
Suara alarm dari handphone Arion, membuat dua insan yang tengah tertidur nyenyak, mengerjapkan mata mereka. Arion membuka mata dan menguceknya perlahan. Gelap, ia segera bangun dan menggapai handphonenya.
"Jam 05.00?" gumam Arion.
Membiarkan suara alarm terus berbunyi. Pandangannya teralih ke arah saklar di dinding dan menghidupkan lampu.
"Em?" Karina masih menggeliat, enggan membuka mata dan menggerakkan tangannya mencari guling. Jika dulu, sebelum hamil ia suka memeluk Arion, kini Karina lebih suka memeluk guling.
Arion mendengus kesal melihat Karina yang memeluk erat guling. Hatinya cemburu, ya walaupun itu guling tapi dapat menggantikan kenyamanan Karina darinya saat tidur.
"Ck, awas saja kau, akan ku hanguskan dan abumu ku buang ke selokan," gumam Arion kesal pada guling yang dipeluk Karina.
Sadar dengan handphone yang sudah diam, Arion lantas segera membangunkan Karina.
"Yang, bangun yuk, sudah waktunya bangun," ujar Arion mengguncang pelan pundak Karina.
"Em, bentar lagi," sahut Karina tanpa membuka matanya, samar terdengar seperti gumaman.
"Ayolah, sudah waktunya, nanti kesiangan loh, Yang, Karina," ujar Arion lagi, mendekatkan wajahnya ke wajah Karina, hingga hidung mereka bersentuhan.
"Yang," panggil Arion lagi. Merasa ada hembusan nafas yang sangat dekat dengannya, Karina menggerakkan kelopak matanya dan membukanya perlahan. Suara azan dari handphone Arion berbunyi sesuai dengan kuatnya volume yang disetel.
"Masih ngantuk Ar, lima menit lagi ya," ucap Karina dengan mata sayunya. Arion tersenyum dan memundurkan wajahnya.
"Makanya bangun, aku jamin setelah kamu kena air wudhu, mata dan kantuk kamu pasti lenyap, ayo jangan biarkan kantuk mengalahkan suara azan," ucap Arion mengusap rambut Arion.
"Hm, baiklah," sahut Karina. Karina lantas segera melepaskan pelukan pada gulingnya dan duduk bersandar pada kelapa ranjang. Handphone Arion diam setelah doa sesudah azan selesai dibacakan.
Arion dan Karina lantas segera berwudhu. Arion dengan khusyuk mengimami Karina dalam sholat. Setelah mengucapkan salam, kedua berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Memanjatkan doa dan harapan mereka.
Setelah kata amin terucap, Arion membalikkan tubuhnya dan menjulurkan tangan kanannya.
Karina dengan cepat menyambar dan menciumnya. Tak lupa juga Arion mengusap dan mencium lembut perut Karina yang sudah membesar.
"Kita jalan-jalan pagi yuk, sekitar mansion saja," ajak Karina, sembari melepas mukenanya.
"Hm, bagaimana jika ke luar mansion? Sekalian ke rumah sakit, Papa bilang kakek sudah sadar dan sepertinya ada hal serius yang disembunyikan oleh kakek," tanya Arion.
"Hm, tapi ke mana? Searching dulu lah," tanya Karina. Arion segera mengambil handphonenya dan mencari lokasi yang ingin mereka datangi.
"Bagaimana jika kemari? Haneul Park di World Cup Park?" Arion menunjukkan layar handphone pada Karina.
"Oke," jawab Karina, segera berganti pakaian dengan celana sport berwarna hitam serta kaos berwarna putih, yang pasti cocok dan nyaman untuk ibu hamil. Tak lupa juga topi bertuliskan 'Smart ' dan sweater ia kenakan. Arion mengenakan pakaian seragam dengan Karina.
***
Waktu menunjukkan pukul 05.50, Karina dan Arion dengan langkah beriringan dan wajah tersenyum cerah, menaiki satu demi satu anak tangga menuju Haneul Park atau taman langit untuk menikmati sunrise atau matahati terbit.
Langit gelap mulai menghilang berganti dengan warna biru dan merah tua. Suasana fajar sebelum matahari terbit memang menenangkan.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian mereka tiba di tujuan. Menghela nafas dan mengelap keringat yang keluar. Arion dan Karina lantas mencari tempat yang pas untuk menikmati matahari terbit.
Arion mengeluarkan botol minum dari tas yang ia bawa dan menyodorkannya pada Karina. Karina menerima dan menenggaknya.
"Yang," panggil Arion ragu. Karina yang menatap lurus ke depan menoleh dan mengangkat satu alisnya.
"Hm?" sahut Karina bertanya.
"Kita berangkat ke kota Ulsan setelah menjenguk kakek di rumah sakit?" tanya Arion. Karina mengeryit, merasa itu bukan pertanyaan sesungguhnya. Karina mengangguk sebagai jawaban dan kembali melihat ke depan.
"Aku tak akan membuang atau menyingkirkan guling itu, aku nyaman tidur dengan memeluknya. Jika aku memelukmu, perutku tak nyaman. Tekstur kau dan guling berbeda. Kau keras dan ada ototnya sedangkan gulingku sangat lembut dan bisa menyesuaikan diri dengan perutku," ucap Karina dengan nada datarnya. Arion terkesiap. Itu adalah hal yang mau ia sampaikan, namun tertahan di tenggorokan.
Arion menghela nafas pelan dan tersenyum.
"Kau bisa baca batin orang ya?" Arion menggenggam jemari Karina.
"Tak, tapi aku bisa baca mimik wajah sekecil dan sesamar apapun," jawab Karina.
"Benar, aku cemburu dengan gulingmu itu, sejak usia mereka tiga bulan di sana, kau tak pernah memelukku lagi saat tidur. Aku saja berniat mengkremasi gulingmu itu," ujar jujur Arion.
"Ya ah? Kau cemburu pada guling? Ayolah kan sudah ku jelaskan, jika mereka sudah lahir baru aku bisa memelukmu lagi saat tidur, kau kan suka memelukku erat saat tidur, yang ada mereka bisa tertekan di dalam sana, kau mau mereka cedera?" Karina melirik Arion.
Mata Arion membulat.
"Tentu tidak! Jangan sampai mereka cedera ataupun terluka, baik di dalam rahim ataupun sesudah lahir nanti!" pekik Arion spontan. Karina tersenyum.
"Baiklah," sahut Arion.
Kurang lebih pukul 06.45, waktu matahari terbit di Seoul hari ini pun tiba. Cahaya keemasan hampir berwarna jingga mulai memancar dari ufuk timur. Bola bersinar yang tak padam mulai terbit.
Lama kelamaan semakin naik dan menerangi seluruh penjuru kota Seoul. Karina dan Arion tersenyum cerah secerah terbitnya matahari. Wajah mereka terasa hangat diterpa cahaya matahari. Tak hanya mereka, ada orang lain juga yang bersama-sama menikmati matahari terbit, mengabadikannya dengan kamera ponsel ataupun alat photografi lainnya.
"Semoga kehidupan kita selalu seperti matahari terbit, selalu bersinar dan memberikan penerangan bagi sekitarnya. Dan membawa perubahan menuju arah yang lebih baik," ujar Arion, merangkul Karina dan menariknya agar bersandar di bahunya.
"Amin," ucap Karina, setuju dengan harapan Arion.
***
Maria dan Amri bekerja sama merawat kakek Bram. Maria mengusap wajah kakek Bram dengan kain lembut nan hangat, sedangkan Amri menyapukan kain basah membasuh kaki kakek Bram. Hati kakek Bram menghangat, perlakuan yang selama ini jadi khayalan dan impian kini menjadi kenyataan.
Setelah selesai membersihkan tubuh kakek Bram, Amri segera membawa baskom dan kain ke kamar mandi, sedangkan Maria menyuapi kakek Bram tengah telaten.
"Kapan Karina dan Arion datang? Aku tak sabar menunggu hasilnya?" tanya kakek Bram tak sabaran. Waktu menunjukkan pukul 08.00.
"Sabar sebentar Ayah, Karina dan Arion itu kan pasti ada urusan selain mencari mereka, ingatlah mereka itu pimpinan dari perusahaan raksasa," sahut Amri.
Kakek Bram menunduk sedih, rasa rindu dan khawatir pada Nita dan Alia menyeruak ke dada, membuatnya menitikkan air mata. Maria panik dan menatap kesal Amri.
"Tunggulah sebentar lagi Yah, pasti mereka akan tiba, Ayah jangan menangis," ujar Maria memegang tangan kakek Bram.
__ADS_1
"Hm, aku rindu dengan Nita dan Alia, Alia baru umur sebulan bagaimana jika ia diperlakukan buruk? Dan Nita? Aku tak tahu dia di mana dan bagaimana kondisinya. Kalian suruh aku tenang dan menunggu?" Dengan nada marah di akhir kalimat.
Kakek Bram menatap Amri dan Maria kesal. Nafasnya kembali memburu.
"Mereka ada di kota Ulsan," ucap seseorang dengan nada tegas, diikuti dengan terbukanya pintu ruang rawat. Karina dan Arion yang masih mengenakan baju mereka tadi berdiri tegak di depan pintu yang terbuka lebar.
"Karina, Arion, syukurlah kalian sudah datang," seru Amri. Karina dan Arion tersenyum dan mengucapkan salam. Berjalan masuk dan mencium tangan ketiga orang tua itu.
Kakek Bram menatap Arion dan Karina dengan tatapan penuh harap dan ingin tahu.
"Tenang kakek, kami sudah menemukan lokasi mereka. Pengawalmu beserta Enji dan anggota Pedang Biru sudah on the way ke sana seusai matahari terbit, setelah dokter menyatakan kakek sudah boleh keluar baru kita menyusul," ujar Arion memberitahu.
"Benarkah? Aku- aku sudah sehat dan sembuh. Mendengar kalian sudah tahu di mana mereka, rasa sakitku hilang semua, ayo ke sana sekarang!" seru kakek Bram bersemangat dan berniat melepas sendiri infus yang masih menusuk tangannya.
Melihat itu dengan cepat Karina menahan tangan kakek Bram diikuti oleh Arion dan tatapan kaget Amri dan Maria.
"Tunggu persetujuan dokter baru boleh, lebih baik kakek diam dan mengatur nafas serta emosi," ucap Karina tegas.
"Tapi cucu menantu, aku-" ucap kakek Bram namun terpotong duluan oleh Amri.
"Turuti saja Ayah, aku akan memanggil dokter dulu," potong Amri, segera melangkahkan kakinya keluar.
"Kakek, kondisimu dulu utamakan, baru kita bergerak," ucap Arion. Kakek Bram menatap Karina dan Arion pasrah. Tatapan datar Karina dan tatapan lembut Arion membuatnya luluh sekaligus takut. Dengan samar, ia mengangguk.
"Eh tunggu dulu, mengapa dia langsung mamanggil dokter ke ruangannya, bukankah ada tombol khususnya?" tanya kakek Bram merasa aneh.
"Mungkin Dia lupa karena panik dan khawatir dengan Ayah," jawab Maria.
"Benarkah?" Kakek Bram menyipitkan matanya.
"Ck, tadi kakek emosi dan ingin pergi sekarang malah curigaan, dasar kakek-kakek." Karina meledek sekaligus kesal pada kakek Bram.
"Lantas apa maumu cucu menantu?" tanya kakek Bram.
"Suasana tenang," jawab Karina, berbalik dan melangkahkan kakinya menuju sofa.
Lima belas menit kemudian Amri datang bersama seorang dokter dan suster. Dokter segera memeriksa kondisi fisik kakek Bram, ia tampak terperangah.
"Sungguh di luar dugaan, kondisi Anda bisa pulih secepat ini, kalau begini siang ini Anda bisa keluar dan beristirahat di rumah, padahal dari pengalaman saya jika seperti Anda ini paling cepat dua hari baru fit, apakah Anda ada mengonsumsi obat lain selain dari resep saya?" ujar dokter seraya tersenyum. Kakek Bram mengedarkan pandangannya menatap Amri dan Maria minta jawaban.
"Kemarin ada obat yang Karina kirimkan, tapi dosisnya hanya sekali minum. Tempatnya juga sudah saya kembalikan kepada pengirimnya sebab disitu tiba disitu diminumkan, walaupun Ayah masih dalam keadaan tak sadarkan diri," jelas Maria.
"Jadi siapa itu Karina?" tanya sang dokter.
"Saya, ada perlu apa?" Karina menoleh dan menaikkan satu alisnya. Dahi sang dokter mengerut, tak lama ia mengangguk paham.
"Saya ingin keluar saat ini juga, bisakah?" ucap kakek Bram. Nadanya lebih kepada mendesak bukan meminta. Dokter tersebut diam sejenak. Ia mengangguk.
Kakek Bram tersenyum dan segera meminta agar alat-alat yang menempel padanya dilepas. Akhirnya satu jam kemudian setelah mengurus semua masalah administrasi, Kakek Bram, Amri, Maria, Karina dan Arion meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1