
Keesokan paginya, Sasha dan Aleza terbang ke Maroko menggunakan pesawat komersial kelas bisnis. Waktu penerbangan yang lama membuat keduanya langsung terlelap ketika tiba di kediaman Emir dan Aleza.
Bulan madu dimulai. Ah sepertinya tidak. Bulan madu ini lebih mirip kunjungan kerja dan pertemuan dua sahabat yang telah dilanda rindu.
Sasha terus-terusan dimonopoli oleh Aleza. Dari pagi hingga petang, dua orang itu lengket. Kesana-kemari selalu bersama.
Emir dan Aldric hanya mampu menghela nafas pelan.
Rayan, pria itu memilih melakukan pekerjaan di lapangan. Pergi pagi sebelum matahari terbit dan pulang larut malam. Walaupun kini ia tengah menjalani taaruf dengan putri dari salah satu relasi bisnis kelompok Anfa, tetap saja perih rasanya melihat kebersamaan Aldric dan Sasha. Mencoba untuk kuat, menghindar adalah solusinya.
Aldric sendiri sempat berbicara dengan Rayan. Menyampaikan permintaan maaf karena membuat Rayan patah hati. Juga menyampaikan peringatan untuk tidak menganggu rumah tangganya dengan Sasha.
Kala itu Rayan tidak banyak bicara, hanya mengangguk kemudian melangkah pergi. Biarpun begitu, Aldric masih menangkap raut wajah sedih.
Hubungan Sasha dan Emir sendiri semakin erat. Semakin erat dan harmonis dengan kehadiran janin di dalam rahim Aleza. Tapi dibalik keharmonisan itu bukan berarti tidak ada gangguan.
Biarpun berita pernikahan Emir dan Aleza sudah tersebar di seluruh relasi bisnis mereka, tetap saja tawaran pernikahan masih banyak berdatangan. Bisik-bisik yang merendahkan Aleza juga masih ada di sudut kediaman.
Untung saja Aleza bukan orang yang mudah dirundung. Dengan ketegasan dan sikapnya yang bijaksana, Aleza mendapatkan posisi sebagai penasehat menggantikan Karina.
Aleza juga tak segan menegur pelayan ataupun orang yang bergosip tentangnya. Debat, semua yang berdebat dengan Aleza selalu kalah diam tidak berkutik. Boleh rendah hati tapi tidak dengan rendah diri. Pesan Karina selalu Aleza ingat.
Osman pun bangga dengan Aleza. Kecakapan Aleza dengan cepat semakin mengukuhkan posisi Aleza tanpa embel-embel nyonya Emir.
Sekarang, semua anggota dan penghuni kediaman sangat menghormati dan menghargai Aleza. Masa lalu, biarlah menjadi masa lalu. Diungkit pun tidak mengubah apapun. Hanya menyisakan lelah dan luka lama yang kembali terbuka. Emir pun menepati janjinya pada Karina, tidak sedikitpun pernah menyinggung masa lalu Aleza. Toh dia sendiri juga punya masa lalu yang suram.
Begitulah. Suka duka kehidupan rumah tangga mereka jalani. Yang awalnya yang melihat kini mereka merasakan dengan jelas. Suka duka mengandung juga sangat Aleza rasakan. Hingga akhirnya tiba waktunya melahirkan.
Anak mereka lahir bersamaan dengan terbitnya fajar. Senyum anak itu sehangat mentari pagi. Tangisnya memecah keheningan fajar. Seluruh kediaman bersuka cita. Perayaan besar pun diadakan.
Li, Gerry, Aldric, dan Sasha mewakili Pedang Biru memenuhi undangan perayaan itu.
Sasha tak henti-hentinya memuji ketampanan bayi itu. Dalam hatinya selalu berharap dan berdoa agar ia segera diberikan momongan. Aldric yang berdiri di samping, merangkul erat bahu Sasha. Tahu arti tatapan Sasha.
Dan begitulah, perayaan kelahiran bayi bernama Ihsan Fadhlurrahman Akbar itu berlangsung selama tiga hari tiga malam.
*
*
*
Waktu terus berjalan, tak terasa tiba waktunya untuk Karina melahirkan. Di tengah malam dengan ditemani oleh Arion, Karina berjuang keras melahirkan bayinya, bayi kembar lagi.
Setelah perjuangan keras seorang ibu, akhirnya anak ketujuh dan kedelapan Karina dan Arion lahir. Suara tangisnya memecah keheningan malam. Amri, Maria, Enji, dan anak-anak juga Gerry yang menunggu di luar kamar bisa bernafas lega. Mereka memanjatkan syukur.
"Mira!" Maria langsung mendekati Mira yang baru keluar dari kamar.
"Syukurlah. Putra dan putri Queen lahir dengan selamat."
"Iya aku tahu. Tangisnya begitu kencang. Lalu Karina?"
"Queen? Saya rasa Anda tidak lupa kejadian waktu kelahiran Nona dan Tuan muda."
"Ah." Maria tersenyum lebar.
"Kakak luar biasa," gumam Enji takjub dengan Karina.
"Ayo masuk." Amri membuka pintu dan melangkah masuk diikuti yang lain.
Terlihat Karina yang masih berbaring lemas dengan dua anak kembar yang di dekatnya. Arion tampak sedang berinteraksi dengan mereka. Anak-anak Karina yang lain langsung mendekati Karina dan melihat dua adik mereka. Mata jernih yang tampak mengenali siapa saja yang ada di dekatnya.
"Anak ini, sepenuhnya mirip Arion." Maria menatap lembut salah satu bayi itu.
__ADS_1
"Iya Mama benar."
"Putra keenamku memang mirip denganku. Sedangkan putri keduaku sangat mirip dengan Karina. Ini takdir yang luar biasa," ucap Arion.
"Lalu siapa nama kedua adikku ini, Ma?" Bara menyentuh lembut pipi salah satu dari dua bayi itu. Yang disentuh tersenyum, senyum yang membuat Bara terkesiap sesaat kemudian membalas senyuman itu.
"Ulu-ulu adik perempuanku ini sangat cantik. Senyumnya sungguh menenangkan hari seperti membawa cahaya dalam kegelapan. Bagaimana jika namanya Arunika yang berarti matahari terbit?"saran Bintang. Anak pertama yang kini berusia 7 tahun itu tampak sangat bahagia. Adik perempuan yang ia idam-idamkan akhirnya lahir.
"Aku setuju. Tapi kurang pas jika namanya depannya berawalan huruf A. Bagaimana jika nama depannya Binar?"saran Bima.
"Binar Arunika Wijaya?" Karina langsung menggabungkan nama-nama yang disebutkan Bintang dan Biru.
"Nama yang indah. Sinar matahari terbit." Enji langsung setuju.
"Jika begitu, maka itu adalah namanya, Binar." Arion mendaratkan kecupan pada kening Binar.
"Lalu adik laki-kakiku?"
"Bastian?" Brian memberi saran.
"Bisma?" Bahtiar juga ikut.
"Barata?" Amri juga ikut memberi saran.
"Aku sudah menemukan nama yang cocok." Arion menyela, terusik sesaat dengan keributan itu.
"Bazil Arfadhia Tahfiz Wijaya. Kita akan memanggilnya Azil," ucap Arion.
"Wah itu nama yang menakjubkan. Mama setuju!"
Bazil dan Binar, nama anak ketujuh dan kedelapan Karina. Memiliki arti mendalam yang tak kalah dengan nama keenam kakak mereka. Sebuah formasi yang luar biasa, anak pertama perempuan dan anak terakhir juga perempuan. Nantinya, Karina dan Arion berharap, keenam anak lelaki mereka bisa melindungi anak pertama dan terakhir. Namun, biarpun begitu, tekad untuk bisa melindungi ketujuh adiknya selalu tertanam di hati Bintang. Biarlah ia memikul tanggung jawab terbesar, tapi sebenarnya orang tua dan adik-adiknya juga memikul beban yang berat pula, bahkan lebih berat darinya.
"Mama, Papa aku janji akan selalu melindungi adik-adikku!"janji Bintang.
"Hei aku juga berjanji, akan melindungi adik-adikku juga kakak cerobohku ini!"
"Adik tengik aku kakakku. Aku harus bisa melindungi kalian!"
"Kakak ceroboh kita semua ini saudara. Harus saling melindungi. Mengenai usia, itu bukan halangan," tutur Biru.
"Benar Kakak. Jangan tanggung sendiri. Takutnya Kakak tidak sanggup dan malah korslet. Kan nggak lucu pewaris utama masuk rumah sakit jiwa."
"Bara kau!" Bintang langsung meledak mendengar ucapan Bara.
"Usiamu semakin tua ucapanmu semakin tajam! Namun terserah apa katamu tapi yang pasti aku tidak akan pernah lalai menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang Kakak!"tukas Bintang.
Bintang memejamkan mata dengan dua tangan menyilang di dada. Wajahnya angkuh yang dihadiahi senyum lebar dari orang-orang di sekitarnya.
Seminggu kemudian, sebuah perayaan diadakan. Tamu undangan silih berganti mengucapkan selamat pada keluarga Wijaya.
Keamanan dijaga super ketat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Syukurlah, selama acara berlangsung, semua aman terkendali. Sesi terakhir acara adalah foto pertama.
Keluarga inti itu terlihat sangat serasi. Dua anak yang baru lahir digendong oleh Arion dan Karina, duduk di tempat yang telah disediakan sedangkan enam anak lagi duduk dan berdiri di depan mereka. Senyum merekah, kebahagian tiada tara.
*
*
*
Dua belas tahun sudah usia pernikahan Arion dan Karina. Segala rasa kehidupan berumah tangga telah mereka rasakan. Suka duka mengasuh anak dengan tangan sendiri juga sudah menjadi bagian dari kisah hidup. Di bawah didikan dan kasih sayang keduanya, yang tidak pernah membedakan kasih sayang di antara anak, membuat anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang baik lagi cerdas. Delapan anak itu saling melengkapi, bagai sebuah formasi pedang yang sangat kuat.
Lahir di keluarga sultan tak membuat karakter anak-anak itu menjadi sombong. Mereka hidup dengan sederhana. Tak mengungkap identitas asli di publik. Para bodyguard mereka pun harus menyamar untuk melindungi mereka. Menjadi salah satu staff di sekolah adalah cara yang dilakukan oleh para bodyguard demi melindungi sang nona dan tuan muda.
__ADS_1
Perusahaan keduanya juga semakin maju. Arion dan Karina sama-sama berusaha keras untuk membagi waktu yang adil untuk keluarga dan pekerjaan. Rutinitas minggu bersama keluarga tetap awet terjaga. Entah itu sekadar piknik sederhana di rumah atau rekreasi di luar, tetap menjadi kegiatan wajib.
Amri dan Maria juga berperan penting dalam membentuk karakter cucu-cucu mereka. Menceritakan pengalaman hidup, menyuruh memetik sisi baik dan membuang sisi buruk. Memberi banyak pesan tentang kehidupan juga mengajak cucu-cucu mereka melihat secara langsung.
Enji, pria itu sendiri kini tengah menjadi asmara dengan salah satu artis yang cukup terkenal. Bayu yang juga tengah kembali dari pembelajaran, tidak banyak ikut campur dengan urusan asmara sang ayah. Asalkan ayahnya bahagia dan pilihan ayahnya adalah orang yang baik dan tulus, restu Bayu terbuka lebar.
*
*
*
Liburan tahun baru telah tiba. Keluarga Wijaya memutuskan untuk liburan di negara kakek Bram. Sebelum menuju negara B, sekeluarga itu lebih dulu mengunjungi makam keluarga Karina.
Negara B, negara yang sama-sama pernah menjadi tempat penting mereka. Setelah sekian lama akhirnya kembali menginjakkan kaki di negara ini.
Tempat yang paling utama mereka kunjungi adalah makan kakek Bram. Mengenalkan Bazil dan Binar sebagai cicit ketujuh dan kedelapan kakek Bram.
Alia, putri kecil kakek Bram itu menitikkan air mata sembari mengusap nisan sang ayah. Kakek Bram memanglah ayah kandungnya tapi bagi Alia, Amri dan Maria adalah orang tua yang sesungguhnya. Sedari kecil ia diasuh oleh keduanya. Bahkan cara memanggil saja bukanlah kakak melainkan Mama dan Papa. Sulit untuk dirubah karena telah tertanam di ingatan sedari kecil.
*
*
*
Karina bersandar di dada Arion, duduk di bangku taman menunggu waktu berganti menjadi tahun yang baru.
Anak-anak mereka bermain dengan diawasi oleh Bayu.
"Sayang."
"Hm."
"Aku harap kebahagiaan ini tidak akan pernah berganti."
"Sekalipun awan kesedihan datang, badai datang menerpa, selama kita tetap bersama, tidak akan ada yang namanya kesedihan. Suamiku, kamu dan anak-anak adalah hal terindah dalam hidupku. 12 tahun sudah kita bersama, telah banyak kisah yang kita jalani. Terima kasih, telah menjadi suami dan ayah yang baik. Terima kasih telah menjadi suami yang tabah menghadapi sikapku selama ini. Terima kasih telah menjadi ayah yang hebat untuk anak-anak.
"Sudah tugas dan kewajibanku, Sayang. Maafkan aku juga yang sering membuatmu marah dan kecewa, terutama saat di awal pernikahan kita."
"Terima kasih telah menjadi istri dan ibu yang sempurna dan hebat untukku dan anak-anak. Terima kasih telah sabar dengan tingkah lakuku. Karina, I love you 3000!"
"Arion, I love you, forever!"
Diikuti oleh langit yang bercahaya dengan kembang api, keduanya berciuman dengan penuh kelembutan dan ketulusan. Tahun baru telah datang. Harapan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya, menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
"Mama! Papa!" Kedelapan anak mereka kini berdiri di depan keduanya. Menatap dengan senyum menggoda.
"Berhentilah menggoda, kemarilah berikan kami pelukan."
Karina dan Arion lalu berjongkok. Keluarga itu saling berpelukan dengan tahapan ke lahir. Aneka warna kembang api menghiasi langit, warna ceria sama seperti hati mereka sangat berbahagia.
Happy forever.
Sebuah kisah pasti ada akhir yang harus dilalui. Begitu juga dengan kisah keluarga ini. Tujuan telah tercapai, akhir bahagia yang diharapkan telah terjadi.
Sekian kisah perjalanan cinta Arion dan Karina. Dari awal pertemuan hingga menikah dan kini mempunyai delapan orang anak.
END.
...****************...
...****************...
__ADS_1
...****************...
SEASON 2?