Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 209


__ADS_3

"Karina bertindak cepat sekali," gumam Arion menonton berita di televisi.


"Tak disangka, perusahaan yang dicap baik oleh semua orang ternyata malah ambyar di belakang layar," ujar Ferry, mendudukkan tubuhnya di samping Arion yang duduk di sofa.


"Peribahasa itu memang benar, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga dan mereka itu sudah jatuh tertimpa tangga dan tertimpa genteng lagi. Ckck, miris sekali. Kejayaan mereka akan jadi sejarah dari sekarang sebab Karina pasti tidak akan berhenti di sini," tutur Arion, tersenyum bangga untuk Karina.


"Ya, Kakak ipar memang menyeramkan sekali bertindak langsung sampai akar-akarnya," timpal Ferry, meremang ngeri seandainya ia yang cari masalah dengan Karina.


"Hei, kau juga cari tahu dengan Tuan Muda pertama mereka, aku lihat dia orangnya stay cool di depan publik namun agaknya dia itu pemakai dan bandar obat-obatan," suruh Arion.


Ferry mendengus dan bergegas menjalankan tugas setelah mengecap indahnya istirahat walaupun sesaat.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, waktu pulang kerja sudah berlalu satu jam yang lalu. Akan tetapi Karina masih berkutat dengan laptop dan berkas di atas mejanya. Di luar ruangan, hal yang sama juga terjadi pada Aleza dan Sasha. 


Suasana KS Tirta Grub juga belum sepi, masih ada staff yang hilir mudik karena lembur. Karina meraih gelas minumnya dan menenggak isinya hingga tanpa, tatapannya masih fokus pada laptopnya.


Setengah jam kemudian, Karina menutup laptopnya dan menghembuskan nafas lega. 


"Jam 18.45? Lebih baik aku hubungi saja dia," gumam Karina, meraih handphone di atas meja dan segera mencari nomor kontak dokter Mira.


"Saya Nyonya, gerangan apa Anda menghubungi saya?" tanya dokter Mira di seberang sana penasaran.


"Hanya ingin bertanya," jawab Karina datar.


"Pertanyaan apa itu?"


Karina segera menjelaskan pertanyaannya. Membuat dokter Mira tersedak di sana kemudian menahan senyumnya. Aneh, padahal hanya suara dan tak tatap muka, tapi dokter Mira seakan berada satu ruang dengan Karina. Menegangkan dan menguras keringat.


"Mengenai hal tersebut, boleh kok Nona. Hubungan saat istri tengah mengandung tidak dilarang. Hanya saja harus tetap hati-hati sebab di rahim Anda terdapat dua janin. Serta perhatikan juga porsinya. Jangan kelewatan dan sampai keluar darah. Jangan juga main kasar, bahaya," jelas dokter Mira. Karina menganggukkan kepalanya paham.


"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih," ujar Karina, langsung mematikan panggilan. Di tempatnya, dokter Mira mendengus dan menatap sesaat layar handphone yang menyala dengan wallpaper dia dan seorang pria.


"Andai saja kau tak keras kepala, pasti kita sudah jadi Ayah dan Ibu," ucap dokter Mira sedih.


Yap, kisah cintanya termasuk sedih, dia dan pria itu menikah sekitar tiga tahun lalu. Akan tetapi baru saja seminggu usia pernikahan mereka dan mereka saat itu masih berbulan madu, sang suami yang merupakan abdi negara dipanggil darurat untuk bertugas.


Mengamankan daerah perbatasan dan gugur sebagai kusuma bangsa. Padahal, sebelum sang suami pergi bertugas, dokter Mira melarangnya tegas. Tapi apa daya, jiwa prajurit sudah melekat sejati dengan diri sang suami.


Dokter Mira sangat sedih dan frustasi dengan suami yang meninggal, di saat yang sama, hatinya juga bangga sebab sang suami tewas karena mengabdi pada ibu pertiwi. Hingga kini, janda muda itu masih tetap mempertahankan status jandanya, belum ada atau tidak ada niat lagi untuk mencari pasangan. 


"Mas, damailah di sana. Tunggu aku," gumam dokter Mira, memeluk handphone-nya.


*


*


*


Pukul 19.30, Karina menyuruh Pak Anton menghentikan mobil di depan sebuah minimarket. Karina lantas keluar mobil dan masuk ke dalam minimarket. Tak sampai sepuluh menit, Karina keluar dengan menenteng plastik putih ukuran kecil dan segera masuk ke dalam mobil. Pak Anton segera melajukan mobil, melanjutkan perjalanan pulang.


Astaga? Apa ini? Untuk apa aku membeli ini?pikir Karina, bingung dan heran sendiri dengan dirinya. Digenggam erat plastik tersebut seraya memejamkan mata. 


Karina tiba di kediaman lima belas menit kemudian. Karina melangkahkan kakinya masuk dan disambut segelas coklat hangat. 


"Arion belum pulang Bik?" tanya Karina, mengedarkan pandangannya. Biasanya jika ia lembur, Arion menunggunya di ruang tengah ataupun di depan pintu, kalau Arion gak lembur juga ya.


"Sepertinya Tuan lembur, Non," jawab Bik Mirna.


Karina menghela nafas dan segera melangkahkan kakinya menaiki satu demi satu anak tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


"Tuh anak ya, katanya mau ngasih hukuman, sudah dikasih lampu hijau malah lembur. Terus belum tahu lagi jam berapa pulangnya, ckck," gumam Karina kesal. Dengan langkah gontai Karina mandi, selepas itu menjalankan kewajibannya yaitu salat Isya. 


Waktu terus berjalan, jam dinding menunjukkan pukul 21.30, Karina menutup dan melipat sajadahnya. Tak lama terdengar pintu kamarnya diketuk. 


"Makan dulu Non, jangan sampai gak makan. Kasihan calon pewaris di sana kelaparan," ujar Bik Mirna, menyodorkan nampan berisi makan malam untuk Karina, dilengkapi dengan segelas susu ibu hamil.


"Thanks Bik. Arion belum pulang juga?" tanya Karina, menilik kanan dan kiri. Bik Mirna menggeleng.


"Ya sudah, Bibi boleh kembali," ucap Karina datar. Bik Mirna mengangguk dan undur diri. Karina melangkah dan mendaratkan tubuhnya duduk di sofa. Dengan perlahan, Karina menyantap makan malamnya.


"Handphone mode diam, dia kemana sih?" gumam Karina, uring-uringan sendiri. Selesai makan, Karina mengambil laptopnya dan melacak keberadaan Arion. Ya, tak ada kabar, pelacakan berjalan. 


*


*


*


"Duh pasti Karina ngambek nih. Gara-gara mengurus balas dendam hingga tuntas malah aku yang kena imbasnya," cetus Arion pada dirinya sendiri.


Saat ini ia tengah dalam perjalanan pulang setelah semua urusan hari ini clear. Apalagi karena tadi handphone-nya mode silent, bersiaplah dirinya kena tatapan dingin Karina.


Sang sopir hanya mengeryit, tak paham dengan Tuannya ini. Ia sebisa mungkin melajukan mobil agar segera tiba di kediaman Karina. 


Dan pada akhirnya, Arion tiba di rumah saat waktu menunjukkan pukul 23.00. Lampu lantai satu dalam keadaan mati saat Arion masuk ke dalam rumah. Menyala ketika ia menekan saklar.


"Eh baru pulang, Tuan?" tanya Bik Mirna, yang muncul dari arah dapur. Arion mengangguk.


"Karina sudah makan Bik?" tanya Arion dengan nada khawatir.


"Sudah Tuan, dan kemungkinan juga Nona sudah tidur," jelas Bik Mirna. 


"Syukurlah," ucap lega Arion. 


Begitu pintu terbuka, kamar dalam pencahayaan remang-remang. Arion menekan saklar menghidupkan lampu dan mendapati Karina yang tidur nyenyak di sofa. Namun, posisinya itu duduk dan bersandar pada sofa, bukan tidur di ranjang. 


Laptop juga masih menyala, Arion mendekat dan seraya melepas jas kerjanya dan meletakkan tas kerjanya. 


Arion menilik apa yang Karina kerjakan.


"Owh, jadi dia lacak aku, dasar kamu," gumam Arion, mengusap lembut pipi Karina dan menciumnya gemas. Karina menggumam dan meraih tangan Arion untuk dipeluk. Arion segera mematikan laptop Karina.


"Gulingnya kok keras? Kurus lagi? Besok harus beli baru," kesal Karina dalam tidurnya, merasa tangan Arion adalah guling.


Arion berdecak lidah dan dengan segera mengangkat tubuh Karina dan membaringkannya di ranjang. Dengan perlahan menggantikan tangan kanannya dengan guling yang biasa Karina peluk.


Arion menunduk dan mencium kening Karina. Saat ia hendak berdiri, ia penasaran dengan plastik putih di nakas, itu adalah yang Karina beli tadi.


Arion mengambil dan melihat isinya.


"What the hell? Pengaman? Untuk apa dia membeli ini?"


Arion membulatkan matanya dan seketika pikirannya langsung tertuju pada saat Karina membayar belanjaannya ini. Dingin datar tanpa ekspresi atau malu-malu atau biasa saja? 


"Jika ia membeli ini, berarti sudah lampu hijau. Ah seketika semangatku kembali." Arion menatap Karina dengan senyum lebarnya. Akhirnya kebutuhan batinnya akan terpenuhi lagi. Tapi ….


Arion terdiam melihat wajah nyenyak Karina, tak tega membangunkannya. 


"Tahan lagi-tahan lagi. Tak apalah yang penting lampunya masih hijau," gumam Arion. Lanjut mandi, turun ke bawah untuk makan tengah malam dan kembali lagi ke kamar dan tidur.


*

__ADS_1


*


*


Di salah satu rumah sakit kota, tepatnya Rumah Sakit Umum Kota, di depan ruang ICU, nyonya Aditya Alamsyah tidur dengan posisi duduk di kursi tunggu. Mata nyonya Aditya tampak sembab.


Wajar saja, anak bungsunya masih dalam keadaaan tak sadarkan diri di dalam ruang ICU dengan luka di sekujur tubuh terutama patah tangan, cedera kaki dan beberapa rusuk yang berseger serta cedera pada kepala. 


Ditambah lagi, kondisi finansial keluarga yang turun drastis saat suaminya ditangkap oleh KPK dan kepolisian. Perusahaan di ujung tanduk, dan putra sulungnya berusaha mengendalikan keadaan.


Rasanya sudah mau pecah kepalanya menerima semua ini, satu-satunya harapan adalah putra sulungnya. Ia juga tak pernah menyangka, keluarganya yang tadi siang masih berada di atas awan dengan segala kenikmatan hidup, kini jatuh keras menghantam bumi. Ternyata roda kehidupan itu memang ada dan berputar, batinnya saat memejamkan matanya, tertidur.


*


*


*


Subuh telah tiba, Karina yang sudah selesai mandi dan berwudhu, membangunkan Arion yang masih terlelap di alam mimpi dengan memeluk guling.


"Sayang, ayo bangun," ucap Karina lantang, menggoyangkan tubuh Arion.


Tak ada respon, hanya gumaman tak jelas. Karina kesal dan menarik Arion agar bangun. 


Arion membuka matanya separuh seraya menguap panjang. 


"Bangun sapi, aku salat!" 


"Cium dulu," ucap serak Arion, menaikkan tangannya dan menarik Karina lembut dalam pelukannya. 


Wajah Karina tepat dan bersentuhan langsung dengan hidung Arion. Arion langsung saja melayangkan ciuman pada Karina. Karina mengerjap dan mencoba mendorong Arion.


Arion kini membuka matanya lebar dan menatap Karina dengan tatapan minta ciumannya dibalas, Karina mendelik kesal dan menggerakkan tangannya ke arah pinggang Arion lalu mencapitnya kuat. Alhasil, Arion melepas ciumannya dan mengaduh sakit.


"Lihat jam tangan sapi. Cepat bangun, wudhu," titah Karina, membuat Arion mengiyakan mau tak mau. Tak lupa, Karina juga berwudhu lagi. 


Mereka melaksanakan salat Subuh berjamaah. Selepas salat dan membaca ayat suci, Arion segera melancarkan hal yang tertunda malam tadi. Ia mengangkat Karina dan meletakkannya lembut di ranjang.


"Mau apa?" tanya Karina, datar namun wajahnya menggoda.


"Jalan, kan sudah lampu hijau," jawab Arion. Kembali melayangkan ciuman pada Karina, dari mata dan turun ke bibir. Karina memeluk leher Arion. Melenguh saat ciumam Arion lepas dari bibir menjelajahi lehernya.


Melepas baju Karina dan memperhatikan lekat bentuk badan Karina kini. 


"Kenapa? Gendut?" tanya Karina, dengan nada galaknya. Arion nyengir.


"Gak, kamu semakin cantik dan sexy," jawab Arion dengan nada serak dan gelora yang sudah membara. Langsung saja lanjut lagi.


"Jujur gak itu?" tanya Karina seraya meremas rambut Arion.


"Lantas aku bilang apa? Itu yang aku lihat, itu yang aku ucapkan," sahut Arion mengangkat wajahnya dari perut Karina. Karina menggumam.


"Pelan-pelan ya," ucap Karina memperingatkan. Arion hanya tersenyum dan mengubah pagi yang hangat bercampur dingin menjadi panas dengan persatuan dua insan.


Keringat membasahi keduanya. Dan tak lupa juga, pengaman yang Karina belikan, Arion gunakan. Tak tahu apa yang ada di pikiran Karina, turuti sajalah.


"Lanjut lagi?" tanya Arion seraya mengelap peluhnya dan menatap Karina yang mengatur nafas. 


"Masih sanggup kah?" tanya Karina, lebih tepatnya pancingan.


"Aku khawatir kamu gak akan sanggup, tenaga pagi itu lebih kuat, Sayang," sahut Arion.

__ADS_1


"Satu kali lagi dan selesai," tegas Karina. Arion ya dengan senang hati. Melakukannya dengan perlahan, lembut dan hati-hati agar keselamatan kedua anaknya di sana tidak terganggu. 


__ADS_2