
"Nyonya, saya tidak menyangka Anda begitu luar biasa," ujar Didi dengan semangat pada Karina.
Ya sopir yang Arion tugaskan untuk Karina adalah Didi. Pria muda yang pernah menjadi sopir sementara Karina. Juga pernah menjadi sasaran kejahilan Karina.
Kartu akses yang Karina blokir ketika Didi tidak menjadi sopirnya lagi, Karina aktifkan kembali.
Karina yang sibuk dengan melihat jadwalnya hari ini mengangkat kepala, menatap lurus ke depan.
"Bagaimana kabarmu?"tanya Karina datar.
"Saya baik-baik saja, Nyonya. Anda sendiri?"tanya Didi balik.
"Seperti yang kau lihat," jawab Karina.
"Kemana saja kau selama ini?"tanya Karina penasaran.
Pasalnya setelah kakinya sembuh, Didi tidak menjadi sopirnya lagi. Arion mengatakan bahwa Didi mempunyai pekerjaan lain.
"Saya?"
Didi merasa senang karena Karina memperhatikan dirinya.
"Saya membuka usaha butik, Nyonya. Ah ini adalah ide Nyonya bukan?"
Didi menjawab ringan.
Karina mengingat.
"Oh yang itu. Baguslah," sahut Karina.
Karina kembali menatap layar tablet.
"Mengapa kau terus melirikku? Kau suka padaku?"
Didi terkesiap. Agaknya iya lupa bahwa semua indera Karina sangat sensitif dan tajam.
"Eh bukan begitu Nyonya. Saya hanya tidak menyangka bisa berkerja untuk Nyonya lagi. Saya merasa sangat terhormat bisa bekerja untuk wanita sekuat biasa Anda. Mengenai suka, saya sudah punya tambatan hati. Saya sudah menikah Nyonya," bantah Didi cepat.
Karina mengeryit tipis, masih tidak percaya. Didi menyadari hal tersebut.
Dengan cepat Didi mengambil handphone dan menunjukkan wallpaper yang tak lain adalah sebuah foto pernikahan. Karina mengangguk setelah memastikan itu adalah foto Didi dan seorang wanita yang bergandengan mesra di pelaminan.
"Isteriku seorang polwan, Nyonya. Kami menikah sekitar setengah tahun lalu. Sebenarnya saya ingin mengundang Anda dan Tuan, tapi saya takut undangan saya tidak digubris. Kalian adalah orang-orang berpengaruh sedangkan saya adalah pekerja kecil," cerita Didi dengan nada rendah.
Karina kembali menautkan kedua alisnya.
"Tanpa orang kecil, kami bukanlah apa-apa. Kau pernah menjadi orangku. Seharusnya kau kirimkan saja undangannya. Tapi ya sudahlah. Semua sudah terjadi. Semoga kalian bahagia."
"Terima kasih, Nyonya. Maaf atas ketidakpercayaan diri saya," ujar Didi.
*
*
*
Setibanya di bandara, Bayu, Syaka dan anak-anak lain kembali berbaris untuk masuk ke dalam pesawat. Karina melepas kepergian mereka dengan melambaikan tangan. Setelah sebelumnya Karina menepuk satu-persatu bahu para anak.
Karina tersenyum kecut mengingat dalam waktu yang tidak ditentukan ia tidak akan mendengar suara Bayu lagi.
Li dan Gerry mendekat.
"Kau langsung ke perusahaan?"tanya Li dengan wajah yang menyiratkan kekhawatiran.
"Ya. Hari ini meluncurkan proyek dengan perusahaan China," jawab Karina.
Didi sigap membukakan pintu mobil.
"Oh yang kerja sama dengan perusahaan game itu kan? Kalau tidak salah namanya … Zhi Yi Animation," terka Gerry.
Karina mengangguk.
"Aku berangkat, ayo Didi," pamit Karina masuk ke dalam mobil.
Didi menutup pintu mobil untuk Karina kemudian menuju kursi kemudi.
Li dan Gerry membungkuk hormat ketika mobil melaju pelan meninggalkan bandara.
"Ger," panggil Li lirik.
"Hm," sahut Gerry.
"Apa kita berangkat ke pernikahan Satya?"tanya Li meminta pendapat Gerry.
"Tidak. Hari pernikahannya bertepatan dengan peresmian kapal persiar. Kita penanggungjawab. Kita tidak bisa pergi. Toh Karina juga tidak pergi. Kita lihat saja dari siaran langsung," sahut Gerry acuh.
"Baiklah. Terserahmu saja," balas Li merangkul Gerry.
"Aku tahu pasti alasannya tidak mau pergi," bisik Li yang dijawab senyum tipis Gerry.
__ADS_1
*
*
*
Acara peluncuran produk terbaru dilaksanakan di sebuah gedung teater yang termasuk jabatan gedung mewah di kota Shanghai, China.
Di panggung, terlihat CEO Zhi Yi Animation tengah mendemonstrasikan produk yang akan mereka luncurkan sebentar lagi.
Game ini bergendre action yang mengambil latar belakang utama zaman China kuno. Karena berkerja sama dengan KS Tirta Grub, game ini tidak hanya menyediakan satu latar belakang, akan tetapi juga zaman kuno negara lain. Perpaduan sejarah yang telah dikoreksi secara ketat ada di dalamnya.
Para pemain nantinya tidak hanya sibuk bertarung untuk meningkatkan level tetapi juga akan mendapat pengalaman layaknya kehidupan nyata. Dunia nyata dalam dunia virtual.
Di tempat duduk bagian VVIP, perwakilan KS Tirta Grub pusat dan direktur cabang KS Tirta Grub di China duduk berjajar menyaksikan dengan menyimak penjelasan dari CEO muda itu.
Peluncuran tersebut berlangsung lancar dan sukses. Tepuk tangan meriah memenuhi gedung.
"Congratulation!"ujar perwakilan KS Tirta Grub.
"Thank you. Congrats for you too," jawab CEO Zhi Yi Animation.
"Congratulations Zhi Yi Animation and KS Tirta Grub!"
*
*
*
Di tempatnya, Karina tersenyum lebar menyaksikan acara peluncuran dari layar laptop. Ia turut bertepuk tangan ketika pita merah digunting.
Proyek ini masuk ke dalam jajaran proyek sukses perusahaan. Dalam waktu beberapa jam saja, sudah lebih dari 200 ribu orang menginstal game tersebut. Target Karina, sampai matahari terbenam sudah ada 2 juta perangkat yang menginstalnya.
Awal tahun yang menyenangkan juga menyebalkan.
Karina sedikit bernafas lega. Selesai peluncuran, Karina kembali meeting dengan Zhi Yi Animation. Disusul dengan meeting-meeting lainnya.
"Nona, putra pertama dari Presdir Aditya Company tewas bunuh diri di sebelum di hukum gantung. Apakah Anda ingin melayat?"
Sasha langsung memberi tahu Karina begitu Karina selesai meeting dengan jajaran dewan direksi.
Karina tertegun. Ia lantas mendengus.
"Untuk apa aku melihatnya? Kirimkan saja papan duka cita. Ah ya bagaimana kabar putra keduanya?"
Karina sedikit penasaran itu.
Karina tersenyum smirk.
"Aku hanya kasihan pada wanita itu. Ah ya apa Helian sudah mengirim laporan?"tanya Karina.
"Untuk itu, Aleza yang menanganinya, Nona," jawab Sasha.
"Suruh Aleza menghadap padaku!"titah Karina.
Sasha mengangguk kemudian menunduk hormat dan keluar dari ruangan Karina. Tak perlu waktu lama, Aleza datang dengan membawa beberapa berkas, tak lupa tablet miliknya selalu dibawa.
"Nona, Helian mengatakan bahwa ada beberapa investor yang tidak terima dengan pergantian mendadak CEO. Selain itu, alasan Tuan Muda Enji menunjuk Helian juga tidak jelas dan terkesan disembunyikan. Para Investor mengancam akan menarik investasi mereka jika mereka tidak berbicara dengan Tuan Muda Enji," papar Aleza.
"Heh? Berbicara dengan Enji? Sampai mulut mereka berbusa pun itu tidak akan terjadi sebelum Enji sadar! Apa mereka tidak tahu bahwa Helian adalah salah satu GM terbaik KS Tirta Grub? Dan beraninya mereka mengancam dengan investasi kutu mereka itu?!"
Karina menggebrak meja kesal.
"Nona, Helian sudah mengurus semuanya. Para Investor yang mengancam itu sudah didepak dari perusahaan serta diblacklist oleh perusahaan Tuan Muda Enji dan perusahaan ini," ujar Aleza yang berhasil meredakan amarah Karina.
"Helian tetaplah Helian. Kerja bagus!"
"Lantas bagaimana dengan yang pertama?"tanya Karina.
"Emm mengenai hal tersebut, sebaiknya Nona menanyakan hal tersebut langsung Helian. Dilaporan yang dikirimnya tidak ada hal tersebut," jawab Aleza takut.
"Ck. Baiklah. Kau sudah selesai. Keluar dan panggilkan Lila dan Raina!"tegas Karina.
"Baik, Nona."
Aleza menunduk dan bergegas keluar.
"Heh dia tidak menyertakan laporan mengenai wanita itu. Helian jangan sampai aku melihat dan mendengarmu bermain api dengan wanita pilihan adikku!"gumam Karina dengan mata menyalang.
"Nona."
Lila dan Raina masuk bersama dan langsung menunduk hormat pada Karina.
"Peresmian Tirta Garden sudah kalian atur kan?"
Karina menyangka dagu dengan kedua tangan.
"Sudah Nona," jawab Raina memberikan proposal mengenai peresmian Tirta Garden.
__ADS_1
"Rincian biaya pesta?"
Lila maju dan memberikan laporannya.
"Wah angkanya membuatku sakit mata!"kekeh Karina.
"Nona itu hanya setara dengan satu mobil lamborghini venemo milik Anda," ujar Lila yang mendapat sikuan dari Raina.
"Ya kau benar," sahut Karina menutup laporan biaya.
Karina kemudian membaca proposal peresmian.
"Kalian mengundang pemerintah dan militer?"
Karina menyipitkan mata melihat ada nama Presiden beserta wakil, ketua dan wakil ketua lembaga tinggi negara, jenderal negara, kepala kepolisian negara, serta gubernur dan bupati.
"Tidak sekalian sekalian saja kalian undang camat, lurah, rt/rw?"
"Eh bukankah itu sudah biasa, Nona?"heran Raina.
"Dan Nona juga sudah setuju," timpal Lila.
"Ini hanya peresmian taman, ckckck kalian membuang banyak uang."
Lila dan Raina berpandangan bingung.
"Kalau begitu akan segera kami revisi, Nona," ujar Raina cepat.
"Direvisi? Kalian mau membatalkan undangan yang telah dikirim? Nama baik perusahaan bisa jatuh. Huh ya sudahlah. Tidak masalah. Jangan direvisi. Kalian atur acaranya dengan baik."
Karina mengembalikan proposal yang sebelumnya telah ia tandatangani kepada Lila.
"Satu lagi. Kalian handle perusahaan, setelah makan siang aku akan pergi. Jika ada meeting penting, alihkan saja ke hari lain," tegas Karina.
"Baik, Nona."
Lila dan Raina menjawab serentak dengan wajah datar, menangis dalam hati.
*
*
*
Setelah menyantap makan siangnya, Karina langsung meninggalkan ruangan menuju basement pribadinya. Setibanya di basement, Karina mengedarkan pandangan mencari keberadaan Didi. Karina menemukan Didi tengah duduk di bangku pojok, terdengar suara tawa bahagia.
Karina penasaran, tanpa suara Karina melangkah mendekati Didi. Kini Karina berada di belakang Didi. Ternyata Didi video call dengan seorang wanita yang Karina kenali sebagai istri Didi.
Didi tidak menyadari kehadiran Karina sebelum istrinya bertanya. Didi langsung menoleh ke belakang, sontak ia terkejut dan langsung berdiri.
"Kenapa?"tanya Karina heran melihat wajah panik Didi seperti orang yang kepergok berbuat salah.
"Selesaikan saja pembicaraanmu dengannya. Aku akan menunggu di mobil," ujar Karina, berbalik dan melangkah untuk masuk ke dalam mobil.
"Mas?"
Panggilan dari istrinya membuat Didi tersadar.
"Dia bosmu?"
Wanita yang tampak mengenakkan seragam polisi itu bertanya dengan wajah mengintimidasi.
"Ya. Dia bosku. Sayang aku sudahi dulu ya, aku harus kembali bekerja," ujar Didi merasa bersalah.
"Ya sudah. Tidak apa. Bekerjalah dengan semangat. Jangan lupa bawakan pesananku ya. Love you," ujar istri Didi.
"Love you too. Bye Sayang," jawab Didi.
Didi segera menyimpan handphone begitu video call berakhir. Didi lekas menuju mobil. Di dalam mobil, ia mendapati Karina dengan berbicara dengan Arion via telepon.
Didi masuk tanpa menimbulkan suara keras. Tujuan Karina sudah tertera dalam sistem navigasi. Didi langsung mengemudikan mobil keluar basement menuju tujuan.
"Benarkah? Kau menang tender lagi? Selamat untukmu, suamiku," ucap Karina dengan mata berbinar.
"Suamiku memang hebat. Oh ya kapan pembangunan tol itu dimulai?"
"Bulan depan ya. Hm peluncurannya berlangsung lancar. Apakah kau tidak menyaksikan siaran langsungnya?"tanya Karina.
"Bagus! Kalau begitu kita bisa menjadi pasangan. Ar kau harus meluangkan waktu malam ini untuk bermain denganku!"
"Baiklah. Aku akan menagihnya nanti. Aku tutup ya," pamit Karina.
"Waalaikumsalam," jawab Karina.
Karina mendengus senyum. Padahal Karina yang ingin menutup malah Arion dulu yang mengucapkan salam. Didi menoleh sekilas ke belakang melihat wajah Karina yang berseri-seri.
"Cinta Nyonya dan Tuan semakin kuat saja," tutur Didi.
"Tentu saja. Sebuah ikatan yang dibina dengan ketulusan akan semakin kuat dari hari ke hari," jawab Karina tersenyum lebar.
__ADS_1
Syukurlah mereka tidak bertengkar seperti dulu. Jika tidak pasti aku disuruh memanjat pohon kelapa lagi, batin lega Didi, tersenyum.