
Beberapa hari berlalu, besok adalah tahun baru. Karina yang sudah tidak ke perusahaan sejak dua hari lalu mengurung diri dalam laboratorium pribadi di rumah. Tidak ada yang diizinkan masuk. Hal itu membuat Arion cemas sekaligus kesal.
Selama di dalam, Karina tidak makan dengan tepat waktu. Dipanggil hanya menjawab sebentar tapi tidak kunjung keluar.
Pagi ini Arion mengetuk pintu lab dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Karina. Jujur Arion merana dua hari tidak satu ranjang dengan Karina. Bahkan sangking tidak bisanya, Arion tidur di depan pintu lab.
"Sayang," panggil Arion dengan nada tegas namun lembut.
Tidak ada jawaban. Arion memanggil dan mengetuk lagi.
"Sebentar, jika sudah berhasil aku akan keluar," sahut Karina dari dalam.
Arion berdecak sebal.
"Ini sudah dua hari, jawabanmu masih sama. Sayang ayolah keluar dulu. Sebenarnya apa yang kau kerjakan? Sayang aku mohon perhatikan kesehatanmu!"tegas Arion.
Karina tidak menyahut. Arion menunggu.
Arion menunjukkan wajah kesalnya saat dua buah tangan robot keluar dari tengah pintu yang sengaja didesain untuk mengambil sesuatu tanpa membuka pintu.
"Sayang apa kau tidak ada waktu barang sedetik melihat suamimu ini? Aku merindukanmu. Biarkan aku melihat wajahmu," bujuk Arion.
"Tidak bisa Ar. Aku tidak bisa meninggalkannya barang sedetik," sahut Karina.
Arion mengepalkan kedua tangan erat. Nampan sudah masuk ke dalam.
"Apa itu lebih penting dari suamimu?"tanya Arion dengan nada geram.
"Kau sangat berharga. Tapi ini juga penting. Aku akan keluar saat sudah selesai. Maafkan aku," jawab Karina.
"Aku sangat penasaran apa yang kau lakukan hingga mengabaikan diriku. Izinkan aku melihat wajahmu, Sayang," ujar Arion, memelas.
Arion tidak bisa marah dengan Karina.
Tiba-tiba saja pintu itu berubah menjadi layar, menampilkan Karina memakai pakaian laboratorium yang tengah menggunakan mikroskop.
"Hai Ar, kemarin aku tidak bisa berbicara sebanyak ini. Maafkan aku, aku akan segera menyelesaikannya," ujar Karina.
"Apa yang kau teliti?"tanya Arion.
"Kau akan tahu setelah berhasil, sudah dulu ya. Aku tutup."
Layar itu kembali berubah menjadi pintu. Arion mengerjap cepat. Ada berapa banyak lagi rahasia di rumah ini?
Berapa banyak teknologi yang Karina kembangkan dan gunakan?
Arion jadi ragu tentang usia Karina. Akankah seorang wanita berusia 24 tahun bisa mengembangkan hal sebanyak ini?
Tapi walaupun sudah melihat wajah Karina, Arion masih tetap kesal. Ia meninggalkan pintu lab dengan tatapan dingin. Arion menuruni tangga.
"Pak."
Arion memanggil Pak Anton. Pak Anton datang dengan cepat.
"Saya Tuan," jawab Pak Anton.
"Buka jalan garasi bawah tanah," perintah Arion, melangkah menuju garasi bawah tanah.
Pak Anton mengekor, kemudian menyalakan lampu garasi. Arion menatap datar puluhan roda empat yang berjajar rapi. Ragam merk mobil terkenal ada di sini. Jika diperhatian dan didata, pasti akan ada satu untuk setiap seri.
Arion mengedarkan pandangan, mencari mobil yang ingin ia gunakan. Tatapannya terkunci pada Koenigsegg CCXR Terevita, salah satu mobil termahal di dunia.
"Tuan Anda tidak bisa menggunakan mobil ini tanpa izin Nona," ujar Pak Anton yang menyadari tatapan Arion.
"Hm?"
Arion menoleh dengan alis terangkat.
"Aku ingin menggunakan ferrari ini, bisa kan?"
Wajah Arion sulit untuk Pak Anton tolak.
"Baiklah. Akan saya ambilkan dulu kuncinya."
Aneh. Memang aneh.
Arion menggeleng pelan.
Pak Anton menuju lemari tempat semua kunci mobil berada. Pak Anton kembali dengan membawa kunci mobil ferrari LaFerrari Aperta, salah satu ferrari termahal. Dari segi harga ini lebih mahal dari yang pertama tadi.
Arion menerima kunci itu. Pak Anton kembali melangkah untuk membuka pintu garasi. Arion memanaskan mesin sejenak. Sembari menunggu Arion menghubungi Ferry.
"Ya Ar?"
Memang jika di luar jam kerja mereka menjadi sahabat, tidak ada atasan dan bawahan.
"Hubungi tiga pembalap professional negeri ini! Sewa sirkuit kota. Aku ingin balapan!"suruh Arion.
__ADS_1
"Balapan? Kau sangat kesal terhadap siapa? Tidak ke bar?"tanya Ferry.
"Bar? Karina bisa membunuhku. Kau tidak perlu tahu aku kesal dengan siapa. Kerjakan saja apa yang aku minta!"
Arion memutus panggilan. Dengan perlahan, Arion menginjak pedal gas, keluar dari garasi. Mobil merah itu kini berada di halaman.
"Jika Karina bertanya kemana aku, katakan padanya aku di sirkuit mobil!"pesan Arion.
Pak Anton mengangguk. Mobil merah itu mulai meninggalkan kediaman Karina.
*
*
*
Di sisi lain, Syaka tengah menemani Bayu di taman. Karena kondisi Enji yang sudah stabil dan Bayu yang sudah tenang, mereka kembali ke negara Y kemarin. Enji tetap dirawat di markas. Bayu menggunakan alat bantu sementara sebelum pendengarannya kembali pulih.
"Hei Bay, apa kau tetap akan menjalani pembelajaran walaupun ayahmu belum sadar dan kau juga belum pulih?"tanya Syaka. Ia menatap langit biru yang cerah dengan perasaan kelabu.
Terdengar helaan nafas panjang. Bayu ikut menatap langit.
"Apa yang aku putuskan sejak awal tidak akan berubah sekalipun aku dalam kesulitan, kecuali aku mati," jawab Bayu.
"Apa Queen akan mengizinkan?"tanya Syaka lagi.
"Keteguhan hati adalah intinya!"jawab Bayu dengan tatapan datar.
Syaka paham.
"Berarti kau akan meninggalkan ayahmu."
Syaka menoleh pada Bayu.
"Itu sudah ada sejak awal aku memutuskan bergabung dengan Pedang Biru," ucap Bayu.
"Aku mengerti," sahut Syaka.
*
*
*
Di tempat lagi, di sebuah taman, seorang wanita duduk menyendiri dengan wajah murung. Mata panda, rambut tidak teratur dan tatapan mata kosong.
"Kemana sebenarnya dia? Mengapa sampai sekarang tidak ada kabar?"gumam wanita itu.
Terlebih kabar pergantian sementara pimpinan, membuat Jessica semakin penasaran. Sayangnya ia tidak punya keberanian untuk bertanya. Semua Jessica pendam dalam pemikiran sendiri.
*
*
*
"Hei Ger, apa yang membuatmu termenung seperti ini? Kau memikirkan istrimu?"
Li menegur Gerry yang sedari tadi tidak fokus pada pekerjaan malah menatap datar layar laptop dengan tatapan kosong. Gerry tidak menggubris. Li mendengus. Ia berdiri menghampiri meja Gerry.
"Gerry Herlambang!"sentak Li memukul meja.
Gerry tersentak kaget. Wajahnya terlihat lucu.
"Ada apa? Kau mengagetkanku," ucap Gerry polos sembari mengelus dada.
Li tersenyum kesal. Ia menjitak kepala Gerry.
"Hei beraninya kau memukul kepalaku!"seru Gerry berdiri, ingin membalas pukulan Li. Li menghindar, bukannya meminta maaf Li malah menggoda dan mengejek Gerry.
Maka jadilah mereka kejar-kejaran di dalam ruang kerja. Ruang kerja yang semula rapi berubah menjadi kapal pecah. Kertas berserakan di lantai, kursi berpindah dari tempatnya. Untung saja meja tidak terbalik.
Ceklek!
Elina membuka pintu dan ternganga melihat Li dan Gerry yang sedang timpa-timpahan.
"Kalian sedang apa? Lagi main kuda?"tanya Elina polos mendekati Li dan Gerry. Kedua pria itu sontak menoleh, terdiam sejenak.
"Kalian enggak sampai ciuman kan?"tanya Elina lagi.
"Mustahil!"pekik keduanya, memisahkan diri, berdiri saling memunggungi.
Elina tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan dua pria dewasa itu.
"Dia duluan yang mulai!"ucap Gerry, berbalik dan menunjuk Li.
"Aku kan menyadarkanmu dari godaan syaitan. Orang melamun dengan tatapan kosong mudah dirasuki," jawab Li santai.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu terima kasih. Tapi apa kau lupa bahwa aku lebih menyeramkan dari syaitan? Sebelum merasuki diriku ia sudah lari duluan!"sungut Gerry.
"Ya … ya aku kan hanya mencegah. By the way kau ngelamuni istrimu tadi?"tanya Li.
"Kau pasti merindukan Mira kan Ger?"timpal Elina.
Wajah garang Gerry berubah menjadi sendu, mengangguk pelan.
"Ku pikir setelah menikah aku akan melewati natal dan tahun baru bersama dengan Mira, tapi nyatakan aku merayakannya dengan kalian," ujar Gerry.
Elina dan Li saling tatap. Ya tidak salah juga Gerry mengeluh. Secara mereka masih terhitung pengantin baru. Masih masa-masa bucin akut. Tapi malah terpisah sementara. Jika Li atau Elina berada di posisi Gerry pasti akan sama juga.
"Jadi kau keberatan merayakan tahun baru bersama kami?"tanya Elina dengan nada menggoda.
"Tidak! Tidak sama sekali. Aku hanya merasa tidak lengkap saja," jawab Gerry cepat.
"Hm, mengapa tidak meminta Karina menyuruh Mira khusus malam ini?"saran Li.
Li tidak tega juga melihat Gerry yang sering melamun.
"Aku tidak ingin mengganggunya," sahut Gerry.
"Ada benar juga. Karina kan lagi melakukan penelitian. Ku rasa suaminya pun ia abaikan sementara," timpal Elina menyetujui. Li ikut mengangguk.
Ketiga orang itu saling tatap.
"Lantas apa yang akan kita lakukan sekarang?"tanya Gerry.
"Apalagi selain bersiap untuk pesta," sahut Li dan Elina bersamaan.
*
*
*
Ujian Satya selama tiga hari untuk mendapatkan restu pernikahan dari Tuan Adiguna. Selama tiga hari tersebut Satya menjalani ujian yang tingkat kesulitannya ia sebut manis-manis jambu.
Hari pertama, Satya menjadi pembantu di kediaman Adiguna. Begitu tiba, Satya langsung disuruh memasak sarapan tanpa dibantu oleh siapapun. Dilanjut dengan menyapu, mengepel hingga membersihkan kebun.
Pulang-pulang Satya mengeluh sakit pinggang. Pekerjaan rumah memang bukan hal baru baginya, tapi jika mendadak ya tubuh pasti kaget.
Hari kedua Satya berbelanja bulanan, jika di mall sudah biasa ini disuruh di pasar tradisional yang luasnya melebihi mall. Bahan-bahan yang dicaripun lumayan sulit.
Hari ketiga, Satya melawan orang - orang terbaik Tuan Adiguna. Walaupun mempunyai bela diri yang mumpuni, Satya tetap kewalahan. Meskipun pada akhirnya ia berhasil tapi wajah tampan serta tubuh bagusnya babak belur. Alhasil Satya pulang diantar oleh orang Tuan Adiguna.
Kini Satya masih terbaring di ranjang dengan beberapa bekas pukulan yang masih terlihat. Ia bukannya sedang dirawat tapi sedang istirahat.
"Wah-wah … lihatlah calon suami yang berjuang keras demi restu kini terbaring lemah di ranjang."
Darwis masuk dan langsung melayangkan godaan pada Satya.
"Berisik!"ketus Satya.
"Bagaimana keadaanmu?"tanya Darwis. Satya beringsut duduk.
"Apalagi selain sehat? Rasa sakit yang ku terima tidak sebanding dengan rasa bahagia yang aku rasakan. Akhirnya aku akan mengakhiri status single ini."
Satya malah senyum-senyum sendiri seraya menatap langit-langit kamar.
"Oh ya? Ya kau akan mengakhiri masa single dengan anak kecil. Kau harus kuat iman dan kuat melawan nafsu," pesan Darwis.
Satya menatap Darwis dengan mengeryit tipis.
"Tergantung," jawab acuh Satya kemudian.
Darwis mendengus.
"Terserahmulah! Toh itu rumah tangga kalian nanti. Aku berharap kelak kalian bahagia," putus Darwis. Satya tersenyum lebar.
"Thank you, Brother."
Kedua pria itu berpelukan. Tanpa mereka sadari, Rian sedari tadi mengintip di pintu. Ia tersenyum masam karena sebentar lagi hanya ia yang single.
Semoga aku kuat melihat mereka nanti, batin Rian, masuk dengan wajah kusut.
"Eh ada yang cemburu nih," ledek Darwis.
"Hm." Rian menjawab dingin.
"Cepatlah cari pasangan. Usiamu sudah hampir kepala 3. Jika kau menikah di usia tua kau akan sulit punya anak nanti," ucap Satya.
Mata Rian melebar.
"Dari mana ceritanya? Bahkan kakek-kakek saja masih bisa buat anak," bantah Rian cepat, tapi dengan wajah sedikit takut.
"Ah benar juga. Kakeknya Arion masih bisa punya bayi yang lucu," setuju Darwis.
__ADS_1
"Jadi?"tanya Satya.
"Apalagi selain harus mencari pasangan? Memang jodoh enggak ke mana tapi kalau tidak dicari kapan dapatnya?"sahut Rian, tersenyum.