Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 78


__ADS_3

Karina segera mengambil handphone di saku celananya dan melihat siapa yang menelpon.


"Tenyata dia!" seru Karina sumringah. Darwis, Rian dan Satya terteguh dan saling berpandangan. Posisi mereka sudah berdiri.


"Halo Ar?" jawab Karina senang.


"Halo Sayang? Bagaimana harimu? Apa semua berjalan lancar?" tanya Arion dari sana.


"Hmm … buruk. Masalahnya semakin pelik. Aku kesal sekali," aduh Karina.


Ia berjalan mendekati kursi yang terletak di pinggir kolam renang.


"Astaga? Kau tak apa kan? Jangan kesal nanti benih yang ku tanam tak jadi," ucap Arion panik.


"Benih apa?" tanya Karina polos.


Darwis mengerut heran. Ia menatap Karina penuh selidik begitu juga Rian dan Satya.


"Benih ya ku tanam malam minggu kemarin. Kau saja lama sekali. Jika tidak kan aku akan menabur benih lagi," sahut Arion menggoda.


"Ah … kau ini. Mesum sekali dirimu. Bagaimana harimu?" ucap Karina malu.


"Sama. Buruk. Joya datang ke kantor dan membuat keributan sebab dia tak bisa menemuiku," jawab Arion pelan.


"Joya datang ke kantor? Apa kau menemuinya? Apa saja yang ia lakukan dan katakan padamu?" tanya Karina berubah dari datar.


"Tidak. aku tak menemuinya," jawab Arion. Karina mengulas senyum puas.


"Mengapa kau tak menemuinya?" tanya Karina penasaran.


"Aku akan menemuinya jika kau sudah kembali. Aku tak mau kau salah paham nantinya," jelas Arion.


"Benarkah itu?" tanya Karina penasaran.


"Hmm … sudah ku katakan berulang kali padamu bukan?" sahut Arion bertanya balik. Karina terkekeh pelan mendengar itu.


"Baiklah. Aku percaya padamu. Jaga kepercayaanku ya Sayang," ucap Karina.


Darwis, Rian dan Satya saling bertatapan lagi dan menggelengkan kepalanya tidak tahu. Sungguh banyak perubahan yang mereka tidak tahu dari Queen mereka ini.


"Syukurlah. Aku percaya padamu juga. Besok kau kembalikan?" tanya Arion.


"Hmm … kenapa?  kau mau menjemputku di sini?" tanya Karina.


"Boleh saja. Asal kau mau. Sekalian kita honeymoon lagi," sahut Arion.


"Terserahmu saja," ucap Karina.


"Oh ya aku sudahi dulu ya," tambah Karina.


"Hmm … ya sudah. Istirahat yang cukup. Kesehatanmu nomor satu," ucap Arion memperingati.


"Oke Sayang. Love you," sahut Karina langsung mengakhiri panggilan.


Karina memejamkan matanya cukup lama. Lima menit kemudian, Karina membuka matanya. Ada gejolak emosi di dalamnya.


"Dia kembali. Mengapa kau harus kembali di saat seperti ini Joya?" ucap marah Karina.


Ia lupa dengan adanya Darwis dan kawan-kawan. Karina khawatir akan suaminya. Joya kembali saat dia berada jauh dari sisi Arion. Walaupun Arion tak menggubris pasti wanita ular itu penuh banyak rencana licik. Karina mendengus kesal mengingat itu.


"Joya? Maksud Anda Joya Argantara Queen?"tanya Darwis penasaran.


Karina menatap dingin Darwis. 


"Siapa lagi kalau bukan wanita yang ingin jantungmu itu," sinis Karina kemudian pergi meninggalkan kolam renang menuju kamarnya.


Darwis terdiam membeku. Ingatannya menerawang saat ia bersama Joya. Joya memang menyebutkan nama Karina. Tapi Darwis berspekulasi bahwa nama Karina itu banyak. Bukan hanya nama Karina Queennya. Berarti Queennya sudah menikah dengan kekasih Joya.

__ADS_1


"Queen sudah punya kekasih?" tanya Satya membuyarkan lamunan Darwis. Darwis menggeleng.


"Bukan kekasih melainkan suami," jelas Darwis meninggalkan kedua temannya yang masih terbengong.


"Suami? Siapa yang berhasil meruntuhkan dataran es ini?" tanya Rian pada Satya. Satya menggeleng tidak tahu.


***


Selesai membersihkan diri, Karina segera menuju ruangan di mana Andi disekap. Ruang gelap namanya, sesuai namanya ruangan ini gelap gulita tak ada penerangan walaupun di siang hari. Sebelum ke ruang gelap, Karina menyuruh Bik Uci memanggil Darwis dan kawan-kawan untuk datang ke ruang gelap.


Clik.


Karina menghidupkan lampu ruang gelap. Andi menatap waspada Karina.


"Ceritakan tentang dirimu," ujar Karina datar duduk di kursi depan Andi.


"Untuk apa? Mengapa aku harus menjawabnya?" tanya Andi datar.


"Hmm … demi adikmu, Lala yang di tahan oleh kekasihmu," jawab Karina santai.


Andi membeku.


"Kau tahu tentangnya?" tanyanya pelan.


"Tentu saja," sahut Karina.


"Siapa wanita itu dan siapa pedang hitam?" tanya Karina lagi. 


"Mereka …," ucap Andi terbata namun terhenti dengan kedatangan Darwis dan kawan-kawan.


"Queen," ucap mereka bersamaan.


"Hmm …," sahut Karina.


"Lanjutkan," ucap Karina pada Andi.


"Mantan kekasih? Mengapa kalian putus?" tanya Karina penasaran.


"Hmmm … itu … sulit untuk diceritakan. Intinya adalah dia memintaku memasok organ tubuh manusia padanya namun aku menolak dan memutuskannya. Itu bersimpangan dengan sumpah janji dokterku. Tapi dia menculik adikku satu-satunya. Tak ada pilihan. Aku harus melakukan hal itu," terang Andi.


Karina mengintruksikan Darwis agar melepas ikatan Andi 


"Apa kau bisa dipercaya? Aku benci pengkhiatan. Aku tahu posisimu saat ini," ujar Karina.


"Bekerja samalah denganku. Adikmu akan bebas dan hukuman ringan bagimu. Bagaimana?" ujar Karina memberi penawaran.


Andi terdiam tampak berpikir keras. Karina memainkan jari tangannya. Lima menit berlalu. Andi masih belum menentukan jawabannya. Karina mulai kesal.


"Cepat jawab. Waktuku tidak banyak untukmu. Kau pikir aku mengurus ini saja?" bentak Karina yang membuat Andi, Darwis, Satya dan Rian terperajat.


"Aku setuju," jawab Andi spontan. Karina tersenyum puas.


"Bagus. Pilihan yang tepat," puji Karina meninggalkan ruang gelap diikuti Darwis dan kawan-kawan.


Tinggallah Andi sendiri. Ia melihat pergelangan tangannya yang memar. Tak lama pintu terbuka.


Masuklah Bik Ana dengan wajah datar dan tak bersahabat dengan membawa nanpam berisi makanan dan minuman.


"Makanlah. Aku tahu kau lapar," ujar datar Bikk Ana. Rasa bersalah memenuhi dirinya. 


"Terima kasih," ucap tulus Andi.


"Hmm … walaupun begitu kau tetap saja membunuh putriku," ketus bik Ana menutup kasar pintu.


Tanpa pikir panjang, Andi langsung menyantap makanan di hadapannya. Rasa lapar melandanya satu hari satu malam. Tanpa air dan makanan.


"Apa kau tak takut makanannya aku racuni?" tanya Karina dingin yang kembali lagi ke ruang gelap. Andi tersedak dan menatap ngeri Karina. Ia malah berusaha mengeluarkan makanan yang telah ia makan.

__ADS_1


"Hahahahaha … kau ini. Aku bercanda. Jika kau mati aku tak bisa cepat pulang," tawa Karina meledek.


Andi menatap Karina horor. Tawanya terdengar mengerikan di telinganya.


"Hmm … sudah lanjutkan makanmu. Aku mau pergi lagi. Persiapkan dirimu. Besok pagi kau kembali ke rumah sakit," ujar Karina meninggal Andi lagi. Andi mengangguk dan melanjutkan makannya.


Karina tak lansung menuju kamar melainkan menemui Darwis, Rian dan Satya yang berada di ruang tengah.


"Kalian belum menjawab pertanyaanku. Apa alasan kalian kembali? Bukankah tak ada intruksi dariku?" tanya Karina mendaratkan tubuhnya di empuknya sofa.


"Kami merindukanmu Queen. Oh ya siapa yang berhasil menaklukkan hati Anda?" sahut Darwis sembari melempar pertanyaan.


"Bukan urusanmu," jawab Karina dingin.


Darwis senyum canggung. Satya dan Rian menciut dalam duduknya.


"Dari pada kalian bertanya hal tidak penting lebih baik kalian kerjakan saja tugas yang telah ku berikan. Pedang Hitam," ucap Karina datar menatap Darwis.


"Baik Queen," sahut mereka bertiga segera berdiri dan melaksanakan tugas. Karina menghembuskan nafas pelan. Matanya kembali terpejam.


"Aku harus segera kembali. Apa aku kembali malam ini saja? Lalu besok pagi terbang kemari lagi? Aku khawatir dengannya. Apa lagi dengan wanita ular itu. Sungguh tak tenang hatiku," gumam Karina.


Ia melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 10 malam. 


Karina memantapkan keputusannya. Ia menghubungi Li untuk menyiapkan pesawat segera di bandara. Tanpa mengganti pakaian,


Karina menyambar jaketnya dan menuju bagasi, menaiki motornya menuju bandara. Karina melajukan motornya kencang membelah jalanan malam. Angin malam menerpa wajahnya yang dingin semakin dingin. 


Tiga puluh menit kemudian, Karina tiba di bandara dan langung masuk ke dalam pesawat. Tak menunggu lama, pesawat langsung take off menuju negara Y. Di dalam pesawat, Karina mengistirahatkan tubuhnya di kamar yang tersedia.


Pukul 00.45, Karina tiba di negara Y dan langsung menuju kediaman Wijaya. Karina yang mengendarai mobilnya membunyikam klakson mobil meminta gerbang di buka.


Penjaga gerbang yang mulai terlelap tersentak mendengarnya. Ia melihat siapa itu. Matanya membulat dan segera membuka gerbang mendapati mobil nyonya mudanya di luar.


Gerbang terbuka. Karina segera melajukan motornya masuk. Karina segera masuk ke rumah dan menuju kamarnya.


Ceklek. Karina membuka pintu pelan. Tampak punggung lelaki yang ia cintai tengah lelap tertidur. Karina masuk perlahan dan tanpa suara lalu berbaring di samping Arion serta memejamkan matanya tidur.


Entah apa yang ada di pikirannya, hanya dia dan tuhannya yang tahu. Rasa overprotektif sudah merasuk padanya.


Merasa ada yang bergerak di sampingnya, Arion membuka matanya sedikit. Matanya membulat sempurna bahkan ia sampai terduduk sangking kagetnya ada Karina yang tertidur di sampingnya.


"Mimpikah aku ini? Rasa rindu membawa Karina kemari?" gumam Arion. Arion mencubit lengannya kuat.


"Auh … sakit. Bukan mimpi. Dia pulang," lirik Arion mengarahkan tangannya ke wajah Karina.


"Emm …," gumam Karina dengan mata tetap terpejam. Senyum Arion terbit namun menunjukkan ekspresi bingung.


"Mengapa dia pulang tengah malam begini? Bukankan ia besok baru pulang?" tanya Arion menatap dalam wajah Karina yang pulas tertidur.


Ingin rasanya ia membangunkan Karina namun ditahan melihat wajah Karina yang pulas dan lelah. Dengan segera ia membaringkan tubuhnya dan kembali tidur dengan memeluk Karina.


***


Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa sudah pukul 05.00 pagi. Seolah ada alarm dalam tubuh Karina, Karina membuka matanya perlahan, melirik jam dinding.


Aku harus kembali lagi. Maaf Arion. Aku harus pergi sebentar, batin Karina.


Ia mulai menyingkirkan tangan Arion dari pinggangnya perlahan dan hati-hati. Karina menghela nafas saat tangan Arion tak berada di pinggangnya.


Dengan segera Karina berdiri dan keluar kamar menuju motornya. Ternyata saat melewati ruang tengah, Bik Susan menyapanya.


"Nyonya, Anda sudah bangun?" sapanya ramah.


Karina mengangguk canggung dan segera berpamitan. Sesampainya di motor, Karina langsung melajukan motornya menuju bandara. Tak lupa klakson tanda terima kasih Karina berikan pada penjaga gerbang.


Pukul 05.40, pesawat Karina take off menuju negara Y. Kembali melaksanakan misi yang separuh jalan. Menyelesaikannya secepat mungkin agar ia tak perlu berpisah lagi dengan Arion.

__ADS_1


__ADS_2