Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 108


__ADS_3

"Sekarang gak ada yang gratis. Bayar semua. Kalian mau buat istriku bangkrut? Sudah minta hadiah helikopter malah minta gratis lagi tempat pernikahan," ketus Arion.


Sam dan Calvin saling berpandangan, tak lama mereka terkekeh geli. Arion menatap kesal mereka. Amri dan Maria menggelengkan kepalanya ikut geli.


"Ar dengarkan aku, kami minta sama kakak ipar. Bukan minta samamu. So kan keputusan ada di kakak ipar. Mengapa kamu yang sewot?" tanya Sam mengusap air matanya yang keluar dari sudut matanya. Arion melotot kesal. 


"Benar Ar. Itukan wewenang Karina sebagai pemilik hotel. Kamu gak bisa larang atau menghalangi apa yang akan Karina lakukan pada propertinya. Mau Karina hancurkan menjadi tanah pun, kamu tidak bisa melarang. Sebab itu asetnya, bukan aset kamu."


Amri memberi nasehat. Ia paham akan apa yang Arion kesalkan. Terkadang Arion seperti anak kecil, merasa tak senang jika orang yang dia suka dan cinta memberi sesuatu kepada orang lain.


"Iya Ar. Mama tahu kamu merasa kayak mana begitu mendengar permintaan dua sahabatmu ini, tetapi … tugas kamu sebagai suami adalah memberi arahan, jika Karina keluar batas wajar. Maka kamu berhak menegurnya. Namun menurut Mama, jika Karina tak membongkar identitas aslinya kamu pasti tidak kesal seperti ini bukan?"


Maria ikut memberi arahan sekaligus pertanyaan. Ia yakin, Karina pasti sudah melakukan banyak hal di luar batas wajar sebelum maupun sesudah menikah. 


Salah satu buktinya adalah kebucinan Karina yang dilanda rindu, rela mengudara malam hari dari negara B pulang ke rumah hanya untuk tidur beberapa jam dan kembali lagi ke negara B sebelum fajar menyingsing. 


Maria dan Amri tak mau ambil pusing menghitung aset Karina. Toh bukan hak dan kewajiban mereka juga. Nasib baik dapat menantu kaya tajir melintir.


Arion mencerna ucapan kedua orang tuanya. Sam dan Calvin menarik senyum tipis dan bersilang tangan di dada.


Arion menghembuskan nafas terakhir, eh salah nafas pelan. 


"Mama sama Papa benar. Itu hak Karina, Ar gak bisa mencegah ataupun melarang," ucap Arion pelan.


"Nah begitu dong Ar."


Sam menepuk pundak kanan Arion. Arion tersenyum lebar. Begitupun Amri, Maria dan Calvin.


Sedangkan di kamar, Karina tidaklah tidur, melainkan membahas sesuatu dengan Lila dan Raina. 


"Aku mau setibanya di negara Y, kalian tekan perusahaan Argantara. Buat saham mereka merosot tapi jangan sampai bangkrut. Aku yakin saat ini tua bangka itu sedang sibuk mencari putri sulungnya."


Karina memberi perintah. Tersenyum misterius saat mengatakan putri sulung. Lila dan Raina mengangguk patuh.


"Nona Anda ingin mengakusisi perusahaan itu?" tanya Raina penasaran.


Karina menggeleng.


"Bisa dikatakan begitu. Satu hal lagi, sebarkan berita secara rahasia, tidak ada satupun perusahaan yang boleh membantu Argantara Company. Jika tidak bersiaplah hilang dari muka bumi ini," jawab Karina.


"Mau anda kirim ke Mars Nona?" Lila bertanya menyambung jawaban Karina.


"Apa hubungannya Lila Sayang?" Raina memukul pelan tangan Lila.


"Maksudnya hilang dari dunia ini. Tinggal nama saja yang terukir dalam sejarah," ralat Karina. 


"Baiklah Nona. Saya dan Lila akan melaksanakannya sebaik dan secepat mungkin. Anda puas kami bangga," ucap Raina tegas.


"Oh ya Nona, masalah hadiah yang diminta Sam dan Calvin jangan dihiraukan. Anggap saja angin lalu."


Lila mengutarakan isi hatinya. Malu dengan Sam yang agak matre. Juga tidak enak dengan Karina selaku majikannya.


Karina tersenyum manis.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan. Aku memang bingung mau memberi kalian apa sebagai hadiah pernikahan. Kebetulan juga dua CEO somplak itu meminta terus terang. Lagian hanya hadiah kecil. Jangan sungkan. Aku tak akan bangkrut dan jatuh miskin karena itu," ucap Karina menaikkan satu alisnya seraya menepuk pundak Raina dan Lila bergantian.


"Tapi Nona … itu agak berlebihan." Raina masih enggan menerima. 


Karina menggeleng pelan.


"Itu tidak berlebihan. Kalian sudah mengikut padaku selama lebih dari 7 tahun, itu kurang dari cukup untuk kalian. Atau … sekalian saja free gedung ditambah paket bulan madu selama satu minggu. Bebas mau kemana saja. Pesawatku siap untuk aku pinjamkan," ucap Karina santai yang membuat Lila dan Raina menjatuhkan rahangnya. 


Raina menepuk dahinya pelan. Seharusnya ia ingat bahwa semakin dilarang atau ditolak Nonanya ini akan semakin royal dan berlebihan. Tapi Raina dan Lila bersyukur, memiliki majikan yang peduli bagi bawahannya. Asalkan setia dan memiliki kualitas yang bagus. 


"Baiklah Nona. Kami menerimanya. Tapi kami berjanji akan bekerja lebih keras lagi," putus Lila memegang kepalanya frustasi.


Masalah hadiah selesai. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini pesawat Wijaya sudah landing di bandara kota S negara Y.


Mereka segera turun dari pesawat. Memasuki mobil masing-masing dan berpisah di bandara. Pulang ke rumah masing-masing.


Tanpa sadar, Karina tertidur di mobil. Selama di pesawat dia tidak tidur. Lanjut membahas masalah lainnya bersama Lila dan Raina.


"Hmm … Sayangku sangat cantik," gumam Arion merapikan anak rambut Karina dengan tangan kirinya.  


Sesampainya di kediaman Wijaya, mobil Arion berhenti di belakang mobil yang dikemudikan Amri. Arion segera turun dan  menggendong Karina yang terlelap. 


"Awas jangan kelewatan." Maria memberi peringatan pada anaknya. Arion mengangguk dan tersipu malu.


Bayu yang juga tertidur digendong oleh Amri, membawanya masuk ke dalam rumah.


Jika di kediaman Wijaya semuanya berlangsung tenang maka berbeda dengan di kediaman Alantas.


Ya. Calvin yang tiba di rumah pukul 22.15, membuka pintu dengan kebiasaannya, apalagi kalau bukan menendang pintu, membuat seisi rumah yang memang belum tidur siaga satu takut maling yang datang. Iya kali maling lewat pintu?


Byur ….


Calvin disambut dengan siraman air seember, membasahi tubuhnya.


"Anak kurang asam. Tidak bisakah kau hilangkan kebiasaan menendang pintu?" balas papa Calvin, Angga Adijaya Alantas. Berkacak pinggang setelah meletakkan ember di lantai.


"Pa jangan marah-marah dong," ucap Santi Dwi Ariati, Mama Calvin.


"Iya Pa. Anak pulang bukannya disambut malah disembur. Papa kurang asam," kesal Calvin mengibaskan rambut.


"Papa kurang asam kau bilang? Kalau tak ada aku gak bakalan ada dirimu?"Angga mencak-mencak marah. Santi mendekati Calvin.


"Sayang, Vin minta maaf sama Papa gih.  Kamu hilangkan kebiasaan menendang pintu itu. Papamu marah, seminggu ini sudah tiga kali ganti pintu rumah. Kantor seminggu dua kali," ujar Santi


yang membuat Calvin nyengir menampilkan deretan gigi putih terawatnya.


"Benar kata Mamamu. Apa uang buat ganti pintu saja hah?" tambah Angga masih kesal. Namun agak terobati dengan Calvin yang basah kuyup.


"Hehehehe …," kekeh Calvin mendekati Angga. Memasang wajah memelas yang sudah tidak cocok lagi dengan usianya.


"Pa, maafin anakmu yang tampan ini ya. Calvin janji gak bakalan menendang pintu lagi," ujar Calvin.


Kalau khilaf gak masuk hitungan ya, tambah Calvin dalam hati.

__ADS_1


"Humph. Ini janji yang sama yang ke-99 tapi selalu kau langgar. Sudahlah," jawab Angga malas.


Calvin tersenyum cerah. Jika begini pasti Angga sudah memaafkannya.


"Makasih Papa," ucap Calvin senang memeluk Angga dengan keadaan masih basah.


"Calvin … ganti bajumu baru memelukku. Ganti baju lagi dah!" pekik Angga kesal pada putranya, bertambah satu poin.


"Ya maaf," sahut Calvin melepas pelukannya dan menggaruk kepalanya.


"Sudah sana, naik ke kamar kamu Vin, ganti baju atau mandi. Nanti masuk angin."


Santi memberi perintah. Tak dapat disangkal oleh Calvin. Calvin mengangguk patuh dan berjalan menuju tangga.


"Ma, Papa kedinginan. Mama hangatin dong." Angga mengerlingkan matanya menggoda Santi. Wajah Santi memerah. Paham maksud suaminya ini. Santi mengangguk pelan.


"Ma, Pa jangan keseringan begadang, sudah tua ingat umur," ucap Calvin keras dari ujung tangga, membuat Angga dan Santi menoleh ke arah Calvin.


"Anak nakal. Cepat sana ke kamar. Ganggu saja," sungut Angga menunjuk Calvin. Dengan cepat Calvin lari ke kamar, tertawa dengan riang.


"Sudah Pa. Jangan dengarkan Calvin. Anak itu memang begitu. Lebih baik kita selesaikan urusan kita."ucap Santi menenangkan Angga dengan memeluknya.


Angga menghela nafas pelan. Senyumnya kembali terbit. Angga menatap serius Santi dan ….


"Pa … kaget tahu!" pekik Santi mengalungkan tangannya ke leher Angga. Angga tertawa renyah dan segera menaiki tangga menuju kamar mereka.


Inilah keluarga Alantas, memang sering diwarnai dengan pertengkaran Anak dan Papa dengan pangkal masalah keusilan dan kebiasaaan menendang pintu Calvin. Santi selalu menjadi penengah.


Keharmonisan selalu terasa walaupun ada pertengkaran. Hal ini juga terjadi di keluarga Anggara. Sam selalu menjadi warna dalam pernikahan Rasti dan Hamdan.


Kini Calvin membaringkan tubuhnya di atas ranjang. 


"Aku tak sabar menunggu kata Sah untuk hubungan kami. Ra tunggu aku menjadi imammu," gumam Calvin tersenyum sendiri. Menatap langit-langit kamar.


"Tapi … aku kok gugupnya mengingat acara ijab qabulnya nanti. Apa bisa semulus Arion yang sekali tarikan nafas? Akhhgg … lebih baik aku latihan dulu deh sama minta bantuan dari Papa," tambah Arion lagi. 


Lelah. Calvin mulai tertidur. Menuju alam mimpi. Memulihkan tenaga untuk beraktivitas di masa depan. Biar fress fisik dan fress pikiran. 


***


Pagi hari di markas Pedang Biru.


Di kamar yang ditempati oleh Joya, cahaya menyeruak masuk, membuat Joya terusik dari tidurnya. Matanya mulai membuka pelan. 


Masih sama dengan keadaan semalam. Sudah satu hari satu malam Joya tersekap di sini.


"Darwis lepaskan aku!" teriak Joya tak kenal lelah berusaha meronta melepaskan rantai yang setia membenggu kedua tangannya. Rantai ini hanya dibuka saat keadaan darurat. Itupun harus Darwis sendiri yang membukanya.


"Darwis? Di mana dirimu. Lepaskan aku!" teriak Joya lagi. Tak lama pintu terbuka, menampilkan Darwis yang masuk dengan nampan berisi beberapa lembar roti bakar dan susu ibu hamil.


"Jangan teriak-teriak sweetheart. Aku dengar kok tanpa kau harus berteriak," sahut Darwis tersenyum manis. Membuat jantung Joya berdebar.


Darwis duduk di pinggir ranjang, meletakkan nampan di nakas.

__ADS_1


"Ada apa kau memanggilku? Kau dan anak kita merindukanku?" tanya Darwis memegang tangan kanan Joya yang terantai.


__ADS_2