Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 205


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 20.30. Karina dan Arion telah tiba di rumah mereka. Sedangkan Amri, Maria, dan Alia langsung pulang ke rumah Wijaya.


Bayu dan Enji juga langsung pulang menuju apartemen setelah berpisah di bandara.


Setibanya di rumah, Karina dan Arion langsung mandi dan menjalankan sholat Isya berjama'ah. 


Selepas itu mereka melangkahkan kaki keluar kamar menuju ruang makan. Di sana Bik Mirna baru saja selesai menyajikan sajian terakhir di atas meja.


"Silahkan Tuan, Nyonya," ujar Bik Mirna seraya tersenyum. 


Karina dan Arion kompak mengangguk dan segera menikmati makan malam mereka. Yang pasti suap-suapan tak ketinggalan.


*


*


*


"Yang besok konsultasi ya," ujar Arion saat mereka sudah berada di kamar.


Bersiap untuk tidur. Karina yang bersandar pada bahu Arion mengangguk.


"Nggak sabar banget kamu," cetus Karina, menatap Arion.


Arion nyengir seraya mengusap rambut panjang Karina.


"Wajar kan?" tanya Arion, menurunkan tangannya dan menyikap baju tidur Karina.


"Mau ngapain?"


Karina menahan tangan Arion yang merangsak naik melewati bagian perut. 


"Pemanasan, Yang," ucap Arion, meneruskan tangannya.


"Kalau gitu, pemanasan saja untuk yang pertama dan terakhir. Besok kalau jawabannya iya, nggak usah ke intinya," ucap Karina, menarik tangan Arion dari dalam bajunya dan menghempaskannya ke belakang.


"Ya jangan gitu dong. Tangan aku keterusan. Tadi mau usap twins. Malah kebablasan ke atas," bujuk Arion, merasa dalam zona bahaya.


Pemanasan tanpa inti, apa artinya, nanggung.


"Alasan," ketus Karina.


Membalikkan tubuhnya membelakangi Arion dan mulai tidur.


"Yang," panggil Arion menepuk pelan pundak Karina dan memberikan sedikit guncangan.


"Ya ngambek deh. Karina jangan ngambek dong. Aku minta maaf ya," pinta Arion.


Karina diam tak bergeming. Arion menghela nafas. Tiba-tiba pikiran aneh menghampiri dirinya.


Dengan tersenyum, Arion membalikkan tubuh Karina dari yang semula membelakanginya menjadi menghadapnya.


Karina membuka matanya kesal namun dijawab dengan bibir Arion yang menempel padanya.


Arion langsung mencium dan mel*mat bibir Karina. Karina berontak dan mencoba melepaskan diri. 


Arion tak memberi cela malah memeluk Karina erat namun tak membuat perut Karina sesak. Akhirnya mau tak mau Karina ikut membalas ciuman Arion. Bahkan lebih serius dari yang Arion lakukan pada awalnya. 


Arion tertegun dan memilih memejamkan mata mengimbangi ciuman Karina. Setelah merasa puas dan cukup, mereka mengakhiri sesi ciuman.


Karina memberikan tatapan kesalnya sedangkan Arion tersenyum, lebih tepatnya menyeringai.


"Besok akan lebih dari ini," ucap Arion.


"Yakin sekali dirimu dibolehkan. Jika iya pun, aku tak akan memberikan diriku padamu. Dasar mesum!" ketus Karina.


Dan memilih melanjutkan tidur.


"Aku punya hak atas dirimu dan bisa menyentuhmu. Kita adalah satu. Kau adalah aku dan aku adalah dirimu," ujar Arion, mengecup pipi Karina.


Lalu turun mengecup perut Karina dan berbicara sejenak dengan twins yang masih di dalam kandungan.


"Eh? Tadi mereka merespons?" gumam Arion, merasa gerakannya usapan tangannya direspon kedua anaknya.


Arion melakukannya lagi dan menunggu dan benar. Gerakannya direspon kembali. Dengan wajah berseri-seri Arion memekik senang dan membuat Karina membuka matanya marah dan memberikan jeweran pada telinga Arion.


"Aduh, sakit. Kamu KDRT lagi," ucap Arion mengaduh dan kesal.


Karina diam tak menjawab dan malah menambah kekuatan pada jewerannya. Telinga Arion panas dan sakit bersamaan. Arion menjelaskan apa yang membuatnya memekik senang.


"Benarkah? Mereka merespon lagi?" tanya Karina berbinar, seketika melepaskan jewerannya.


"Ck untung nggak putus telinga ini," ketus Arion.


"Beneran Ar?" tanya Karina mengguncang tubuh Arion.


Arion menatap Karina rumit, dan ada ide jahil lagi padanya.


"Mau tahu apa mau tahu banget?" tanya Arion menaik turunkan alisnya.


Karina lantas mengubah tatapan ingin tahunya menjadi tatapan dingin.

__ADS_1


"Sudah nggak perlu," jawab ketus Karina.


Melipat tangannya kesal. Arion lantas tertawa dan memegang kedua tangan Karina.


"Iya, mereka meresponnya. Ternyata mereka adil walaupun terlambat. Semoga mereka nanti akan tumbuh dan berkembang lebih dari kita sebab merupakan gabungan dari wanita cerdas, kuat, dan pria tampan dan jenius sepertinya, dan mereka menuruni sifat-sifat kita. Dingin, boleh jugalah," ucap Arion, menenangkan Karina yang sudah badmood. 


"Pengetahuan dan kecerdasan adalah senjata yang paling ampuh. Aku akan mendidik mereka dengan caraku. Kau juga boleh menambahnya," sambung Karina.


Dengan nada dinginnya.


"Tentu saja! Mereka adalah tanggung jawabku dan kamu juga," timpal Arion.


"Sudah yuk tidur," ajak Arion.


Karina menurut dan tetap mempertahankan wajah datarnya. Arion menghela nafas kasar dan ikut memejamkan matanya.


*


*


*


"Ayah ... kau menonton itu lagi?" tanya Bayu, masuk ke dalam Enji yang tidak dikunci.


Enji terperajat kaget dan segera menutup laptopnya. Ia menatap Bayu dengan senyum kaku.


Bayu mendengus dan melangkahkan kakinya menuju ranjang. Menarik selimut dan memejamkan matanya.


"Kau tak marah, Nak?" tanya Enji.


Mematikan laptopnya dan mendekati Bayu.


"Kau sudah dewasa. Cepatlah cari istri biar kau tak menambah dosa melihat film itu," jawab Bayu, kesal pada Ayahnya.


"Kalau begitu kau mau ibu seperti apa?" tanya Enji, mengusap rambut Bayu.


Bayu membuka matanya dan berpikir sejenak.


"Mungkin seperti Ibu. Ayah kau bisa menjadi istri seperti Ibu," jawab Bayu.


Walaupun ia tak pernah tahu dan melihat ibunya sejak ia dilahirnya. Tetapi cerita Enji membuatnya paham sifat ibunya.


"Oh ya. Jangan habiskan sabun. Besok aku sekolah. Itu sabun tinggal satu-satunya!" ucap tegas memperingatkan Enji.


Enji termenung. Bayu melanjutkan tidurnya. Enji lantas mengedarkan pandangannya dan tatapannya tertuju pada frame foto yang tergantung di dinding kamar. 


"Adakah wanita lain yang seperti dirimu? Andaikan saja inkarnasi itu ada aku berharap kau berinkranasi dan datang kembali ke hidupku, Sayang. Aku ingin engkau datang dan menemani diriku dan bersama-sama membesarkan putra kita. Di mana aku bisa menemukan wanita sepertimu di dunia yang luas ini?" gumam Enji, meneteskan air mata mengingat kekasih yang sudah lama pergi ke sisi sang pencipta.


*


*


*


"Pa, Alia lapar nih. Papa gendong dulu. Mama mau buat susu untuk Alia," ujar Maria seraya memberikan Alia yang menangis dalam gendongan Amri.


Amri mengangguk dan menimang Alia. Maria langsung menuju dapur dan membuka rak penyimpanan. Namun, setelah semua diperiksa tak ada satupun susu formula untuk anak bayi. Yang ada hanya susu full cream dan susu kaleng untuk dia, sang suami, dan asisten rumah tangga mereka konsumsi.


"Oalah, lupa. Kan belum dibeli. Malah susu yang kemarin habis di pesawat.  Suruh Papa beli saja," gumam Maria menepuk dahinya.


Maria lantas segera kembali ke kamar dan


menyuruh Amri untuk membeli susu formula untuk Alia di apotik atau minimarket depan kompleks perumahan.


Amri dengan segera menuju garasi dan memilih menaiki motor kepunyaan penjaga gerbang setelah meminjamnya. Tak sampai dua puluh menit, Amri kembali dengan susu formula dan beberapa barang lainnya yang ia beli.


"Alia Bramawijaya, ckckck, adik serasa cucu," gumam Amri.


Maria yang sudah menunggu tak sabar di ruang tengah sembari menenangkan Alia.


"Ini Ma. Cepat buat. Kasihan Alia," ujar Amri, memberikan bungkusan belanjaannya.


Maria mengangguk. Amri mengendong Alia seraya tetap berusaha menenangkannya.


Tak sampai lima menit, Maria kembali dengan dot berisi susu dan langsung memberikannya pada Alia. Setelah itu barulah Alia berhenti menangis dan minum dengan tenang. Amri dan Maria menghela nafas lega.


Tetapi setelah itu, Maria menatap selidik Amri. Mendapat sinyal bahaya, Amri menatap balik Maria dan tersenyum.


"Buat apa beli itu satu lusin? Untuk siapa?" tanya selidik Maria.


Amri nyengir dan menggaruk kepalanya. Maria mendengus dan melangkahkan kakinya kembali ke kamar.


"Apa salah beli itu? Daripada kebablasan dan ada kemungkinan jadi," pikir Amri, menyusul Maria.


*


*


*


Pagi harinya, Karina dan Arion telah berada di meja makan. Sarapan pagi sebelum memulai aktivitas keseharian mereka.

__ADS_1


Seusai itu mereka langsung menuju mobil masing-masing yang di sisinya sudah ada sopir mereka. 


"Hati-hati di jalan. Sepulang kerja kita konsultasi," ucap Arion, mengingatkan.


"Hm, kalau aku nggak lembur," jawab Karina, santai dan mendapat pendelikan mata Arion.


"Kalau aku lembur, suruh saja Mira ke kantorku, simple kan?" tambah Karina menaikkan bahunya santai. 


"Ya benar," jawab Arion.


Mengecup kening Karina lalu mengucapkan salam.


Setelah dijawab, Arion masuk ke dalam mobilnya dan disusul oleh Karina. Kedua mobil itu segera meninggalkan kediaman Karina menuju perusahaan masing-masing.


*


*


*


Sebelum berangkat ke kantor, Calvin dan Raina bekerja sama membuat jadah goreng. Calvin mengusap keringatnya akibat lelah menumbuk, menyatukan kelapa dan ketan putih telah dikukus sampai matang. 


"Vin, kalau rasa jadahnya nanti keringat kamu, kamu harus habiskan sendirian ya?" celetuk Raina yang mengamati jatuhnya keringat Calvin.


"Rasa keringat aku juga lezat Ra. kamu saja sering nyicip. Masa' sekarang nggak mau sih?" heran Calvin.


"Ya aneh saja gitu," ujar Raina.


"Hm, yang aneh itu terkadang enak," ucap Calvin.


"Nah, sudah tercampur rata ini. Mana loyangnya?" tanya Calvin yang merasa tumbukannya sudah merata.


Raina memberikan loyang berbentuk bujur sangkar itu. Calvin segera memindahkan jadah dari lumpang ke loyang lalu meratakannya. 


"Lengket," ujar Calvin.


Raina sudah sedia dengan tapai ketan yang ia beli kemarin. Calvin mengambil pisau dan memotong jadah sesuai selera.


Raina langsung mencomot satu potong dan memakannya bersama dengan tapai ketan. Perpaduan asam, manis, gurih, lumer, menyatu sempurna di mulut Raina.


"Jadi digoreng?" tanya Calvin yang melihat Raina menikmati makanannya.


Raina mengangguk cepat. Calvin menyuruh pelayan dapur untuk menggorengnya. Calvin lalu langsung ke kamar, mandi dan bersiap ke kantor. Raina menunggu tak sabar hasil gorengan jadah gorengnya.


"Sudah jadi, Ra?" tanya Santi yang baru turun dari kamar.


Diikuti oleh Angga yang langsung disuguhi kopi sebagai minuman pembuka pagi.


"Bentar lagi Ma, belum merata kata Bibi," jawab Raina tersenyum.


"Sisakan untuk Papa ya Ra. Sudah lama sekali Papa yang menikmati panganan itu," ucap Angga.


Yang disahut "ya" oleh Raina. Setelah semuanya matang bersamaan dengan turunnya Calvin dari kamar yang lengkap dengan setelan kerja dan tas kerjanya. Raina melihat jam tangannya. 


Ia lantas ingat bahwa hari ini Karina sudah masuk kantor. Dengan segera ia mengambil dua kotak bekal dan membawa jadah goreng memenuhi tempat dan langsung menarik tangan Calvin untuk berangkat ke kantor.


Calvin terheran saat Raina meletakkan satu kotak di dashboard mobilnya dan menyuruhnya cepat-cepat mengantar ke perusahaan KS Tirta Grub.


"Tuh anak kenapa?" tanya Angga yang baru sadar dari keheranannya.


"Palingan takut telat Pa. Lihat sudah jam 08.00 kurang 20 menit," ucap Santi, menyajikan jadah goreng untuknya dan sang suami. 


"Mungkin," jawab Angga.


*


*


*


Cuplikan novel Hati yang terpilih


Langkah kaki tergesa bergerak melaju menyusuri trotoar jalan ibu kota. Seorang pria muda, dengan kacamata yang berada di atas pangkal hidung, menenteng dua keranjang berukuran sedang berisi kue-kue yang ia buat sendiri.


Di punggungnya tergendong manis tas punggung berwarna hitam. Ya, dia Alamsyah Mahasiswa beasiswa jurusan ekonomi di universitas ternama di Jakarta.


Satu hal dari Al, nama panggilan akrabnya adalah walaupun dia memakai kacamata bukan berarti dia culun. Matanya memang minus, so harus memakai kacamata, jika tidak kan Al sendiri yang repot. Di balik kemeja hitamnya juga terdapat sesuatu yang menggoda hawa.


Jarak antara tempat tinggalnya yang berada di salah satu rumah susun dan kampus terbilang cukup dekat. Dapat ia tempuh dengan berjalan kaki kurang lebih selama setengah jam. Ya, begitulah, untuk menghemat biaya sekaligus berolahraga.


Pukul 07.30 WIB, Alantas tiba di gerbang kampus tempatnya menuntut ilmu. Menghela nafas setelah perjalanan.


"Hai, Al. Tumben kamu lama?" Suara ringan nan lembut itu menyapa pendengaran Al.


Al menoleh, mencari sumber suara. Senyummya merekah, berjalan menghampiri sumber suara.


"Iya Mel. Aku begadang tadi malam, terus harus buat kue lagi," sahut Al. Al meletakkan kedua keranjang kuenya atas bangku keramik di sampingnya.


"Ih … Al kan aku sudah bilang jangan panggil aku Melati. Nama aku kan Jasmine," ucap Jasmine mengerucutkan bibirnya ke depan.


 Al melepaskan kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kemeja, membersihkan debu yang menempel di lensa kacamatanya. Terlihat ada lingkaran hitam di bawah matanya.

__ADS_1


__ADS_2