
Saat memasuki zoo aquarium, Karina and the geng disambut dengan warna-warni ikan terumbu karang.
Aquarium raksasa yang khusus menjadi tempat tinggal terumbu karang beserta penghuninya, sangat menyejukkan mata. Gerakan ikan yang lincah namun elegan, menjadi daya tarik tersendiri.
Melangkah lebih jauh, didapati area bebas untuk spesies burung khususnya paruh bengkok.
Di area ini, pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan burung paruh bengkok, tetap diawasi oleh petugas.
Di sini, para bawahan Karina sudah mulai berpencar, menghampiri apa yang menarik bagi mereka. Karina dan Arion berada cukup lama di area ini.
Karina berinteraksi dengan seekor kakatua raja. Burung dengan ciri khas bulu dan jambul berwarna hitam dengan pipi berwarna merah tua itu bertengger manis di lengan Arion.
Karina mengusap bulu kakatua raja itu dengan tersenyum. Arion menjentikkan jarinya di depan kakatua raja sembari mengajaknya berbicara.
"Halo," sapa Arion.
Tak lama kemudian, kakatua raja itu membalasnya dengan mengatakan halo.
Kakatua itu terus mengoceh, mengucapkan apa saja yang ia pelajari dari pelatihnya. Hal itu sudah pasti jadi perhatian bagi pengunjung lain.
Arion terkekeh. Kakatua itu bergeser, berpindah ke dahan kayu kering tempatnya biasa mangkal.
"Ku ingat kamu punya mereka di rumah," bisik Arion.
"Sudah aku pindahkan ke markas. Mereka terlalu berisik," jawab Karina pelan.
"Pantas rumah sepi," sahut Arion.
"Hm," gumam Karina.
Karina dan Arion melanjutkan langkah mereka. Area selanjutnya adalah area khusus reptil ukuran mini yang bisa tinggal di dalam akuarium.
Aneka jenis ular berukuran kecil, menempati box kaca yang di dalammya terdapat ranting, bebatuan, juga kayu berlubang sebagai sarang mereka.
Karina menilik dan membaca keterangan yang tertera di meja tempat box-box kaca itu berada.
Dalam sekali lihat, Arion tahu Karina sudah memiliki beberapa di antara para ular mini ini.
Melihat ular, Arion teringat beberapa minggu lalu saat Karina membeli ular albino dan menguras uang di dompetnya.
"Enggak ada yang menarik, tapi cukup lengkap," ucap Karina.
Arion menaikkan satu aslinya. Enggak menarik karena hampir memiliki semua ular mini ini, tetapi memuji untuk detail informasi yang disajikan.
Bagian selanjutnya, adalah inti dari zoo akuarium. Di sini pengunjung akan dihadapkan pada akuarium super besar yang menampung aneka jenis ikan, termasuk di dalamnya hiu, pari, dan ikan laut lainnya.
Karina dan Arion berjalan memasuki lorong yang kanan kirinya langsung dinding transparan, atapnya juga masih merupakan akuarium, dengan lantai yang juga transparan, melewatinya seolah sedang berjalan di dalam laut. Ikan berenang bebas.
Mata Karina berbinar gembira, terlebih saat melihat ada petugas yang secara langsung memberi makan predator laut serta berinteraksi dengan mereka.
"Kamu sudah punya piranha, jangan berniat membawa hiu, pari, ataupun paus ke rumah. Itu rumah apa kebun hewan?"tegas Arion.
"Rumah rumahku, terserang aku dong, lagipula masih ada lahan sisa. Lebar lagi," sahut Karina santai dengan tetap melihat pergerakan petugas yang berinteraksi dengan predator laut itu.
"Kalau gitu besok kita pindah, akan ku siapkan rumah," putus Arion.
"Eits! Mana bisa! Kalau kamu mau pindah, pindah saja sendiri!"tolak Karina.
"Kalau aku juga pindah sama kamu, semua koleksi aku bakalan ikut."
Karina berhenti dan menyilangkan kedua tangannya, bibirnya mengerucut kesal.
Arion berdecak sebal, pernyataan Karina tidak ada yang memihak padanya.
"Jangan dikandangkan di rumah ya."
Arion merangkul Karina. Karina tersenyum tipis, lalu mengangguk. Arion ikut tersenyum dan mengajak Karina melanjutkan langkah.
Keluar dari lorong, mereka di sambut dengan kolam-kolam kecil berisi ikan air tawar, juga hewan amfibi.
Karina lebih tertarik pada aquarium yang menampung katak berdasarkan jenisnya, tentu saja yang cantik namun beracun.
Arion tentu saja mengikut, setia di samping Karina. Memastikan Karina aman terkendali.
*
*
*
Di lain sisi, Rian dan Satya lebih memilih ke kedai kopi. Mereka memesan varian kopi yang berbeda. Satya Americano sedangkan Rian latte.
Ada yang spesial dari kedai kopi ini, para pengunjung akan menikmati waktu santai mereka ditemani oleh penguin - penguin yang bergerak kesana - kemarin di dalam akuarium sebagai tempat mereka tinggal.
Satya mengedarkan pandangannya, tak lama mendengus kesal setelah mendapati tanda dilarang merokok.
"Kebiasan kamu!"tegur Rian.
"Kepalaku pusing," jawab Satya mengaduk kopinya dengan wajah muram.
Satya memikirkan saat ia akan berhadapan dengan Tuan Adiguna dan Intan nanti.
Bukannya takut, cuma saja Satya was-was dan malas seandainya nanti akan ada yang nyolot tidak terima. Alasannya menikah Riska, cukup spesial.
"Cie yang gugup mau ketemu calon mertua," ledek Rian tertawa.
Satya langsung menatap tajam Rian. Rian tetap tertawa. Wajahnya berseri, membuat kadar ketampanannya bertambah.
"Diam kau!"geram Satya memukul meja.
Rian terlonjak, langsung diam dan duduk tenang, layaknya anak SD yang lomba diam untuk pulang lebih awal.
__ADS_1
Satya menghembuskan nafas kasar, matanya yang semula tajam perlahan berubah sendu.
"Maaf Ya."
Rian merasa bersalah. Secara tidak sadar, memang dirinya penyebab pernikahan Satya dan Riska.
Andai saja ia tidak meninggalkan Satya sendirian, seandainya saja ia membawa Satya ikut bersamanya, pasti Satya masih menyandang status single.
Tapi nasi sudah jadi bubur, Karina juga sudah mengatur, apa boleh buat.
"Hahhhh … sudahlah. Tidak ada yang harus diubah ataupun dicegah. Jika memang anak kecil itu takdirku, aku menerimanya dengan lapang dada. Ya Tuhan, lancarkanlah segala urusanku."
Satya kini benar-benar membulatkan hati dan tekad.
"Gue yakin loe pasti nyaman sama Riska," semangat Rian.
Satya mendengus senyum dan menyeruput kopinya.
"Loe kapan?"tanya Satya.
"Apanya?"tanya balik Rian tidak mengerti.
"Nyusul Darwis dan gue."
Rian tersedak dengan lattenya. Ia terbatuk keras seraya meraih tisu. Rian membersihkan noda latte di baju dan bibir serta rahangnya.
Satya masih menatap Rian meminta jawaban. Rian mengendikkan bahunya tidak tahu.
"Dari pada loe mikirin gue, lebih baik elo mikirin diri loe sendiri dulu," saran Rian, memanggil pelayan untuk memesan cake.
Satya diam, tak lama menyetujui saran Rian.
*
*
*
Darwis dan Joya kini berada di area terbuka, lebih tepatnya di area kolam renang berbentuk lingkaran dengan kursi yang mengelilinginya.
Semua kursi hampir terisi, mereka menyaksikan pertunjukkan lumba-lumba.
Joya berseru gembira saat melihat masing-masing lumba-lumba melewati cincin api dengan mulus, serta tertawa lepas saat melihat para lumba-lumba bermain bola.
Darwis yang melihat dan mendengar hal itu tentu saja merasa lega dan bahagia.
"Darwis, kita harus sering kemari ya. Tempat ini sangat menghiburku," pinta Joya memegang lengan Darwis.
"Tentu," jawab Darwis cepat.
Sesaat, Darwis melamun. Ia merasa bersalah, sebab selama Joya menikah dengannya, belum pernah sekalipun Darwis mengajak Joya ke tempat wisata.
Kecuali jika ada agenda makan malam di luar, barulah mereka akan keluar tanpa membawa beban pekerjaan, itupun Rian dan Satya ikut.
"Kita akan sering kemarin. Aku juga akan mengajakmu ke tempat indah dan menarik lainnya," ujar Darwis, mencium punggung tangan Joya.
Joya mengangguk sumringah.
Saat hendak berdiri, tiba-tiba saja Joya merasa kakinya lemas. Joya terduduk lagi. Darwis langsung khawatir, wajah paniknya sangat jelas.
"Joya terlalu lelah," ucap seseorang.
Darwis mencari sumber suara itu. Joya tetap duduk dan menutup mata sembari menenangkan diri.
Karina dan Arion duduk di kursi kosong yang terletak di belakang kursi Darwis dan Joya. Darwis mengesah kesal atas kelupaannya sendiri.
Bagaimana aku bisa lupa penyakit sialan itu!?batin Darwis.
"Sweetheart, bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik? Kita ke rumah sakit ya," tanya Darwis khawatir.
Joya membuka matanya dan tersenyum. Ia tak mau membuat suami dan orang terdekatnya khawatir. Joya meruntuki dirinya sendiri.
Terlalu bahagia, membuatku lupa dengan kanker otak ini, batin Joya.
"Sudah lebih baik kok. Tidak perlu ke rumah sakit. Aku hanya lelah. Maafkan aku," ucap Joya lembut.
"Tapi …."
"Aku tidak apa!"
Joya menatap Darwis meyakinkan. Darwis menghela nafas.
Arion, hanya diam mengamati. Ia enggan berurusan dengan masalah Joya dan Darwis.
Bisa-bisa ia kena kick oleh Karina. Tampangnya saja acuh, tapi aslinya protektif banget.
"Kita ke resto saja. Sudah waktunya makan siang. Aku akan menghubungi yang lain. Kalian ini memang nakal. Katanya mau menghabiskan waktu denganku, nyatakan malah berpencar."
Karina mendengus kesal.
"Maaf," ucap Darwis dan Joya bersamaan.
Karina menarik senyum tipis.
"Sudah. Lupakan saja, ayo," ajak Karina.
Tidak mau membuat Joya lebih lelah lagi, Darwis menggendong Joya menuju resto. Awalnya sih Joya menolak, tapi Darwis kekeh.
*
*
__ADS_1
*
"Tiga tahun, tempat ini banyak berubah. Dulu hanya ada hewan laut. Ikan air tawar pun belum ada. Dekorasi dan tata letaknya pun tidak seperti ini," celoteh Mira saat berkeliling.
Gerry mengangguk paham. Tiga tahun, waktu yang cukup untuk membuat perubahan besar.
"Platipus ini panjang umur sekali," ucap Mira takjub saat tiba di kandang platipus.
"Benarkah? Apa dia sudah ada sebelum kamu pergi keluar negeri? Bagaimana caramu mengenalinya?"tanya Gerry.
"Ada luka di tubuhnya. Platipus ini adalah hewan sitaan dari pedagang satwa liar yang dilindungi. Tempat ini, bukan sekedar zoo, tetapi juga tempat konservasi," jelas Mira.
"Apakah kamu yang melaporkannya?"
"Tepat!"
"Good job," puji Gerry.
Saat membahas lebih jauh lagi, handphone Gerry berbunyi. Pesan suara dari Karina untuk segera berkumpul di resto.
"Ayo," ajak Gerry.
Mira mengangguk. Dengan bergandengan tangan, mereka menuju resto yang dikirim oleh Karina.
*
*
*
"Kalau aku lihat dan rangkum, tempat ini hampir sama persis dengan taman hewan markas. Hanya kurang lengkap saja satwa di markas," komentar Elina.
Li terkekeh.
"Siapa bilang?"
Elina menaikkan alisnya.
"Pedang Biru punya hutan lindung, juga beberapa kebun binatang yang merangkap sebagai tempat konservasi. Hanya saja, memang tidak banyak orang yang tahu, Pedang Biru hanya bertindak sebagai donatur terbesar serta pengawas. Hanya orang - orang tertentu yang tahu. Tempat ini juga berada di bawah naungan Pedang Biru. Hanya saja sepertinya mereka lupa," jelas Li pelan.
Elina membulatkan matanya.
"Jadi ini punya Karina juga?"tanya Elina memastikan.
"Hm, begitulah," jawab Li.
"Sekaya apa Karina?"
"Jangan dipikirkan, kamu bisa gila nanti."
"Aku hanya bertanya."
"Setara dengan sultan Dubai atau raja Arab, mungkin."
"Seharusnya aku sudah tahu. Tapi … mengapa dia sangat perhitungan? Keluarga mau masuk saja harus bayar!"
"Kan sudah ku katakan, sangking banyaknya aset, dia jadi pelupa sama asetnya sendiri. Tapi, masalah hutang, dengan pihak mana dan sekecil apapun itu dia pasti ingat."
"Deabak!"puji Elina mengacungkan kedua jempol tangannya.
Tak lama, Li menerima pesan dari Karina. Mereka segera bergegas.
*
*
*
Makan siang, mereka memesan menu seafood. Mulai dari kerang, udang, ikan, serta cumi-cumi. Joya sudah merasa tidak lelah lagi.
Sebelum makan menu yang dipesan, bawahan Karina harus makan semburan marah Karina dulu.
Karina mengomel kesal, terlebih pada Darwis, Joya, Rian, dan Satya. Dua pasangan lain, walaupun tidak kena marah secara langsung, tetap saja mendengar omelan Karina.
Mau membantah, tapi tidak berani. Tapi mereka senang, sebab Karina sangat mempedulikan mereka.
Arion menutup telinga. Untuk ruangan privat, jika tidak pasti akan menjadi perhatian banyak orang.
Puas mengomel, barulah Karina menyuruh mereka makan.
*
*
*
Setelah Zuhur, Karina, Arion, Gerry, Mira, Li, dan Elina pamit pulang. Tidak ada alasan lagi Trio Tampan dan Joya menahan.
Mereka berpisah di bandara. Karina dan Arion langsung masuk ke kamar setelah masuk ke dalam pesawat. Di kamar, bukannya tidur, Karina malah memeriksa persiapan untuk meeting besok.
Arion menemani Karina, sembari mengecek email yang masuk padanya. Spam chat omelan Amri langsung memenuhi jendela notifikasi begitu ia menghidupkan data.
"Berisik," ketus Karina.
"Hm."
Seketika mode diam aktif pada handphone Arion.
"Sepertinya besok aku akan sangat sibuk," ujar Arion lesu.
"Maka semangatlah!"sahut Karina.
__ADS_1