Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 376


__ADS_3

"Apa maksudmu, anak muda? Kalian yang mencoreng nama baik kami mengapa kalian yang marah hah?"sergah ayah Sintia, geram.


"Maksudku? Selamat Anda tertipu oleh putri Anda sendiri!"sahut Enji.


"Kurang ajar! Beraninya kau merendahkan putriku!"bentak ayah Sintia, menghampiri Enji hendak memukulnya. Sayangnya baru dua langkah, tangannya di tahan oleh orang-orang yang dibawa oleh Elina dan Gerry. Sintia juga ditangkap dan dipaksa berlutut. 


"Apa-apa ini? Ar, inikah caramu memperlakukan ibu dari anakmu?" Sintia menatap sayu Arion.


"Huh. Kau bukan ibu dari anakku!"ketus Arion, melangkah hendak berdiri di sisi Amri. Sayangnya, bukannya sedikit lega, Arion malah terjerembab jatuh akibat pukulan dari Darwis. 


"PAPA!" Bintang, Biru, dan Bima menghampiri Arion yang masih terduduk di lantai, menatap Darwis marah.


"Aduh! Kenapa kau memukulku?"keluh Arion, mengusap memar di pipinya. 


"Bahkan membunuhmu pun tak bisa melampiaskan amarahku!"sahut dingin Darwis.


"Cukup, Wis! Jangan menambah masalah. Lebih baik kalian berempat keluar dari sini. Biar kami yang menyelesaikan masalah ini!"tegur Gerry, memegang pundak Darwis. 


"Benar. Lebih baik Paman keluar. Jangan memukul Papa lagi!"ucap Biru dingin. Darwis yang masih emosi, diam tidak menggubris, menatap dingin Arion. Satya yang menangkap ada kesalahpahaman, berbisik pada Joya. Joya segera menarik lengan Darwis, keluar dari ruangan ini diiikuti oleh Satya dan Rian.


"Pipi Papa pasti sakit, kan?" Bintang dengan lembut mengusap pipi Arion.


"Tidak sakit, kok. Papa kan kuat," jawab Arion, tersenyum.


Apa-apaan ini?! Sintia menatap geram keluarga Wijaya, ia merasa dipermainkan. 


"Berhenti melawan. Lihat dan dengar kebenaran tentang anak Anda!"ucap Enji. Dinding di depan mereka berubah menjadi layar lebar. 


Sejak Amri masuk, para tamu disuruh keluar, begitu juga dengan penghulu. Yang tersisa hanyalah keluarga Wijaya, serta Sintia dan sang ayah. Ucapan akan pemutusan hubungan dengan Arion tadi hanyalah skenario rencana. Yang diluar rencana adalah kehadiran Darwis, Satya, Rian, dan Joya. Pukulan itu berada di luar dugaan.


"Sintia Isabella, putri dari Adam Rahmawan. Tahun ini berumur 25 tahun. Lulusan universitas XY dengan peringkat rata-rata. Saat ini bekerja sebagai model perusahaan KI." Enji mulai membeberkan identitas Isabella.


"Apa yang salah dengan itu?" Sintia bersuara, dirinya merasa sangat terancam. 


"Tidak ada yang salah. Salah Anda hanya satu, sangat berani menjebak keluargaku! Kau kira kami begitu saja percaya dengan ucapanmu? Jika bukan karena tindakan ayahmu, kau pasti sudah mati!" Enji tersenyum smirk. 


Adam menatap Sintia, wajahnya mulai terlihat bingung. 


Gerry mengkode orangnya, untuk memberi jarak yang jauh antara ayah dan anak itu.


"Tuan Adam, selama ini Anda hanya tahu bahwa putri Anda polos, lemah lembut dan mudah ditindas, tapi nyatanya putri Anda ini adalah seorang wanita murahan!"


"A-apa katamu?!" Adam tidak terima, berusaha memberontak tapi ia kalah tenaga.


Sintia ingin berkilah tali mulutnya disumpal kain. Terlalu berisik.


"Tidak percaya? Tidak masalah. Memang tidak mudah menyakinkan orang tua tentang keburukan anaknya, terutama ayah tunggal yang sangat menyayangi anaknya." Enji menghubungkan tablet di tangannya dengan layar tersebut.


"Ada tahu siapa wanita itu?" Adam melihat ke arah layar, matanya membulat menemukan anaknya berada di dalam sebuah club. Menari bersama dengan pria, bahkan tak segan bersentuhan bibir dan saling raba. Pakaian anaknya juga sangat seksi, di atas lutut dan hampir menampakkan buah dadanya. Jika itu sudah dewasa, masih wajar sayangnya usia Sintia kala itu masihlah tujuh belas tahun, belum tamat SMA lagi.


"Dan faktanya, anak Anda sudah kehilangan kesucian saat masih duduk di bangku sekolah. Parahnya lagi itu dilakukan dengan teman sekelasnya sendiri!"


"Wow. Luar biasa," gumam Elina. Elina dan yang lainnya sendiri duduk di kursi, melihat penampilan Enji.


"Mungkin Anda tidak percaya jika hanya ucapan, tapi bagaimana jika saya menghadirkan pelakunya sendiri di sini?" Enji bertepuk tangan, seorang pria masuk dengan wajah yang babak belur.


"Andreas?" Adam mengenali pria itu, Sintia mendelik, keringat dingin mengalir dari tubuhnya.


"Pa-paman. Ma-maafkan saya Paman. Saya bersalah, saya termakan nafsu." Dan pria itu berlutut, membenturkan kepalanya sendiri ke lantai. 


"Apa dia mau mati?"heran Maria, menikmati pertunjukan sembari menyantap cemilan di atas meja. 


Adam tidak menjawab. Terlalu banyak informasi mengejutkan yang ia terima. Pria bernama Andreas itu ditarik ke sudut ruangan, duduk dengan dahi berdarah.


"Eits. Ini belum selesai. Anda tahu bukan sex bisa menimbulkan kecanduan. Anak Anda ini mencari kesenangan dari itu. Nona Sintia, berapa banyak sudah lelaki Anda? Bahkan dosen Anda juga menjadi salah satunya." Sintia tidak menjawab. Bukti percakapan intim terpampang jelas di layar. 


Tak cukup sampai disitu, foto di layar berubah, berganti dengan beberapa foto yang di setiap fotonya ada satu kesamaan yaitu wanita yang sama dengan pria yang berbeda. 


Enji kembali membeberkan dan menjelaskan satu demi satu bukti yang mereka kumpulkan, ya mereka, Biru dan Bima juga berperan dalam mengumpulkan semua bukti. Belum lagi harus kerja keras memulihkan file yang dihapus, dan mencari rekaman yang sesuai.


Sebenarnya tanpa sampai hari ini pun, Arion bisa mengatasi hal itu, tapi hanya untuk sementara. Jadi satu-satunya cara adalah bersandiwara dan mengumpulkan semua bukti. Biarpun Adam bukan pengusaha besar, ia memiliki watak yang tegas dan tidak mudah percaya jika tidak ada bukti. Adam tidak gentar berhadapan dengan orang yang memiliki kekuasaan lebih darinya, asalkan ia berada di pihak yang benar.


Baik Adam maupun Sintia diam membisu mendengarkan Enji. Sintia tidak bisa menyangkal, Adam tidak bisa membohongi dirinya. 


*


*


*


"Li kau susul Elina, biarkan mereka ke markas sendiri," ucap Karina sebelum turun dari pesawat. Untuk kelompok Anfa sendiri sudah turun dan menunggu di bawah. 


"Aku akan pulang ke rumah." Karina menyela Li. Li mengangguk pelan dan turun. Karina turun dengan menggandeng lengan Brian dan Basurata, Bahtiar sendiri memegang baju Karina dari belakang.


 


Li mempersilahkan Osman, Emir, Rayan, dan Aldric masuk ke mobil, memberikan cincin berukir mawar biru pada Emir. 

__ADS_1


"Ini sebagai tanda kita harus adalah sekutu," ucap Li menjawab kebingungan Emir. 


"Aku ada urusan di sebentar, kalian akan ke markas dengan sopir," ucap Li lagi.


"Lalu Kaira?"


"Dia naik mobil sendiri," jawab Li menoleh ke arah mobil berwarna putih di mana di dalamnya sudah duduk Karina dan ketiga anaknya, melaju duluan meninggalkan Li dan yang lain.


Mobil yang membawa kelompok Anfa mulai melaju meninggalkan Li. Li dan sopir mobil yang Karina kemudikan, melangkah keluar bandara mencari taksi.


*


*


*


Karina mengemudi dengan kecepatan sedang, membelah jalan kota dengan sedan putih itu. Untung saja tidak ada razia. 


"Ibunda, kemampuan mengemudi Ibunda sangat hebat! Sebanding dengan kemampuan berkuda," takjub Bahtiar, menatap kagum Karina dari kursi belakang. Karina tersenyum.


"Jujur, Ibu lumayan kaku, Nak. Sudah empat tahun Ibu tidak mengemudi," sahut Karina.


"Ibunda, kota ini sangat berbeda dengan kota kita. Di sini gedung terbuat dari kaca sedangkan di sana masih batu dan jendela kayu," ucap Brian, merasa takjub dengan kota ini. Karina terkekeh.


"Ibunda kita akan ke mana? Mengapa tak bersama Ayah?" Basurata menatap Karina penasaran.


"Kita akan pulang ke rumah, sedangkan Emir ke markas Ibunda. Sebentar lagi kita akan sampai," jawab Karina.


"Rumah? Rumah Ibunda?" Karina menggeleng.


"No, rumah kita."


"Aku sangat penasaran seperti apa rumah Ibunda," ucap Bahtiar dengan mata tak sabar.


Lima menit kemudian, mobil berhenti di depan gerbang biru kediaman Karina. Gerbang besar yang kokoh, tidak ada perubahan di sana. Karina diam sebentar, ia tidak memiliki kartu akses masuk ke rumahnya sendiri. Tasnya hilang sewaktu kecelakaan. 


"Ibunda di balik gerbang ini rumah Ibunda?"tanya Basurata. Karina mengangguk, membuka pintu mobil dan keluar.


"Siapa itu?" Penjaga tak mengenali Karina, wajar Karina menggunakan cadar. 


Penjaga gerbang masih sama. 


Malas menjelaskan, Karina membuka cadarnya. Mata kedua penjaga gerbang itu terbelalak.


"N-NONA?!"


"Hm. Buka gerbangnya!" Sadar dari keterkejutan mereka, gerbang besar itu segera dibuka. 


"NONA TELAH KEMBALI!"


Awalnya para pelayan tidak mengerti, mengapa begitu heboh jika nona mereka sudah pulang? Tapi tunggu, Nona? Artinya? Segera seluruh penghuni rumah ini berlari menuju depan rumah. Menatap tak sabar siapa yang akan keluar dari sedan putih di depan mereka ini. 


Pak Anton dan Bik Mirna menanti tak sabar. Sepasang kaki keluar. Fisik yang sama seperti diingatan mereka. 


Karina membuka cadarnya, seluruh mata pelayan membulat.


"N-Nona? Anda pulang?" Mata Bik Mirna berkaca-kaca, mencoba menyentuh lengan Karina. Karina tersenyum, matanya juga memerah.


"Ya aku pulang, semuanya," ujar Karina, langsung memeluk Bik Mirna. Sedangkan yang lain menangis haru, saling berpelukan. Sungguh harapan mereka benar-benar menjadi nyata. Nona mereka kembali dengan selamat. 


Pak Anton bahkan sampai sujud syukur, menangis tersedu. 


"Ibunda mengapa mereka menangis?" Brian turun dan berdiri di samping Karina, menatap heran semua orang. Bik Mirna melepas pelukannya, menatap Brian kemudian menatap Karina.


"Nona, ini adalah?"


"Tentu saja tuan muda ketiga kalian," jawab Karina. 


"Ja-jadi Anda hamil saat insiden itu?" Pak Anton membulatkan matanya.


"Benar. Aku dan ketiga anakku selamat," jawab Karina.


"Ti-tiga?" 


Basurata dan Bahtiar turun, berdiri di samping Brian.


"Perkenalkan ini adalah Brian, yang tengah Basurata kalian bisa memanggilnya Bara dan yang bungsu adalah Bahtiar," ucap Karina. Ketiga anak itu memberi tatapan datar berwibawa. Pak Anton dan lainnya tertegun, tatapan yang sama dengan Karina. 


"I-ini benar-benar keajaiban! Nona, Tuan Muda, selamat datang kembali di rumah!" Pak Anton membungkuk hormat pada Karina, diikuti Bik Mirna dan seluruh pelayan lainnya. Karina mengangguk, menerima hormat mereka. Sejenak, Karina mengamati bagian depan rumah dan halaman, tidak ada yang berubah. 


"Silakan masuk, Nona." Memberi jalan untuk Karina dan ketiga anaknya. Karina melangkahkan kakinya masuk. Memasuki ruang tamu, tidak ada yang berubah. Melangkah memasuki ruang keluarga, tidak ada yang berubah juga, kecuali bingkai foto uang bertambah. Karina melangkah menghampiri bingkai-bingkai foto itu, tatapannya terkunci pada satu foto, foto Arion bersama dengan Bintang, Biru, dan Bima. 


"Mereka benar-benar sudah dewasa. Bintang, kamu sangat cantik Nak. Ar mengapa kau bertambah kurus? Wajahmu juga kusam."


"Ibunda, kau menangis lagi?" Basurata menatap cemas Karina. 


"Ibunda sangat bahagia bisa kembali, Bara. Ini adalah foto Papa dan saudara kalian."

__ADS_1


Karina menyerahkan foto di tangannya pada Brian. Ketiga anak itu melihatnya. Karina kembali menatap foto-foto lain.


Ada foto Amri dan Maria, Enji juga Alia. Bahkan foto liburan yang diambil terakhir kali juga dipajang. 


"Kau sangat kuat, Ar."


"Bik, saya akan ke kamar dulu. Jaga mereka dulu," ucap Karina.


"Baik Nona," jawab Bik Mirna, menatap penuh kasih ketiga anak yang kini sibuk membandingkan kemiripan antara ayah dan saudara. Karina menuju tangga, Bik Mirna tersadar akan sesuatu.


"Nona, tunggu sebentar," tahan Bik Mirna.  Karina yang berada di anak tangga kelima, Karina menoleh.


"Nona- ada masalah serius. Ini berhubungan dengan Tuan Arion," ucap Bik Mirna gugup.


"Aku sudah tahu," jawab Karina, kembali melanjutkan langkahnya. Bik Mirna tertegun, tak lama senyum tipis ia torehkan. 


"Bibi, mengapa yang ini tidak mirip dengan yang dua ini?" Basurata menunjuk foto Bima. Bik Mirna yang tidak mengerti bahasa arab, menggaruk tengkuknya bingung. Tapi gerakan Basurata menjawab kebingungannya. Namun masalahnya Bik Mirna bingung mau menjawabnya. 


"Kita tanya Ibunda saja, Bibi ini tidak paham bahasa kita," ujar Brian.


Bahtiar mengangguk menyetujui. 


"Sepertinya kita harus segera belajar bahasa Ibunda," ujar Bahtiar.


"Aiya … kakak kau tahu kan aku lemah dalam menghafal? Berapa lama yang aku butuhkan untuk menguasai bahasa Ibunda?"keluh Basurata. 


"Menyerah bukan sifat pangeran! Bara, di sini lebih lengkap dari istana. Ibunda pasti menemukan guru terbaik untukmu," ujar Brian.


"Tidak. Aku hanya mau belajar dengan Ibunda!"tegas Basurata.


"Kita ke kamar Ibunda saja," ucap Bahtiar, berlari menuju tangga yang membuat Bik Mirna sontak mengejar Bahtiar.


"Tuan Muda, Anda ingin ke kamar Nona?"


Bahtiar menjawab dengan menunjuk foto Karina. 


"Baiklah, saya akan mengantar Anda." Bik Mirna menggandeng lengan Bahtiar. Brian dan Basurata mengikut.


Bik Mirna mengetuk pintu kamar Karina dan Arion. Pintu terbuka, Brian, Basurata, dan Bahtiar masuk. Bik Mirna sendiri kembali ke bawah, memasak makanan kesukaan Karina.


"I-Ibunda? Ibunda sangat cantik," kagum ketiganya mendapati Karina yang berdiri di harapan mereka dengan balutan dress berwarna biru muda, rambut digerai dengan make up natural. Tak lupa, Karina juga memakai perhiasannya juga high heels. Kamar ini sungguh tidak berubah, semua tetap berada di tempatnya.


"Anak-anak, kalian juga harus berganti pakaian."


"Kita harus menjemput Papa!"lanjut Karina. Karina menyuruh ketiganya menunggu di kamar. Ketiga anak itu berpandangan bingung. Karina keluar menuju kamar anak-anaknya yang lain. Setibanya di sana, Karina membuka lemari mencari pakaian yang sesuai dengan putra tripletnya.


*


*


*


"Berdasarkan hasil pemeriksaan dari rumah sakit atas kehamilan Anda, juga pengakuan usia kehamilan Anda pada Tuan Arion, anak di kandungan Anda bukanlah anak Tuan Arion!"


Selesai sudah penampilan Enji, sekarang gilirannya ikut menonton drama ayah dan anak. Di satu sisi kekecewaan yang teramat besar. Di sisi satu lagi, rasa bersalah yang tak terhingga. Yang satu bersimpuh dan satu lagi bersandar lemah pada dinding. 


"Apa-apa salahku? Di mana salahku?"gumam lirik Adam, menatap sendu Sintia.


"Katakan apa Papa, Nak. Apa ini yang selama ini Papa ajarkan? Apa ini?"


"P-Papa …."


"Teganya … teganya kamu melakukan itu semua. Kamu menghancurkan kepercayaan Papa, Sintia! Papa kecewa denganmu! Papa kecewa!"


Adam dengan sorot mata geram menghampiri Sintia. Tamparan keras mendarat di pipi Sintia. Sintia membeku. Papanya yang selalu lemah lembut dan tak pernah memukulnya, kini menamparnya dengan keras? Pipinya panas, bibirnya berdarah. Kepalanya berdengung.


"Ah kurang mantap. Masa cuma tamparan sih?"gerutu Raina.


"Kenapa! Kenapa kamu melakukan semua itu?" Suara Adam lemah, mirip berbisik.


"Kenapa?" Sintia menatap Adam dengan sorot mata penuh kebencian.


"Itu semua karena Papa! Papa sibuk kerja, Aku kesepian Pa! Aku kesepian! Kalau saja Mama enggak meninggal, ini semua nggak akan terjadi! Kalau Papa enggak selingkuh, Mama pasti masih hidup!"


"Tutup mulut kamu, Sintia! Papa nggak pernah selingkuh. Ah … sudah saatnya kamu tahu."


"Mamamu tewas karena rasa takutnya sama Papa. Papa memergoki Mamamu selingkuh, dengan teman Papa sendiri. Sintia, Papa nggak mau kamu membenci Mama, jadi Papa menyembunyikan ini semua dari kamu."


Sintia tertegun. Ia dilema. Papanya tak pernah berbohong padanya. Papanya selalu berkata jujur dan menepati janji. 


"J-jadi selama ini?"


Sintia benar-benar tidak percaya. 


Prok 


Prok 

__ADS_1


Prok 


"Benar-benar penyambutan yang luar biasa!"


__ADS_2