Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 365


__ADS_3

Karina dan Arion jalan-jalan menyusuri pantai bersama dengan ketiga anak mereka. Arion menggendong Biru dan Bima sedangkan Karina menggendong Bintang. Senyum, canda, dan tawa terdengar begitu bahagia. Anak mereka juga seolah sudah mengerti, ikut tertawa dan tersenyum. 


"Kakak!"


Mereka menghentikan langkah, menoleh ke belakang. Enji berlari sembari melambai pada mereka. 


"Ada apa?"tanya Arion.


Enji mengatur nafas sebelum menjawab.


"Tidak ada. Hanya ingin bersama dengan kalian," jawab Enji, tersenyum lebar yang disambut decakan lidah Arion serta dengusan senyum Karina.


"Mama dan Papa?"tanya Karina.


"Karoekaan sama yang lain," jawab Enji.


"Pantas istana terdengar ribut sekali," ucap Karina menatap bangunan megah miliknya itu.


"Ya sudah," ujar Arion.


"Biru sini aku yang gendong," ucap Enji, mengulurkan tangannya meminta Biru dari gendongan Arion. Arion menatap datar Enji yang memasang wajah memelas. 


"Kak please," harap Enji.


"Hm."


Enji langsung mengambil Biru dari gendongan Arion. 


"Awas saja jika kau meracuni otak polos Biru!"ancam Arion. 


Enji nyengir, jari membentuk huruf V.


"Jika tak polos lagi berarti pengaruh kalian berdua," ucap Karina sinis, melangkah meninggalkan dua pria yang masih bertatapan.


"Eh Sayang," panggil Arion, lekas mengejar Karina. 


Enji mendengus.


"Kakak tunggu!"pekik Enji yang dihadiahi tamparan dari Biru. Enji tertegun menatap Biru. Tatapan Biru kesal, tajam bak mengancam Enji.


"Tekanannya sudah mirip Kakak," gumam Enji, segera menyusul Karina dan Arion yang sudah menjauh. 


Menyusuri pantai, mendengarkan gemuruh ombak serta kicau burung. Semilir angin menerbangkan rambut Karina. Arion yang melihatnya, wajahnya sedikit memerah. Enji yang menyadari langsung menggoda Arion. 


"Berisik!"ketus Arion.


"Hahaha …. Kalian memang pasangan unik," tawa Enji.


"Lantas kau?" Karina menatap datar Enji.


"Aku? Aku kan belum menikah," sahut Enji.


"Lantas kapan?"tanya Karina lagi.


Enji mengedikkan bahu tak tahu. 


"Lalu apa yang kau inginkan?"tanya Arion. 


Enji merasa ia sedang disidang oleh Karina dan Arion. 


"Aku juga nggak tahu," jawab Enji, meyakinkan.


Arion dan Enji menatap Enji tak percaya. 


"Keinginanku berubah setiap waktu. Kadang A, kadang B. Pagi A, siang B, malam C," ujar Enji.


"Melihat perilakumu belakang ini … aku merasa itu memang benar. Tapi usiamu juga tidak muda lagi. Kakak harap kau segera menemukan apa yang benar-benar kau inginkan. Aku hanya ingin kau menemukan kebahagiaan sejatimu," tutur Karina.


Enji mengembangkan senyum. 


"Kebahagian sejatiku ada di sini. Keluargaku adalah kebahagiaanku," jawab Enji.


"Itu aku juga tahu! Maksudnya cinta sejatimu, calon kekasih bidadarimu, Zi!"jelas Arion.


"Oh itu. Biarlah waktu yang menjawab," jawab Enji. 


Karina menghela nafas, tersenyum simpul. 


"Ayo dong Vin. Pohonnya pendek kok, ada pijakannya juga," rengek Raina, bergelayut manja pada lengan Calvin.


"Aku takut Ra. Nanti kalau jatuh kayak hari itu gimana? Bisa ganti sama yang lain nggak? Atau minta tolong sama pelayan saja?"tawar Calvin. Raina menggeleng keras. 


"Harus kelapa muda dan harus kamu yang memetiknya sendiri! Aku maunya itu nggak ada tawar - menawar!"tegas Arion. Calvin menelan ludah, wajahnya sangat tertekan. Bayangan jatuh saat memanjat pohon kelapa menghantui Calvin. 


"Tidak! Aku tak bisa. Aku tak berani. Aku nggak sanggup Ra," tolak Calvin, berjongkok dengan kedua tangan berada di atas kepala. 


Raina menatap Calvin dengan tatapan sulit diartikan. Alisnya mengerut melihat reaksi Calvin. 


"Ya sudah kalau kau tak mau! Aku yang akan memetiknya sendiri!"ucap Raina, berjongkok untuk melepas sepatunya. Calvin melirik, mendongak saat Raina melakukan pemanasan.

__ADS_1


"Ra kamu serius mau manjat sendiri? Nanti kalau jatuh gimana?"


"Kalau iya kenapa? Aku tak mau anakku nanti ileran!"jawab Raina, mulai menyentuh pohon kepala, memeriksa pijakan pertama.


Mata Calvin membulat.


"Anak? Maksudnya kamu hamil Ra?"


Mata Calvin berbinar menatap Raina yang kini menatapnya datar.


"Hm." 


Calvin langsung berdiri, mendekati Raina, memutar tubuh Raina dengan lembut agar menghadapnya.


"Ini nyatakan? Kamu beneran hamil? Ravi bakalan punya adik? Bukan prank kan?"


"Prank kepalamu!"gerutu Raina.


"Coba pukul aku Ra," pinta Calvin memastikan bahwa ia tak bermimpi. Raina yang masih kesal, langsung menendang lutut Calvin. Calvin memekik kaget, langsung terpingkal - pingkal mengusap lututnya.


"Sudah-sudah. Aku percaya," tahan Calvin yang melihat Raina ingin kembali menendang.


"Oh."


Plak.


Tetap saja bahu Calvin jadi sasaran.


"Jadi gimana?"


"Gimana apanya?"


"Ck. Minggir kau!"


"Eh jangan. Biar aku saja!"


"Hmph!"


Calvin mulai melepas sandalnya, mendongak ke atas melihat ketinggian pohon, lebih kurang 6 meter. 


"Ra bisa nggak siapin matras dulu? Biar kalau jatuh nggak sakit?"


"Nggak percaya diri banget sih! Sepertinya aku harus membuat kelas memanjat untukmu," cibir Raina, menatap remeh Calvin.


"Siapa gurunya?"


"Monkey!"


"Oke nggak perlu matras. Jatuh juga nikmat kok," putus Calvin, mulai menaikkan kakinya satu memanjat. Raina tersenyum penuh kemenangan. 


Calvin menghela nafas lega melihat senyum Raina, memantapkan hari untuk mengambil pijakan kedua. 


Dari kejauhan tampak Karina, Arion, dan Enji mendekat. Bukan sengaja tapi mereka memang melewati jalur ini. 


"Nona," sapa Raina sopan. Karina mengangguk. 


"Ada apa ini?"tanya Arion heran melihat Calvin yang berusaha keras menaklukan ketinggian pohon kelapa. Padahal baru empat pijakan tapi keringat deras sudah terlihat jelas.


Enji mengeryit, tak tawa tertawa.


"Ternyata selain fobia ikan gabus kau juga takut ketinggian ya," ejek Enji.


"Bukan ketinggian yang aku takutkan! Aku hanya takut jatuh!"bantah Calvin cepat.


"Semua takut jatuh tapi reaksimu berlebihan," sahut Karina.


"Eh kakak ipar, aku hanya trauma," kilah Calvin cepat.


Karina melirik Raina. Raina mengangguk membenarkan. 


"Lantas atas dasar apa yang susah payah memanjat?"heran Arion.


"Demi memenuhi keinginan anakku," jawab Calvin lantang.


"Anak? Ravi ingin kelapa muda?" Tiga orang itu menatap bodoh Calvin, Calvin menoleh ke bawah. Ia berusaha keras memeluk batang pohon kelapa serta memantapkan pijakannya agar tak jatuh.


"Hahahaha. Ar sebentar lagi aku akan menyusulmu jadi ayah beranak dua! Hebat kan?!"


"Wow. Ra kau hamil?"


Tatapan tertuju pada Raina. Raina tersenyum malu, tersipu mengangguk pelan. 


"Hebat juga kau Vin!"puji Arion, kembali menatap Calvin yang kini berhasil memanjat hingga setengah batang. 


"Kak Vin kau harus jadi bandar malam ini. Siapkan pesta yang meriah untuk kehamilan isterimu," ucap Enji.


"Baiklah. Tapi sebelumya apakah tuan rumah setuju?"


"Asalnya biaya kau yang tanggung aku tak masalah. Selamat untuk kehamilan anak kedua kalian," ujar Karina. 

__ADS_1


Calvin mengangguk mengerti. 


"Siapa yang hamil?"


Menoleh ke sumber suara di mana Rian dan Angela mendekat.


"Tuh Raina hanya hamil," jawab Enji.


"Wah selamat Ra," ucap Rian, memberi pelukan hangat untuk Raina.


"Jangan sentuh istriku!"seru Calvin dari atas.


"Sudah kau fokus saja memanjat!"marah Raina. Calvin mencembikkan bibirnya, cemburu. Mau turun sudah hampir sampai, kalau tak turun cemburu menggebu. Lirikan tajam Karina membuat Calvin terus memanjat.


"Apakah ini yang namanya kebetulan? Aku juga hamil," ucap Angela yang membuat Rian terbelalak, terkejut, menatap Angela dalam diam.


Karina hanya menaikkan alisnya, Arion mendengus senyum sedangkan Enji menatap cemburu dua pasangan itu. Enji menghela nafas kasar, memilih duduk di pasir bermain dengan Biru.


"Sejak kapan, Angel?"


Rian memegang pundak Angela.


"Aku baru tahu tadi, niatnya aku akan mengatakannya nanti malam tapi ku rasa sekarang juga bagus," jawab Angela.


Rian langsung memeluk erat Angela. Karina tersenyum lebar, duduk di samping Enji diikuti oleh Arion.


Raina menatap heran punggung Rian saat mendengar suara tangisan. Terlihat Angela tampak kaget, mengusap lembut punggung Rian.


"Akhirnya! Akhirnya aku jadi ayah. Aku bahagia sekali. Terima kasih, Angel," ucap Rian terisak.


"Berhentilah menangis. Ketampananmu luntur karena air mata!"ucap pelan Enji yang masih terdengar oleh Rian. Karina dan Arion terkikik geli melihat wajah Rian yang memerah.


"Orang tampan ekspresi apapun tetap tampan!"ucap Rian.


"Berarti malam ini ada dua bandar," ucap pelan Enji.


"Sudah berhenti bertengkar kalian! Ar aku ingin kelapa muda, bisakah kau memetiknya untukku?"


Karina menatap Arion dengan puppy eyes. Tak kuasa menolak, Arion mengangguk menyetujui.


"Kak kau juga hamil?"


"Memangnya kenapa?"


"Jika ingin kelapa muda tinggal suruh tuh orang petik lebih banyak. Ngapain repot-repot manjat? 


"Hm mungkin. Tapi seorang suami harus berusaha sendiri memenuhi keinginan sang istri. Iya kan Ar?"


"Ya. Sekalian olahraga," sahut Arion, berdiri. Bima kini berdiri dengan berpegangan pada lengan Karina.


Rian dan Angela kini duduk, masih dalam mode kasmaran. Enji bak nyamuk besar di antara tiga pasangan itu.


Bukkkk 


Buukkk 


Bukkkk 


Tiga buah kepala berhasil jatuh, Calvin langsung merosot turun. Bersandar lemas pada batang pohon. Raina berdiri mengumpulkan tiga kepala muda yang Calvin jatuhkan.


"Zi ambil golok sana, kalau nggak ada pedang juga boleh," ucap Karina.


"Kakak nggak bawa pisau? Laser?"


"Menolak??"


"Eh nggak. Aku ambil sekarang."


Biru duduk di depan Karina, sibuk melihat butiran pasir. Raina terkekeh geli, duduk di samping Calvin, mengusap keringat Calvin dengan sapu tangan. 


Calvin tersenyum lembut, mengecup punggung tangan Raina.


"Oi kumpulin tuh!"seru Arion yang menjatuhkan satu tanda kelapa muda. Calvin tercengang melihat Arion yang begitu cepat naik.


Rian bangkit. Karina melirik Angela agar mendekat padanya.


"Saya Nona."


"Panggil aku Kakak saja. Kau adalah keluargaku," ucap Karina.


"Eh baik, ka-kak," ucap canggung Angela.


"Apa tujuanmu selanjutnya? Ku dengar kau berniat merebut hakmu di New York."


"Saya berencana pulang setelah dari sini."


"Jangan gunakan nada formal!"


"Aku akan merebut hakku setelah ini. Aku sudah menyiapkan segalanya. Aku harap kakak merestuiku."

__ADS_1


"Tentu saja. Pergilah, tiga tuan muda akan menemanimu!"ucap Karina.


"Berhenti dulu membahas balas dendam atau apapun itu. Lebih baik nikmati saja kesegaran air kelapa muda ini," sela Arion, menyodorkan kelapa muda yang sudah dikupas dan dilubangi sebagai tempat minum. 


__ADS_2