
Pandangan Arion jatuh pada toko baju yang dimasukin Karina dan Joya tadi. Mata Arion menyipit melihat pengunjung yang berada di dalam toko itu.
Perlahan ia melangkahkan kakinya memasuki toko namun terhenti sebab Karina dan Joya sudah keluar dengan Joya yang sudah berganti pakaian.
"Ternyata kalian di sini," seru Arion.
"Hmm … sudah ayo lanjut belanja," ujar Karina.
"Emm … aku tak ikut ya. Aku dan Arion akan menunggu di mobil saja," ucap Joya memeluk tubuhnya sendiri.
"Iya Karina. Kamu sendiri aja ya yang belanja," timpal Arion mendukung Joya yang membuat Karina menatap kesal mereka.
"Enak saja. Dia kan suami aku. Kalau mau ke mobil yang pergi saja sendiri!" ketus Karina memegang tangan Arion dan menariknya pergi.
"Ehh … tunggu …," ucap Joya namun tak bergerak dari tempatnya.
Wajahnya menunjukkan raut kesal. Ingin rasanya mengikut namun kejadian jatuh tadi mengurungkan niatnya. Akhirnya Joya memutuskan kembali ke mobil seorang diri.
Tak sampai dua puluh meter Karina melepaskan kasar tangan Arion.
"Kau ini asal tak suka langsung tarik. Memang aku barang apa? Hargai aku dong sebagai suami," kesal Arion menatap Karina. Karina hanya cuek-cuek bebek.
"Aku akan hargai kamu jika kamu hargai aku," jawab Karina.
Arion tak mengerti arti jawaban Karina. Di samping kanan mereka adalah lapak penjual ikan laut. Mata Karina tertuju pada beberapa ekor ikan tuna.
"Bu ini berapa sekilo?" tanya Karina menunjuk ikan tuna.
"Itu cuma 90.000 aja Neng," jawab ramah penjual.
"Kasih 2 ekor ini deh Buk," ujar Karina.
"Disiangi?" tanya penjual memastikan.
"Tidak usah. Cukup buang saja kotorannya," jawab Karina.
Arion mendekat pada Karina dan ikut melihat-lihat ikan yang dijual. Pandangannya tertuju pada ikan dengan bentuk badan bulat seperti bola, memiliki gigi seperti kelinci dan memiliki duri di sepanjang tubuhnya.
"Bu ini berapaan?" tanya Arion menunjuk ikan itu. Mata Karina melihat ikan yang ditunjuk Arion.
"Itu agak mahal. Tapi karena kamu ganteng bayarannya cukup selfie aja," jawab penjual itu menatap Arion malu-malu. Lumayan kan bisa diposting di instagram.
"Ar? Kamu benar mau ikan itu?" tanya Karina ragu.
Arion mengangguk. Karina hanya mendengus kesal. Pasalnya ikan yang mau dibeli Arion adalah ikan buntal. Yap. Ikan yang memiliki duri beracun yang lebih mematikan dari racun sianida dan kemampuan mengembangkan diri beberapa kali lipat dari besar tubuh awal.
"Gimana jadi gak Bang?" tanya penjual itu lagi.
"Oke Buk," jawab Arion. Penjual itu segera keluar dari lapaknya dan mendekati Arion.
Cekrek.
Cekrek.
Cekrek.
Tiga foto diambilnya menggunakan handphone. Setelah puas penjual itu segera menghitung berapa harga belanjaan Karina.
"200 ribu Neng," ujar penjual itu.
Karina segera mengeluarkan 2 lembar uang ratusan dari tasnya dan menerima kantong plastik berisi ikan tuna dan ikan buntal.
Karena tidak ada yang mau dibeli lagi Karina dan Arion segera meninggalkan pasar menuju mobil mereka. Di jalan Karina mengomel pada Arion.
"Kau mau membuatku mati karena memasak ikanmu itu!!" omel Karina.
"Mengapa? Itukan hanya ikan?" tanya Arion merasa tak bersalah.
"Namanya ikan buntal. Ikan ini memiliki racun pada durinya. Kau cek saja di internet," jawab Karina berjalan lebih cepat meninggalkan Arion yang mencari informasi tentang ikan buntal.
"Alamak …," kaget Arion menepuk dahinya. Arion segera mengejar Karina.
"Buang saja ikannya," ucap Arion.
"Hah apa?" heran Karina menghentikan langkahnya. Arion ikut menghentikan langkahnya.
"Buang ikannya. Aku tak mau kau mati," ulang Arion. Karina malah tersenyum lebar.
"Kau khawatir padaku?" tanya Karina menggoda Arion. Arion menjadi salah tingkah, rona merah terlihat di pipinya.
"Mana ada. Aku tak mau dicap sebagai suami pembunuh," elak Arion melanjutkan langkahnya. Karina hanya geleng-geleng kepala.
"Kapan lagi dapat ikan gratis. Jika di dunia nyata harga ikan ini mencapai 265 dollar US per kilo atau setara dengan 3,7 juta rupiah. Memang beracun tapi jika pandai mengolahnya itu tak masalah," gumam Karina menyusul Arion.
Setelah sampai di mobil. Joya segera mendekat, awalnya ia duduk di warung menunggu Karina dan Arion sebab pintu mobil dikunci.
Karina segera memasukkan belanjaan ikannya ke bagasi.
__ADS_1
"Neng ini tadi titipan belanjaanya," ujar pemilik warung menghampiri Karina. Di tangannya ada sekitar 5 plastik besar.
"Makasih ya Ibu. Ini sebagai tanda terima kasih," ujar Karina memasukkan belanjaan dan memberikan selembar uang ratusan.
"Ehh … makasih ya Neng," senang pemilik warung.
Karina mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Joya dan Arion sudah lebih dulu masuk. Arion melajukan mobilnya keluar dari parkiran pasar tradisional.
"Apa ikannya sudah kau buang?" tanya Arion memastikan.
"Astaga! Stop!" seru Karina yang membuat Arion mengerem mendadak.
"Ada apa?" tanya kesal Joya mengusap dahinya yang menghantam kursi pengemudi. Karina tak menghiraukan pertanyaan Joya malah membuka kaca mobil. Matanya mencari sesuatu. Dan terhenti di sebuah minimarket. Arion menepikan mobil.
"Rio belikan aku cuka di sana," ucap Karina menunjuk minimarket di seberang jalan.
"Untuk?" tanya Arion tak paham.
"Ikanmu lah," jawab Karina.
Arion segera membuka seatbeltnya dan turun dari mobil untuk membeli cuka. Di dalam mobil Karina melihat Joya dari kaca spion tengah mobil.
"Sampai kapan kau menumpang di rumahku?" tanya Karina datar. Joya melirik Karina sekilas dan memalingkan wajahnya.
"Apa maksudmu menyebutku sebagai
sepupumu?"
Bukannya menjawab, Joya malah melontarkan pertanyaan balik.
"Oh itu lidahku hanya terpeleset saja. Lagipula siapa yang mau bersepupuan denganmu?" jawab Karina asal.
Joya ingin membantah namun keburu Arion sudah kembali dari minimarket.
"Ini cukanya," ujar Arion menyerahkan satu lusin penuh cuka. Mata Karina melebar. Ia menatap Arion horor.
"Apa lagi?" tanya Arion mulai melajukan mobilnya.
"Untuk apa sebanyak ini?" ketus Karina. Arion hanya tersenyum kuda.
Perjalanan kembali ke apartemen membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Awalnya semua saling diam hingga Joya memecah suasana.
"Arion kau akan mengantarku pulangkan sehabis mengantar Karina?" tanya Joya memegang tangan Arion dari belakang.
"Emm …." jawab Arion melirik Karina.
"Tapi dia sudah berjanji mengantarku pulang," timpal Joya tak mau mengalah.
Karina membuka matanya dan melirik Arion langsung memejamkan matanya lagi.
"Sekalian saja. Aku ikut. Kita antar dia sekarang," putus Karina.
"Ide bagus," setuju Arion.
Joya malah membulatkan matanya. Ia ingin membantah namun tidak jadi karena Karina mengangkat tangannya mengisyaratkan diam jangan banyak mulut.
Akhirnya, Arion mengemudikan mobil menuju rumah Joya atau kediaman Argantara. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dari pasar.
Dua puluh menit kemudian tibalah mereka di depan gerbang yang menjulang tinggi. Arion membunyikan klakson mobil. Petugas keamanan segera menanyai. Joya mengeluarkan kepalanya dari mobil, otomatis gerbang langsung terbuka.
Di depan pintu rumah sudah menunggu seorang pria paruh baya. Siapa lagi kalau bukan Reza Argantara. Joya turun dari mobil dengan raut wajah takut diikuti Arion dan terakhir Karina.
Mata Reza menyipit melihat Karina seakan ia pernah bertemu dengan Karina sebelumnya. Karina menampilkan wajah dingin dan tersenyum sinis ke arah Reza.
"Pa …," panggil Joya pelan. Reza segera mengalihkan pandangannya ke Joya. Wajahnya berubah jadi garang.
"Dasar anak tak tahu diuntung,"marah Reza. Tangannya melayang hendak memukul Joya namun ditepis oleh Arion.
"Tidak usah main tangan, Paman," ucap Arion memeluk Joya.
"Kamu siapa?" tanya Reza pura-pura tidak tahu.
"Saya Arion Wijaya. Kekasih Joya," jawab Arion tanpa melihat Karina.
Karina menaikkan satu alisnya dan tersenyum sinis. Dia malah menyilangkan tangannya dan bersandar di bumper mobil. Karina mengedarkan pandangannya mengamati bagian luar kediaman Argantara.
Kediaman Argantara dikelilingi tembok setinggi tiga meter, dua kamera pengawas di gerbang depan dilengkapi dengan empat penjaga serta kamera pengawas di setiap sudut.
Karina melihat ke bawah dan menemukan dua lubang dengan ukuran seperti lubang permainan bola golf dengan jarak 3 meter satu sama lain. Karina kembali tersenyum sinis.
"Hmm … mau apa kau kemari?" tanya Reza menarik Joya dari pelukan Arion dan menyuruhnya masuk ke dalam.
"Saya ingin berbicara dengan anda mengenai perjodohan Joya dengan Tuan Muda perusahaan ZEE," jawab Arion mantap.
"Oh begitu. Kita bicara saja di ruang kerjaku," ujar Reza mengajak Arion masuk meninggalkan Karina di luar.
Karina bercedak sebal. Ia pun ikut melangkahkan masuk. Tiga langkah kemudian ia berhenti karena nada notifikasi dari handphonenya. Karina mengecek pesan yang berasal dari Gerry.
__ADS_1
Queen saya sudah menemukan lokasi pasti Berto. Dia adalah di kota B di negara A, tulis Gerry.
"Negara A? Seperti waktunya sudah tiba," gumam Karina. Ia kemudian mengirim pesan kepada Raina.
Adakah jadwalku ke negara A? tulis Karina. Tak lama terdengar suara pesan dibalas.
Ada Nona. Hari Rabu Anda ada acara pertemuan besar di Blue Hotel, balas Raina.
Kita akan pergi lebih awal. Besok kita ke negara A. Persiapkan dirimu dan Lila, jam 06.00 pagi kita berangkat, balas Karina mengakhiri percakapan via pesan.
Karina kembali mengirim pesan kepada Gerry sebagai balasan.
Siapkan pesawat. Kita ke negara A besok jam 06.00.
Si Queen, balas Gerry.
Karina menyimpan handphonenya dan kembali melangkahkan kakinya ke dalam rumah Argantara.
Matanya mengamati setiap sudut rumah Argantara hingga akhirnya memutuskan duduk di ruang tamu.
"Yo … Nona Joya rumahmu besar kok numpang di rumahku?" sindir Karina menyilangkan kakinya.
"Bukan urusanmu!" ketus Joya menatap Karina tak bersahabat. Karina mengangguk-anggukan kecil kepalanya.
"Kau ada makanan? Aku lapar," ucap Karina tengil yang membuat wajah Joya semakin menggelap.
"Dari ekspresimu seperti ambil sendiri di dapur ya?" tanya Karina bangkit dan melangkahkan kakinya mencari dapur.
Tak lama ia kembali dengan membawa beberapa bungkus makanan ringan dan satu botol minuman di tangannya
"Ini untukmu," ujar Karina melemparkan satu bungkus makanan ringan pada Joya. Joya menangkapnya.
"Ini rumahku atau rumahmu?" tanya ketus Joya.
"Entah aku tak tahu. Yang ku tahu tamu adalah raja. Jadi aku adalah ratu," jawab Karina santai dan mulai memakan makanan ringan di tangannya.
"Terserahmu saja," ujar Joya mengalah.
Sungguh ia kehabisan kata-kata jika berdebat dengan Karina. Wajah Karina selalu datar dan tenang. Sekali tersenyum malah membuat bulu kuduknya berdiri.
****
Ruang kerja Reza Argantara.
Arion masih berusaha bernegosiasi dengan Reza. Reza yang pada dasarnya licik selalu menolak penawaran Arion.
"Proyek pembangunan kapal pesiar di negara K maka akan ku batalkan perjodohan Joya," putus Reza yang membuat Arion terdiam.
"Tidak! Aku menolak! Itu adalah proyek besar Jaya Company," tolak Arion. Reza tersenyum menyeringai.
"Proyek itu atau tidak sama sekali," ucap Reza mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
Arion berpikir keras menemukan solusi terbaik. Proyek pembangunan kapal pesiar adalah salah satu proyek besar Jaya Company. Jika itu diberikan pada Argantara Company maka akan terjadi masalah internal dalam perusahaan.
Namun, jika besok jalinan kerjasama dengan KS Tirta Grub berhasil maka masalah itu bisa diatasi. Apalagi Karina sudah menjamin bahwa itu akan berhasil. Akhirnya ia memutuskan untuk memberikan proyek itu pada Argantara Company.
"Baik. Tapi jangan pernah Anda menjodohkan Joya dengan siapapun," putus Arion kemudian menghubungi Ferry.
"Saya Tuan Muda," jawab Ferry.
"Alihkan proyek pembangunan kapal pesiar di negara K kepada Argantara Company," perintah Arion yang membuat Ferry tersentak kaget di rumahnya.
"Apa? Gak salah Tuan Muda? Jika itu dilakukan pasti akan menyebabkan masalah. Apa sudah ada persetujuan dari Tuan Besar Amri?" kaget Ferry beruntun memberikan pertanyaan pada Arion. Arion menatap Reza yang menaikkan satu alisnya.
"Bukan masalah. Lakukan saja. Akan ku jelaskan besok," jawab Arion.
"Baiklah Tuan Muda. Tapi saya harap Anda jangan menyesal," ujar Ferry memberi peringatan. Arion memutuskan panggilan.
Tak lama sekretaris Reza yang sedari dari berdiri di samping reza berbisik pada Reza. Senyum puas pun timbul di bibirnya.
"Terima kasih atas kerjasamanya," ujar Reza berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Arion ikut berdiri dan membalas uluran tangan Reza dengan perasaan gundah. Selepas berjabat tangan Arion langsung keluar dari ruang kerja Reza dan menemui Karina serta Joya di ruang tamu.
Setelah sampai di ruang tamu perasaan Arion yang gundah berubah jadi tawa tertahan. Pasalnya wajah Joya penuh dengan coretan hitam sedangkan wajah Karina tetap bersih tak ternoda. Di meja ada kartu-kartu yang tersusun rapi.
"Apa yang terjadi?" tanya Arion heran sembari terus menahan tawanya.
Flashback On.
Karina sudah menghabiskan lima bungkus makanan ringan namun masih belum bisa mengusir rasa lapar dan juga kebosanannya. Joya menatap horor Karina.
Merasa diperhatikan Karina menatap balik Joya. Rasa laparnya hilang mendadak berubah jadi ide jahil yang lewat di kepalanya.
"Apa kau tak bosan menunggu mereka berdiskusi?" tanya Karina pada Joya. Mata Joya menyipit menerka apa yang akan dilakukan Karina.
"Aku ada ide. Ayo bermain kartu. Pasti akan sangat menyenangkan," ajak Karina mengeluarkan satu kotak kecil kartu dari tasnya.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mood," tolak Joya menyilangkan tangannya.