
Cuaca hari ini sangat bersahabat, tidak mendung juga tidak panas. Angin bertiup, berbisik pada dedaunan. Deburan ombak kecil akibat kapal yang merapat ke tepi sungai menciptakan irama yang khas.
Sungai besar di tengah kota, berpagar gedung bertingkat, dengan jajaran kapal yant menjadi pemandangan tersendiri bagi para pengunjung.
Area hijau yang terletak tidak jauh dari pinggir sungai, menjadi pilihan tempat untuk piknik keluarga ataupun kencan.
Pepohonan rimbun dengan kursi dan fasilitas mendukung lainnya, menjadi area hijau terbesar selain taman di kota ini.
Silau cahaya matahari yang memantul pada kaca jendela, sedikit membuat mata menyipit.
Arion yang mengenakan pakaian berwarna biru, mengayuh sepedanya dengan riang menghampiri Karina yang duduk tenang di bawah pohon rindang.
Karina duduk di atas tikar plastik, di sampingnya terdapat beberapa buku dan di hadapannya ada beberapa jenis makanan dan minuman.
"Sayang," panggil Arion melambaikan tangan pada Karina.
Karina mengangkat pandangannya dari majalah yang ia baca, tersenyum dan membalas lambaian tangan Arion.
"Hati-hati Ar, awas jatuh!"ucap Karina saat melihat Arion berlagak lepas tangan dari setang sepeda.
"Tidak akan. Aku sudah terlatih," jawab Arion, berhenti tak jauh dari Karina.
Setelah memarkir sepedanya, Arion menghampiri Karina, duduk di samping Karina yang wajahnya terlihat sedikit kesal dengan Arion.
"Hei mengapa wajahmu seperti jeruk purut? Aku baik-baik saja Sayang. Baiklah, aku janji ini yang terakhir. Kau marah aku terlalu lama atau bagaimana? Sayang?"
Karina menggeleng untuk kedua terkaan Arion. Karina sedikit menarik senyum saat Arion memberikannya sebuah kotak merah berbentuk hati. Kotak itu Karina simpan, Arion yang sudah tersenyum puas sedikit heran.
Aku lupa. Karina kan punya banyak mode.
"Wajah kesalku lebih baik daripada jeruk purut. Kau yang seperti jeruk purut!"gerutu Karina pelan.
Merayuku menggunakan perhiasan? Tidak kreatif, tapi sepertinya ini mahal. Ah lumayan tambahan koleksi.
Karina tertawa senang dalam hati.
"Iya-iya. Wajahku memang begini, jadi apa yang membuat kamu kesal?"
Arion tidak ingin berdebat. Sudah dikasih hadiah masih tetap kesal.
Karina menunjukkan lembar halaman majalah pada Arion. Arion melihatnya, penasaran. Hal apa yang tertera di sana hingga membuat istrinya ini kesal.
Arion harap-harap cemas tentang nasib kantor penerbitan majalah itu.
"Eh inikan?"
Arion menunjuk lembar halaman.
"Berani sekali mereka! Namaku tidak ada di dalam jajaran orang terkaya dan berpengaruh di negara ini?! Tapi lihatlah namamu berada di urutan pertama, padahal aku lebih kaya dari dirimu. Okay, itu aku tidak masalah. Aku sudah sering menduduki peringkat pertama, tapi foto ini? Ini terlalu menggoda. Kau mau menambah followers kah? Duduk seperti ini, kau bisa membuat banyak orang jatuh cinta!"omel Karina, tangannya bersiap merobek halaman tersebut tapi segera Arion halangi.
Arion menyembunyikan majalah di belakang tubuhnya.
"Kau lagi, kapan kamu foto itu? Mengapa berpose seperti itu? Kau sudah menikah dan sebentar lagi jadi ayah. Jaga sedikit pesonamu, kau suamiku, kau milikku. Aku tidak ingin berbagi kepada siapa," ucap Karina, kesal.
Pipi Karina menggembung, ia memalingkan wajah.
Kau milikku … dan milik Pencipta-ku, batin Karina.
Ia sudah membaca banyak hal, sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya.
"Sayang, kau cemburu?"
Arion malah senyum bahagia.
"Ya," jawab Karina, sedikit ketus.
Arion mengangguk kecil.
"Percuma saja kamu merobek halaman ini, tapi jika itu bisa membuatmu meredakan rasa kesal dan cemburu, maka robeklah. Aku juga akan menghubungi kantor penerbitan untuk menarik kembali majalah ini dari publik," ucap Arion lembut, meletakkan majalah di depan Karina, tangan Arion merangkul Karina.
Karina menatap majalah itu, ia menghembuskan nafas pelan.
"Sudahlah. Aku tidak akan merobeknya, ini akan aku simpan," ucap Karina, kembali membuka majalah dan lanjut membaca.
"Tapi lanjutkan ucapan keduamu. Beri mereka kompensasi untuk hal itu," tambah Karina.
"Siap. Laksanakan my Queen."
__ADS_1
Arion berdiri, ia berjalan sedikit menjauh dari Karina, menelepon seseorang untuk mengurus ucapannya. Sedangkan Karina sendiri, tersenyum ceria saat mendapati ada namanya di bagian orang terkaya dan berpengaruh di Asia.
Di antara jajaran lainnya, hanya Karina sendiri yang tidak ada fotonya.
Mood wanita terkadang sukar ditebak, batin Arion.
Ia kembali duduk di samping Karina.
"Hei-hei, kau sudah tersenyum? Cepat sekali. Aku ingin lihat apa yang bisa membuatku tersenyum. Ayo tunjukan padaku."
Arion melempar candaan. Arion sudah tahu isi majalah tersebut.
"Lihat. Aku menduduki peringkat pertama lagi. Tapi mengapa fotoku tidak ada? Apa aku terlalu jelek untuk ditambahkan dalam majalah ini?"
Arion terkekeh dengan nada polos Karina.
"Ayolah Sayang. Kau menghapus foto,video atau rekaman yang berhubungan denganmu. Kau sendiri, mana mau di foto, yang ada foto mereka yang terpajang dengan bendera duka. Kau juga tidak bisa berakting polos," sahut Arion, mencubit pelan hidung Karina.
"Ah ya. Aku lupa, tapi aku tidak sekejam itu Ar. I'm not Zaalima!"tegas Karina.
"Lalu?"
Karina malah mengedikkan bahu.
"Ya, ya, isteriku bukan Zaalima. Kau hanya kejam pada siapa yang mengusik dirimu, baiklah … moodmu sepertinya sudah kembali, apa kau butuh sesuatu untuk menyegarkan indra perasamu? Makanan ini, sepertinya tidak cocok."
Karina melempar pandang pada keranjang yang memuat makanan dan minuman mereka. Rata-rata snack pabrik.
"Hm … bagaimana dengan rujak?"saran Arion.
Karina mengangguk setuju.
"Tunggu sebentar, aku akan cepat kembali," ujar Arion, mencium kening Karina kemudian berdiri dan mengambil sepeda.
"Cepat kembali, jangan melenceng dari tujuan, jangan jadi merak!"seru Karina, memberi pesan.
Arion menjawab dengan memberikan posisi hormat lalu mengayuh sepedanya menjadi penjual rujak. Jika menunggu, rasanya tidak sabar dan lama.
Aiya mengapa aku sangat sensitif? Tapi wajar, Ali saja tidak ingin berbagi Fatimah dengan siapapun walau hanya bayangan saat tidur. Sepertinya aku juga harus memantapkan hati. Tapi mengapa rasanya zaman sekarang terbalik? Di saat pria menutup aurat, wanita malah seakan berlomba memamerkan lekuk tubuh. Apa mereka kekurangan uang hingga membeli pakaian kurang bahan?
Apakah mereka kira semua pria akan tertarik pada mereka dengan memamerkan lekuk tubuh?
Tapi … apa bedanya aku dengan mereka, aku masih membuka auratku.
*Melihat komentar netizen, yang berhijab belum tentu baik, ya itukan tidak semua. Dengan berhijab, ia menutup satu pintu dosa, juga menyelamatkan orang tuanya dari siksa malaikat.
Aihh terkadang seseorang sangat bersemangat dan serba tahu mengenai keburukan seseorang, tapi tidak bisa menemukan keburukan sendiri. Semut di seberang lautan dapat dilihat jelas tapi gajah di pelupuk mata tidak tampak.
Guru … apa kau lupa dengan muridmu ini? Di mana sekarang Guru, mengapa belum juga kembali?
Karina menutup majalah. Ia menghela nafas, ada rasa rindu pada seseorang yang ia panggil Guru.
"Hm?"
Karina mengambil handphone saat mendengar itu berbunyi. Sebuah pesan masuk.
"Satya?"
Karina membuka dan membaca pesan dari Satya.
"Hm … aku mengerti, aku tidak akan memaksa mereka. Mereka sudah dewasa bahkan lebih tua dariku," gumam Karina, mengetik dengan cepat, membalas pesan Satya.
Karina meletakan handphone, ia ingin menyegarkan mata.
Karina mempertajam penglihatannya, melihat bendera yang terpasang di masing-masing kapal mewah itu. Ia tersenyum mendapati ada kapal milik Arion di sana.
Saat melihat keramaian, Karina menangkap ada sesuatu yang familiar, tanpa sadar Karina berdiri dan mencari familiar tersebut.
"Itu …."
Karina sedikit mempercepat langkahnya. Ia melihat punggung familiar itu. Merasa tidak sanggup mengejar, Karina berteriak.
"Guru!"teriak Karina.
Langkah punggung diyakini Karina itu berhenti, ia berbalik dengan tatapan bingung. Karina tersenyum lebar, ia sungguh tidak menyangka. Karina kembali melangkah.
"Kamu mengenal saya?"tanya pemilik punggung itu.
Seorang pria dengan wajah yang cukup rupawan dan jenggot tipis walaupun sudah berumur. Tangannya memegang tasbih, tatapan matanya tenang. Nada bicaranya lembut dan bersahabat.
"Assalamualaikum Guru."
Karina meraih tangannya. Pria itu refleks menarik tangannya, kedua tangan bersembunyi di belakang.
"Waalaikumsalam. Nak kita bukan mahram, juga tidak saling mengenal, mengapa kamu memanggilku Guru? Apa kamu pernah menjadi muridku?"tanyanya.
__ADS_1
"Guru, Anda sungguh tidak mengenali saya? Saya menjadi murid Anda beberapa tahun silam," tanya Karina, sedikit kecewa.
"Bisa ceritakan sedikit tentangmu Nak? Aku sudah cukup tua untuk mengingat siapa saja muridku," tanyanya.
"Baiklah, dengan senang hati. Tapi apakah bisa sambil duduk?"tanya Karina.
Pria Tua itu melihat perut Karina. Ia segera mengangguk. Duduk di salah satu bangku kosong.
"Guru ingatkah Anda dengan kejadian beberapa tahun silam? Saat itu kalau tidak salah adalah bulan Ramadhan. Pada suatu malam, hujan turun dengan derasnya, tapi suara hujan itu seakan hilang digantikan dengan suara tadarus. Anda berada di salah satu masjid yang sederhana. Saat hujan sedikit mereka, pintu masjid itu dibuka dengan kasar, seorang wanita dengan tangan dan pakaian yang penuh darah masuk dengan wajah yang juga penuh darah. Wanita itu masuk, membuat lantai kotor, semua yang ada di dalam sana terkejut juga takut. Hanya Anda dan istri Anda yang datang menghampiri wanita itu. Anda menanyakan apa terjadi pada wanita itu, belum sempat menjawab, wanita itu tak sadarkan diri sebelum menjawab. Saat wanita itu membuka mata, ia mendapati Anda dan istri Anda tengah salat, padahal itu pukul 02.00 pagi. Wanita itu memperhatikan dengan cermat, saat Anda dan istri Anda selesai, wanita itu menutup kembali matanya. Wanita itu lalu mendengar suara yang sangat merdu, kata-kata yang diucapkan membuat hati wanita itu bergetar. Saat pagi, Anda bingung mendapati wanita itu seperti habis menangis. Guru ingatkah Anda dengan wanita itu?"papar Karina, berharap Pria Tua itu mampu mengenali dirinya.
"Hm tunggu sebentar," pintanya.
"Hm memang benar, aku pernah mengalami hal tersebut. Wanita itu mengaku dirinya atheis, kasar, dingin, juga angkuh. Ia dengan lantang berkata tidak percaya pada sang Pencipta. Tapi pada akhirnya ia menangis tersedu setelah mengucap dua kalimat syahadat dan semakin terisak membaca terjemahan al-Qur'an. Apakah itu dirimu Nak?"
Karina mengangguk.
"Masya Allah. Kamu sudah jauh berbeda," kagum Pria Tua itu.
"Guru, kemana Ibu? Mengapa Anda sendiri?"tanya Karina.
Pria yang Karina panggil Guru itu bernama Mahmud, ia tersenyum tipis.
"Ia sudah kembali kepada Sang Pemilik. Dua tahun lalu, dia meninggal," jawab guru Mahmud.
"Innalillahi wa Innalillahi rojiun ," ucap kaget Karina.
Padahal besar harapan Karina bisa bertemu dengan pasangan suami istri yang sudah berjasa besar padanya.
Guru Mahmud tersenyum.
"Karina … itukan namamu?"tanya guru Mahmud.
Karina mengangguk.
"Aku mengingatnya. Bagaimana kabarmu Nak? Dan di masa suamimu?"
"Alhamdulilah. Saya baik Guru. Dan suami saya … ia pergi sebentar membeli sesuatu," jawab Karina.
Guru Mahmud mengangguk. Tak berselang lama Karina menoleh saat mendengar suara seseorang memanggilnya.
Ternyata Arion, pria itu menghentikan sepeda di samping Karina. Karina berdiri.
"Sayang kamu menyuruhku cepat kembali, jangan melenceng, kamu sendiri malah panjang kaki," omel Arion, memegang pundak Karina.
"Aku takut terjadi apa-apa padamu," tambah Arion.
"Aku baik-naik saja. Aku hanya mengejar Guru," jawab Karina, menoleh ke arah guru Mahmud.
"Guru?"
Arion langsung menyalami tangan guru Mahmud.
"Ini suamimu, Nak?"
Karina mengangguk.
Arion memperkenalkan dirinya, dengan sopan dan santun.
"Ingatlah ini Nak, kita tidak hanya membina hubungan baik dengan Allah saja, tetapi dengan sekitar kita, dengan sesama makhluk ciptaan-Nya dan alam. Jangan abaikan mereka. Ingatkah kalian kisah seorang ahli ibadah yang namanya tidak tercatat dalam catatan hamba pencinta Allah?"
Karina dan Arion mengangguk.
"Kalian orang yang berada, jangan pernah lupakan bahwa di dalam kekayaan kalian ada hak orang lain," pesan guru Mahmud.
"Kami tahu Guru. Dalil mengenai itu tertulis jelas di al-Qur'an bukan?"ucap Arion.
"Dan ingatlah ini juga, semua karena satu hal, lillahi ta'ala, bukan kerena hal lain," ujar guru Mahmud.
"Guru," panggil Karina sedikit takut.
Guru Mahmud menoleh.
"Guru bukannya murid tidak punya etika yang baik, akan tetapi murid harus undur diri sekarang," ujar Karina.
Arion membenarkan. Mereka ada janji dengan Amri dan Maria.
"Hahaha tidak apa Karina. Bertemu dengan kalian, adalah hal yang membahagiakan."
"Guru apa Anda masih terus nomaden?"tanya Karina.
"Ya, begitulah aku. Aku akan melangkah kemana kaki membawaku dan hatiku menuntunku."
"Kalau begitu, apakah Guru tidak ingin berkunjung ke rumah murid? Saya berharap Guru dapat bertandang ke kediaman murid," pinta Karina.
"Hahahaha insya allah. Saya akan berkunjung jika ada waktu."
__ADS_1
Arion segera mengeluarkan pena dan kertas, menuliskan alamat rumah mereka. Setelah itu, Karina dan Arion berpamitan pada guru Mahmud. Mereka berpisah.
Karina dan Arion menuju tempat piknik mereka untuk membereskan bawaan sedangkan guru Mahmud, kembali melangkah kemana kaki membawanya.