
Di perjalanan menuju Ulsan, handphone Arion berdering, menandakan ada yang menghubunginya. Karina melirik Arion.
"Ferry," ucap Arion memberi tahu.
Arion memasang earphone-nya dan menjawab panggilan tersebut.
"Assalamualaikum Bro, Bro kunci apartemen sudah aku berikan pada mama, aku pamit ya, aku pulang duluan ke negara Y, kerjaanku sudah beres di sini, tinggal urusanmu saja yang belum," ujar Ferry.
Yang begitulah Ferry sekarang, jika di lingkungan kerja akan memanggil Arion Tuan Muda, jika di keluarga memanggil Kakak dan jika hanya berdua dalam keadaan di luar kerja dan keluarga, memanggil Bro ataupun nama, loe dan gue.
"Waalaikumsalam, kok loe gak bilang ke gue sih? Konfirmasi kek?" kesal Arion.
"Lah loe lupa ya apa yang gue bilang sewaktu tiba di apartemen? Gue balik setelah urusan gue selesai, perusahaan pusat juga butuh gue, kalau elo kan pasti pulangnya sama Karina, malah banyak banget kejadian di sini, gue takutnya perusahaan kena imbas, jadi gue balik duluan," terang Ferry.
Arion diam mengingat.
"Oh ya benar, ya sudah hati-hati loh, jangan kenapa-kenapa, kasihan calon bini nunggu di sana kalau loe gak pulang-pulang," ucap Arion, menyelipkan ledekan.
"Ck, jangan sampai Ar, cukup itu saja, jangan tambah lagi," sahut Ferry. Arion tertawa kecil. Karina menatap heran Arion.
"Da lah, gue harus masuk pesawat, Assalamualaikum," lanjut Ferry.
"Iya, Waalaikumsalam, by de way thanks for your loyalitas for company," tutur Arion.
"No problem. Itu kewajiban dan tanggung jawabku," sahut Ferry. Panggilan berakhir.
"Ferry balik duluan?" terka Karina. Arion mengangguk.
"Khawatir perusahaan atau kangen Siska?" tanya Karina lagi.
"Dua-duanya kali," jawab Arion.
"Hm, tak heran, bentar lagi nikah pasti rasa rindu dan was-was membuncah," komentar Karina.
"Namanya juga masa kasmaran Yang," sahut Arion. Menggenggam tangan Karina dan menciumnya punggung tangannya dengan pandangan tetap ke depan.
***
Ferry menatap foto Siska di layar handphone-nya yang ia gunakan sebagai wallpaper.
"Ya Allah, lindunganlah selalu kami dalam lindunganmu. Jauhkanlah mara bahaya dari kami. Serta lancarkanlah rencana pernikahan kami," gumam Ferry, menonaktifkan handphone-nya dan berjalan memasuki pesawat, menggunakan pesawat komersial kelas bisnis dengan biaya ditanggung perusahaan, pastinya.
***
"Uh, mengapa tak nyaman sekali perutku ini? Rasanya mau muntah namun yang keluar hanya ludah, Ck mengesalkan sekali," gerutu Raina, memandang wajahnya yang pucat kerena banyak kehilangan cairan namun tak belum bisa mengembalikkannya. Terlebih lagi dengan suara ketukan pintu, berisik.
"Ra, are you okey?" tanya khawatir Calvin dari balik pintu.
"Hm, perutku tak enak, rasanya seperti diaduk-aduk, tubuhku juga rasanya lemas sekali," sahut Raina. Menghidupkan keran dan membasuh wajahnya. Merasakan air dingin, Raina menarik nafas dan berjalan untuk keluar kamar mandi.
"Ra, kita ke rumah sakit ya," ujar Calvin langsung memeluk Raina.
__ADS_1
"Gak usah, aku istirahat saja, wajah ini namanya morning sickness," jawab Raina. Perutnya kembali bergelojak. Raina segera menuju kamar mandi lagi, membuat Calvin semakin khawatir dan ikut menyusul masuk.
"Hoek! Hoek!" Lagi-lagi hanya air liur yang keluar.
"Kamu pakai parfurm apa?" tanya Raina bergerak menjauh saat Calvin hendak memijat tengkuknya.
"Parfum biasa Ra, yang kamu belikan, kenapa memangnya?" tanya heran Calvin. Ia mencium wangi kemejanya. Ia tak ke kantor hari ini, libur menemani Raina yang mengulah karena morning sickness-nya.
"Benarkah? Kok aku gak nyaman ya? Kamu ganti deh, kalau belum ganti jangan dekati-dekat sama aku," ujar Raina, mengibaskan tangannya menyuruh Calvin keluar.
"Astaga? Apa lagi ini?" gumam Calvin, menurut dan keluar dari kamar mandi.
Raina keluar setelah Calvin keluar. Ia melewati Calvin yang masih memilih baju, keluar kamar dan menuju lantai bawah. Perutnya lapar, namun tak ada nafsu untuk makan.
"Ra sini, kamu makanlah sedikit barang sesuap." Santi merangkul Raina saat Raina sudah tiba di anak tangga terakhir.
"Mual Ma, rasanya jika dimakan mau dimuntahkan lagi," rengek Raina, tetap mengikut dan duduk di meja makan. Santi tersenyum. Ia mengambilkan semangkuk kecil sup dan meletakkannya di hadapan Raina.
"Ayolah, kasihan cucu Mama di dalam, kamu juga lesu, letih dan lemas, ayo makan biar ada tenaga," bujuk Santi.
"Atau Mama suapi ya? Coba dulu kamu adaptasi supnya, bikin mual tidak?" saran Santi. Raina mengendus aroma sup. Aroma khasnya tiba-tiba saja membuat Raina berselerah makan. Santi tersenyum dan mengambil alih sup kemudian menyuapi Raina. Raina makan dengan perlahan. Sesekali ia mengusap perutnya.
"Ini resep sup turun-temurun dari keluarga Mama. Mama dulu waktu hamilnya Calvin juga seperti ini, bukan Mama saja, ada banyak wanita di luar sana yang pernah mengalami hal yang kamu rasakan sekarang," celoteh Santi.
Raina agaknya tertarik dengan cerita mama mertuanya itu, terlihat dari reaksi Raina yang menaikkan kedua alisnya.
"Jadi ini resep dari nenek Asmina ya Ma?" tanya Raina.
"Iya, nenek dari ibunya, ibunya nenek dari neneknya nenek, resep generasi, paham kan?" jelas Santi. Raina mengangguk.
Santi menyodorkan air minum pada Raina.
"Kamu benar, nanti kalau kamu sudah okey, Mama kasih tahu bahan dan cara membuatnya," ucap Santi. Berdiri dan beranjak menuju dapur. Raina lagi-lagi mengangguk.
"Akhirnya bisa tenang juga nih perut, uh anak Mama please jangan buat Mama begini ya, rasanya tak nyaman sekali," tutur Raina seraya mengusap lembut perutnya.
"Ra, coba kau cium, mual gak?" Calvin dengan langkah cepat menghampiri Raina. Raina mengendus wangi tubuh Calvin. Mendadak ekspresinya berubah menjadi menahan mual.
Pipinya menggembung dan dengan segera lari ke dapur. Calvin kembali panik dan mengejar Raina. Santi yang membuat susu untuk Raina pun terkejut melihat Raina lari dan kembali muntah di wastapel.
"Ra, kamu kenapa lagi?" Calvin memijat pelipisnya bingung. Ia sudah mengganti baju dan parfumnya. Harusnya kan tak mual lagi.
Santi mendekati Raina dan memijat tengguknya. Keluarlah lagi semua apa yang Raina makan tadi. Terakhir Raina mengeluarkan air liur. Santi meminta tisu dari Calvin. Dengan segera Calvin mengambil dan memberikannya pada Santi.
"Kamu kenapa lagi Ra? Bukannya tadi sudah nyaman? Mengapa mual lagi?" heran Santi. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
"Gak tahu Ma. Tadi sudah nyaman terus Calvin datang suruh aku cium aroma tubuhnya terus aku mual dan muntah lagi," terang Raina seusai kumur-kumur dan mengelap bibirnya dengan tisu.
"Ma ini kenapa sih sebenarnya?" tanya Calvin. Santi mengeryit menandakan ia berpikir.
Resep temurunnya tak mungkin tak manjur. Dia dan semua wanita di keluarganya yang mengalami hal itu selalu lega jika sudah minum sup spesial itu. Atau?
__ADS_1
"Ahah, Mama tahu, Raina gak suka sama aroma tubuh kamu Vin. Sepertinya anak kamu gak mau dekat sama kamu dulu. Jadi solusinya." Santi menjeda ucapannya dan menatap bergantian Raina dan Calvin yang menatapnya penuh tanda tanya.
"Apa Ma?" tanya Calvin tak sabaran.
"Kamu." Santi menunjuk Calvin.
"Harus jaga jarak sama Raina, minimal satu meter!" lanjut Santi membuat Calvin terbelalak kaget. Raina diam saja dan menimbang dalam diamnya.
"Ma gak bisa gitu dong!" protes Calvin tak terima. Mana bisa ia jaga jarak dengan Raina jika satu atap dan saat bersama.
"Lantas mau gimana? Kamu mau lihat Raina mual-mual terus hah? Turuti saja, gak bakalan lama kok, palingan satu dua minggu lebih," ucap Santi tajam menatap kesal Calvin.
"Hah? Dua minggu?" Calvin kembali memijat pelipisnya.
"Satu meter saja bukan? Tak masalah, ini jarak kamu ke aku kurang lebih empat langkah, jadi kamu harus jaga jarak 4 langkah dari aku, di manapun dan kapanpun selama aku masih begini," tutur Raina. Santi tersenyum dan segera menarik Raina menuju taman samping rumah. Tak lupa juga membawa serta susu yang ia buat tadi. Meninggalkan Calvin yang pusing sendiri.
"Apa anakku kesal denganku sebab aku terlalu memaksa ibunya agar ia cepat hadir? Hah padahalkan ibunya menikmati, mengapa anakku malah kesal?" pikir Calvin berjalan menuju kamar mencari handphone-nya. Berniat brossing kembali mengenai ibu hamil dan segala yang tersangkut paut dengan dua kata itu.
Di taman, Santi kembali membujuk Raina agar minum susu yang ia buat. Raina menggeleng dan menolaknya tegas.
"Gak Ma, Raina gak mau," tolak Raina.
Santi meletakkan gelas susu dan menghela nafas. Supnya hanya bisa dinikmati sekali dalam sekali. Tak bisa lagi dibuat. Tapi masalahnya lambung Raina dalam keadaan kosong. Bisa gawat jika Raina menolak mengonsumsi apapun.
Santi melihat jam tangannya. Ia membulatkan matanya kerena sebentar lagi jam makan siang. Kurang lebih satu jam lagi.
"Kalau begitu kamu ingin makan apa? Atau kamu nafsu makan apa gitu?" tanya Santi lembut.
Raina menoleh dan menatap lembut Santi. Raina menggerakkan bibirnya memilih aneka nama sajian yang terpatri di otaknya.
Lima menit kemudian, Raina tersenyum. Matanya menunjukkan binar.
"Rara mau makan gabus kuah kuning, tapi ikan gabusnya harus Calvin sendiri yang nangkap. Gak boleh beli ataupun minta bantuan orang. Harus Calvin sendiri!" Raina mengutarakan keinginannya.
Santi terkesiap sejenak tak lama ia tertawa. Raina heran.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita panggil dia," ajak Santi. Raina menurut dan mengikut.
Calvin yang mengerjakan pekerjaannya dari rumah tersentak kaget dan hampir saja ia terjungkal ke belakang akibat suara lantang nan menggelegar mamanya. Dengan mengusap telinganya, Calvin dengan langkah lesu menuruni anak tangga.
"Mama mau buat rumah robohnya?" gerutu Calvin.
"Runtuh bangun lagi," sahut santai Santi.
"Ck, ada apa Mama manggil Calvin pakai toak masjid kota?" tanya Calvin.
"Raina mau makan tapi harus kamu sendiri yang menangkap bahan utamanya," jawab Santi. Calvin menatap Raina. Raina tersenyum dan mengangguk.
"Apa yang mau ditangkap?" tanya Calvin lagi, curiga dengan senyum Santi padanya yang aneh menurutnya.
"Ikan gabus," jawab Raina riang. Namun, tidak dengan Calvin yang terdiam dan menelan ludah. Ia menatap Santi dengan tatapan rumit.
__ADS_1
"A-apa apa gak ada yang lain?" tanya Calvin susah payah. Raina memberengut kesal dan menghentakkan kakinya, menatap Calvin sengit. Giliran nafsu makan malah gak dituruti.
Melihat perubahan raut wajah Raina, membuat Santi menarik tangan Calvin secepat kilat. Raina menatap itu dan tak niat ikut campur. Ia malah berjalan menuju arah gudang.