Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 48


__ADS_3

Sambungan Flashback.


"Tidak. Aku tidak mood," tolak Joya. Bukan takut pada Karina, Joya memang paling ahli bermain kartu, ia selalu menang siapapun lawannya.


"Sayang sekali. Padahal aku mendengar bahwa kau kuda hitam dalam bermain kartu. Tapi sepertinya itu hanya rumor," ungkap Karina berlagak mengingat.


Joya masih tidak menanggapi. Tak kehabisan akal, Karina kembali membujuk Joya untuk bermain kartu.


"Huh ternyata kau pengecut. Gayamu ingin membunuhku diajak main kartu saja takut," cetus Karina yang sukses membuat Joya geram.


Joya paling benci jika ada yang menyebutnya pengecut sebab dia adalah pewaris tunggal Black Tiger Mafia.


"Ayo kita bermain," ucap Joya.


"Benarkah? Tapi jika kita bermain tak ada hukuman itu sama saja membosankan. Bagaimana jika yang kalah mendapat hadiah?" saran Karina memancing Joya lagi.


"Terserahmu," ucap malas Joya. Karina berdiri menuju ke dapur lagi dan kembali dengan membawa kuali dengan bagian belakang yang hitam legam.


Joya memiringkan kepalanya tak mengerti. Matanya membulat saat sudah paham akan hukuman bagi yang kalah. Namun, karena gengsi dan takut diejek Karina, Joya diam saja tak membantah.


"Ayo kita mulai," seru Karina. Pada ronde pertama, Karina menang dan mengoleskan angus pantat kuali ke wajah Joya.


"Bagaimana? Masih mau lanjut?" tanya Karina.


Joya menatap Karina dan mulai memainkan kartunya lagi. Ia tak puas jika Karina belum kalah. Namun, nyatanya ia selalu kalah dan membuat Karina kebingungan bagian mana lagi yang mau dicoret.


Flashback Off ....


"Oh kami bermain kartu dan dia kalah terus. Kau sudah selesai dengan Ayahnya?" tanya balik Karina.


Arion mengangguk. Joya mendekat kepada Arion tanpa mencuci wajahnya. Arion bergidik ngeri melihat wajah Joya yang semula putih menjadi hitam semua kecuali giginya yang putih.


"Bagaimana?" tanya Joya.


Sebelum Arion menjawab, sekretaris Reza sudah memanggil Joya untuk menghadap Reza di ruang kerja. Joya segera mengikut tanpa menunggu jawaban Arion.


"Ayo pulang," ajak Arion. Karina mengangguk dan menyimpan kembali kartunya ke dalam tas dan membiarkan kuali tetap di atas meja.


***


"Penawaran apa yang kau tawarkan?" tanya Karina memecah keheningan saat mobil sudah keluar dari pintu gerbang kediaman Argantara.


"Proyek pembangunan kapal pesiar di negara K," jawab Arion pelan.


Karina kembali berdecak sebal. Ia tahu betul proyek itu. Sungguh licik sekali paman sekaligus musuhnya itu.


Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di parkiran bawah tanah apartemen. Arion dan Karina segera keluar dan membuka bagasi mobil mengambil barang belanjaan mereka. 


"Berat sekali," keluh Arion yang membawa lima kantong plastik besar sekaligus.


"Ya satu-satu," ucap Karina yang hanya membawa plastik ikan dan cuka.


"Aku malas naik turun," balas Arion.


Dua menit kemudian mereka tiba di apartemen mereka. Karina segera mengeluarkan semua belanjaannya kemudian dicuci kecuali bawang.


Karina menyuruh Arion mengupas semua bawang merah sebanyak satu kilo itu sendirian. Arion yang belum pernah mengupas bawang pun hanya berusaha menahan air mata dan ingusnya agar tak keluar.


Satu jam kemudian Arion selesai mengupas bawang dengan penuh perjuangan sedangkan Karina sudah hampir selesai mengemas semua bumbu dapur kecuali rempah-rempah ke dalam plastik krep untuk di simpan di lemari es. Karina menyisakan secukupnya untuk memasak makan siang.


"Ini di letakkan di mana?" tanya Arion sehabis mencuci wajahnya. 


"Masukkan saja kemari," jawab Karina memberikan satu plastik krep ukuran besar pada Arion.


Akhirnya selesai sudah masalah bumbu dapur. Perut Arion mulai bernyanyi. Karina hanya menatap datar Arion yang tersenyum malu.


"Ambilkan ikan buntalmu tadi," suruh Karina pada Arion.


"Oke," jawab Arion mengambil ikan buntal di dekat wastafel.


"Mau dimasak apa?" tanya Arion penasaran bagaimana cara mengolah ikan duri beracun ini.


"Lihat dan perhatikan," jawab Karina mulai beraksi dengan pisaunya.


"Ikan ini adalah jenis torafugu jadi kandungan racunnya tak terlalu banyak," terang Karina. 


Pertama, ia membuang kulit ikan buntal yang dimulai dengan mengiris kulit bagian mulut lalu tarik seperti menguliti kambing.


Kedua, cuci ikan sampai lendirnya hilang kemudian lumuri dengan garam.


Ketiga, tahan kulit ikan buntal, dan potong duri menggunakan pisau tajam, dalam sekali gerakan.


Selanjutnya buang mata ikan buntal dan bagian terpentingnya adalah saat membelah ikan harus hati-hati, jangan sampai hati dan ovariumnya pecah sebab dua organ itu memiliki kandungan racun yang paling tinggi.

__ADS_1


Arion memperhatikan setiap gerakan Karina dengan apel di tangannya. Dia sempat heran begitu banyak buah dan sayur di kulkas namun ucapan Joya waktu di parkiran mall menjawab keheranannya.


"Sekarang tinggal iris tipis dagingnya," seru Karina. 


"Apa itu sudah tidak beracun?" tanya Arion yang sedari tadi memperhatikan.


"Oh ya tadi aku baca di internet, kalau mau mengolah ikan ini harus punya lisensi khusus. Apakah kau punya?" tanya Arion kembali.


"Hmm … ambilkan satu plastik krep ukuran sedang untuk ini. Untuk lisensi, aku punya. Kau lupa aku punya cafe dan salah satu menu ku adalah ikan ini. Cuma hanya sebulan sekali menu ini ada," jawab Karina.


Karina memisahkan ikan yang mau dimasak dan yang akan disimpan.


"Oh ... Ini," ujar Arion memberikan plastik krep pada Karina.


"Hanya segitu yang mau dimasak?" tanya Arion.


"Iya. Ayo bantu aku masak," jawab Karina.


Dengan senang hati Arion membantu Karina masak untuk makan siang. Siang itu Karina bersama Arion memasak menu antara lain ikan buntal krispy dengan kuah cuka seperti kuah pada pempek palembang, dan juga tumis bunga kol serta sup sayuran. Tak lupa air kelapa muda yang sebelumnya Karina beli ikut tersaji.


"Selamat makan," ucap Arion menyantap makan siangnya. Karina mengangguk dan ikut menyantap hidangan yang tersaji.


***


Lain halnya dengan Arion dan Karina, tawa seseorang bergema di sebuah ruangan. 


"Papa sudah dapatkan proyek itu. Masa depan kita pasti akan cemerlang," tawa pria itu siapa lagi kalau bukan Reza.


"Hm … lantas bagaimana dengan perjodohan itu?" tanya Joya meminta jawaban. Reza langsung berhenti tertawa dan terdiam.


"Untuk itu, biar Adel saja yang ayah nikahkan dengan pria idiot itu. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui," jawab Reza kembali tertawa.


Adel adalah anak Reza dari wanita malamnya. Setiap wanita malamnya hamil, Reza tak akan menyuruh wanita itu menggugurkannya, malah akan dibiayai sampai lahir.


Tapi setelah bayinya lahir Reza akan membunuh ibunya. Sedangkan anaknya dijual dan sebagian lagi dijadikan budak di markas Black Tiger Mafia.


Adel adalah anak yang dijadikan pembantu di kediaman mereka. Hanya Joya lah yang diakui anak sebab ibunya adalah istri sah Joya. Ibunda Joya sendiri meninggal pada saat usia Joya sepuluh tahun.


"Adel?" beo Joya.


"Hmm … sudahlah ayo kita rayakan keberuntungan kita ini," ajak Reza merangkul Joya.


Sebenarnya dari lubuk hati Joya yang paling dalam Joya sangat mencintai Arion yang rela berkorban untuknya.


***


Waktu menunjukkan pukul 14.00. Karina keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan tubuhnya. Di ranjang Arion berbaring dengan telanjang dada.


"Kau ada acara hari ini?" tanya Arion.


"Tidak. Aku mau rebahan di ruang tengah," jawab Karina.


"Hmm … berarti aku boleh dong …," ucap Arion tersenyum mesum. 


"Ngapain?" tanya Karina pura-pura tak tahu maksud Arion.


"Itu loh … gituan," jawab Arion gemas.


Karina malah memancing Arion dengan menggigit bibir bawahnya. Arion semakin tak tahan melihatnya dan langsung berdiri mendekati Karina. 


"Heh mau ngapain dekat-dekat?" tanya Karina heran tetapi terus menggoda Arion. 


Grep.


Cup.


Arion langsung memegang tangan Karina dan mencium bibirnya. Arion memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk Karina. 


Tercetus sebuah ide di kepala Karina. Karina dengan senang hati membalas ciuman Arion.


Mendapat respon positif, Arion semakin bersemangat. Lidah mereka saling berbelit. Lima menit sudah mereka berciuman. Saliva yang menempel di bibir mereka saling bertautan.


Tanpa aba-aba, Arion langsung menggendong Karina ke ranjang dan membaringkannya. Arion mulai celana ponggolnya menyisahkan celana dalam saja. Karina malah berpose menggoda dengan menggigit jarinya dan mengerlingkan matanya ke arah Arion.


Tak tahan, Arion kembali menerkam Karina. Lidah mereka kembali saling membelit. Arion melepas ciumannya dan menjelajahi leher jenjang Karina dengan lidahnya. Beberapa bekas kepemilikan pun dibuat di sana.


"Emmm …," erang Karina.


Tangan Arion mulai menyusup ke balik baju Karina.


Meraih buah dada yang menggoda walau masih tertutupi kain. Karina kembali mengerang. Karina mengalungkan tangannya pada leher Karina. Saat hendak melepaskan baju Karina, handphone Arion di nakas berbunyi nyaring.


*So look me in the eyes

__ADS_1


Tell me what you see


Perpect paradise


Tearing at the seams*


"Arggghhh ... siapa yang menelpon di saat hal penting ini," gerutu Arion menghentikan aktivitasnya.


Karina tersenyum dalam diamnya. Tangan Arion meraih benda pipih itu dan melihat siapa yang menelpon. Tertera nama Papanya di sana. Dengan cepat Arion bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati jendela.


Kesempatan untuk Karina kabur ke ruang tengah. Perlahan tapi pasti, Karina keluar dari kamar.


"Ya Pa?" jawab Arion.


"Anak bodoh. Apa yang kau lakukan hah?" Emosi terdengar jelas dari ucapan Amri.


"Maksudnya?" tanya Arion pura-pura tak tahu.


Arion tahu hal ini akan terjadi tapi tidak di saat mau bermadu kasih dong.


"Mengapa kau berikan proyek di negara K pada Pria tua licik itu hah?" tanya Amri geram.


"Itu … Pa …" jawab Arion terbata-bata.


"Apa wanita itu sudah membutakanmu? Itulah sebabnya papa tak pernah merestui hubunganmu dengan Joya," teriak marah Amri. Arion menjauhkan sedikit handphone dari telinganya.


"Iya aku tahu Pa. Tapi secepatnya aku akan memberikan proyek yang jauh lebih besar . Jika persentaseku berhasil maka kita bekerja sama dengan KS Tirta Grub," bela Arion.


"Benarkah itu? Jika begitu awas saja jika itu tak berhasil. Akan ku jadikan perkedel kau nanti," ancam Amri langsung mematikan sambungan telepon.


Arion melihat layar handphone yang masih menggunakan wallpaper Joya dan dirinya.


Entah apa yang menggerakkannya, Arion mengganti wallpapernya menjadi foto pernikahannya dengan Karina. Arion tersenyum sendiri jadinya.


"Karina ayo kita …," ucapan Arion terhenti karena tidak mendapati Karina di dalam kamar.


"Lanjutkan," sambung Arion.


Arion menggaruk kepalanya kemudian meletakkan handphonenya. Saat hendak melangkah keluar handphonenya kembali berbunyi.


"Siapa lagi sih!" gerutu Arion lagi.


Ternyata itu adalah panggilan video dari dua sahabatnya, Sam dan Calvin. Arion segera mengangkatnya.


"Hai Bro … ngapain loe telanjang dada?" tanya langsung Sam tanpa basa-basi.


"Iya tuh. Wajah tampannya pakai acara ditekuk lagi," sambung Calvin.


"Ngapain loe berdua pakai acara beginian lagi. Ganggu saja," gerutu Arion menunjukkan wajah kesalnya.


"Hehe … gue mau nanyak loe berangkat gak acara pertemuan CEO sedunia di negara A hari Rabu besok?" tanya Calvin.


"Sepertinya enggak. Gue malas," jawab Arion duduk di ranjang hingga tampaklah ia hanya menggunakan celana dalam.


"Ar loe mau main sama Karina?" tanya Sam penasaran.


Arion hanya mendehem yang membuat dua sahabatnya meresa bersalah.


"Eh … maaf ya Bro. Kita ganggu loe," sesal Calvin.


"Hmm …." jawab Arion yang masih kesal.


"Jawab naapa jangan ham-hem saja," ketus Sam.


"Emang loe sudah suka sama Karina? Gue dengar tadi dari sekretaris gue loe nyerahin proyek loe di negara A sama Papanya Joya. Itu benar apa gak?" tanya Sam penasaran. Calvin menantikan jawaban Arion. Arion mengangguk membenarkan.


"What!!?" seru Sam dan Calvin bersamaan yang hampir membuat Arion melemparkan handphonenya.


"Kenapa? Loe diapain sama Joya? Bilang sama kita biar kita lawan dia." Semangat 45 Sam berkobar. Calvin hanya geleng-geleng kepala. 


"Gue ngelakuin itu agar Joya gak dijodohkan sama anak dari pemilik perusahaan ZEE," terang Arion.


"Loe beneran masih cinta sama Joya. Apa loe belum ada rasa sama Karina?" tanya Calvin mengulangi pertanyaan Sam.


"Entahlah. Jujur aja waktu gue pertama kali lihat dia jantung gue sudah dag dig dug serrr gimana gitu. Tapi waktu itu hati gue masih sepenuhnya milik Joya," ujar Arion mulai bercerita. Sam dan Calvin serius mendengarkan.


"Sekarang entah mengapa gue bahagia kalau dekat selalu dengan Karina. Rasanya hati gue aman damai tentram sentosa gitu. Tapi Joya sudah balik. Gue pun bingung sama perasaan gue sendiri," lanjut Arion.


"Berarti elo udah mulai suka sama Karina. Saran gue lebih baik loe kejar cinta kakak ipar sama seperti ucapan loe waktu minta tolong sama kita untuk mengejar cinta kakak ipar," saran Sam.


"Benar tuh Ar. Menurut gue Joya itu orangnya ambisius. Baru sebentar dia balik elo udah harus kehilangan proyek besar," tambah Calvin.


"Gimana caranya gue tahu kalau gue benar-benar suka sama Karina?" tanya Arion mulai jadi beg* urusan cinta.

__ADS_1


"Gampang. Kalau loe benar-benar suka sama kakak ipar coba loe duduk berdekatan sama kakak ipar lalu loe tatap matanya. Kalau jantung sama perasaan loe kayak habis lari marathon walaupun gak lari terus loe gugup malu-malu kucing itu artinya loe ada rasa sama kakak ipar," terang Sam lancar yang membuat dua sahabatnya heran.


__ADS_2