Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 145


__ADS_3

Mentari pagi mulai terbit di ufuk timur. Sinarnya menerobos dan menerangi bagian bumi yang menghadapnya. Embun turun membasahi bumi. Pagi yang sempurna bagi Enji. Kini ia sudah dalam perjalanan menuju rumah Karina. Tentu saja dengan Faisal dan Riri. Selama perjalanan Enji tak henti-hentinya menebar senyum. Menikmati indahnya pagi dengan jendela mobil yang terbuka lebar.


Kini tibalah mereka di depan gerbang kediaman Karina. Gerbangnya yang berwarna biru muda mengkilap diterpa cahaya. 


Enji menuju sudut gerbang. Mencari sesuatu sebelum akhirnya terdengar suara klik.


Riri dan Faisal saling berpandangan. Biasanya mau masuk ke rumah orang kan izin dulu, lapor dan sebagainya. Jika tidak ya namanya tamu tak diundang. 


"Berbalik," titah Enji tegas.


"Kenapa?"tanya Faisal.


"Sudah berbalik saja," jawab Enji. Faisal mendengus sedangkan Riri langsung balik badan. Menikmati jalanan perumahan yang sangat asri. 


Enji segera memasukkan sandi rumah Karina yang ia ingat dan tahu. Ia berharap semoga saja sandinya tidak diubah oleh Karina.


Ini adalah cara ia masuk ke kediaman Karina sebelumnya. Hanya dia dan Karina yang tahu akan hal itu.


Enji menarik senyum senangnya saat sandi yang ia masukkan sesuai. Pintu gerbang terbuka. Mendengar bunyi suara gerbang, Riri dan Faisal langsung menoleh ke belakang. 


"Ayo masuk," ujar Enji melangkahkan kakinya masuk duluan.


Mereka mengikut. Barang dan mobil tinggal dulu di luar. Mereka berdua terkagum dengan kediaman Karina. Tak henti-hentinya mereka mengedarkan pandangan mereka menyusuri jalan yang mereka lalui.


"Ji kemana penghuninya? Kok sepi sih? Apa kakakmu tak ada pelayannya?"tanya Faisal heran. Memang tak ada satupun pelayan yang nongol. 


"Jam segini mah mereka pada sarapan, dari jam empat mereka sudah bangun dan mengerjakan pekerjaan mereka. Lihat saja semua sudah bereskan? Nah ada juga yang keluar mengerjakan misi. Biasanya tinggal 3-4 pelayan saja yang masih tinggal di rumah," jelas Enji.


"Lagian kan aneh CEO sama Queen gak punya pelayan," tambah Enji.


"Hmm … ya aku lupa dia siapa," jawab Faisal.


Enji langsung mengetuk pintu. Tak berapa lama pintu terbuka menampilkan Karina yang dengan wajah datarnya menatap Enji. Enji langsung menghambur memeluk Karina. Menumpahkan rasa senangnya


Karina tetap diam dan menatap Riri serta Faisal bergantian. 


Wow wajah datar, apa yang akan wanita ini lakukan pada kami, batin Faisal ngeri-ngeri sedap.


"Kakak aku rindu padamu," ucap Enji berbisik dan menenggelamkan kembali kepalanya ke ceruk leher Karina.


"Sayangnya aku tak rindu padamu," sahut Karina datar yang membuat Enji melepas pelukannya dan mengedipkan mata berulang kali menatap Karina bingung.


"Kakak kau tidak rindu padaku?"tanya Enji ragu, ragu akan pendengarannya.


"Hmm … tidak. Untuk apa aku rindu pada orang yang sudah meninggal? Lebih baik aku mendoakannya supaya kelak aku dan kamu dipertemukan kembali dalam dunia kekal abadi, bukan sementara seperti hidup ini," jawab Karina datar.


Riri dan Faisal mengerut heran. Padahalkan Karina sudah tahu bahwa Enji masih hidup. Jadi ini menyindir mereka begitu? Nyatanya iya, Karina menyindir ketiga orang di depannya ini.


"Kak aku belum mati, aku masih hidup! Aku Enji kak, adikmu. Apa kau lupa?"tanya Enji dengan air mata yang mulai menurun. Karina memiringkan kepalanya.


"Tetapi adikku telah tiada. Bagaimana bisa hidup kembali. Sekarang aku hanya punya satu adik. Dan dia masih kecil serta bersama kedua mertuaku," ujar Karina.


"Pergilah. Kalian bertiga salah tempat!"titah Karina hendak menutup pintu.

__ADS_1


"Kak!"ucap Enji menahan pintu. 


Karina menatap dingin Enji. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Enji memasang wajah memelas. Hatinya sedih. 


"Kak aku adikmu. Bayu anakku. Kak aku kembali, aku mohon jangan begini," pinta Enji.


"Sudah ku katakan adikku satu lagi di alam kubur dan satu lagi bersama mertuaku. Bayu memang anak adikku bukan anakmu, dasar aneh!"kesal Karina. 


"Kak aku masih hidup. Masalah aku meninggal itu cuma rekayasa. Aku menjalani pengobatan. Jantungku telah ganti kak. Aku sembuh. Nafasku pun sudah tak sesak seperti dulu. Kak percayalah. Aku bukan orang lain atau arwah. Aku adikmu kak," ucap Enji meluruh ke lantai. Heran, kakaknya ini akting atau sungguhan. Wajahnya menunjukkan keseriusan. Tak ada keraguan di wajahnya. 


"Karina, Sayang," panggil Arion ya tiba di lantai bawah dengan dipandu oleh Naina serta Miu.  Karina menoleh ke belakang.


"Ya," sahut Karina dengan nada lembut.


"Siapa tamunya?"tanya Arion berjalan mendekati pintu dengan bantuan Miu. 


"Entahlah. Dia mengaku adikku," jawab Karina.


"Bayu?"tanya Arion.


"Bukan yang satu lagi. Enji," jawab Karina melirik Enji yang tertunduk di sampingnya.


"Enji? Bukankah dia sudah meninggal?"heran Arion. 


"Entahlah," sahut Karina.


"Dia bilang kematiannya cuma rekayasa. Dan dia kembali lagi setelah sembuh. Huh sekarang memang banyak penipu," tambah Karina lagi.


"Kemarin kau melarangku, sekarang kau menyuruhku, hei suamiku sayang, aku sudah melakukannya, dan hasilnya memang dia Enji," kesal Karina. Enji membelalakan matanya. Fix. Kakaknya ini akting. Enji tersenyum tipis.


"Kakak kau tega sekali mengatakan itu aku. Padahal kau tahu itu bukan aku. Kau tahu aku belum tiada. Mengapa kakak bermain peran?" Enji memeluk Karina lagi. Karina berdecak sebal. Arion mengeryitkan dahinya. Jawabannya berbeda, suara ini. Arion mencoba mengingat. Nadanya sama saat ia pertama kali bertemu Enji.


"Ji?"panggil Arion ragu. Ia tak bisa melihat tetapi ingatannya masihlah bagus. 


"Kak Ar kau mengingatku. Kau …," heran Enji langsung beralih memeluk Arion. Arion merasakan pelukan. Ia membalasnya ragu.


"Sayang mana yang benar?"tanya Arion. Karinan menyilangkan kedua tangannya di dada. Melirik Riri dan Faisal.


"Kalian akan dapat hukuman," ucap Karina datar pada kedua orang itu. Keduanya menelan ludah kasar.


Sudah ku duga, batin keduanya.


"Kau anak nakal, urus dulu datamu di dunia, kau kan sudah terdaftar dalam catatan kematian. Lagipula namamu sudah tak ada lagi di kartu keluargaku. Kau membuatku repot," ujar Karina menarik tangan Arion dan menggendengnya menuju meja makan. 


Enji tersenyum.


"Aku sudah mengurusnya. Aku akan masuk ke dalam kartu keluarga kakak," jawab Enji setengah berteriak.


Sedangkan Arion, ya diam saja. Sudah jelas ia mendengar untuk apa ia bertanya lagi. Enji masih hidup dan sekarang ada di sini. 


Enji, Riri dan Faisal mengikut Karina ke meja makan. Sarapan bersama setelah lama tak berkumpul. Riri dan Faisal menunjukkan wajah tak berdaya mereka. Hukuman menghantui pikiran mereka. Apalagi Faisal yang orang luar. Bergidik ia jadinya.


***

__ADS_1


Hari minggu, hari yang Karina habiskan dengan bersantai ria di rumah. Berkumpul di ruang keluarga. Arion tiduran di paha Karina. Enji bersandar pada pundak Karina. Karina sendiri memainkan handphonenya sedangkan Faisal dan Riri dibawa oleh anggota Karina ke markas untuk mendapat imbalan.


Karina hanyut dalam handphonenya. Arion malah tertidur. Sedangkan Enji yang mengantuk sayup-sayup mendengarkan lagu yang Karina putar dari handphone. 


"Ji kau kok mirip dengannya?"tanya Karina menunjukkan video yang ia lihat. Mata Enji membuka lebar. Melihat video itu.


"Aiya kak masa' kakak mau bilang aku boyband sih? Apa badanku lentur begitu? Menarik saja hanya bisa tari patah-patah dan kaku. Yang ada aku langsung encok nari kayak gitu," keluh Enji.


"Iya tapi kau mirip dengannya. Bak pinang dibelah dua. Atau dia kembaranmu? Kamu kembar dulu?"tanya Karina penasaran.


"Kak di dunia ini kita ada 7 orang yang wajahnya sama seperti kita. Aku sakit jantung yang ada aku beneran koid kalau dance seperti itu. Tapi gayanya oke juga sih, eh gak masih okean dan gantengan aku. Rambut kami mirip ya? Tunggu bibirnya juga mirip." Enji merebut handphone Karina dan mencari data tentang boyband yang beranggotakan tujuh orang itu. 


Karina berdecak sebal. 


"Sudah ku katakan kalian bak pinang dibelah dua. Suaranya juga mirip denganmu. Tapi aku yakin itu bukan kamu, senam saja gerakanmu kaku kayak robot masa nari luwes kayak gitu. Sepertinya aku harus ke negara mereka untuk memastikannya," ujar Karina.


"Kak tanggal lahirnya juga mirip, sama-sama umur 23 tahun kami," seru Enji.


"Iya-iya. Entar kita cek deh," sahut Karina merebut kembali handphonenya.


"Cari pakai handphone dan laptopmu sendiri. Keahlian hackermu sudah hilang kah?"tanya Karina.


"Gak. Masih ada," jawab Enji. Karina mengangguk dan kembali tenggelam dalam gawai pintarnya. Tak berapa lama, Karina berhenti dan menoleh ke arah Enji yang masih bersandar padanya.


"Ji, kau harus bertemu dengan Bayu," titah Karina tiba-tiba.


"Oke kak," jawab Enji.


"Auh," ringis Enji kala tangan Karina menjewar telinganya.


"Anak nakal aku belum membuat perhitungan terhadapmu masalah kau menghamili anak orang di luar nikah serta masih di bawah umur. 16 tahun sudah pandai ya kau bercinta, lalu kenapa kau tinggalkan mamanya dengan hanya pertanda kalung liontin yang aku berikan padamu? Pantas saja saat ku tanya dulu katamu tinggal di rumah namun tak pernah nampak sampai saat ini padamu. Kau anak nakal, demi hasil tanammu Bayu tidak memiliki mama dan dibuang ke panti asuhan. Kau banyak berhutang padanya," omel Karina panjang lebar sedangkan Enji harus menutup telinganya dengan kedua tangan.


"Sayang, kamu ngomel kenapa?"tanya serak Arion yang terbangun karena nada ngegas Karina.


"Adik nakalku ini adalah ayah Bayu jadi mereka harus dikenalkan dan dipertemukan," jawab Karina.


Arion nampak membulatkan matanya. Enji ayah Bayu? Bayu adik Karina. Jadi sebenarnya Bayu adalah keponakan Karina. Bingung jadinya Arion. Pantas saja Karina penuh tanda tanya saat Enji bertanya mengenai orang tuanya. Rupanya di Enjilah pemiliknya.


"Adik sekaligus keponakan, Ji kau memang paten. 16 tahun sudah begituan. Jadi pula. Malah hasilnya tampan lagi. Otaknya juga nurun kamu, hasil yang memuaskan." Arion mengangkat kedua jempolnya dengan posisi tetap tidur.


"Thanks kak, itu terjadi karena kesalahan, tapi aku kan lelaki sejati, jadi aku beri dia janji kami akan menikah setelah aku kembali dari tugas yang kakak berikan. Namun, karena lamanya tugas dan misiku, aku melupakan hal itu. Padahal aku tahu dia hamil," jelas Enji.


"Jadi kau tahu dia hamil?"tanya Karina.


"Iya. Aku tahu. Tetapi setelah aku selesai misi dua tahun setelah kejadian itu, aku kembali mencarinya dan menemukan kabar bahwa Sezia telah meninggal karena pendarahan dan aku bertanya pada keluarganya mengenai anak, mereka katakan bahwa anak yang Sezia lahirkan meninggal dunia. Memang benar, hamil di bawah umur sangat banyak resikonya. Kala itu aku sangat menyesal kak, aku terpukul karena hal itu. Sezia adalah gadis yang aku cintai dan aku membunuh anak dan istriku secara tak langsung," ucap Enji dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah kau cari kebenarannya? Kau kan kritis tak mungkin gampang percaya akan hal itu," keluh Karina.


"Ya sudah menyusurinya. Nama keduanya memang terdaftar dalam catatan kematian, aku juga sudah ke pusaran mereka," jelas Enji lagi.


"Hmm … Zi segeralah temui Bayu, dia pasti sangat bahagia," ujar Arion.


"Pasti kak. Aku akan menemui buah hatiku," jawab mantap Enji.

__ADS_1


__ADS_2