Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 195


__ADS_3

"Lebih baik kita bicara di ruangan saya saja. Biar lebih santai," ajak dokter mengulas senyum tipis. Darwis mengangguk dan ikut melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter tersebut.


"Apakah akhir-akhir ini Anda sering melihat istri Anda sering mengeluh pusing, muntah dan kurang selera makan?" tanya dokter serius. Darwis termenung dan mengingat.


"Ya akhir-akhir ini memang begitu. Tapi bukankah itu wajar bagi ibu hamil?" tanya Darwis mengerutkan keningnya. Sang dokter tersebut.


"Dan tanda-tanda itu juga merupakan tanda suatu penyakit entah itu serius ataupun tidak. Tapi untuk lebih memastikannya kita tunggu hasil lab, semoga apapun hasilnya nanti, kita mengharap yang terbaik dan dapat menerimanya dengan lapang dada," papar sang dokter.


Darwis mengangguk setelah terdiam cukup lama. Sejujurnya ia kaget dengan kehadiran Joya di kasino sebab tak biasanya Joya datang. Joya lebih sering berada di rumah melakukan aktivitas yang ia sukai, seperti melukis, kadang latihan menembak atau hanya sekedar membaca buku. 


Beberapa saat kemudian, Irene dan Irwan, suami Irene tiba di rumah sakit. Mereka mencari ruangan di mana Joya dirawat setelah bertanya pada resepsionis.


"Assalamualaikum," sapa Irene dan Irwan bersamaan, setelah membuka pintu ruangan Joya.


"Waalaikumsalam," jawab Darwis, mengangkat pandangannya yang semula memandangi wajah Joya dengan sendu.


"Bagaimana kondisi Istrimu?" tanya Irene seraya memegang tangan kiri Joya.


"Kondisi sudah stabil. Tinggal menunggu hasil lab untuk memastikan apa yang ia derita," jawab Darwis, dengan suara lemah.


"Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi padanya," harap Irene.


"Lebih baik kita berdoa saja," saran Irwan.


"Baiklah, Abi yang memimpin ya?" sahut Irene. Irwan tersenyum dan mengangguk.


Irwan segera memimpin doa. Darwis dan Irene kompak mengaminkan. Darwis juga berdoa dalam hati, ia berharap anak dan istrinya baik-baik saja.


"Hm, Bang, kami sekalian pamit pulang ya, urusan kami di sini sudah selesai," tutur Irwan.


"Ohw, baiklah, hati-hati di jalan. Jaga diri kalian baik-baik. Dan kau Wan, selalu berada di sisi Irene. Jangan sampai kalian kehilangan untuk ketiga kalinya. Sukses dan sehat selalu sampai lahiran," tegas Darwis. Irene dan Irwan mengangguk serentak dan pasti.


Irene memeluk Darwis erat, Darwis membalasnya lembut. Ia melirik wajah Irwan. Raut wajahnya datar dan tak ada raut wajah cemburu di sana.


"Kami pamit ya, Assalamualaikum," pamit Irene dan Irwan bersamaan. 


Darwis mengangguk


"Waalaikumsalam," sahut Darwis. Irene dan Irwan segera keluar dari ruangan Joya. Mereka akan segera terbang menuju rumah mereka. Darwis menghela nafas panjang dan memejamkan matanya.


"Tuan, dokter memanggil Anda. Hasil lab sudah keluar," terang perawat yang merupakan asisten Dokter yang menangani Joya tadi.


"Baiklah," sahut Darwis.


***


Kini Darwis duduk berhadapan dengan dokter tadi. Wajah mereka tegang. Sang dokter segera membuka hasil lab yang masih tersegel. Memperlihatkan itu asli belum dibuka.


Dokter tersebut nampak tertegun dan terdiam sejenak membaca hasil lap tersebut.


"Bagaimana Dok?" tanya Darwis tak sabaran.

__ADS_1


Dokter menghela nafas dan meletakkan hasil lab di atas meja kerjanya. Wajahnya terlihat prihatin dan tak percaya.


"Dokter? Bagaimana? Istri saya baik-baik saja kan?" desak Darwis, hatinya bertambah tak karuan.


"Dari hasil lab darah istri Anda. Nyonya Joya menderita tumor ganas yang menyerang sel-sel penyokong susunan saraf pusat, ini dikenal nama Glioma cerebri. Saya tak menyangka bisa bertemu dan menangani pasien penderita penyakit ini," jelas Dokter tersebut dengan wajah sendu.


"Tumor ganas? Glioma cerebri? Bukankah tumor otak itu sangat langka? Dari yang aku ketahui hanya ada 100 diagnosa di seluruh dunia? Bagaimana bisa istri saya menderitanya? Mustahil Dok. Hasil lab ini pasti salah, atau kemungkinan itu bukan tes darah istri saya." Darwis menggeleng, ia tak percaya dengan hasil itu. Bagaimana bisa Joya menderita penyakit ganas itu? Dan parahnya lagi Joya tengah mengandung. Jangan katakan dia harus memilih antara Joya dan anaknya!


"Penyakit tak pandang bulu Tuan. Hasil lab kami benar-benar akurat dan tak pernah tertukar!" tegas dokter, tersirat nada takut padanya.


Gliomatosis cerebri merupakan kanker otak langka yang sangat agresif dan sangat resisten terhadap pengobatan. Keganasan ini tidak berupa benjolan seperti tumor lainnya, tetapi berupa benang kanker yang menyebar sangat cepat dan menyusup jauh ke dalam jaringan otak dan sekitarnya, atau ke beberapa bagian otak secara bersamaan, membuat penyakit ini sangat sulit untuk dihilangkan dengan operasi atau mengobati dengan radiasi. 


Gliomatosis cerebri jarang dijumpai yaitu kurang dari 100 kasus. Penyakit ini dapat terjadi baik pada pria maupun wanita. Jenis tumor ganas ini berasal dari glial yaitu sel-sel otak.


Darwis sedikit paham tentang penyakit tersebut. Biar bagaimanapun ia pernah diberitahu oleh Karina mengenai penyakit langka yang sampai kini belum tahu cara mengobatinya, hanya bisa mengontrol dan memperlambat laju pertumbuhannya.


"Sudah stadium berapa?" tanya lirik Darwis.


"Masih stadium awal. Kita memang belum bisa menyembuhkannya, tapi kita bisa mengontrol laju perkembangannya dengan kontrol teratur dan harus tetap waspada agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Nyonya Joya," terang sang dokter. Darwis kembali termenung dan memejamkan matanya.


"Tuan," panggil ragu dokter.


"Hm," gumam Darwis membuka matanya.


"Dengan sangat terpaksa saya harus menyampaikan bahwa Istri Anda tidak bisa terus mempertahankan kandungannya sebab seperti yang Anda tahu bahwa penyakit ini tak hanya membahayakan nyawa Istri Anda tetapi juga bayi dalam kandungannya," papar sang dokter, ia menahan nafas melihat wajah memerah Darwis. Darwis menatapnya tajam, jantung dokter tersenyum berdebar takut. Tanpa sepatah kata pun Darwis berdiri dan keluar dengan membanting pintu ruangan.


"Lebih menegangkan bersama satu ruangan dengannya daripada berada di ruangan operasi," gumam dokter, mengelus dadanya.


***


Kini Darwis memilih menenangkan dirinya di bangku taman rumah sakit, di bawah pohon mangga yang tengah berbuah. Darwis menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya. Perkataan dokter kembali terngiang di wajahnya.


Darwis tak pernah menyangka ia akan dihadapkan pada dua pilihan sulit. Anak dan istri, mana yang akan ia pilih? Jika ia memilih untuk tidak mempertahankan bayi mereka, apakah Joya akan setuju? Ah memikirkan reaski Joya saja nanti saat Joya tahu ia mengidap penyakit apa membuat Darwis takut.


 Ya, terkadang atau kebanyakan suami bagai singa dan banteng liar di luar rumah, akan tetapi jika sudah bersama sang istri, singa dan banteng tersebut akan berubah menjadi kucing dan kelinci.


Dan jika Darwis memilih mempertahankan keduanya, artinya nyawa kedua juga yang dipertaruhkan. 


"Mengapa bukan aku saja yang menderita penyakit itu? Mengapa harus Joya yang sedang hamil?" runtuk Darwis marah entah pada siapa. 


Akhirnya tangis yang ia pendam, luluh juga. Darwis menangis, angin pun bertiup melambai, menyapa tubuh Darwis. Setelah puas menangis, dengan langkah gontai, Darwis kembali ke kamar Joya. Sebelum itu ia membasuh wajahnya dengan air.


Melihat Joya yang masih damai dalam tidurnya, membuat Darwis kembali menitikkan air mata. 


Darwis melangkahkan kakinya mendekati ranjang Joya dan duduk seraya menggenggam erat tangan Joya.


"Em?" erang Joya yang mulai sadarkan diri. Darwis yang terlalu hanyut dalam lamunannya tak melihat itu.


"Wis," panggil lirik Joya.


"Ini di mana? Rumah sakit ya?" tanya Joya. Merasa tak dihiraukan, Joya geram dan menyentakkan tangannya dari tangan genggaman Darwis.

__ADS_1


Darwis terperajat kaget. Mata membulat melihat Joya yang mendelik kesal padanya.


"Joya? Kau sudah sadar?" tanya Darwis, langsung memeluk Joya erat.


"Huk, Wis kau memeluk terlalu erat, nafasku sesak!" ujar Joya.


"Jangan berisik, biarkan aku memelukmu!" ucap Darwis, melonggarkan pelukannya. Darwis mengeryit bingung. Ia dapat merasakan ada yang membasahi bagian tubuhnya.


Darwis menangis? Tapi kenapa? Apa ada hubungannya dengan penyakit yang aku derita? Ya Tuhan, sebenarnya aku kenapa?batin Joya.


"Aku … aku tak dapat memilih salah satu di antara kalian. Aku tak sanggup kehilangan kalian! Jangan tinggalkan aku sendiri," ucap Darwis senggugukan.


"Hah? Apa maksudmu Wis? Aku memangnya kenapa? Ayo jujur! Jangan sembunyikan apapun dariku!" tanya Joya serius. Darwis melepaskan pelukannya dan menatap sendu Joya.


Bibir Darwis rasanya bergetar, tak sanggup mengatakan kebenarannya.


"Ayo Wis, katakan! Atau aku akan mencari tahu sendiri!" desak Joya, hendak membuka impusnya.


"Jangan! Baik aku katakan!" cegah Darwis menepis tangan Joya.


"Glioma cerebri stadium awal, kau menderita itu Sayang, dokter bilang aku harus memilih antara kau dan anak kita, aku kesal sekali!" jelas Darwis. 


Deg!


 


Jantung Joya seakan berhenti berdetak. Bibirnya keluh. Ia menatap Darwis dengan tatapan tak percaya. Namun, tatapan Darwis serius dan air mata itu bukan tipuan.


Joya mencoba menelaah dan menerimanya. Ia juga tahu pasal mengenai penyakit tersebut. 


"Kalau kau dan aku harus memilih, maka aku memilih mempertahankan bayi kita. Ingat, walaupun belum tahu cara menyembuhkannya bukan berarti tak ada caranya bukan?" Joya mencoba menghibur dirinya dan Darwis. Padahal hatinya sendiri menangis. Ia juga harus memilih bukan dan tentu lebih sakit bukan?


Tapi apa gunanya menangis? Yang harus dilakukan adalah berusaha sekuat tenaga dan kemampuan melawan penyakitnya. Akan lebih baik menyimpan air mata dan tersenyum. Dia diberikan penyakit ini berarti ia termasuk wanita yang kuat, bukankah Tuhan tak akan memberi cobaan kepada hambanya melebihi batas kemampuan. 


Jika merasa tak mampu, maka kita harus berusaha mampu dan keluar dari Joya nyaman. Ikhtiar, doa dan tawakkal, itulah yang harus dilakukan.


"Kau wanita kuat, pasti kita bisa melewatinya. Tapi jika kita mempertahankannya bukankah resikonya lebih besar?" Darwis agak tidak setuju dengan keputusan Joya.


"Lalu apakah kita harus membunuhnya? Tidak Wis! Aku tak setuju! Aku akan tetap mempertahankannya. Bagaimana bisa kau memilihku daripada bayi ini padahal kau lah yang membuatnya dan menginginkannya?" ucap Joya, emosi.


"Tapi aku bisa kehilanganmu! Dan fatalnya kehilangan kalian berdua!" pekik Darwis, tak dapat mengontrol emosinya.


"Lantas jika dia tiada, apa aku akan sembuh? Belum tentu dan lebih kepada tidak mungkin!Akan lebih menyakitkan jika aku harus melakukan hal itu, Wis," balas Joya tajam. Namun wajahnya penuh dengan cucuran air mata.


Darwis membisu. Aih, benar juga ucapan istrinya.


"Wis, biarkan kami menjalaninya bersama. Aku yakin pasti ada jalan untuk setiap masalah. Bukankah Pedang Biru terkenal dengan teknologinya yang canggih? Kita akan berusaha bersama, dan kau jangan bertingkah seolah aku akan tiada karena ini dan seolah kaulah yang menderita penyakit ini," bujuk Joya, diselingi cibiran.


"Ya, kau benar, ayo kita buktikan bahwa cinta kita lebih kuat dan ganas daripada tumor ini, aku akan selalu mendukung dan berada di sampingmu. Kita lalui ini bersama. Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Kau pasti akan sembuh!" Darwis memeluk Joya. Joya membalasnya dan tersenyum. 


Walaupun hatinya masih tak percaya, mau tak mau Joya harus menerimanya. Ini sudah jalan hidupnya. Siapa yang bisa menolak ataupun menghindari ketetapan Tuhan? Menerima dengan ikhlas dan menjalani dengan sabar adalah kuncinya.

__ADS_1


Joya yakin, ini juga adalah salah satu imbalan atas kelakuannya dulu di masa lalu. 


__ADS_2