Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 44


__ADS_3

"Hmm … oke. Cari tahu segera," ujar Karina melajukan mobilnya kencang menuruni pegunungan.


Tiga puluh menit kemudian Karina menghentikan mobilnya di depan minimarket yang sama saat ia membeli air mineral. Karina membeli dua galon air minum dan meminta agar di antar ke apartemennya. Selepas itu Karina kembali melajukan mobilnya ke parkiran bawah tanah. 


Karina turun dari mobil dan membuka bagasi. Ia menatap rumit barang belanjaannya.


"Bagaimana caraku membawanya? Kuat sih kuat tapi ribet sekali," gumam Karina menggaruk kepalanya.


Karina sangat malas bolak-balik dari apartemen ke parkiran. Ia melihat-lihat area parkiran siapa tahu ada orang yang dapat ia mintai tolong.


Namun, tak ada satu orang di sana kecuali dirinya. 


"Kakak Ipar kamu kan itu?" tanya seorang dari belakang menepuk pundak Karina.


Karina tertegun dan melihat ke belakang. Ternyata Sam yang memanggilnya. Karina tersenyum lebar. 


"Kebetulan ada dirimu!" seru Karina senang. Dengan cepat Karina meletakkan beras, sayur dan daging ke tangan Sam.


"Ayo," ajak Karina yang hanya membawa buah serta susu dan cemilan menuju lift meninggalkan parkiran bawah tanah.


Bagai kerbau diculuk hidungnya, Sam mengikuti Karina masuk ke dalam lift. Satu menit kemudian Karina dan Sam tiba di apartemen Arion. Karina segera membuka pintu dan masuk diikuti Sam.


Karina menuju dapur dan meletakkan barang bawaannya.


"Letakkan saja di sana," ujar Karina menunjuk sebuah meja. Sam meletakkan barang bawaannya. Kemudian duduk di kursi yang ada di dapur.


"Kakak Ipar mengapa kau pindah? Apa  rumah Arion kurang nyaman?" tanya Sam penasaran.


"Memangnya Arion tak memberitahumu jika kami sudah pindah kemari?" tanya Karina santai.


Sam menggelengkan kepalanya. Arion tak pernah cerita jika mereka sudah pindah.


"Dari kapan?" tanya Sam.


"Hari ini," jawab Karina.


"Oh ya bagaimana


bisa kau ada di bawah tadi dan juga tumben kau sendiri?" tanya Karina penasaran.


"Aku kemari untuk mengecek kawasan apartemen dan membenahi apa yang perlu dibenahi. Kawasan apartemen ini adalah salah satu aset perusahaan. Namun, karena belum selesai sepenuhnya proyek ini sudah ngangkrak. Hanya blok ini saja yang rampung 100%. Sedangkan mereka berdua tengah sibuk mematangkan proposal kerja sama," jawab Sam panjang lebar.


"Apa alasannya kau mengecek ini?" tanya Karina heran.


"Sebab ada yang mau membelinya. Kakak Ipar pasti tahukan perusahaan KS Tirta Grub?" tanya Sam. Karina mengangguk.


"Nah, perusahaan itu mau membeli kawasan apartemen ini dengan harga mahal," lanjut Sam. 


"Hmm … apa kau akan menjualnya?" tanya Karina.


"Tentu saja. Dengan terjualnya aset ini dapat menutupi kerugian yang terjadi. Lagipula kawasan ini sudah tidak ada peluangnya. Untuk apa dipertahankan?" jawab Sam.


"Kakak Ipar aku rasa Presdir KS Tirta Grub itu buta dan kebanyakan uang. Masa proyek gagal dibelinya," celetuk Sam berbisik pada Karina. 


Karina terlonjak kaget. Darahnya mulai memanas mendengar celetukan Sam.


"Aku rasa kau yang buta. Bisa sajakan Presdir perusahaan itu menemukan peluang besar hingga memutuskan membeli kawasan ini," ucap Karina setengah mengeram.


Ucapan Karina membuat Sam mengernyit heran. Ia menatap Karina penuh selidik.

__ADS_1


"Kakak ipar, dari gaya bicaramu menunjukkan bahwa seolah-olah kau adalah presdir perusahaan besar itu," ujar Sam to the point yang membuat Karina gelagapan namun ditutupi dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Eh … bagaimana mungkin aku pemilik perusahaan besar itu? Aku cuma tidak suka kau meremehkan kinerja sahabatku, Lila dan Raina yang berkerja sebagai asisten dan sekretaris pribadi presdir," ucap Karina berkelit dan berjalan mendekati pintu. Sam mengikuti.


"Oh begitu ya? Tapi tetap saja aku menganggap presdir perusahaan itu buta dan bodoh," ucap Sam tetap pada pendiriannya. Darah Karina semakin mendidih.


"Terserahmu saja. Asal belakang hari kau tak menyesal menjual kawasan ini. Sudah lebih baik kau lanjutkan saja pekerjaanmu tadi. Aku mau masak," ujar Karina mengusir halus  Sam.


"Baiklah. Bolehkan aku makan malam di sini hari ini?" tanya Sam penuh harap.


"Tidak!" tolak Karina membuka pintu dan mendorong Sam keluar.


"Oh ya terima kasih tadi telah membantuku," ucap Karina menutup pintu.


Di luar Sam menggaruk kepalanya yang tak gatal serta menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun segera pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Sedangkan di dapur, Karina menunjukkan wajah dinginnya. Darah yang sudah mendidih di ubun-ubun tidak ada tempat pelampiasannya. 


"Huh berani sekali dia bilang aku buta dan bodoh. Lihat saja! Dalam waktu dua tahun kawasan ini akan menjadi besar dan berhasil. Akan ku buat ini menjadi kawasan seperti di negeri dongeng," ucap Karina mengepalkan tangannya.


Karina menghela nafas menetralkan emosinya kemudian melihat jam dinding yang ada di dapur. 


"Jam 17.00. Dua jam lagi Arion pulang," gumam Karina.


Karina mengalihkan pandangannya pada barang belanjaannya yang masih belum disusun rapi. Dengan cepat Karina menyusun belanjaannya yaitu daging, sayur, buah, susu dan makanan ringan di kulkas. Sedangkan beras Karina letakkan di meja kecil di samping kulkas.


Karina ingin memasak makan malam. Namun, ia lupa belum membeli rempah-rempah dan juga bumbu dapur. Sebenarnya ia ingat dan akan membelinya di pasar tradisional di kota selepas dari mall tetapi terlupa karena insiden tadi.


Karina lantas membuka lemari penyimpanan. Siapa tahu ada bumbu dapur yang tersisa. Ternyata lemari kosong melompong hanya menyisahkan beberapa bungkus mie instan.


"Haruskah aku masak ini?" tanya Karina mengambil salah satu mie instan dan melihat tanggal kadaluarsanya. Ternyata itu sudah kadaluarsa seminggu yang lalu.


"Ahhgr … tidak! Lebih baik aku delivery saja," gumam final Karina.


"Nah … sudah selesai. Tinggal tunggu saja," seru Karina setelah selesai.


Karina kemudian membuka kulkas dan mengambil satu bungkus camilan dan berjalan keruang tengah menonton televisi.


 


Lima belas menit kemudian terdengar bel pintu apartemen berbunyi. Karina bangkit dan membuka pintu. Ternyata yang membunyikan bel adalah pegawai minimarket di mana Karina tadi membeli air minum.


"Selamat sore Nona. Saya mengantar pesanan air galon Anda," ucap pegawai itu.


"Oke. Terima kasih," ujar Karina. Pegawai itu langsung pergi meninggalkan apartemen Karina.


"Astaga! Mengapa aku lupa lagi," seru Karina menepuk dahinya pelan.


Dengan malas ia mengangkat satu persatu air galon ke dapur. Tak sampai tiga menit dua galon air sudah berada di dapur. 


"Selesai!" seru Karina menepuk-nepuk kedua tangannya. Karina langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil baju ganti kemudian mandi.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Arion bersiap untuk pulang dari kantor. Di luar Ferry segera mengingatkan Arion bahwa meeting dengan KS Tirta Grub dipercepat menjadi pukul 09.00 pagi besok.


Arion hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam lift menuju parkiran. Setelah sampai di parkiran, Arion segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju pulang.


Senja menghiasi langit menjadi pemandangan yang indah dan dapat merilekskan pikiran setelah sibuk seharian bekerja. Arion melonggarkan sedikit dasinya dan membuka dua kancing atas kemejanya.

__ADS_1


"Sudah dua minggu aku tak bertemu dengan Joya. Aku merindukannya," gumam Arion mengambil handphonenya.


Ia berniat menghubungi Joya namun diurungkan. Arion meletakkan kembali handphone di dashboard mobil.


*So look me in the eyes


Tell me what you see


Perfect paradise


Tearing at the seams*


Suara nada sambung handphone Arion berbunyi ada panggilan masuk. Arion melihat siapa yang menelpon. Tertera nama Joya di layar. Arion menggeser ikon hijau.


"Halo Joya?" sapa Arion.


"Halo sayang. Sayang kau di mana?" Terdengar suara Joya dari panggilan. Suara Joya terdengar panik.


"Aku di jalan. Ada apa? Mengapa suaramu terdengar panik?" tanya Arion khawatir.


"Tolong! Tolong aku Arion. Ayahku hendak menjualku menjadi istri orang idiot." Suara Joya terdengar bergetar.


"What??" seru Arion kaget. Ia menginjak rem mendadak yang membuat kendaraan di belakangnya marah.


Arion masih dalam kekagetannya. Suara klakson kendaraan  membuatnya sadar. Dengan cepat ia menepikan mobilnya.


"Bagaimana bisa?" tanya Arion heran.


Sepengetahuannya, Ayah Joya sangat menyayangi putrinya. Namun, memang Arion belum bertatap wajah langsung dengan Ayah Joya.


"Aku tak bisa menjelaskannya di telepon. Aku menunggumu di Night Cafe. Aku kabur dari rumah," jawab Joya.


"Baiklah. Aku akan ke sana segera," jawab Arion.


Joya mengakhiri panggilan. Arion panik plus frustasi mendengar kekasihnya akan dijual oleh Ayahnya sendiri. Dengan cepat, Arion melajukan mobilnya ke Night Cafe. Lima belas menit kemudian, Arion tiba di tujuan.


 


Arion masuk ke dalam dan menemukan Joya duduk di meja paling ujung. Wajahnya nampak kacau. Joya menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Joya?" panggil Arion.


Joya mengangkat wajahnya. Wajah Joya nampak kacau. Matanya sembab seperti habis menangis.


"Arion …." jawab Joya serak bangkit dari duduknya dan memeluk Arion erat. 


"Ya aku di sini," balas Arion menepuk-nepuk pelan pundak Joya. Joya melepaskan pelukannya. Air matanya kembali turun.


"Sudah ayo ceritakan apa yang terjadi?" tanya Arion menghapus air mata Joya dan duduk. Arion menarik tangan Joya agar duduk di pangkuannya. Joya mengalungkan tangannya pada leher Arion.


"Kau tahu kan aku putri tunggal dari Argantara Company?" tanya Joya mulai bercerita.


"Hmm …." jawab singkat Arion.


"Ayahku orang ambisius. Satu minggu yang lalu ayah berniat menjalin kerja sama dengan ZEE (Zen Eliza Expres). ZEE menyetujuinya dengan satu syarat yaitu ayah harus menikahkanku dengan Putra tunggal mereka yang idiot," lanjut Joya.


Arion diam sejenak mencerna cerita Joya. ZEE adalah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi. Produksi dan pemasarannya sudah mendunia dan menjadikan ZEE salah satu dari sepuluh perusahaan terbesar di dunia. Tentu saja perusahaan nomor satu adalah perusahaan Karina. 


"Awalnya Ayah menolak. Namun mengingat keuntungan yang akan didapat jika kerja samanya berhasil membuat ayah menyetujuinya. Bahkan pernikahanku pun sudah ditetapkan. Kau pasti tahu reaksiku bukan? Tentu saja aku menolaknya," ucap Joya sedih.

__ADS_1


"Ayah … ayah mengancamku jika aku tak menikah ia akan membuat orang-orang disekitarku terancam. Arion hanya kau satu-satunya orang yang aku cintai. Aku mohon selamatkan aku," pinta Joya memegang kerah kemeja Arion.


Ia berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Joya. Satu ide pun muncul di pikirannya.


__ADS_2