Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 138


__ADS_3

Amri, Maria dan Karina menyingkir dulu, memberi ruangan agar dokter dan perawat bisa memeriksa Arion dengan nyaman. Tetapi tetap saja tak bisa, dokter dan perawat itu gugup akibat tatapan intens Karina pada kerjaan mereka.


 Mereka tak boleh membuat kesalahan sedikirpun di depan orang nomor satu dalam tempat mereka bekerja. Bisa jadi bukan hanya pekerjaan yang dicopot, nyawa pun bisa berpisah dengan raga.


"Apa ada yang salah dengan penglihatan Anda?" tanya dokter hati-hati.


"Ya, saya tak bisa melihat. Semua gelap. Istriku bilang ini sudah siang dan lampu pun terang benderang. Apa saya buta?" terka Arion. Sang dokter tampak mengeryirkan dahinya sejenak sebelum akhirnya menghela nafas.


Sudah tahu keadaannya masih bisa tenang. Jarang sekali ada pasies seperti ini … tak heran juga sih. Orang istrinya punya ketenangan yang luas, pasti sikit banyaknya menempel pada suami, batin dokter.


"Tebakan Anda benar. Mata Anda mengalami luka akibat bekas serpihan kaca. Tetapi Anda tak perlu bersedih. Kami akan berusaha sebaik mungkin menyembuhkan Anda," jawab dokter.


"Donor mata kah?" tanya Karina to the point.


"Benar," jawabnya.


"Donor mata?" beo Arion.


"Ya. Donor mata dapat menyembuhkan penglihatan Anda, kami akan menghubungi setiap koneksi kami agar bisa menemukan donor mata yang cocok untuk Anda. Untuk itu Anda harus istirahat total untuk menyembuhkan tulang rusuk dan tangan Anda," jelas dokter tersebut.


"Baik," jawab patuh Arion.


"Ini resep obatnya. Harap ditebus di apotik rumah sakit," titah dokter tersebut.


"Ck, kamu yang tebus sana, enak saja menyuruh orang," ketus Karina memerintah dokter tersebut.


"Tapi Nona."


"Cepatlah," ucap Karina. Sang dokter mengangguk dan segera keluar dengan membawa resep yang ia berikan tadi.


Secepat-cepatnya menuju apotik dan menebus resep. 


"Kamu ini, jangan begitu," ujar Arion.


"Biarin," sahut Karina.


"Pemilik mah bebas menyuruh. Kasihan dokternya tadi," timpal Amri terkekeh.


"Hm," gumam Karina.


"Kamu sarapan dulu gih," ujar Maria. Karina mengangguk.


"Sayang, aku lapar," rengek Arion.


Karina melihat ke arah nakas, ternyata suster tadi juga membawa makanan untuk pasien. 


"Makanan rumah sakit atau makanan yang Mama bawa?" tanya Karina.


"Yang mau kamu makan," jawab Arion.


"Makanan dari rumah sakit dulu ya," ucap Karina. Arion mengangguk. Amri membantu Arion duduk. Menyandarkan bantal di dekat dinding agar Arion nyaman bersandar.


Karina langsung membuka plastik pelindung makanan rumah sakit. Terdiri atas bubur nasi, lauk, pauk serta buah. 


Karina langsung menyuapi Arion dengan telaten. Hmm, gak sakit saja suap-suapan. Apalagi sakit.


Amri dan Maria yang melihat itu tersenyum penuh arti. Mereka bahagia. Anak mereka mendapat pasangan yang mampu bersikap di berbagai kondisi. Menemani di saat jatuh adalah bukti ketulusan cinta. 


"Karina, Ar, Mama sama Papa pulang dulu ya," pamit Maria. 


"Iya nih, Papa gerah, lengket lagi. Pasti keringat semalam berubah jadi daki," tambah Amri.


"Ih … Papa dakian, cepat mandi sana Pa," ledek Arion.


"Shut, kamu diam saja. Makan banyak-banyak biar cepat sembuh," balas Amri.


Maria dan Karina mengangkat bahu mereka acuh. 


"Ya sudah Ma, Pa," jawab Karina.


"Oke. Hmm … baju ganti kamu mau Mama bawakan nanti? Atau bagaimana?" tanya Maria mengingatkan.


"Hmm … kayaknya gak usah deh Ma. Soalnya kemarin Karina sudah bilang sama Pak Anton. Jadi nanti Pak Anton sama Bik Mirna yang bawakan baju ganti Karina," jelas Karina. Maria mengangguk mengerti.

__ADS_1


Mereka segera keluar dari ruang rawat Arion kembali ke rumah. Apalagi Amri harus ke kantor menggantikan Arion. Jangan sampai perusahaan tak terurus karena kecelakaan ini.


Arion masih menikmati makanannya dengan lancar. Walaupun sedikit hambar rasanya di lidah, Arion harus menyantapnya. 


Kini habislah semua makanan dari rumah sakit. 


"Minum obatnya Ar," ucap Karina menyodorkan beberapa macam obat sesuai dosis aturan sekali minum dengan sendok. Arion kembali membuka mulutnya, Karina langsung menyuapkan obat pada Arion dan memberinya air minum.


"Pahit," keluh Arion kala air dan obat bercampur di mulutnya.


"Cepat telan," ujar Karina. Arion menelannya dengan sidikit usaha. Rasanya ingin muntah namun ditahan, mamaksa obat masuk ke kerongkongan dan lambungnya.


Setelah Arion berhasil meminum obatnya, Karina kembali menyuapkan madu, mengurasi sisa rasa pahit di mulut.


"Lebih manisan bibir kamu daripada madu. Lain kali minum obatnya melalui ciuman. Aku gak mau minum obat dari sendok besi itu," ucap Arion.


"Jadi kita berbagi rasa manis dan pahit begitu?" tanya Karina memastikan.


"Iya, pahitnya dari obat, manisnya dari kamu, kalau begitu kan aku semangat minum obatnya," ujar Arion cengengesan. 


"Hush, kamu ini," ucap Karina menonyor kening Arion.


"Auh sakit Yang, kamu tega. Suami sudah sakit, buta masih kamu bully," keluh Arion pura-pura meratap sedih. 


"Shut. Kamu akan sembuh. Mereka akan segera menemukan donor buat kamu. Kamu yang sabar dan terus semangat," ujar Karina menempelkan telunjuknya di bibir Arion.


"Hmm … masih pahit," ujar Arion.


"Apanya?" tanya Karina.


"Mulut aku, pahit banget obatnya, madu saja gak bisa menetralkan pahitnya," jawab Arion tersenyum hingga menyipitkan matanya. Pandangannya tetap gelap dan menatap ke depan. 


Karina memutar bola matanya malas. Sudah tahu maksud Arion. Dengan perlahan Karina mendekatkan wajahnya pada wajah Arion. Arion dapat merasakan hembusan nafas Karina.


Dan ya, berciuman, adalah maksud Arion. Arion menutup matanya, begitupun Karina.


Ceklek!


Wajah Gerry memerah. Li mencuri pandang kepada calon istrinya, Elina, yang dibalas malu-malu oleh Elina dan pelototan dari Marlena.


"Belum sah!" tegas Marlena pelan.


"Dua jam lagi sah. Saya bebas mau ngapain saja dengan Elina!" tegas Li tak kalah pelan.


"Sudah! Ngebet amat mau nikah, gue saja yang jomblo santuy," ucap Gerry.


"Loe mah mau sampai kapanpun jomblo. Cewek nempel langsung loe lempar ke ranjang, eh salah ke buaya maksudnya." Li meringis kala mendapat tatapan tajam Li.


"Hmm, sampai kapan kalian di depan. Ayo masuk," ucap Karina datar. Mendengar suara pelan membuat Karina dan Arion terganggu. Mereka akhirnya berhenti berciuman. Karina menoleh ke arah pintu sedangkan Arion tetap menatap ke depan. Dalam hatinya mendengus kesal. 


"Baik," jawab mereka berempat bersamaan. Elina meletakkan parsel buah di nakas.


"Bagaimana kondisinya? Mengapa pandangannya ke depan?" tanya Gerry berbisik pelan pada Karina.


"Matanya mengalami kerusakan," jelas Karina. Gerry mendesah pelan. Prihatin dengan kondisi Arion.


"Jangan mengejek kau Gerry, aku buta tapi tidak tuli. Inderaku masih berfungsi semua kecuali mata," ujar Arion tegas.


"Ya … ya, bagaimana pun kau leader Black Diamond. Mana mungkin tidak peka," sahut Gerry. 


Arion tersenyum tipis. Karina menghela nafas. 


"Kau datang dengan siapa? Aku dengar ada suara Li, terus yang lain siapa?" tanya Arion.


"Calon istri dan mertua Li. Sehabis dari sini kami akan ke KUA," jawab Gerry.


"Oh," respon Arion.


"Selamat Li, punya istri itu rasanya bahagia. Yang jomblo awas nangis." Lagi-lagi Gerry kena sindir. Gerry mengerucutkan bibirnya.


"Sudah. Gerry akan segera ku carikan dirimu calon, tegas tak dapat dibantah," tegas Karina. Gerry diam saja.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Karina serius.

__ADS_1


"Hasilnya dari pemeriksaan kepolisian, ini murni kecelakaan," jawab Gerry.


"Kecelakaan murni? Mengapa aku agak aneh ya? Rasanya seperti ada campur tangan pihak ke tiga," ujar Karina.


"Tapi Sayang, siapa lagi musuhku? Joya dan ayahnya aku rasa tak mungkin. Mereka juga tidak," ujar Arion heran.


"Mana aku tahu Ar. Musuhku saja banyak. Takutnya mereka adalah musuhku. Mereka mengincarmu untuk membuatku lengah dan terpuruk. Tapi aku tak bisa memastikannya siapa," timpal Karina.


"Bagaimana kondisi sopirnya?" tanya Karina.


"Dia meninggal. Tetapi bukan karena kecelakaan," jawab Gerry.


"Tewas bukan kerena kecelakaan?" tanya Arion.


"Dari hasil pemeriksaan, sopirnya meninggal karena serangan jantung pada saat masih mendekati lampu merah. Untung saja belum ada kendaraan yang berhenti sebab baru saja pergantian kuning ke merah. Jika tidak mungkin kecelakaan beruntun yang terjadi," jelas Gerry.


"Masalah ini rumit. Selidik terus. Kerahkan informan terbaik kita. Cari dan selidik sejelas-jelasnya," titah Karina tegas.


"Baik," jawab Li dan Gerry.


"Emm, bolehkah kami membantu?" tanya Elina pelan.


Karina menaikkan satu alisnya.


"Tentu saja, kau kan bagian dari kami. Sudah seharusnya kita saling membantu, benar bukan?" jawab Karina dengan senyum tipisnya.


"Hm," gumam Elina


"Sudah. Ayo ke KUA. Kalian berdua lanjutkan saja kemesraan kalian," ajak Marlena.


"Oke," jawab Li.


Li, Gerry, Marlena dan Elina pamit. Arion mencoba merangkul pinggang Karina dengan menggerakkan tangan kirinya di udara.


"Apa yang kamu cari?" tanya Karina.


"Kamu," jawab Arion.


Karina menangkap tangan Arion dan meletakkannya di pinggang. Arion langsung menarik pinggang Karina hingga mereka bertubrukan. 


"Tulangmu!" pekik Karina khawatir. 


"Bukan masalah," jawab santai Arion.


Arion memeluk Karina dengan tangan kirinya. Erat tak mau terpisah. Dahi mereka bersentuhan. Arion melanjutkan apa yang terganggu karena kedatangan keempat orang tadi. 


****


"Siska makanlah dulu. Sampai kapan kamu tetap duduk di sana. Duduk pun butuh tenaga Sis," ujar seorang wanita paru bayah.


Siska diam tak bergeming. Tatapannya tetap fokus pada wajah Ferry yang masih betah menutup. Menjelajahi dunia koma. 


"Siska makanlah atau setidaknya minumlah sesuatu. Jangan Ferry sudah sakit kamu juga sakit," bujuk pria di samping wanita tadi. Wajahnya tegas.


Siska menggeleng pelan. Tak ingin beranjak ataupun melakukan apapun kecuali menggenggam erat tangan Ferry dan menatapnya penuh arti.


"Kak." Tangan mendarat di pundak Siska. Siska menoleh sekilas dan kembali fokus pada Ferry.


"Kak, makanlah roti ini dan minumlah air ini. Kak Ferry pasti sedih kalau dia bangun nanti lihat kakak lesu, letih dan kurus," bujuk Wulan, adik perempuan satu-satunya Ferry. Pria dan wanita tadi adalah orang tua Ferry yang tiba jam 07.00 tadi dari negara F. Wulan masih duduk di kelas tiga sekolah menengah atas. 


Ferry dan keluarga memang tinggal berjauhan. Ferry lebih suka tinggal di negara ini dan menjadi sekretaris Arion ketimbang bekerja menjadi CEO menggantikam ayahnya yang juga merupakan pengusaha. 


"Kak, ayolah. Kak Ferry juga gak akan bangun kalau kakak mogok makan. Yang ada kakak nyusul kak Ferry koma," lanjut Wulan.


Kali ini ada respon dari Siska. Siska tersenyum tipis.


"Mana ada orang mogok makan sampai koma," kekeh Siska.


"Ada loh kak. Makanya kalau kakak gak mau koma, kakak makan dulu. Atau mau Ulan suapi?" tanya Wulan.


"Gak usah. Kakak makan sendiri saja," jawab Siska.


Siska mengambil roti cokelat yang Wulan sodorkan. Akan tetapi lebih dulu ia membasahi kerongkongan yang terasa kering. Barulah menyantap suap demi suap roti.

__ADS_1


__ADS_2