
"Siapa namamu?" tanya Karina. Ia sendiri agak kaku menanyakan hal itu. Sebab biasanya dialah yang ditanya namanya.
"Namaku? Ku rasa kau kelewatan waktunya Nona, sudah kadaluarsa pertanyaanmu itu!" sahut pria itu.
Arion benar-benar percaya bahwa pria itu sudah kehilangan akalnya atau gila! Atau bisa saja ia tak tahu identitas lain Karina tapi … biarlah saja. Buat mainan Karina daripada bosan.
Amri sigap menangkap kakek Bram saat tubuh itu terhuyung ke belakang.
"Jangan dipaksakan mengingat Ayah," ujar Amri.
"Tidak Nak, Ayah harus mengingatnya, agar semuanya jelas," jawab kakek Bram terus berusaha mengingat. Ada clue atau nama masa lalu sebelum lupa ingatan diberikan. Tapi kunci itu cuma ada beberapa saja, usahanya harus mencari pintu diantara ribuan pintu yang cocok dan sesuai dengan kunci yang diberikan.
"Oh kadaluarsa? Tinggal buat lagi kan? Jangan buat aku bertanya untuk ketiga kalinya! Siapa namamu?" tanya Karina tegas, penuh tekanan. Membuat pria itu bergidik.
"Apa susahnya tinggal menjawab? Apa jangan-jangan kau yang lupa ingatan hingga nama sendiri pun tak ingat?" sarkas Arion, kesal dengan pria itu.
"Baiklah, namaku Marwan Suhendra!" jawab pria itu atau Marwan singkat.
"Oh Marwan ya? Bukankah 52 tahun itu waktu yang sangat lama? Mengapa baru sekarang kau muncul dan membuat keributan di keluarga kami? Kemana saja kau selama ini? Usiamu setidaknya sudah 68 atau 70 tahun, beda sekitar 3 tahunan saja dari kakek Bram, mengapa baru sekarang kau balas dendam?" tanya Karina menyangka tangannya di lengan kursi.
"Mengapa baru sekarang? Karena sekaranglah aku bisanya! 51 tahun lalu, kakakku melahirkan anaknya, dan dia meninggal dunia setelah melahirkan. Ternyata kabar itu terdengar oleh keluarga Wijaya dengan cepat menyuruh orang-orangnya untuk menghabisi nyawa anak yang dilahirkan kakakku. Untuk mencegah hal itu, aku harus melarikan diri dan bersembunyi untuk waktu yang lama. 20 tahun kemudian aku kembali dengan anak kakakku yang telah tumbuh dewasa. Membuat rencana agar ia bisa masuk dan merusak kebahagiannya keluarga kecil Bram Wijaya! Dan itu berhasil namun tak bertahan lama, ternyata ia ketahuan dan dia membunuhnya langsung di tempat!" Marwan menunjuk kakek Bram yang masih diam. Ntah butuh berapa lama untuk mengingat itu.
Mata Amri membulat dan menaikkan pandangannya menatap Marwan.
"Jangan katakan bahwa Azri adalah anak itu!" ucap Amri. Marwan tersenyum sinis.
"Sayangnya iya. Dia adalah Azri Wijaya! Kakak kandungmu namun lain ibu!" jawab Marwan.
Pantas saja! Ada kesan familiar saat Amri pertama kali melihat Azri kala itu. Begitupun dengan sikap sang ayah waktu itu. Biasanya kakek Bram adalah orang yang cukup cuek dengan urusan orang, namun pada Azri, sikapnya berbeda. Cara tatapnya pun berbeda. Ternyata ini alasannya. Ingin menyalahkan kakek Bram? Amri merasa konyol untuk itu.
Jelas ini bukan sepenuhnya salah kakek Bram. Dan untuk Marwan, wajar menurut Amri. Mana ada adik yang tega dan ikhlas melihat penderitaan sang kakak.
Memang kasta sangat berlaku pada keluarga kaya dan terkenal. Kebanyakan sih begitu. Tak setuju jika sang pewaris terutama laki-laki menikah dengan wanita dari kalangan biasa, terlebih anak panti asuhan. Jika tak setara ya kalau bisa di atas mereka. Biar derajat dan martabat keluarga naik.
__ADS_1
Rasanya Amri ingin memarahi kakek dan neneknya. Tapi apalah arti marah dan mengumpat? Toh orangnya juga sudah koid. Tinggal sisa tulang-belulangnya saja.
"Hm, lalu kemana kau saat anak itu mati? Lari atau bagaimana?" Karina masih penasaran.
"Tak sempat aku melarikan diri, ternyata aku tertangkap oleh orang keluarga Wijaya dan dijebloskan ke penjara. Dengan kekuasaan mereka, membuatku harus mendekam bertahun-tahun di sana. Lebih parah lagi aku terserang ketakutan dan tak terima atas kematian Kak Mira dan Azri, aku frustasi dan depresi. Hingga akhirnya aku ditempatkan di rumah sakit jiwa. Aku dibina di sana. Lambat laun akalku mulai kembali dan aku berkelakuan baik. Hingga kata bebas terucap, aku keluar dengan rencana balas dendam lagi, dan akhirnya bisa aku lakukan beberapa hari yang lalu," jelas Marwan, panjang lebar menceritakan kisah hidupnya.
Karina dan Arion mangut-mangut mengerti. Mereka paham alur ceritanya. Benar atau tidaknya, tinggal tunggu kejelasan dari kakek Bram. Amri pun ikut paham. Akan tetapi kakek Bram tidak, ia tak fokus pada penjelasan Marwan.
Lima menit berlalu, kakek Bram membuka matanya dan mengucapkan satu nama.
"Aira," ucap kakek Bram.
"Aira?" beo Amri.
Marwan tersenyum lebar.
"Kau sudah ingat kan? Itu adalah nama panggilan sayangmu untuk kakakku!" ujar Marwan memberitahu.
Kakek Bram berusaha berdiri sendiri tanpa bantuan Amri. Dengan tatapan mata tajam, kakek Bram melangkahkan kakinya mendekati Marwan.
"Ckck, semua orang tahu anak panti itu belum tentu sebatang karang! Kami terpisah waktu kecil. Kau ingatkan kerusuhan yang terjadi setelah kemerdekaan? Setelah ayah dan ibu kami meninggallah barulah aku mencarinya, itupun setelah ayah dan ibu cerita. Jika tidak mana tahu aku bahwa aku punya seorang kakak. Memang sudah nasib kami lahir di kalangan biasa dan terbilang miskin membuat kami tak ada kuasa melawan orang besar seperti kalian," jawab Marwan, tersenyum kecut.
Kakek Bram melepas pegangannya dan mundur selangkah, ia memejamkan matanya. Tak lama terdengar isak tangis, sangat menyayat hati.
Kakek Bram mengenang waktu-waktu bersama Mira, tak menyangka setelah sekian tahun baru ingatannya kembali. Namun sayangnya waktu ingatannya kembali semua sudah tiada.
Dan parahnya lagi, ternyata ialah yang membunuh anaknya dari cinta pertamanya, dengan kedua tangannya ia menebas kepala Azri dan memakamkannya dengan cara tak layak. Karena keluarganya ia kehilangan cintanya. Cinta tak pernah salah, waktu dan tempatlah yang salah.
Dan karena hal itu juga, Nafisah, ibunya Amri dan Nita lah yang menanggung akibatnya. Kakek Bram merasa ia adalah pria terbodoh dan terlemah di dunia ini.
Karina dan Arion kembali saling pandang melihat adegan di depan mereka, mereka yang hanya tahu cerita tidak dengan kejadian aslinya. Hanya tiga orang itulah yang tahu.
"Maafkan aku Aira dan anakku Azri, aku tak bisa membahagiakan kalian, aku tak bisa melindungi kalian, aku terlalu lemah. Nafisah …," tangis kakek Bram. Amri terkesiap ayahnya memanggil nama Ibunya.
__ADS_1
"Hah!" Kakek Bram berteriak kencang. Ia menyalurkan dan mengeluarkan segala kesedihannya. Marwan pun ikut menangis. Ntah apa yang ia tangisin.
"Nak, maafkan ayah juga, Ayah tak bermaksud menghianti ibumu," ucap kakek Bram pada Amri. Amri menaikkan tangannya menyuruh kakek Bram diam berhenti bicara.
"Ini bukan salah ayah, ini sudah takdir dan ketentuan. Ini bukan kemauan ayah atau pun ibu ataupun istri pertamamu. Tak ada yang mau hidup seperti itu. Hanya saja salahkan saja kekerasan dan kebatuhan hati kakek dan nenek yang terlalu kaku pada kasta. Jika andainya mereka setuju pasti tak akan terjadi hal-hal ini. Tapi apa mau dikata? Semua terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, tak dapat dikembalikan lagi. Sekarang tinggal Ayah dan Pak Marwan yang menyelesaikan masa lalu kalian. Aku akan mendukung apapun keputusan Ayah," jawab Amri memeluk sang ayah erat.
Ikatan darah masih terasa, ia ikut sakit mengetahui bahwa saudaranya, kakaknya meninggal karena balas dendam dan tewas di tangan sang ayah.
"Bram, sebenarnya aku tak mau balas dendam padamu sebab kau tak bersalah, tapi kau tak pernah mencari tahu masa lalumu setelah kau kehilangan ingatan. Kau pasti akan melakukan hal yang sama sama seperti yang ku lakukan jika kau berada di posisiku. Aku mohon kunjungilah kakakku dan makamkanlah anakmu dengan layak. Aku hanya ingin menyadarkanmu pada ikatanmu dengan kakakku akan tetapi keluargamu selalu menghalangi. Karena itu, hal ini menjadi mengakar di hari dan menjadi dendam, aku hanya ingin meminta kejelasan atas status kakak dan keponakanku padamu!" ucap tegas Marwan.
Kakek Bram mengangkat pandangannya dan menatap mata Marwan. Dengan anggukan pelan, kakek Bram menyetujui hal itu. Kakek Bram menghela nafas panjang dan mengacungkan tangan kanannya ke atas.
"Hari ini, aku Bram Wijaya, mengumumkan bahwa istri pertamaku adalah Andini Rahmawati, dan anak pertamaku adalah Azri Wijaya. Istri keduaku adalah Nafisah dan anak keduaku adalah Amri Wijaya serta istri ketigaku adalah Nita dan anak bungsuku adalah Alia Wijaya, dengan ini istri dan anak pertamaku resmi menjadi bagian dari keluarga besar Wijaya walaupun mereka telah tiada!" ucap lantang kakek Bram.
Marwan tersenyum puas. Hatinya lega sebab kakak dan anakku telah mendapat pengakuan. Hah, Marwan menghela nafas lega. Untuk pengakuan saja ia membutuhkan waktu puluhan tahun, tapi tak apa yang penting usaha berhasil.
"Lepaskan ikatan tangannya, aku ingin berpelukan dengan iparku!" titah kakek Bram. Dua orang yang memegangi Marwan menoleh ke arah Karina meminta persetujuan. Karina mengangguk, merasa tak ada lagi bahaya. Tapi harus tetap waspada.
Setelah ikatan tangan dan kakinya lepas, kedua orang yang telah berumur hampir ¾ abad itu berpelukan erat. Kedua menangis dan menumpahkan kesedihan mereka.
Amri mengusap air matanya dan mengusap punggung sang ayah. Sedangkan Karina menyandarkan tubuhnya pada Arion.
"Kakek ternyata tukang nikah, tapi mengapa Papa tidak? Padahalkan banyak yang bilang buah jatuh tak jauh dari pohon, mengapa kamu dan Papa tak tukang nikah?" tanya Karina, membuat Arion tertawa geli. Ia mencubit gemas hidung Karina. Karina mengerutkan bibirnya.
"Ihhh, bukannya jawab malah nyubit, kamu gak tukang nikah kan?" kesal Karina.
"Iya-iya aku jawab, lagian pertanyaan kamu aneh, tukang nikah gak tukang kawin?"goda Arion, membuat Karina mendelik kesal.
"Oh tukang kawinkan, kalau begitu itu kamu aku kembiri saja, biar cuma bisa nikah tapi gak bisa kawin, mau?" tantang Karina. Wajah Arion memucat, menggelengkan kepala dan menutupi asetnya.
"Oke aku bercanda, mana berani aku selingkuh dari kamu. Seperti kataku, cuma kamu satu dan satu-satunya dalam hidup aku. Lagipula, sebelum aku selingkuh, sudah kamu kick duluan." Arion membentuk huruf V pada jemarinya.
Orang bodoh yang berniat atau selingkuh dari Karina. Yang ada jadi santapan peliharaannya, batin Arion.
__ADS_1
"Kalau Mama dan Papa itu mereka itu pasangan dari masa SMA, nah karena sudah saling cocok dan keluarga juga setuju dengan latar belakang keluarga Mama, seminggu setelah tamat SMA mereka langsung deh gelar pernikahan. Dan mereka itu saling percaya, terbuka, perhatian, dan setia, makanya awet sampai sekarang. Kalau aku, aku cuma sama kamu doang, gak ada niat ataupun setaranya buat menduakan kami. Cukup kamu seorang saja," jelas Arion. Karina hanya menggerakkan bibirnya tak percaya.
"Ya iyalah kamu harus setia. Masa' kamu kalah sama buaya, buaya saja setia masa' kamu enggak," ketus Karina.