Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 342


__ADS_3

Gerry yang baru saja tiba di markas dan kini berada di depan pintu kamarnya mengeryit heran seraya menatap pintu kamar Li yang terbuka sedikit, terdengar suara tangis, tangis Elina. Karena penasaran, Gerry melangkah menuju pintu kamar Li, mengintip dari cela yang terbuka. 


Terlihat Elina duduk membelakangi Li dimana Li sibuk membujuk Elina dengan meningkatkan kedua tangan di perut Elina, memeluk dari belakang.


"Apa masalah apa mereka?"gumam Gerry, menggelengkan kepala saat pikirannya menerawang. 


Ia kenal betul Li, tidak mungkin Li menyakiti wanita yang sangat ia cintai. Gerry lantas mengetuk pintu, memasukkan kepalanya ke dalam kamar. 


Li menoleh, matanya melebar sedikit melihat Gerry yang sudah kembali.


"Eli sudah dulu nangisnya. Gerry sudah kembali, nanti dia kira aku menyakiti kamu," bisik Li. 


Elina menoleh ke arah pintu. Gerry kini sudah melangkah masuk, berdiri tak jauh dari ranjang.


"Kalian bertengkar?"tanya Gerry memastikan.


"Tidak. Kami tidak bertengkar," jawab Li, tegas dan meyakinkan.


"Lalu kenapa Elina menangis? Matanya merah sekali, sudah berapa lama dia menangis?"


Gerry menunjuk matanya sendiri. Li menggaruk lehernya, seperti bingung harus menjawab apa.


"Bagaimana ya? Tapi intinya kami tidak bertengkar," ucap Li, menatap Gerry dengan tatapan ragu.


Elina yang masih senggugukan memilih meninggalkan kamar tanpa sepatah kata apapun. Li kini menggaruk pelipisnya, membiarkan Elina menyendiri dulu.


"Apa berhubungan dengan Cinnamon?"terka Gerry.


"Em nyinggung sedikit sih," jawab Li. 


Gerry duduk di sofa disusul dengan Li yang duduk di sofa tunggal.


"Kau membuatku bingung, Li," keluh Gerry.


Li menghela nafas pelan.


"Baiklah. Kau tahu kan kalau Miu itu sudah lahiran eh salah sudah jadi bapak anak empat?"


Gerry mengangguk.


"Lalu masalahnya? Apa anak-anak Miu mati? Atau Miu nya yang mati?"ceplos Gerry yang membuat Li menendang kaki Gerry.


"Jangan sembarangan bicara. Jika Elina dengar kau bisa dipukul."


"Ya lantas apa hubungannya Miu dengan Elina yang menangis?"tanya Gerry seraya mengusap kaki kanannya yang ditendang Li.


"Miu and family pindah rumah," ujar Li, sedikit kesal mengingat kelakuan Miu yang minta pindah ke rumah Karina.


"Pindah rumah? Sekeluarga? Kemana?"


Gerry duduk tegak. 


"Rumah Karina. Aku juga baru mengantar mereka tadi," jelas Li.


"Ah. Aku mengerti sekarang. Elina tidak rela Miu dan keluarga pindah dari markas, kan?"terka Gerry yang dijawab anggukan Li.


Selama di markas, selain dengan Karina, Li, dan Gerry, Miu dekat dengan Elina. Miu yang memang dilepaskan bebas di markas sering menemani Elina bekerja. Tak jarang kucing besar itu juga tidur di kamar Elina dan Li. Kamar Miu sendiri ditempati oleh pasangannya.


Tapi di hati Miu posisi Karina lebih tinggi. Sedekat apapun dia dengan Elina, tetap saja Karina yang utama. 


"Lah hanya karena pindah saja Eli menangis? Bukankah dia bisa mengunjungi rumah Karina untuk bertemu dengan mereka?"heran Gerry tak habis pikir dengan Elina.


"Elina ingin merawat anak-anak Miu. Jika sudah besar tidak masalah dipisah dari induknya. Masalahnya mereka baru berumur dua minggu kurang," ujar lesu Li.


"Ceritanya ingin mengganti masa-masa kecil setelah dicomot oleh Karina begitu?"


"Kau juga paham kan?"


Gerry mengangguk. 


"Ah Miu itu memang luar biasa. Lebih baik kita bujuk saja Elina. Miu pindah rumah Karina, Eli seperti kehilangan anak."


*


*


*


Di taman, Elina menunjukan wajah sedihnya, melepas satu persatu kelopak bunga mawar yang ia ambil di sana. Matanya sedikit bengkak dan masih memerah. Rambutnya dibiarkan berantakan, menutupi wajah.


Li dan Gerry mendekat. Li langsung duduk di samping Elina, Gerry duduk di kursi tunggal.


"Eli Sayang. Sudah ya jangan sedih lagi. Miu nggak selamanya di sana kok. Palingan sebentar lagi mereka kembali kemari," bujuk Li, mengusap bahu Elina.


"Padahal aku dulu yang merawatnya dari kecil. Kalau tidak diambil Karina pasti Miu hanya dekat denganku."


Dengan nada pelan, menatap datar kelopak-kelopak mawar di rumput.


"Padahal aku selalu ada untuknya tapi mengapa lebih memilih Karina? Harusnya kan Miu milih aku, tetap di markas menemani aku. Aku juga ingin merawat anak-anaknya," ujar Elina.


Li dan Gerry saling tatap. Gerry menghela nafas.


"Biarpun begitu, Miu lebih lama bersama dengan Karina. Kau hanya merawatnya selama beberapa bulan sedangkan Karina sudah tahunan. Kau hanya merawatnya sedangkan Karina membesarkannya, mengajari, dan mendidiknya. Kenangan bersama Karina juga lebih banyak daripada denganmu. Ibarat seorang anak yang memiliki dua ibu, seorang anak pasti akan lebih lekat dengan ibu asuhnya daripada ibu kandungnya. Begitu juga dengan Miu," tutur Gerry menasihati Elina agar rela dan tidak sedih lagi.

__ADS_1


"Tapi kan ibu asuh hanya punya satu tingkat, ia hanya membesarkan sedangkan ibu kandung ada tiga, mengandung, melahirkan, dan menyusui," bantah Elina.


"Ya kalau sempat disusui. Lagipula kau dan Karina kan punya kedudukan yang sama tapi lebih utama Karina," sahut Gerry.


"Maksudmu?"


"Belum ada sejarahnya manusia melahirkan hewan, Elina. Tapi kalau melahirkan yang sifatnya seperti hewan banyak," jawab Li.


Gerry mengangguk membenarkan.


"Tapi tetap saja …."


Elina menunduk. Li menggeleng. Gerry menghela nafas kasar.


"Kalau begitu setiap sore kita akan ke rumah Karina. Bagaimana?"tawar Li.


Alis Elina terangkat sebelah kemudian menggeleng.


"Pindah saja ke rumah Karina," celetuk Gerry.


"Memangnya boleh?"ragu Elina.


"Tentu saja. Ya kan, Li?"


Li yang baru mendapat solusi setelah celetukan Gerry mengangguk cepat.


"Rumah Karina kan besar pasti tidak masalah kita tinggal di sana."


"Baiklah. Aku mau!"


Raut wajah Elina berubah ceria. Senyumnya mengembang, memeluk Li. Li lega karena Elina sudah aman, sekarang giliran berbicara dengan Karina mengenai ia dan Elina yang ingin tinggal di rumahnya.


*


*


*


Angela tampak sangat fokus membidik sasaran dengan pistol. Ia kini berada di area latihan tembak di mansion. Sayangnya setelah beberapa kali ditembakkan sampai pelurunya habis, tidak ada yang mengenai botol berisi air sebagai sasaran. Angela mendengus. Mengembalikan pistol pada tempatnya kemudian duduk di bawah pohon.


Angela mengedarkan pandangannya. Setelah bangun ia belum melihat Rian. Ia juga tidak berani berbicara dengan Satya, Darwis, dan Riska. Saat bertanya pada pelayan mengenai Rian, mereka menjawab bahwa Rian sudah berangkat kerja. Alhasil Angela melakukan kegiatan random mengisi waktunya. 


"Katanya kau handal dalam investasi, bukan?"


Angela mencari sumber suara tersebut. Darwis menghampiri Angela dengan dua pelayan di belakangnya.


"Tuan Darwis."


Angela langsung berdiri dan membungkuk hormat pada Darwis. Ia sudah mendengar dari pelayan mengenai siapa Darwis.


"Ini?" 


Angela tidak mengerti dengan berkas-berkas yang diberikan padanya.


"Buktikan pada kami ucapanmu itu. Kami butuh bukti bukan sekedar ucapan. Rian sudah menyerahkan pengujianmu terhadapku. Dalam tiga hari kau harus bisa membuktikannya. Ah tidak sebenarnya itu tenggat waktu dari Queen. Dalam dua hari sudah harus ada bukti nyata. Selain itu, mereka berdua akan menjadi guru bahasamu. Menjadi bagian dari perusahan kami kau harus punya kemampuan bahasa yang mumpuni!"


Angela tercengang mendengar penuturan Darwis. 


"Jadi saya harus belajar berapa bahasa, Tuan?"tanya Angela.


"Minimal kau menguasai tiga bahasa, inggris, Indonesia, serta mandarin. Bahasa inggris sudah pasti kau kuasai, maka akan ditambah bahasa jerman," ucap Darwis.


Angela melongo, menelan ludah kasar. 


"Bagaimana? Sanggup kan?"


Angela mengubah cepat ekspresinya. 


"Saya akan berusaha, Tuan!"jawab Angela mantap.


Rian tersenyum tipis.


"Okay. Mulailah belajar dari sekarang!"


Kedua pelayan di belakang Rian itu mengajak Angela pergi menuju, perpustakaan. 


Aku harap pilihanmu tidak mengecewakan, Rian, gumam Darwis, melangkah pergi, kembali ke ruang kerjanya.


*


*


*


Karina menggeleng pelan setelah menerima panggilan dari Li.


"Ada apa? Kau tampak heran begitu?"


Arion yang baru selesai mandi dan keluar dengan hanya mengenakan handuk mengeryit heran melihat Karina.


"Li dan Elina akan tinggal di sini," jawab Karina.


"Why?"

__ADS_1


"Apalagi kalau bukan karena Miu," jawab Karina, melirik Miu yang duduk manis di atas sofa. 


Keempat anaknya bersama dengan induknya, tengah minum susu. 


"Oh jadi jaguar ini biang keroknya?"


Menatap Miu yang juga menatap Arion. Kedua mahkluk hidup berbeda jenis tapi sama-sama memiliki tatapan maut itu saling tatap, ada aroma permusuhan di sana.


"Sudahlah. Memangnya kenapa jika mereka tinggal di sini?"lerai Karina, memeluk Arion.


"Hm."


Arion membalas pelukan Karina, mendaratkan ciuman di kening Karina.


Miu turun dari sofa, mendekati keduanya. Miu duduk di samping kaki Karina, menggigit dan menarik baju Karina.


"Ada apa?"tanya Karina menunduk.


"Sebentar, jangan ganggu dulu, Miu!"


Miu yang kesal dengan larangan Arion langsung berdiri dan menarik handuk Arion. Alhasil Arion tidak mengenakan sehelai benangpun.


"Kurang ajar kau Miu!"geram Arion malah mengejar Miu yang berlari-lari di kamar dengan membawa handuk Arion.


Karina tertawa lepas, geli melihat tingkat suami dan hewan kesayangannya itu. Arion yang telanjang polos mengejar Miu yang lari sembarangan.


"Miu berhenti berlari! Kembalikan handukku sekarang! Jangan sampai aku memukulku!"ancam Arion. 


Miu tidak menggubris tetap berlari dan kini menuju pintu. Dengan gampang Miu membuka pintu dan lari keluar kamar. Arion yang hendak mengejar langsung Karina tahan.


"Mau pamer belalai hah?"desis Karina dingin.


"Astaga! Hampir saja!"


Arion kembali sadar bahwa ia masih telanjang, segera menuju kamar ganti.


Karina menatap pintu ruang ganti.


"Kalau nggak ngembang nggak sebesar biasanya ya," gumam Karina.


*


*


*


Setelah Arion meredam kekesalannya pada Miu, ia dan Karina menuju halaman belakang, melihat pasangan dan anak-anak dari Miu.


Miu sendiri berada di luar kandang, menggunakan handuk Arion sebagai alas duduknya.


"Dasar kucing kurang ajar!"gerutu Arion yang disambut gerangan Miu.


"Haduh. Sepertinya kalian akan jadi Tom and Jerry. Miu kau harus dihukum atas kelakuanmu tadi!"


Miu menunduk, terlihat sedih.


"Akan aku berikan hukuman yang menyenangkan untukmu," ucap Arion dengan senyum smirk.


Menyadari dalam bahaya, Miu berdiri dan duduk di depan Arion, mengangkat kedua ke atas, berdiri dengan dua kaki, meminta maaf.


"Tampang memelasmu tidak berlaku. Nantikan saja hukuman dariku."


Miu menurunkan kedua tangannya, terlihat pasrah.


Karina dan Arion terkekeh pelan kemudian menatap induk jaguar yang tengah menyusui ke empat anaknya. 


Arion menatap intens hal tersebut.


"Sayang, jika mereka sudah lahir apa akan melakukan hal yang sama dengan anak-anak jaguar itu? Mengisap dadamu?"tanya Arion, penasaran.


"Tentu saja," jawab Karina.


"Sampai kapan?"tanya Arion.


"Satu setengah tahun, biasanya," jawab Karina.


"Kalau begitu apa dadamu sudah berisi air susu?"tanya Arion memastikan.


"Tentu. Mengapa?"tanya Karina heran.


Arion tersenyum.


"Kalau begitu, izinkan aku yang pertama minum air susumu," ujar Arion.


Mata Karina melebar.


"Tidak! Ini untuk twins, untuk bayi bukan babon!"tolak Karina tegas.


"Ayolah hanya sedikit," bujuk Arion.


"Nggak. Kalau mau tuh minta sama dia," tolak Karina, menunjuk pasangan Miu yang tengah menjilati anak-anaknya.


Hal tersebut langsung mendapat tatapan tajam dari Miu, langsung masuk ke kandang dan memeluk pasangannya.

__ADS_1


"Lihat Miu saja tidak ingin berbagi apa lagi anak-anakmu."


Arion mencembikkan bibirnya kesal.


__ADS_2