Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 283


__ADS_3

Suara bel disertai dengan ketukan pintu, mengganggu tidur Enji. Pria itu mengeryit dengan kelopak mata yang bergerak cepat, lalu membuka.


Enji mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. Kedua tangan menjadi bantal yang bertumpu di atas meja.


Tanpa sadar, Enji yang mabuk tidur di meja makan. Aroma alkohol masih terasa di dekatnya.


Enji mengangkat kepala, melihat ke arah pintu masuk. Ia lalu melihat jam dinding. Sudah pukul 05.30.


Dengan tubuh yang masih terasa lemas, Enji berdiri dan berjalan gontai untuk membuka pintu. Sembari jalan, ia memegang kepala, menetralkan pusing yang mendera. 


Benar saja, siapa lagi yang mengetuk pintu sepagi ini jika bukan Jesicca.


Wanita itu tersenyum menyapa Enji. Tapi … kemudian mengubah raut wajahnya saat mencium aroma alkohol dari Enji.


"Kenapa Anda minum sampai mabuk? Apakah ada masalah besar?"tanya Jesicca, menatap selidik Enji.


Enji tersenyum tipis, mempersilahkan Jessica masuk. 


"Tidak minum rasanya jika tidak mabuk. Hanya ingin merasa bebas sejenak," jawab Enji seraya menyentuh lehernya.


Jessica menaikan alisnya, tidak percaya dengan ucapan Enji.


"Begitukah?"


"Hm."


Jessica menghela nafas.


"Kalau begitu akan ku buatkan sup pereda mabuk," ujar Jesica, segera menuju dapur.


Enji menyusul.


"Tidak perlu. Aku akan mandi saja. Air dingin juga bisa meredakan mabuk, kamu buat sarapan saja," cegah Enji.


Jessica yang baru saja meletakan panci di atas kompor menoleh.


"Ah … baiklah," jawab Jessica, lengkap dengan senyum manisnya.


Enji tertegun, ia menatap lekat Jessica. Dadanya bergemuruh, rasa gugup menyertainya. Rasa yang sudah lama tidak Enji rasakan, perlahan mulai ia rasakan kembali bersama Jesissa, ketertarikan terhadap lawan jenis. 


"Aku akan ke kamar," ucap Enji berbalik dengan cepat.


Wajah dan telinganya terlihat memerah, Enji merona. Jessica memiringkan kepala bingung. Tak mau ambil pusing, ia mengendikkan bahu acuh dan segera memasak.


Saat memasak, Jessica merasa ada yang kurang. Ia menilik kanan kiri, memastikan apa yang kurang.


Setelah cukup lama mengingat, bahkan sampai ikan yang ia goreng diangkat, barulah Jessica sadar.


Bagaimana aku bisa lupa dengan Tuan Muda? Hm … mengapa Tuan Muda belum bangun jam segini?


Jessica heran tidak mendapati Bayu. 


Seusai membalut ikan dengan sambal, Jesicca lekas menuju kamar Bayu. Ia ketuk tidak ada sahutan ataupun pergerakan pintu akan dibuka.


Jelas tidak ada, Bayu kan tidak ada di sini. Penasaran dan khawatir, Jesicca memutar knop pintu, kamar Bayu yang gelap, menyambut Jesicca. 


Jessica mencari sakelar lampu, lalu menyalakannya.


Ranjang rapi , tapi tidak ada penghuninya. Mengecek kamar mandi, kosong tidak ada apapun. Jessica segera keluar dan menuju kamar Enji. Perasaannya gelisah.


Kebetulan, Enji baru keluar kamar dengan setelan kerjanya, wangi parfum menyapa hidung Jesissa.


Jessica terdiam, mengagumi sosok pria yang menjadi atasan, majikan serta pacarnya ini, walaupun masih kontrak.


Enji menatap bibir Jessica yang terbuka, ia menelan ludah kasar, sangat ingin memangut bibir itu. 


Sadar Zi! Anakmu masih entah di mana … beraninya kamu memikirkan ciuman! batin Enji, menyadarkan dirinya.


Ia kemudian berdehem dan merapikan penampilannya. Jessica terkesiap, ia menunduk malu, dan meruntuki dirinya sendiri. 


"Ada apa?"tanya Enji datar. 


"Tuan Muda Bayu … tidur di kamar Anda? Saya tidak menemukannya di kamar," jelas Jessica dengan nada formalnya.


"Dia … menginap di rumah Mama dan Papa, kamu tidak perlu khawatir," ujar Enji.


"Oh … begitu rupanya," gumam Jessica, merasa lega.


Enji kemudian melangkah menuju meja makan. Jessica mengekor. Ia melayani Enji makan.


Enji yang berusaha menahan perasaan gelisah akan Bayu, tetap mengajak, menyuruh Jessica duduk, sarapan bersama dengannya. 


*


*


*


Waktu menunjukkan pukul 08.00, tapi Mira masih betah menutup mata, memeluk guling, mencari kehangatan di tengah udara dingin kamar yang tercipta dari AC. Mira begitu lelap tertidur setelah bermain dengan Gerry.  


Bagian ranjang di sebelahnya sudah kosong, Gerry tidak ada di kamar. Pria itu sudah bangun sesuai jadwal dan melakukan aktivitas pagi bersama anggota lainnya. 

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, terdengar suara nada dering. Handphone Mira yang berada di nakas samping ranjang bergetar dan menyala, panggilan masuk. Kelopak mata Mira bergerak, lantas terbuka. Ia duduk seraya mengecek mata. 


Dengan mata yang masih mengantuk, Mira meraih handphone dan melihat siapa yang menelepon dirinya.


Ternyata dari rumah sakit. 


"Halo," jawab Mira.


"Selamat pagi dok, saya hanya ingin menyampaikan bahwa izin libur Anda berakhir di pukul sepuluh nanti. Kami harap Anda segera hadir di rumah sakit untuk mengkonfirmasi libur Anda," ujarnya.


Mira melihat jam.


"Baik. Saya akan segera tiba di rumah sakit. Terima kasih atas pemberitahuannya," jawab Mira.


"Sudah tugas kami, Dokter."


Mira menghembuskan nafas dan duduk di pinggir ranjang. Mengedarkan pandang mencari batang hidung Gerry. Satu kesimpulan, Gerry tidak ada di kamar.


Saat ia berdiri hendak mandi, pintu kamar terbuka, Gerry masuk sembari mengusap keringat dengan handuk kecil. Ia tersenyum lembut mendapati Mira yang terdiam menatap dirinya.


Sungguh menggoda, batin Mira.


"Mir?"panggil Gerry.


"Ah ya!"


"Baru bangun?"


"Hm."


"Mengapa tidak membangunkanku?"tanya Mira.


"Kamu terlalu lelah untuk bangun seperti jadwal kami. Tapi hanya untuk hari ini, besok kamu harus mengikuti jadwal pagi wanita Pedang Biru," jelas Gerry.


"Seperti apa?"


"Lari, renang, senam."


"Sepertinya menarik."


"Dan menyehatkan," timpal Gerry.


"Kamu mau masuk kerja hari ini?"


Mira mengangguk.


"Rumah sakit sudah menghubungiku, aku harus segera bersiap."


"Oke. Aku akan mengambilkan sarapan lalu memgantarmu."


Mira menuju kamar mandi, sebelum menutup pintu, Mira memanggil Gerry. 


"Hm?"


"Terima kasih," ujar Mira tersenyum tulus.


Gerry menaikkan alisnya, lalu tersenyum lebar membalas Mira.


*


*


*


Karina yang ingin menghabiskan pagi lebih lama dengan Arion, meminta Arion untuk mengantar dirinya dan Bayu ke kantor. Pak Anton diliburkan sampai waktu yang tidak ditentukan.


Arion ya mengabulkannya. Bayu duduk di samping pengemudi, sedangkan Karina dan Arion di kursi penumpang.


Karina bersandar pada pundak Arion. Dengan lembut, Arion menepuk pundak kanan Karina.


Kecupan juga mendarat di dahi Karina. Karina menatap Arion.


"Ada apa?"


"Hanya ingin menatap dirimu."


"Mengapa?"


"Tidak tahu, hanya ingin. Mungkin mereka ingin melihat rupa ayah mereka melalui mata ibunya," sahut Karina.


"Begitukah? Aku rasa karena anak kita serta ibunya suka menatap wajah tampanku ini. Kalian mengagumi diriku. Benar kan?"


Karina berdecak sebal dengan mulut merak Arion.


"Anak Papa sayang, Papa yakin kalian akan mewarisi wajah rupawan Papa, juga wajah cantik Mama. Kelak, kalian tidak boleh cemburu dengan ketampanan Papa, Papa akan tetap menjadi yang tertampan di sini, okey!"


Arion mengusap perut Karina. Karina yang kesal, memukul lengan Arion.


"Dasar merak!"ketus Karina.


"Aku bicara fakta. Aku memang tampan kan?"

__ADS_1


"Ketampanan bisa memudar, raga akan menua dan melemah. Kecerdasan tidak akan berguna jika tidak diiringi diiringi dengan moral yang baik. Saat sudah berumur nanti, yang terpikir hanyalah apakah sudah cukup amalan kita sebagai bekal jika malaikat maut memanggil? Apakah kita sudah punya persiapan untuk menghadapi maut? Aih … maut tidak mengenal apapun. Selain wajah tampan, kamu harus memperhatikan amalan baik, selalu waspada dan ingat pada Tuhan. Astaga … mengapa aku jadi membahas maut?"


Karina menghela nafas kasar. Arion mengeryit dengan ucapan Karina. Sangat mengusik ketenangannya.


"Mengapa kamu jadi membahas maut? Apa ada yang mengusik pikiranmu? Karina kamu membuatku takut," ujar Arion.


Karina menggeleng.


"Aku juga tidak tahu. Aku ingin ziarah," ucap Karina.


"Ziarah?"


"Belakangan ini aku merindukan Pak Suf. Aku juga memikirkan keluarga, kakek, Nita, Paman Reza, juga isterinya," tutur Karina lemah.


"Pak Suf? Siapa dia?"


Arion memang tidak tahu mengenai Pak Suf.


"Pengasuhku, sejak lahir," jawab Karina.


Arion diam. Bayu menoleh sesekali ke belakang, mencuri dengar pembicaraan Arion dan Karina.


Aku juga ingin ziarah … ke makam Ibu, batin Bayu sedih.


Ia menunjukkan ekspresi datar. 


"Di mana makamnya? Apa di kota ini?"


"Tidak. Di negara B."


"Jika kamu ingin berziarah, kita akan pergi setelah kamu melahirkan. Kamu sedang hamil tua, lebih baik mengurangi kegiatan yang berpergian jarak jauh," ujar Arion.


"Baiklah," ucap Karina.


"Jangan bahas tentang maut lagi, okey."


"Hm."


"Ar," panggil Karina pelan.


"Hm?"


"Kamu sangat berharga bagiku," ujar Karina sungguh - sungguh.


Arion tersenyum lembut.


"Aku tahu."


"Em Kak," panggil Bayu.


Karina dan Arion melihat Bayu.


"Boleh berhenti di market? Aku mau beli sesuatu," tanya Bayu.


"Oke," jawab Arion.


"Mau beli apa Yu?"tanya Karina.


"Cemilan untuk karyawan Kakak," jawab Bayu.


Sopir menepikan mobil di depan sebuah market. Bayu dan Arion turun dan masuk untuk berbelanja.


Tak sampai lima menit, Arion dan Bayu keluar dengan dua plastik besar di tangan. Sopir membuka bagasi dan memasukkan belanjaan Arion dan Bayu.


"Beli apa sebanyak itu?"tanya Karina heran.


Bayu menunjukkan satu bungkus yang ia pegang untuk dimakan di mobil.


"Oh Bang - Bang."


*


*


*


Setibanya di KS Tirta Grub, Karina dan Bayu turun di basement khusus Presdir. Arion langsung pamit menuju perusahaannya sendiri, ia ada jadwal penting setengah jam lagi.


Aleza yang turun menyambut Karina membawa plastik belanjaan Bayu. Ketiga orang itu langsung menuju lift naik ke lantai ruangan Karina.


Setibanya di ruang kerjanya, Karina langsung bergelut dengan pekerjaannya. Bayu menilik sekitar, merasa bosan ia izin pada Karina untuk berkeliling.


Karina mengizinkan dengan catatan ditemani oleh Aleza. Dengan membawa satu kotak cemilan yang Bayu beli tadi, keduanya masuk lift dan turun ke lantai yang menjadi pilihan Bayu. 


"Mana Raina?"tanya Karina, setelah mendapati saat laporan, Raina tidak hadir.


Saat di depan tadi, Karina pikir Raina sedang mengerjakan sesuatu di luar meja kerja.


"Raina … izin tidak masuk, Nona. Apa dia tidak izin pada Anda?"tanya balik Lila.


Karina mengecek handphone. 

__ADS_1


"Dia izin, ya sudah, kembali bekerja sana," jawab Karina.


Lila mengangguk dan izin keluar. Karina meletakan kedua tangan di atas meja, tipis tipis ia sunggingkan.


__ADS_2