Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 175


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30, sesuai janji Arion seharusnya lima belas menit lalu Arion sudah tiba di rumah. Akan tetapi sampai saat ini belum juga nongal batang hidungnya. Membuat Karina merasa resah dan uring-uringan.


Takut sesuatu hal yang tak baik terjadi pada suaminya. Apalagi handphone Arion gak bisa dihubungi. Nomor sopir Arion pun sama nasibnya. Karena rasa khawatir, Karina agaknya melupakan kecerdasannya dan apa yang ia miliki.


Karina mengganti channel televisinya mencari berita terbaru, mana tahu ada berita kecelakaan atau apa. Ternyata sampai lelah Karina gonta-ganti channel tak ada berita tentang kecelakaan di kota ini. 


Karina menghela nafas lega. 


"Non, belum tidur?" tanya Bik Mirna yang heran dengan Karina yang masih setia di ruang tengah, biasanya kan di jam segini Nonanya sudah berada di kamar.


"Nungguin suami saya Bik, katanya paling lama dua jam, ini sudah lebih dua jam loh, gak tiba-tiba di rumah. Kan saya jadi was-was," tutur Karina.


Bik Mirna mengerutkan keningnya. Tak lama ia tersenyum.


"Lacak saja Non, Non mah jadi pelupa akhir-akhir ini. Biasanya Nona segawat dan sekhawatir apapun tetap tenang dengan kepala dingin, memang ya Non, manusia itu berubah seiring waktu dan keadaan," ujar Bik Mirna, memberi saran yang ia kira paling atas dalam pikirannya. 


Karina terdiam, tak lama ia menepuk dahinya pelan.


"Astaga Bik, saya lupa."


Dengan tertawa Karina mengambil handphone-nya dan melacak keberadaan Arion. Bik Mirna hanya tersenyum dan pamit menuju dapur. 


Ternyata mobil Arion sudah berada di depan gerbang. Karina segera berdiri dan menunggu di depan pintu. Bersamaan dengan tibanya Karina di pintu, mobil yang dikemudikan sopir Arion tiba di hadapan Karina. Senyum Karina mengembang.


"Assalamualaikum Sayang," sapa Arion, keluar dari mobilnya. 


"Waalaikumsalam My Hubby." Karina mencium dulu telapak tangan kanan Arion.


"Lama sekali, terlambat 25 menit, melalak kemana kamu malam Jum'at begini?" keluh Karina menatap Arion meminta jawaban.


"Macet Yang, ada mobil rusak tengah jalan tadi, posisinya tuh malang di persimpangan harus diberesin dulu baru bisa jalan. Kamu kira aku jaga lilin apa?" terang Arion, terkekeh pelan. 


"Siapa tahu saja kamu kekurangan uang. Oh ya kalau kamu jaga lilin yang nyari uangnya siapa? Sam? Calvin atau Ferry?" tanya Karina melantur.


"Kamu," jawab Arion mengacak-acak rambut Karina. Karina mendelik kesal pada Arion.


"Enak saja, ngapain aku begituan. Kalau iya pun aku yang jaga lilin kamu yang nyari uangnya," ketus Karina.


"Hm, terserah kamu saja, tapi untuk apa kita lakukan itu? Haram tahu!" ucap Arion.


"Aku setuju. Eh, mana beton aku?" tanya Karina menengadahkan tangannya di depan Arion.


Arion tersenyum dan memberikan plastik berwarna hitam pada Karina. Karina menerimanya dengan hati yang bahagia dan melihat isinya.


Dahi Karina mengerut melihat isi kantong plastik itu. Karina menaikkan pandangannya melihat Arion. Arion memberikan senyumam manisnya.


"Ada apa?" tanya Arion, merangkul Karina dan mengajaknya masuk.


"Kok beton yang ini sih? Kan sudah aku bilang biji nangka bukan semen bangunan, kamu tuli ya?" ketus Karina. Arion mengubah raut wajahnya menjadi heran.


"Kan sama saja Sayang, sama-sama namanya beton, sudah yuk ke dapur kita masak betonnya," ajak Arion. Karina mengubah raut wajahnya menjadi kesal dan dingin. 

__ADS_1


Karina menatap sinis Arion dan menghempaskan tangan Arion. Karina menatap plastik di genggamannya.


"Jangan bercanda dan berakting! Mana biji nangkanya? Jelas kamu dengar apa yang aku sampaikan tadi waktu di telepon. Cepat ambil atau kamu yang makan beton ini!" Karina mengambil semen beton dan menyodorkannya pada Arion. 


Arion terdiam, tak lama ia tertawa. Karina masih dengan wajah dinginnya. Setelah Arion selesai tertawa, Arion menepuk ke dua tangannya. Datanglah sopir Arion dengan membawa plastik yang berisi nangka matang. Harummya samar tercium oleh indera penciuman Karina.


"Jangan ngambek dong Sayang, ini dia yang kamu mau," ucap Arion menyodorkan nangka tersebut pada Karina.


Karina menatap sekilas lalu berbalik dan menuju tangga. Arion menatap Karina bingung.


"Yang?" panggil Arion mengejar Karina. Karina yang telah berada di anak tengah pertengahan berhenti dan berbalik melihat Arion.


"Simpan saja di lemari. Besok pagi baru aku makan, aku ngantuk dan lelah. Mau tidur," ucap datar Karina, berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya.


Arion segera menjalankan ucapan Karina. Di dapur, Bik Mirna baru selesai mencuci tangannya. 


"Eh Tuan, ada yang bisa dibantu?" tanya Bik Mirna kaget.


"Gak ada Bik, saya hanya mau menyimpan nangka ini, besok pagi tolong rebuskan bijinya ya Bik, Karina ngidam ini soalnya," jawab Arion meletakkan nangka di dekat lemari.


"Baik Tuan," sahut Bik Mirna.


Arion segera menyusul Karina. Di kamar, Karina telah berbaring di atas ranjang. Dengkuran halus terdengar oleh Arion. Arion menarik nafas dan menghembuskanya pelan. 


Dengan cepat ia masuk ke kamar mandi, membersihkan diri. Tak perlu waktu lama, Arion telah berganti pakaian dengan pakaian tidurnya. Menaiki ranjang dan berbaring. Memposisikan wajahnya berhadapan dengan wajah Karina.


"Yang," panggil Arion pelan.


****


Pukul 07.00, Karina dan Arion telah berada di meja makan dengan  setelan pakaian kerja masing-masing. Di meja makan telah terhidang sarapan berupa nasi goreng seefood serta antek-anteknya. Tak lupa beton yang telah direbus hingga matang pun ikut disajikan.


Karina mengambil satu beton dan membuang kulitnya. 


"Em, akhirnya setelah sekian lama aku bisa menikmati lagi makanan ini," gumam Karina saat beton yang ia kupas tadi berada dalam mulutnya.


"Sarapan nasi dulu," ujar Arion.


"Hm." Karina menelan habis apa yang ia kunyah. Arion kemudian menyodorkan suapan untuk Karina. Karina menerimanya dengan senang.


****


Hari-hari yang Karina dan Arion lewati masih dalam keadaan tenang, tanpa gangguan dari pihak manapun. Tampaknya para haters ataupun musuh harus berpikir berulang kali untuk mencari masalah dengan Karina dan Arion.


Mereka lebih memilih jalan aman, dari pada konflik dan imbasnya mereka yang tiada.


Sesuai janji Karina, hari minggu untuk ziarah ke makam keluarga Karina. Arion telah bersiap dengan kemeja putih polosnya. Karina pun memakai pakaian berwarna putih, couple dengan Arion. Seusai sarapan, pukul 08.00 mereka start dari kediaman Karina menuju kota S menggunakan mobil Arion.


Arion mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hatinya merasa deg-degkan mau bertemu mertua dan keluarga. Selama perjalanan, lagu-lagu lawas yang diputar di mobil menemani perjalanan.


Akhirnya setelah 5 jam perjalanan, tibalah mereka di pemakaman umum keluarga Karina. Arion mengeluh pegal pada pinggangnya. Karina hanya memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Seharusnya tadi naik helikopter saja," ujar Arion.


"Sudahlah jangan bahas masa lalu, ayo," sahut Karina. Dengan langkah beriringan keduanya menuju makan ayah dan keluarga Karina.


***


Kini Arion terdiam dan menatap bergantian satu demi satu empat nama di papan nisan di depannya kini. Karina diam, ia tahu respon Arion.


"Yang ini seriusan kamu putrinya Bapak Tirta Sanjaya?" Arion menatap Karina, tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Iya," jawab singkat Karina.


"Kok bisa, jadi kamu waktu konferensi pers kemarin berbohong?" tanya Arion.


"Aku gak bohong kok. Kan aku bilang semua orang pasti punya rahasia dalam diri mereka. Aku salah satunya," jawab Karina santai.


Arion kembali termenung. Karina adalah anak dari David Tirta Sanjaya, artinya Karina adalah putri tunggal. Hm untuk keluarga seperti itu tak heran jika mereka menyembunyikan keturunan mereka. Joya dan Karina adalah sepupu.


Dan Ayah Joya adalah pembunuh keluarga Sanjaya, artinya lagi yang menghabisi nyawa Reza dan istrinya adalah Karina. Berarti Karina tak mau mengungkap siapa dia sebenarnya ke publik dulu agar balas dendamnya lancar dan incarannya kurang waspada.


Itulah kesimpulan Arion.


"Kau membunuh Paman Reza Yang?" tanya Arion pelan.


"Hanya memberinya dorongan," jawab Karina.


"Kau tak apakah dengan ini semua?" tanya Karina pelan juga.


Arion menghela nafas dan tersenyum.


"Kenyataan harus diterima bukan walaupun itu sangat membuat kita terkejut dan tak percaya. Kau banyak berhutang cerita pada Yang," jawab Arion.


"Ya baiklah, akan aku cerita nanti dari A sampai Z," sahut Karina.


Karina dan Arion lantas membersihkana makan. 


Arion berjongkok di samping makam Surya. Tangannya mengusap nisan yang bertuliskan keterangan singkat tentang jenazah.


"Assalamualaikum Pa, perkenalkan saya Arion Wijaya, suami dari putri bungsu Anda. Akhirnya setelah sekian lama saya menikah dengan putri Anda, saya dapat mengunjungi makam Anda dan keluarga. Jujur saja saya masih tak percaya dengan hal ini. Seluruh dunia hanya tahu bahwa keluarga Tirta Sanjaya telah musnah dari dunia ini. Akan tetapi habis gelap terbitlah terang. Tak mengherankan jika Karina memiliki jiwa kepemimpinan dan karakter yang kuat, ternyata Andalah orang tuanya. Saya hanya tahu sedikit masa lalu Karina, saya tahu itu sangat membekas di ingatan Karina. Satu hal lagi, saya berjanji pada Anda, saya tak akan pernah sekalipun menyakiti Karina. Saya akan membuatnya selalu merasa bahagia. Yang lalu biarlah berlalu, masa depan yang indah menanti setelah kesakitan dan kerja keras yang nyata." 


Arion kemudian beralih berjongkok di dekat makam Rita, mamanya Karina.


"Assalamualaikum Ma, semoga Mama dan keluarga di alam sana selalu bahagai dan berada di sisi-Nya. Semoga dosa dan kesalahan Mama dan keluarga diampuni oleh Allah Swt. Ma, terima kasih telah melahirkan seorang wanita yang hebat, terima kasih telah melahirkan seorang bidadari untuk menjadi tulang rusuk saya. Menjadi belahan jiwa serta dunia saya. Saya berharap kalian merestui saya dan Karina dari sana."


Arion berbicara cukup panjang, secara bergantian ia juga berbicara di samping makam kedua kakak kembar Karina.


Setelah Arion selesai, barulah keduanya berdoa bersama, memohonkan ampun dan mendoakan keluarga Sanjaya yang telah tiada.


Tak lupa juga berdoa untuk para penghuni makam lainnya. Setelah merasa cukup keduanya melangkahkan kaki kembali menuju mobil.


Akhirnya Pa, Ma, my twins dendam ini terbalas, semoga kita dapat bertemu di akhirat kelak dan disatukan dalam surga-Nya, batin Karina tersenyum, beban di hatinya semakin tak terasa.

__ADS_1


__ADS_2