Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 248


__ADS_3

Pagi sekali sebelum matahari terbit, dan sesudah azan Subuh berkumandang, Jesica mengemudikan mobil berwarna hitam sebagai mobil kerjanya itu menuju apartemen Enji. Sesuai dengan kontrak yang telah ia setujui, ia menjadi asisten pribadi Enji. Jesica juga mengajukan permintaan yaitu gajinya dibayar dimuka, alasannya untuk membayar biaya rumah sakit dan sisanya membayar hutang sang ayah.


Setibanya di pintu masuk apartemen, Jesica menunjukkan kartu akses sebagai jalannya masuk, apartemen yang termasuk kawasan elit ini mempunyai pengamanan yang ketat. 


Kini, Jesica melangkah menyusuri lantai di mana kediaman Enji berada. Sesekali ia melihat kertas alamat Enji. Jesica berseru gembira saat menemukan pintu apartemen Enji. Dengan segera ia menekan bel. Tak lama, pintu dengan mekanisme membuka ke samping itu terbuka. Jesica mengeryit tidak mendapati Enji setelah membuka pintu.


"Tuan?" panggilnya.


"Apa Anda Nona Jesica?" Jesica menundukkan kepalanya. Ia tertegun mendapati Bayu yang bersandar pada dinding dengan tatapan menyelidik. 


"Ah, benar. Saya Jesica, Tuan Muda," jawabnya. Jesica ingat bahwa Enji memberitahunya bahwa Enji memiliki anak laki-laki berusia delapan tahun.


"Baguslah. Ayo masuk, jangan lupa tutup pintunya," ucap Bayu kemudian berbalik dan melangkah menjauh. Jesica mematung sesaat. Semudah itu ia diterima? Jesica kira Bayu akan menentang, atau memarahi atau mengerjainya, nyatanya walaupun ketus, masih dibatas wajar. Hanya satu, nadanya itu lebih ketus dari Enji. 


"Apa Anda tuli?" Bayu menunjukkan wajahnya dari balik dinding dengan wajah juteknya melihat Jesica yang mematung.


Jesica terkesiap, ia segera masuk, menutup pintu dan menyusul Bayu. Hatinya menggerutu kesal, nyatanya tetap sama. Buah tidak jatuh dari pohonnya kecuali kalau di bawahnya sungai.


Jesica menilik sekitarnya mencari keberadaan orang lain, alias Enji. Jesica menerka bahwa Bayu bangun di atas jam ia bangun, dan memang benar. Semenjak insiden terlambat itu, Bayu memutuskan tidur di kamar sendiri tidak bersama Enji. Lagipula ia sudah termasuk dewasa, dari pemikiran. 


"Ehm, apa yang bisa saya lakukan, Tuan Muda?" tanya Jesica memecah suasana sebab sudah lima menitan Bayu tidak berbicara dan fokus pada laptop di atas meja. 


Bayu melirik Jesica sekilas.


"Apa Pria Tua itu tidak memberitahu apa tugasmu?" sahut datar Bayu. Jesica tersentak kaget, bukan karena pertanyaan Bayu, akan tetapi penyebutan nama Enji yang dilabeli Pria Tua. 


Apa matanya buta atau minusnya terlampau parah? Wajah Tuan Enji kan baby face, awet muda, putih, mulus, darimana coba nampak tuanya? Eh, tunggu Tuan Enji usianya baru 24 tahun, anaknya 8 tahun. Wow, daebak! Sejarah baru, andai aku wartawan pasti namaku akan melambung, celetuk Jesica dalam hati.


Bayu mengeryit melihat wajah melamun Jesica. Matanya tampak berkilat-kilat dengan senyum aneh.


"Apa yang Anda pikirkan?" tanya Bayu menyelidik. Jesica tersadar.


"Menjemput Tuan dan Tuan Muda, membuat sarapan pagi, menjemput Tuan Muda, lakukan setelah ada perintah," jawab Jesica lancar. Bayu mendengus kesal.


"Ck, sepertinya aku salah orang. Cepatlah ke dapur lalu lalu bangunkan Pria Tua itu," cercah Bayu masih dengan nada ketusnya. Jesica mengangguk dan segera menuju dapur. Bayu menatap punggung Jesica dengan tatapan sulit diartikan kemudian mengulas senyum kecil.


Di dapur Jesica bergulat dengan alat-alat dapur untuk membuat sarapan sederhana yaitu nasi goreng. Sarapan legenda ini sudah menjadi menu sarapan kebanyakan orang. Hanya dengan nasi, telur, kecap, cabai, bawang, garam, penyedap, dan tambahan ebi, dapat menghasilkan sesuatu yang lezat, apalagi jika ditambah bahan-bahan lain, misal seefood dan sebagainnya, asal jangan racun, nikmat enggak sekarat iya.


Dalam waktu dua puluh menit, dua porsi nasi goreng dengan tambahan telur mata sapi setengah matang tersaji di atas meja makan. Bayu menoleh ke arah dapur sebab indera penciumannya menerima rangsangan menggoda. Ia yang baru saja selesai memainkan laptopnya segera menuju meja makan dengan laptop di tangan.


Di sana ia mendapati Jesica tengah memotret sarapan buatannya dari beberapa sisi.


"Apa Anda seorang photografer?" tanya Bayu. Jesica menyimpan handphonenya dan tersenyum canggung terhadap Bayu.

__ADS_1


"Itu hobi saya, Tuan Muda. Jika hasilnya bagus, saya bisa menjualnya. Lumayan untuk tambahan," jawab Jesica apa adanya. 


"Oh, aku akan ke kamar, Anda bangunkan Pria Tua itu, matahari sudah beranjak naik dia masih stay di pulau mimpinya," titah Bayu. Jesica mengangguk. Ia melihat Bayu memasuki kamarnya dan segera mengetuk pintu yang ia yakini kamar Bayu.


Setelah beberapa saat mengetuk pintu dan tidak ada sahutan, Jesica mendengus. Ia berniat memutar handle pintu, tiba-tiba pintu sudah terbuka duluan. Menampilkan Enji dengan wajah kesal tengah mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Jesica menelan ludah kasar dan segera menutup mata saat matanya mendapati enam roti mengkilap di balik handuk kimono Enji mengintip malu-malu. Apalagi batas handuk di atas lutut, astaga jangan sampai Jesica mimisan. 


Jesica mengintip dari sela jarinya, leher Enji, dan rambut basah, oh astaga, pemandangan yang menyegarkan sekaligus mendebarkan.


"Apa ada?" tanya Enji datar.


"Tuan, sarapan sudah terhidang. Saya diminta Tuan Muda untuk membangunkan Tuan. Saya kira Anda belum bangun," jawab Jesica dengan terbata.


"Itu aku tahu. Maksudnya ada apa sehingga kamu menutup mata. Apa kau takut padaku?" jelas Enji. Jesica semakin malu. Apakah Enji tidak tahu ia sedang malu? Matanya juga ternoda. Jesica membeku, darahnya seakan berdesir hebat merasakan tangan Enji berada di dagunya. 


"Saya, saya … uhm bisakah Anda berpakaian normal terlebih dahulu? Tubuh Anda, terlalu terbuka," jawab Jesica. Enji terkekeh. Ia malah mendekatkan wajahnya ke wajah Jesica, menghembuskan nafas di sana.


Wajah Jesica panas dan semakin memerah. Sampai-sampai Enji melepaskan pegangannya di dagu Jesica.


"Ternyata kau pemalu, santai saja. Ke depannya kamu akan sering melihatku begini, kemungkinan juga melihatku tanpa busana," ujar Enji dengan santainya. Tidak memperdulikan reaksi Jesica yang sudah tidak normal. Enji malah tertawa melihat cairan kental berwarna merah keluar dari sela-sela jari Jesica.


"Hahaha. Kau ini lucu sekali. Bersihkan mimisanmu dan lain kali pasang iman yang kuat," ledek Enji, menutup pintu. Jesica menurunkan ke sepuluh jarinya dari wajah dan mengatur nafasnya yang menderu.


Sial! Mengapa dia diciptakan begitu menggoda? runtuk Jesica dalam hati segera mencari kamar mandi. Bayu yang meyaksikan adegan itu, tersenyum sinis.


"Dia juga tidak kuat iman. Ada saja wanita itu berpakaian sepertinya, aku yakin dia akan lebih parah reaksinya. Kemungkinan juga aku akan punya adik," gumam Bayu.


"Aduh malu sekali. Kalau saja aku tidak terima gaji di muka, pasti aku sudah mengundurkan diri. Bisa anemia aku kalau setiap hari mimisan," omel Jesica pada dirinya sendiri. Ia segera membasuh wajahnya dan bergegas ke meja makan. Di sana ia mendapati Bayu dan Enji sedang menyantap sarapan buatannya. Jesica menerka berapa lama ia di kamar mandi.


Jesica berdiri di belakang kursi Bayu dengan wajah menunduk. Bayu acuh, sedangkan Enji tersenyum tipis.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya Enji di sela-sela sarapan. Jesica menggeleng.


"Duduklah dan sarapannya bersama kami. Kau buat porsi lebih kan? Anggap saja permintaan maafku atas hal tadi," tutur Enji. Kebetulan meja makan ini terdiri atas 3 kursi. Jesica masih berdiri diam dengan mata melirik Enji dan Bayu serta wajah yang kembali bersemu merah. Apalagi melihat Enji yang menatapnya.


"Duduklah, jangan ragu. Kita harus segera berangkat. Aku tidak ingin terlambat karena mengantarmu ke rumah sakit." Bayu angkat bicara. Jesica mengangguk pelan. Ia memang punya penyakit maag. 


Dengan canggung, ia duduk bergabung dan menyantap nasi gorengnya dengan sangat perlahan seperti slow motion. Diam-diam, Bayu tersenyum. Enji juga tersenyum. Mereka saling lirik dengan tatapan mendambakan.


Begini rasanya sarapan dengan anggota yang lengkap? Sederhana namun berkesan, batin keduanya dengan hati menghangat.


*


*

__ADS_1


*


Jesica menyetir dengan kecepatan sedang menuju sekolah Bayu. Di belakang, Enji duduk sembari melihat handphonenya. Kacamata yang bertengger manis di hidungnya menambah kesan mempesona. Apalagi dua kancing atas yang terbuka. Di samping Enji, Bayu duduk sembari mendengarkan lagu dengan handseat dan buku di tangan. Jesica agak heran sebab yang dibaca adalah buku paket pelajaran matematika untuk kelas enam. Tapi, bagi keluarga seperti Enji bukan hal aneh. Malah didukung.


"Berhenti melirik. Kami tahu kami tampan. Perhatikan jalan!" peringat Enji tanpa berpaling dari handphonenya. Jesica mendatarkan wajahnya dan menjawab ya.


*


*


*


Tiba di depan gerbang sekolah Bayu, Bayu segera berpamitan dan turun dari mobil. Sebelum melangkah lebih jauh, Bayu berbalik badan dan tersenyum pada Enji. Enji membalasnya walaupun ada nuansa aneh. 


"Jalan," ucap Enji. Jesica kembali menjalankan mobilnya.


Setibanya di perusahaan, beberapa karyawan menatap Enji dan Jesica dengan wajah penasaran. Memang, ada beberapa yang belum mengetahui tentang tugas ganda Jesica.


"Siapa wanita itu? Mengapa mengekor di belakang Presdir?"


"Apa dia asistennya?"


"Beruntung sekali."


"Apa kamu tidak tahu dia tugas ganda?"


"Benarkan? Pasti dia punya tenaga ekstra!"


"Baguslah, jadi sekretaris Etta dapat bekerja dengan serius!"


"Shut, jangan sampai Presdir mendengar, kalian masih mau lama bekerja kan?"


"...."


"...."


"Tentu saja! Jika tidak kami harus membayar denda!"


 Jesica merasa canggung menjadi perhatian dan tanpa sengaja menabrak punggung Enji yang berhenti mendadak di depan lift. Enji tetap kokoh, Jesica terhuyung ke belakang beberapa langkah. Enji berbalik dan menatap datar Jesica yang mengusap dahinya. Enji lalu menatap datar pada karyawan yang berbincang tentang Jesica. 


Jesica yakin Enji akan marah setidaknya memberi peringatan. Di luar dugaan, Enji malah menebar senyum yang membuat hati karyawan wanita meleleh. Mereka malah salah tingkah sendiri.


"Dia memang programmer dan asisten saya. Saya tekankan pada Anda jangan ada yang bergosip tentangnya. Kebaikannya bisa diperbicarakan, tapi jangan keburukannya. Sama saja kalian memberi ucapan jelek terhadap perusahaan. Kalian adalah satu. Jadi bersatulah. Persaingan adalah hal yang wajah, akan tetapi bersainglah secara sehat. Cemburu boleh, cemburulah pada mereka yang berhasil karena keringatnya sendiri bukan karena suapan. Jadikan persaingan sebagai ajang unjuk diri dan kemampuan, bukan ajang permusuhan dan keretakan. Kalian adalah akar dari perusahaan ini. Saya adalah otak, dan kalian adalah penggeraknya. Jadi saya tidak mau salah satu di antara kalian ada yang penyakitan dan berdampak pada penggerak. Paham?"tegas Enji memberi nasehat. Seketika, hati para karyawan menghangat dan mengangguk mantap. Jesica tampak mematung. Jesica sungguh terkejut, ia kemudian ingat ucapan Enji beberapa hari lalu. 

__ADS_1


Perusahaan saya mengedepankan etika baru akademik. Bagus akademiknya belum tentu baik moralnya.


Jesica tersenyum. Enji segera berbalik dan masuk ke dalam lift diikuti oleh Jesica. Sesampainya di ruangannya, Enji meminta Jesica membuatkannya kopi. Sekretaris Etta mendekat dan memberikan jadwal acara Enji hari ini. Setelah menyajikan kopi, Jesica bergegas menuju ruangannya di lantai di bawah lantai Enji. Lantai empat. 


__ADS_2