Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 350


__ADS_3

Karina melangkahkan kakinya lebar menyusuri koridor markas. Wajahnya tampak sangat bahagia. Di belakang, Arion menyusul dengan langkah normal karena menggendong Bintang dan Biru.


Kini Karina menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan. Ruang rawat Enji selama koma. Di sana juga sudah menunggu Li, Elina, Mira, dan Gerry. Mira yang kehamilannya sudah menginjak delapan bulan lebih, sudah mengajukan cuti kerja dan disetujui.


"Enji masih diperiksa oleh dokter. Sebentar lagi juga selesai," ujar Li, menatap Karina yang tengah mengatur nafas.


"Aku sangat bahagia," ucap Karina, tersenyum.


"Kami juga Karina," timpal Gerry yang diangguki Elina dan Mira.


"Ah mana Ali?"tanya Karina yang tidak mendapati Li atau Elina menggeleng anak mereka.


"Ali tidur," jawab Elina.


"Bagaimana keadaan Enji?"tanya Arion yang baru sampai, menurunkan Bintang dan Biru.


"Masih diperiksa," jawab Karina. 


Selagi menunggu dokter selesai, Keempat bawahan Karina itu bercengkrama dengan Bintang dan Biru. Karina menatap pintu dengan tatapan tak sabar. Arion memegang pundak Karina, memberikan semangat.


"Setelah sembilan bulan akhirnya Enji sadar. Beban di hatiku sedikit terangkat. Hanya saja …."


Karina tidak meneruskan ucapannya.


"Mengenai itu kita lihat dulu kondisi Enji setelah sadar. Biar bagaimanapun itu urusannya, kita tidak boleh ikut campur," ujar Arion.


"Hm."


Karina mengangguk. 


"Biru di antara kami berdua, siapa yang paling kau sukai?"tanya Li menunjuk dirinya dan Gerry. 


Karina dan Arion menoleh ke arah mereka, menanti jawaban Biru. Bintang sendiri sudah ditanya dan memilih keduanya. Jika bisa dua mengapa harus satu? 


Biru menatap keduanya. Melangkah kecil memegang lengan Li. Li mengembangkan senyum, menatap Gerry sembari mengedipkan mata.


"Heh?"


Gerry terkekeh saat tangan Biru berganti memegang lengan Gerry. Li menunjukkan wajah masam.


Tapi wajah masam itu berganti menjadi senang saat satu tangan Biru memegang lengannya dan satu tangan lagi memegang lengan Gerry.


"Pendirian Bintang dan Biru memang sangat kuat. Dia menyayangi kalian berdua. Kedudukan kalian sama di hatinya," ujar Elina. 


"Sifatnya menurun darimu, Karina," ujar Mira.


"Pilih kasih hanya menyebabkan pertentangan," sahut Karina.


*


*


*


Pemeriksaan dokter sudah selesai. Karina dan Arion masuk ke dalam ruang rawat Enji. Bintang dan Biru sementara dijaga oleh Elina dan Mira. 


Di ranjang, Karina dan Arion mendapati Enji yang sudah sadar dan kini duduk bersandar pada kepala ranjang, menatap keduanya dengan perasaan senang. 


"Kakak," panggil Enji.


"Syukurlah kau sudah sadar, Zi," ucap lega Karina.


Keduanya berpelukan, bergantian dengan Arion. 


"Kakak mengapa kau menangis? Sebenarnya apa yang terjadi dan mengapa aku terbaring di sini. Rasanya semua tubuhku kaku," heran Enji.


Karina menghapus air matanya, menatap heran balik Enji.


"Apakah karena sudah koma sembilan bulan kau tidak ingat apa yang terjadi?"tanya Karina, merasa menebak apa yang terjadi. 


Enji mengangguk.


"Apa yang kau ingat terakhir kali?"tanya Karina.


"Aku ingat aku tengah berada di kamar, mengobrol dengan Bayu. Setelah itu aku melihat foto ibunya Bayu kemudian tidur. Begitu bangun aku terbaring di sini," jelas Enji, memegang kepala yang 


pusing.


"Jangan dipaksa lagi," cegah Arion yang melihat Enji hendak memukul kepalanya sendiri.


"Kakak … mana anakku?"tanya Enji setelah rasa pusingnya mereda.

__ADS_1


"Anakmu sudah berangkat di luar negeri, sepuluh bulan yang lalu," jawab Karina.


"Belajar? Sepuluh bulan lalu? Berapa lama aku terbaring di sini? Satu tahun?"


Enji kaget.


"Sembilan bulan," tegas Karina.


"Lalu mengapa aku bisa di sini?"tanya Enji.


"Penculikan. Saat itu kau dan Bayu serta Syaka berangkat ke negara A untuk mengunjungi makam wanitamu dan panti asuhan Bayu. Sayangnya Bayu diculik, membawanya ke sebuah rumah di tengah hutan. Kau mencoba menyelamatkan Bayu. Kalian memang selamat dari dua penculik sialan itu tapi kalian kalah dengan reruntuhan rumah. Kau lemah sekali sampai harus tidur lama," jelas Karina, kembali memeluk Enji.


"Jadi aku koma karena menyelamatkan Bayu?"


"Benar. Tapi semua sudah selesai. Dengan kau yang sudah sadar, maka semua sudah selesai," ujar Arion, menepuk pelan pundak Enji.


"Tapi Kakak berdasarkan penjelasan kalian itu artinya aku mengalami hilang ingatan?"


"Begitulah. Kepalamu terkena benturan keras saat itu. Hilang ingatan bukan hal yang mengejutkan lagi. Ah aku hampir saja lupa."


Karina membuka laci, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sana. 


"Ini adalah titipan anakmu," ujar Karina memberikan kotak tersebut pada Enji.


Enji menerima dan segera membuka kotak tersebut.


Dahi Enji mengeryit dalam membaca sebuah surat yang ada di dalamnya. Memegang kepala saat merasa pusing. Ada bayangan samar yang tidak ia ingat. 


"Kakak siapa Jessica?"tanya Enji.


Awalnya Karina dan Arion sepakat untuk tidak memberitahu Enji soal Jessica dulu. Tapi tidak menyangka bahwa Bayu menulis surat yang mengadung unsur Jessica. Karina menarik nafas panjang, menatap serius Enji.


"Dia asistenmu, karyawanmu, juga kekasihmu. Hubungan kalian baru seumur jagung. Tapi hubungan kalian masih berlandaskan dengan kontrak kekasih yang kau buat," jelas Karina.


"Kontrak? Atas dasar apa aku membuat kontrak dengannya dan atas dasar apa ia menerima kontrak itu?"tanya Enji yang tidak mengerti.


"Kau atas dasar Bayu."


"Dan dia atas dasar uang."


"Aku … aku tidak mengerti. Kakak kepalaku sangat pusing. Argghh!"


Enji tiba-tiba saja menjadi tidak terkendali, menjambak rambut dan memukul kepalanya sendiri. Arion segera menahan kedua tangan Enji. Karina segera mengambil suntik dan obat penenang, menyuntikkannya pada Enji. Perlahan, berontakan Enji mulai melemah kemudian tak sadarkan diri.


"Aku ceroboh," ucap lesu Karina.


"Sudahlah. Manusia tidak lepas dari kecerobohan. Lagipula hilang ingatan yang dialaminya hanya sebagian. Cepat atau lambat ingatannga akan kembali pulih. Akan lebih rumit lagi jika kita rahasiakan mengenai Jessica darinya. Setelah dia bangun, kita harus menceritakan apa yang terjadi dengan hubungan mereka sekarang," ucap Arion.


"Katamu kita tidak boleh ikut campur?"


"Kita tidak ikut campur Sayang. Kita hanya memberitahu apa yang terjadi untuk menghindari masalah dan salah paham yang berlarut. Mengenai ke depannya biarkan Enji yang menentukan. Next or end!"


Karina menghela nafas pelan.


"Baiklah."


*


*


*


"Ma … ma … ma."


Celotehan Bintang dan Biru yang memanggil Karina seketika membuang perasaan sedih Karina. Senyumnya mengembang. Berjongkok, mengusap kepala kedua anaknya.


"Apa Enji okay?"tanya Li yang penasaran dengan kondisi terkini Enji.


"Fisiknya okay, but ingatan dan perasaannya bermasalah," jawab Arion. 


"Sudah kami duga. Tapi perasaannya bermasalah bagaimana?"heran Gerry tidak mengerti.


"Enji hanya mengingat semua hal sebelum bertemu dengan Jessica. Selebihnya blank. Tadinya aku tidak ingin memberitahunya lebih dulu tapi aku ceroboh memberikan surat yang Bayu tulis. Ternyata ada unsur Jessica di sana. Hais … wanita itu membuatku kesal!"


Karina mendengus sebal mengingat Jessica.


"Kita sudah lama tidak mengawasinya. Apakah sekarang kita harus mengawasinya lagi?"tanya Li serius.


"Temukan mereka! Bawa ke hadapanku secepatnya!"ucap Karina memberi perintah.


"Si, Queen!"jawab Li dan Gerry bersamaan.

__ADS_1


"Q … q … een …."


"Ma … ma. Ma … ma."


Semua yang dewasa di ruangan itu tertegun dengan ucapan Biru dan Bintang. 


"Luar biasa!"


*


*


*


Karina dan Arion memutuskan untuk tinggal di markas, menemani pemulihan Enji. Sore sekitar pukul 17.00, Enji kembali siuman dan berteriak memanggil Karina, keluar dari kamar dengan langkah yang belum kuat.


Karina yang tengah berada di taman menghabiskan waktu bersama Arion dan kedua anaknya sembari bekerja menoleh ke arah koridor. Berdiri yang membuat Arion menatap heran.


"Ada apa?"tanya Arion.


"Enji sudah bangun. Dia memanggilku," jawab Karina.


Benar saja. Tak lama kemudian Enji menunjukkan batang hidungnya. Dengan berpegangan pada dinding dan nafas terengah-engah, Enji menatap Karina yang masih diam di tempat.


Masih dengan langkah yang belum stabil, Enji menghampiri Karina. Langsung menghamburkan dirinya memeluk Karina. 


"Kakak … aku mimpi buruk," aduh Enji, menyembunyikan wajahnya pada leher Karina.


"Tenanglah. Itu hanya mimpi," ucap Karina menenangkan.


"Aku bermimpi, mengingat kenangan buruk saat dibuang oleh keluargaku. Lalu aku juga bermimpi aku dicampakkan oleh wanita yang aku cintai selain ibunya Bayu. Kak aku mohon ceritakan dengan jelas mengenai hubunganku dengan wanita bernama Jesicca itu."


Enji melepas pelukannya, menatap Karina penuh harap. Karina menghela nafas kasar.


"Duduklah dulu," ujar Karina mendudukan Enji di samping Bintang.


 Enji masih belum menyadari adanya dua makhluk kecil keponakannya.


"Bukankah sudah jelas bahwa hubungan kalian adalah sebuah kontrak? Kau membayarnya dengan gaji triple untuk tiga pekerjaan itu. Apa lagi yang mau kau ketahui?"heran Arion.


"Biarpun begitu, hubungan kontrak tidak bisa membohongi perasaan. Apakah aku mencintainya atau dia mencintaiku setelah hubungan kontrak itu berjalan? Lalu di mana dia sekarang? Apakah masih bekerja di perusahaanku? Apakah dia menemaniku?"cercah Enji tak sabar.


"Yang ku lihat memang di antara kalian sudah tumbuh rasa cinta. Tapi itu hanya rasa seumur jagung. Cinta tanpa kepercayaan adalah kosong. Aku juga tak tahu apakah aku bersalah dalam hal ini. Saat kau pergi bersama dengan Bayu, kau menonaktifkan handphonemu atas pemintaan Bayu dengan alasan supaya kalian lebih fokus menghabiskan waktu dengan Bayu tanpa diganggu oleh siapapun. Sayangnya kau marah dengan itu dan menampar Bayu. Itulah asal mula Bayu bisa diculik. Kau mau tahu apa alasan wanita itu marah padamu?"


Enji menggeleng.


"Ia marah karena saat ia membutuhkanmu kau tidak ada. Ia marah karena kau yang tidak ada di sampingnya menyebabkan ibunya meninggal. Dia marah dan kepercayaannya padamu perlahan memudar.  Kini aku tidak tahu dia ada di mana. Awalnya tiga hari setelah kematian ibunya, ia mengajukan surat pengunduran diri. Kau harus apa yang terjadi selanjutnya kan? Penolakan. Surat itu ditolak. Namun, entah bantuan dari siapa dia bisa membayar pinalti dan akhirnya keluar dari perusahaan," jelas Karina.


Enji diam, mencerna ucapan Karina. 


"Lalu siapa yang memimpin perusahaanku sekarang?"


"Aku serahkan pada Helian."


"GM Helian?"


Karina mengangguk.


"Sudah. Sudah. Lanjutan nanti saja mengingat itu. Sekarang apa kau tidak melihat apa yang berbeda dari kami? Banyak hal yang terjadi selama kau koma," potong Arion yang melihat Enji ingin kembali mengajukan pertanyaan.


Enji menatap Karina dan Arion bergantian. Mengangguk pelan.


"Apa saja yang terjadi selama aku koma Kak?"tanya Enji.


"Hal pertama coba tebak apa yang berbeda dari kakakmu ini," ujar Arion menunjuk Karina.


Enji mengamati Karina.


"Perut Kakak sudah kempes. Eh? Kakak sudah melahirkan?"


Enji memekik seraya menunjuk perut Karina. Karina terkekeh.


"Lihat dan sapalah kedua ponakan kembarmu ini," ujar Karina, menunjuk Bintang dan Biru yang asyik bermain tanpa mengganggu kedua orang tuanya.


"Mereka Bintang dan Biru?"


"Yang putih Bintang dan yang biru, Biru."


"Sudah sebesar ini. Sembilan bulan adalah waktu yang lama. Kakak boleh aku aku menggendong mereka berdua?"


"Gendong apa? Kau jalan saja belum stabil mau menambah beban," kesal Karina mendelik pada Enji.

__ADS_1


"Hehehe."


__ADS_2