
Kini Blue Boys dan Li tentunya berada di rooftop. Dapat dirasakan oleh mereka angin yang berhembus menerpa wajah mereka akibat baling-baling helikopter yang berputar. Dua helikopter berwarna hitam dan putih mendarat dengan sempurna. Bangtan boys kembali berdecak kagum.
"Ayo," ajak Li naik ke helikopter berwarna putih.
"Ya," jawab mereka.
Koya, Tata serta Kuki satu helikopter dengan Li. Sedangkan keempat lainnya masuk ke helikopter hitam.
Direktur BHE serta manajer mereka hanya bisa melambaikan tangan saat kedua helikopter tersebut lepas landas. Mengangkasa di atas negara boyband.
"Mengapa mereka tak ikut?" tanya Kuki penasaran.
"Memang tidak. Ya diminta kalian bertujuh bukan mereka," jawab Li datar. Memainkan handphone-nya.
"Dalam rangka apa?" tanya Koya.
"Ngidam," jawab Li melirik Koya yang duduk di sampingnya.
"Oh jadi dia hamil?" tebak Tata menepuk pundak Li dari belakang.
"Hmm," gumam Li.
"Jangan sentuh apapun, oke," peringat Li pada Koya saat hendak menyentuh jendela helikopter.
"Jendela saja tak boleh?" tanya Koya heran.
"Sudah turutin saja, daripada ribet nanti urusannya," saran Kuki.
"Hm," gumam Koya. Memilih mengambil buku dari tasnya dan membaca. Tak sampai lima belas menit mengudara, kedua helikopter mendarat di landasan rooftop Tirta Hotel.
"Mengapa kita mendarat di sini?" tanya Agus pada ketiga member yang satu heli dengannya.
"Mana ku tahu. Tanyakan saja pada Tuan itu," sahut RJ. Agus manggut.
"Kita turun?" tanya Chimmy.
"Boleh, lihat mereka juga turun," jawab Mang.
Mereka segera berkumpul dengan Li dan tiga member lainnya. Li mengeryitkan dahinya melihat keempat member itu. Kalau tiga member lainnya memang ia suruh turun.
"Mengapa kalian turun?" tanya Li heran.
"Kalian turun kami juga turun," jawab Agus.
"Untuk apa berhenti di sini? Tak langsung ke bandara?" tanya Mang.
"Menjemput istrikulah, memang kalian yang sibuk sama pekerjaan kalian, jomblo forever ya?" ledek Li.
"Hei kami bukan jomblo. Kami hanya ingin fokus terhadap pekerjaan dan karier kami. Tak ada waktu untuk urusan asmara," ralat Koya.
"Benar, bukankah sudah banyak artikel tentang kapan kami mau menikah, tunggu saja," ujar Kuki.
"Terserah kalian, aku bisa apa?" Li berjalan menuju pintu keluar rooftop. Menuju penthouse yang Karina izinkan untuk menginap mereka. Ketujuh member, ya ikut tanpa diminta.
Li membuka pintu kamarnya dengan sandi. Klik, pintu terbuka. Terdengar gemericik air dari kamar mandi. Li yakin itu Elina. Siapa lagi kalau bukan dia. Bangtan Boys duduk di sofa dekat jendela, melihat pemandangan kota mereka dari atas.
"Woah, very beautiful dari sini, aku tak mau pulang dari sini," celetuk RJ.
"Iya benar. Tidak sangka kota terlihat indah dari sini," timpal Chimmy.
"Ya iyalah, dari bawah saja indah apalagi dari atas," ucap Tata.
Sedangkan Li menuju kulkas untuk memberi hidangan pada mereka.
"Ini, makan dan minumlah," ujar Li meletakkan nampan di meja.
"Woah ada susu pisang, Tuan dari mana mau tahu aku suka ini?" tanya Kuki gembira dan langsung mengambil satu kotak susu pisang.
"Lebay, sudah dibilang banyak artikel tentang kalian," sahut Li. Mulai bisa menyatu dengan Blue Boys.
__ADS_1
Elina lama sekali mandinya. Baru mandi kali, Li mengobrol. Dering handphonenya menghentikan obrolan tersebut.
"Halo Gerry," jawab Li dengan bahasa Indonesia.
"Li kau lama sekali, apa kau tak tahu aku keribetan mengurus semuanya, cepatlah pulang. Pekerjaan sudah menumpuk, tak muat lagi satu meja. Mejaku dan mejamu sudah penuh dengan berkas menggunung," cerocos Gerry tanpa jeda.
"Ya elah, baru sehari ku tinggal sudah begitu, Mereka bertiga apa tak membantu?" keluh Li melihat jam. Waktu menunjukkan pukul 11.30. Sudah petang jika di negaranya.
"Satya dan Rian kembali ke Kasino, Darwis masih mengurus istrinya. Apa kau tak tahu? Rasanya aku seperti lalat jika bersampingan dengan mereka," aduh Gerry dengan nada sedih.
Li menghela nafas kasar. Hal itu mendapat perhatian dan ketujuh member. Mereka hanya bisa mendengar Li berbicara tapi tak tahu apa artinya. Maklum, Li berbicara pada mereka dengan bahasa korea sedangkan pada Gerry bahasa Indonesia.
"Ada apa dengannya?" tanya Chimmy.
"Wajahnya terlihat kesal sekali," tambah Kuki. Member termuda itu bersembunyi di belakang RJ.
"Lemparkan saja dia ke kandang kucing, oh ya kau menyindirku Gerry? Akukan juga bersama istriku sekarang," kesal Li.
"Mana ada, kalau kau kan tak terlihat di mataku, jika mereka, you know lah," sergah Gerry panik Li marah padanya.
"Hm I know. Aku akan kembali sebentar lagi," ujar Li.
"Ya," sahut Gerry. Panggilan selesai. Elina keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya. Ia mengeryit melihat ada tujuh pemuda tampan di penthaouse. Ia menghampiri Li.
"Li?" panggil Elina lembut.
"Kau sudah selesai? Kita kembali," ujar Li. Keenam member tetap menatap Li dan Elina. Kuki menunjukkan wajahnya.
"Astaga, Enji kau menyusul kami? Apa kau rindu padaku?" kaget Li melihat Kuki.
"Enji?" beo para member boy band tersebut.
"Who Enji?" tanya Koya, nama mereka tak ada yang bernama Enji.
"You," tunjuk Elina pada Kuki.
"Kuki?" bingung para member.
"Li nama dia Jeon Jungkook, not Enji. Enji masih di negara kita, di rumah Karina. Tidur di pendopo," ujar Li.
"Astaga mirip sekali," kagum Elina.
"Sudahlah ayo kita kembali," ajak Li menggandeng tangan Elina keluar. Mengabaikan keheranan Para member.
Pyar.
Terdengar benda jatuh. Li dan Elina menoleh dan menatap pecahan vas bunga di lantai, tadinya vas itu berada di atas meja, letakkan di tengah pula. Li menatap Koya, Koya tersenyum simpul. Keenam membernya hanya bisa melongo.
"Haih, mengapa harus sekarang kekuatanmu berfungsi?" keluh Li.
"Maaf," ucap Koya.
"Sudahlah Li, ayo kita kembali," ajak Li. Akhirnya mereka bersembilan kembali naik ke rooftop. Menaiki helikopter dengan susunan 5 dan 4.
Terbang melintasi kota menuju rumah para member. Mengambil barang-barang mereka yang diperlukan. Tata tak lupa membawa anjing kesayangannya. Ia berpindah dari helikopter putih ke hitam.
Setelah semua selesai, mereka kembali terbang menuju bandara. Pesawat berlambang Pedang Biru menunggu manis di landasan. Naik dan lepas landas. Makan siang di pesawat.
"Pesawat pribadi ya," ucap RJ.
"Lebih nyaman dari yang biasa kita gunakan," tambah Chimmy.
"Ada kamarnya pula," ujar Koya yang telah keliling pesawat.
"Ada biokskop, jaguci dan ruang makan, astaga pesawat impian sekali," kagum Kuki.
"Ada awan di langit," beritahu Agus.
"Ya adalah, kau ini gak lucu," sambung Li yang keluar dari kamar.
__ADS_1
"Iya aneh kau ini," setuju Mang. Tata? Asyik dengan anjing kesayangannya.
"Ada cemilan? Aku lapar atau buku baru, semua sudah habis ku baca," pinta Koya.
Li menepuk kedua tangannya. Pramugari datang dengan dua nampan cemilan dan minuman.
"Bukan lemari di sampingmu. Ada beberapa buku, tinggal pilih mau novel atau buku pelajaran. Tapi dalam bahasa Indonesia dan Inggris," jelas Li. Koya membuka lemari kecil di sampingnya. Tingginya hanya sekitar 50 cm.
Ia memilih membaca novel. Karya Tereliye yang memang banyak Karina koleksi menjadi tujuannya. Hujan, itulah yang ia ambil.
"Are you speak Indonesian?" tanya Li.
"A little, kami sempat belajar waktu konser di negara Anda serta di korea juga sudah terdapat jurusan bahasa Indonesia," jelas Koya.
"Oh," respon Li. Koya membaca, Li membuka laptop dan mengerjakan tugasnya yang kata Gerry sudah segunung. RJ, Chimmy, Kuki, asyik ngemil. Apalagi di atas meja cemilan kesukaan mereka. Agus tertidur di kursi pesawat sedangkan Mang ikut membaca. Tata menuju kamar, tidur. Wajarlah. Aktivitas mereka sangat padat dan sekarang mereka bebas dari yang namanya pekerjaan dan kamera. Walaupun hanya untuk sepekan.
***
Karina mendengus kesal. Waktu menunjukkan pukul 19.00. Arion di sampingnya memegang tangan Karina.
"Sabarlah Sayang, sebentar lagi mereka juga akan mendarat," ucap Arion. Ibu hamil ngidam memang repot, menurutnya.
"Apa mereka liburan dulu? Cuma jemput saja lama sekali. 2 jam lagi tepat 34 jam. Awas saja jika lewat, akan ku buat hukuman untuk mereka," omel Karina melihat jam tangannya.
"Pantau saja dari jammu kak, gitu saja repot," ujar Enji.
"Hm," gumam Karina. Karina membuka sistem pada jamnya. Mengecek di mana pesawat berada, apakah di atas atau di bawah.
Ternyata sudah mendarat di bandara toh, satu jam lagi tibalah mereka. Karina tersenyum senang.
"Bagaimana?" tanya Arion.
"Sudah mendarat," jawab Karina.
"Baguslah. Jika tidak akan habis batu bata untuk buat taman kakak belah dua," ucap Enji.
"Hm jika habis kau yang akan aku patahkan," sahut Karina mendelik kesal pada Enji.
"Sayang … jangan begitu," ucap Arion.
"Bercanda Yang," ujar Karina.
"Oh ya Ar, melihat kondisi kesehatanmu, apalagi pen juga sudah dibuka, dalam seminggu ke depan kamu lakukan operasi ya," ujar Karina.
"Hm … iya Sayang, semakin cepat semakin bagus. Kasihan Papa," jawab Arion.
"Kalau gitu besok kita ketemuan saja ya sama dia," saran Enji.
"Ya boleh tuh," setuju Arion dan Karina.
****
Pukul 20.30 gerbang kediaman Karina terbuka lebar. Satu mobil honda dan satu mobil SUV mewah memasuki kediaman. Berhenti tepat di depan pintu rumah.
Li dan Elina turun, diikuti ketujuh member. Mereka bertujuh hanya membawa satu ransel berukuran sedang. Rencananya mau bawa ransel besar tapi Li menyuruh mereka membawa barang yang Li sebutkan.
"Tae jaga baik-baik doggymu, awas dimakan kucing rumah ini," ujar Li memperingati.
"Hah? Kucing makan anjing? Emang ada?" tanya Tata heran.
"Ya adalah V, harimau, singa, cheeta, jaguar, macan tutul kan juga kucing, cuma kucing buas dan besar," ujar Koya.
"Jangan katakan kucing itu salah satu dari yang RM katakan!" pinta Tata.
"Miu," panggil Elina. Mendengar namanya dipanggil, Miu yang tiduran di permadani ruang tangah bersama dengan Karina, Arion serta Enji bangkit dan lari keluar.
Blue Boys kaget setengah mati melihat Miu yang keluar rumah dan mengitari Elina. Mereka berenam kecuali Koya. lari masuk ke dalam mobil.
"Amazing," kagum Koya.
__ADS_1