dokter datang, sesuai perkiraan Karina.


__ADS_2