Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 246


__ADS_3

Karina mengalihkan perhatiannya, dari dokumen di tangan ke layar handphonenya. Karina mengeryit melihat Li menelponnya. Karina lalu melepas kacamatanya dan menjawab panggilan tersebut.


"Ada apa?" tanya Karina datar, ia kurang suka jika ada yang mengganggu pekerjaannya.


"Ini mengenai Gerry," jawab Li dengan nada seriusnya.


"Memangnya kenapa dengannya?" Karina beranjak dari kursinya dan melangkah ke dekat jendela. Satu tangannya mengusap perutnya.


"Anak itu jadi sering melamun, entahlah. Aku sering kali memergokinya termenung sendiri setelah latihan, atapun setelah bekerja. Aku rasa ini ada hubungannya dengan Mira," terang Li.


"Hm … biarlah saja, dia tidak sampai bunuh diri kok," sahut Karina santai. Terdengar suara tersedak, Karina tersenyum tipis.


"Hei Karina, sakit batin lebih menakutkan daripada sakit fisik. Anak itu uring-uringan karena Mira belum menjawab lamarannya," ucap Li.


"Biarlah saja ku bilang. Biar dia menemukan hatinya dulu, bertahan atau menyerah. Tenanglah, semua akan ada akhirnya, jalani saja dengan bahagia. Katakan padanya, tetap optimis, karena itu kunci keberhasilan," jelas Karina, dengan nada tegasnya.


"Baiklah, aku akan mencoba menghiburnya," jawab Li, kemudian izin menutup panggilan. Karina menatap datar layar handphone yang gelap. Tarikan nafasnya terdengar sangat perlahan. Karina menekan satu jarinya ke pelipisnya. Sedikit terganggu dengan masalah Gerry, belum lagi masalah lainnya. 


"Mira, aku harap kau tidak mengecewakanku," gumam Karina kembali duduk. Karina memakai kembali kacamatanya dan menggerakkan jemarinya pada keyboard. Masuk ke email dan mengecek email dari Satya, Rian dan Darwis. 


Karina menyunggingkan senyum melihat sesuatu foto undangan pesta ulang tahun ke-58 Tuan Adiguna. Kasino Heart Of Queen tentu saja diundang, mereka termasuk orang-orang terpandang. Anak buahnya saja terpandang, apalagi pimpinannya.


"Akankah ada permainan drama cinta segitiga?" kekeh Karina.


"Gerry, Mira, dan Satya, huh aku harap aku bisa mengatasi semuanya," gumam Karina menatap langit-langit sejenak lalu kembali bekerja.


Lila mengetuk pintu dan meminta izin masuk. Lila segera membisikkan sesuatu pada Karina. Karina tampak menarik senyum sinis.


"Biarkan mereka masuk," ucap Karina. Lila mengangguk dan segera keluar. Tak lama, masukkan seorang wanita paru bayah dengan mendorong kursi roda yang menjadi tempat duduk seorang pria muda, kepalanya masih diperban, tangannya juga dipen dan harus digendong di bahu. Karina menaikkan alisnya saat kedua orang itu menghadapnya.


"Selamat siang, Nyonya Wijaya," ucap wanita itu menunduk hormat, sedangkan pria itu menatap Karina lekat dengan sorot mata merindu. 


"Siang, ada kepentingan apa Anda dan anak Anda ini datang kemari?" tanya Karina datar sembari mempersilahkan wanita itu duduk.


"Saya ingin meminta maaf Anda untuk putra saya," ujarnya menoleh ke arah pria di kursi roda itu.


"Oh, memangnya dia salah apa sama saya?" tanya Karina pura-pura tidak tahu.


"Em, dia menyukai Anda padahal Anda sudah menikah. Saya sebagai seorang wanita, merasa itu tidak cocok karena dapat mengganggu rumah tangga Anda, sebagai seorang Ibu saya sedih karena anak saya menyukai wanita yang sudah beristri," ujarnya yang tidak lain adalah Nyonya Dinda, ibu dari Riski.


Karina menyelis dan menatap Riski dengan serius. Riski tampak terkesiap dan menunduk malu. 


"Anda tidak bersalah, mengapa Anda yang harus minta maaf? Selain itu, salahnya juga bukan hanya sama saya, sama suami saya juga sebab anak Anda hampir membuat kami bertengkar!" ucap Karina dengan menekankan kata bertengkar.


Dinda menunjukkan wajah bersalah yang semakin jelas, sedangkan Riski menaikkan pandangannya. Bibir terbuka namun tidak ada kata yang keluar. 


"A …," ucap Riski kemudian dan terlihat sangat susah lagi payah. Dinda cemas dan langsung memegang tangan Riski seraya menggeleng.


"Jangan dipaksa Nak, pita suaramu bisa rusak selamanya," ujar Dinda meminta. 


Kasihan, batin Karina sinis.

__ADS_1


"Baiklah, ada keperluan lain? Jika tidak silahkan keluar!" tegas Karina.


"Anda sudah memaafkan kami?" tanya Dinda berharap. Karina berdehem. Dinda segera menunduk hormat pada Karina lalu mendorong kursi roda Riski keluar ruangan Karina. Karina diam-diam menyeringai.


Tatapan matanya masih menginginkanku, dasar tidak tahu malu! ketus Karina dalam hati. 


*


*


*


Riski sadar dari komanya seminggu yang lalu. Ia sangat shock mengetahui kondisi keluarganya. Jika sebelum ia koma, ia adalah anak pemilik perusahaan, maka kini ia jadi anak seorang koruptor, jika kemarin ia adik seorang wakil presedir, maka sekarang ia adik seorang bandar narkoba. Jika kemarin Ibu duduk tenang di rumah menunggu kepulangan ketiga prianya, maka kini ibunya harus bolak-balik rumah sakit dan perusahaan unruk bekerja. Ibunya harus banting tulang seraya menahan kesedihan. Ayahnya dihukum 20 tahun penjara sedangkan kakaknya, akan dihukum mati, sebab obat-obatan terlarang adalah satu kesalahan paling berat yang tidak akan ditoleransi, terlebih seorang bandar.


Riski hanya bisa mendengar, tanpa bisa menyahut. Pita suaranya bermasalah, jika dipaksa, bisa semakin parah bahkan ia bisa kehilangan kemampuan berbicaranya.


Kaki kanannya retak, tangan kanan patah, cedera kepala serta beberapa tulang yang rusuk yang patah. Kelihatannya cuma kecelakaan sepele, namun berdampak fatal. 


Seminggu dirawat setelah sadar, Ibunya mengajaknya ke KS Tirta Grub untuk menemui Karina. Riski awalnya enggan, akan tetapi sorot mata Ibunya mengatakan harus. Riski juga tidak mau membuat hati Ibunya semakin sedih.


Dengan berbagai persyarat, ia akhirnya diperbolehnya keluar dengan cacatan sepulangnya dari KS Tirta Grub, ia harus kembali dirawat di rumah sakit. Dinda pun menyetujuinya, sebab di rumah, ia tidak punya asisten rumah tangga sama seperti kemarin saat keluarganya masih berjaya.


*


*


*


Lila masuk tergesa dengan wajah panik sesaat setelah Riski dan Dinda meninggalkan ruangan Karina. Karina menaikkan satu aslinya heran.


Bagaimana aku bisa lupa? Arion kan meeting di sini hari ini! runtuk Karina dalam hati segera berdiri dan keluar.


Lila mengikut. Arion dan Riski berjumpa di depan lift. Arion yang keluar lift bersama Ferry mengeryit dengan kehadiran direktur perusahaan yang ia bawahi beserta anaknya. Mengingat dan melihat wajah Riski, seketika Arion naik darah. Apalagi Riski yang menatapnya tajam, Arion mensejajarkan tinggi badannya dengan Riski.


"Mengapa kamu di sini? Belum kapok mengejar istriku?" tanya Arion berbisik. Dinda mengeryit namun tidak bisa berbuat banyak, bagaimanapun Arion adalah atasannya sekarang. Dia bukan lagi seorang Nyonya. Ferry hanya menatap datar hal itu. Ia setia di belakang Arion dengan waspada.


Aku memang belum melepaskan Karina. Selamanya hanya aku yang bisa menjadi suaminya! jawab Riski dalam hati dan tergambar dengan wajah menantangnya.


"Riski, tunjukkan wajah bersalahmu!" tutur tegas Dinda. Riski mengubah cepat raut wajahnya menjadi raut wajah bersalah. Tangan kanannya menyentuh tangan Arion, Arion menepis tangan Riski dan mendengus sebal. Wajah bersalah, mata menyalang.


Arion menaikkan telunjuknya dan meletakkannya di dahi Riski.


"Jangan pernah berharap pada istriku! Selamanya kamu tidak akan pernah mendapatkannya. Kubur impianmu dalam-dalam. Aku masih berbaik hati tidak menjebloskanmu ke liang lahat!" ucap Arion dingin.


Bulu kuduk Riski serasa meremang, Dinda menelan ludah takut dan was-was terhadap Arion. Ferry tersenyum miring.


Sialan! Beraninya dia mengancamku! gerutu Riski dalam hati.  


Arion tersenyum miring dan mencengkram dagu Riski. Dinda tidak kuasa menahan. Ia juga yakin Arion tidak akan macam-macam.


"Presdir Arion, harap jaga sikap Anda di perusahaan saya. Mereka tamu saya, Anda tidak bisa mengancam mereka di wilayah saya!" tegur Karina tegas. Arion, Ferry, Dinda dan juga Riski menoleh, Riski menoleh dengan susah payah.

__ADS_1


"Em, baiklah," sahut Arion menyenggol lengan patah Riski. Riski meringis.


Arion segera beranjak menghampiri Karina dengan wajah sumringahnya. Ferry mengikut. Riski menatap iri hal itu, di mana Arion dan Karina berpelukan. Dinda menyentuh bahu Riski.


"Mari kita pulang," ajak Dinda. Riski mengangguk pelan. Dinda segera mendorong kursi roda Riski untuk masuk lift.


"Mengapa kamu naik ke lantaiku?" tanya Karina saat ia, Arion, dan Ferry berjalan masuk ke dalam ruangan Karina.


"Ya mau bertemu kamu lah, memangnya apa lagi? Masa' mau lihat Lila sih? Digaplok Sam nanti aku," sahut Arion terdengar kesal. Karina terkekeh. Ferry dan Lila saling tatap.


"Kok bawa-bawa kami sih?" keluh Lila pelan.


"Kalian di luar saja!" tegas Arion, sontak Ferry dan Lila menghentikan langkah mereka. Di dalam, Arion mengamati setiap desain interior ruangan, warna didominasi coklat susu dengan furniture yang simple. Dari jendela, dapat melihat jelas suasana kota S. Tempat yang cocok juga untuk menikmati senja.


Karina mendudukkan pinggulnya di sofa dan menatap Arion heran.


"Kau belum pernah ke ruanganku?" tanya Karina. Arion menggeleng. Ini adalah pertama kalinya Arion menginjakkan kaki di ruangan ini. Karina mendengus senyum kemudian beranjak mendekati Arion dan memeluknya dari belakang. Arion tertegun dan menolehkan kepalanya ke samping. Karina melingkarkan kedua tangannya di perut Arion dan menyandarkan kepalanya di punggung Arion.


Karina dan Arion diam dalam posisi tersebut beberapa saat. 


"Apa yang mereka katakan?" tanya Arion melepas pelukan Karina lalu berbalik dan menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Karina.


Manik mata mereka bertemu. Karina mengangkat kedua bahunya.


"Minta maaf, maybe," jawab Karina. Arion mengeryit kemudian mendengus. Ia melepas tangkupannya dan meletakkan telunjuk kanannya di bibir.


"Kamu tidak curiga? Ku lihat tatapannya masih tatapan menyalang." 


"Aku tidak bermain dengan orang cacat. Terutama cacat otak!"


"Kamu disentuh olehnya?"


"Tidak."


"Baguslah. Kalau tidak aku potong lengannya."


Lima belas menit kemudian, Ferry melangkah masuk dan mendapati Arion sedang mengusap penuh kasih sayang perut Karina. Ferry merasa tidak enak, namun tuntutan pekerjaan lebih mendesak. Ferry batuk kode, membuat dua orang itu serentak memalingkan wajah mereka menatap Ferry yang mematung di depan pintu.


Arion mengangkat tangannya dari perut dan membenahi jasnya. Karina kembali ke kursi kepemimpinannya. Ferry seakan baru memergoki orang mesum.


"Ada apa?" tanya Arion datar menatap tidak suka Ferry.


"Kita harus kembali. Masih ada meeting yang harus Anda hadirin dan berkas yang harus Anda tanda tangani," terang Ferry. Arion menghela nafas pelan lalu berdiri. Mendekati Karina dan memberikan ciuman di dahi berpamitan. Karina melambaikan tangannya saat Arion dan Ferry keluar dari ruangannya.


Selepas kepergian Arion dan Ferry, Raina dan Sasha masuk dengan dokumen di tangan. 


"Nona, ini adalah hasil rapat dengan Jaya Company hari ini," ujar Raina meletakkan semua dokumennya di atas meja kerja Karina. Karina meraih lalu membacanya.


"Sudah 70 persen. Mengapa lama sekali? Seharusnya setahun saja sudah rampung!" kecam Karina mengangkat alisnya tidak puas. Kedua orang itu menunduk takut. 


"Pastikan bulan ini rampung! Minggu kedua awal tahun kita akan melaunchingnya! Kalian sudah berpengalaman, lakukan yang terbaik!" tegas Karina. 

__ADS_1


Karina lalu mengibaskan tangannya menyuruh mereka berdua keluar. 


Karina memijat pelipisnya dan kembali memakai kacamatanya. Perhatian kini tertuju pada layar laptop.


__ADS_2