
"Apa katamu?"tanya marah Elina menunjuk Karina. Arion sontak melotot tajam ke arah Elina. Elina tersentak, memicingkan matanya meneliti Arion.
"Kau perawan tua. Adikku telah meninggal karena penyakit jantung. Dia ini adalah suamiku."terang Karina mengait lengan Arion. Arion menetralkan emosinya. Elina menghembuskan nafas kasar.
"Hmm … aku tahu. Tak ku sangka dia ikut."sahut Elina santai. Itu kebenaran, untuk apa dia marah? Kekerasan hatinya membantah ucapan Karina malah akan membuat Karina semakin intens meledeknya. Tentu saja Elina tak mau. Bisa hilang harga dirinya karena itu.
"Em … izin iklan, ini mau battle apa berdebat? Atau bagaimana?"tanya Amoy bingung. Pasukan kedua belah pihak telah berhadapan dengan senjata lengkap. Pimpinan mereka malah asyik adu mulut.
"Battle mulut!"jawab Elina dan Karina serentak dengan nada membentak padaa Amoy. Amoy mundur beberapa langkah dan mengangguk pelan.
Jadi apa gunanya aku membangunkan pasukan yang lelap tertidur? Kasihan mereka.batin Amoy sedih menatap pasukan yang ia pimpin.
"Sayang, katanya mau battle kok malah adu mulut?"tanya Arion berbisik pada Karina. Sedangkan Li, Gerry, Rian dan Satya hanya diam menyaksikan. Mereka sudah tahu rencananya. Li menatap Elina serius dalam diamnya. Ia memalingkan wajahnya saat Elina menyapu pandangannya kearahnya. Terlihat Elina juga menatap intens dirinya.
Mengapa dia menatapku? Apa dia belum melepaskanku? Oh hati janganlah melompat di dalam sana. Aku takut nanti kau malah nyungsup di tanah bukan ditangkap olehnya.batin Li, ia kembali menatap balik Elina. Kini mereka berdua bertatapan dalam diam.
"Kan adu mulut juga battle."jawab Karina santai berbisik pada Arion.
"Lalu mengapa kau membawa banyak pasukan?"tanya Arion lagi, dengan berbisik juga. Arion yang tak tahu rencananya sudah pasti tak mengerti.
"Untuk berjaga saja. Apabila nanti adu mulut kami tak menemukan jalan atau ada kata perang senjata."jawab Karina. Arion mengangguk mengerti. Perkiraannya meleset sekarang.
"Elina, aku kemari bukan tanpa tujuan."ucap Karina mengawali pembicaraan dengan serius. Karina melirik Elina yang masih diam menatap bawahannya. Karina tersenyum.
"Elina, kau mendengarku?"tanya Karina lagi dengan nada agak keras. Elina mengalihkan pandangannya menatap Karina.
"Hmm … apa tujuanmu?"tanya Elina datar.
Apa lagi yang mau wanita es ini ambil dariku?batin Elina bertanya-tanya.
"Aku mau kau tunduk padaku dan Pedang Biru pastinya."jawab Karina santai, memasukkan kedua tangannya ke kantong celana sportnya. Arion dan kelompok Cinnamon membelalakan mata mereka.
Terdengar suara gaduh di pasukan kelompok Cinnamon. Amoy mengepalkan tangannya emosi.
Wanita es ini meminta kami tunduk? Ini lebih menyakitkan daripada kalah dalam peperangan. Artinya kami mengaku kalah sebelum bertarung. Cih! Semoga saja Ketua tidak setuju.batin Amoy geram. Menatap Karina dengan sorot mata tertajamnya.
Karina menoleh ke arah Amoy ketika merasakan aura membunuh, Karina tersenyum ke arah Amoy, namun matanya menatap balik sorot mata tajam Amoy dengan tatapan tajamnya.
Ikuti saja alurnya, jenderal. Mungkin itulah arti tatapan tajam Karina.
"Hahahaha … apa yang kau katakan? Aku tunduk padamu? Kau sedang bermimpi kah Queen? Bangun Karina, waktunya bangun. Jangan bermimpi terus. Jatuh sakit loh. Aku tahu kau tahan banting tetapi apa kau tahan rasa malu? Hahaha … lucu sekali permintaanmu!"Elina tertawa menggelengkan kepalanya kecil.
Kemudian Elina menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya. Karina hanya diam bersantai. Begitupun yang lainnya kecuali Arion yang wajahnya memerah padam.
"Ada yang jatuh tetapi tidak sakit, Elina."suara Li menghentikan tawa Elina. Elina menatap Li dengan menaikkan satu alisnya. Karina menatap dan memegang lengan Arion, menyalurkan ketenangan.
Jangan emosi. Biarkan saja dia tertawa, lihat siapa yang akan tertawa di akhir nanti.arti tatapan Karina. Mereka berbicara melalui ekspresi tubuh.
"Apa itu?"tanya Elina.
"Jatuh cinta."jawab Li mantap.
"Wih … mantap Li. You are the best."ucap Gerry, Rian dan Satya refleks bertepuk tangan. Li tersenyum manis pada Elina.
"Hmm … jatuh cinta memang indah, serasa melayang ke langit ke tujuh. Tapi patah hati sakit loh. Serasa terhempas dari langit ke tujuh kembali ke bumi masuk ke dalam jurang terdalam."sahut Elina yang membuat pasukannya mengangguk membenarkan ucapan Ketua mereka.
Sahutan Elina dibalas tertawaan Karina.
__ADS_1
"Tak ku kira, kau bisa menjadi bucin juga. Kau pernah jatuh cinta dan patah hati bersamaan kah, Elina?"tanya Karina.
"Hmm … jatuh cinta pada Enji, patah hati karena kau membawa Enji kabur, padahal sedetik lagi kami resmi menjadi suami istri. Ku kira dulu dia adalah kekasihmu, sebab Karina berdua tak mirip seperti kakak beradik."terang Elina dengan wajah sendunya. Membuat Karina merasa kasihan di sudut hati.
Li lagi-lagi menatap Elina, namun kali ini dengan tatapan sedikit cinta.
"Ketua, mengapa pembahasannya jadi menyimpang? Kehormatan kita diminta, malah membahas masalah cinta dan masa lalu."tanya Amoy lagi, menyadarkan Karina dan Elina tentang pokok pembahasan mereka.
Elina dan Karina menatap datar Amoy. Tatapannya seakan hendak menelannya setelah dibagi dua.
Oh Tuhan, apa lagi salahku?batin Amoy meratap takut.
"Kau diam saja. Jika ada perintah dariku baru kau bergerak."tegas Elina pada Amoy. Amoy hanya bisa menurut.
"Hmm … aku tak bermimpi Elina. Aku serius. Memintamu menjadi bawahanku tanpa berperang senjata, kecuali mulut. Pikirkanlah baik-baik, ini akan menguntungkan bagi kita berdua. Oh ya, aku belum membuat perhitungan saat kalian mau membunuhku. Kalian ingin dibalas dengan cara apa?"ujar Karina mengeluarkan aura intimidasinya.
Elina terdiam. Karina masih bisa santai dan dengan kepala dingin menanggapi hal itu. Ia juga sempat heran mengapa Karina tak membalas mereka langsung di hari yang sama.
Tetapi tunduk pada Pedang Biru bukanlah jalan bagi mereka. Itu tak pernah terlintas di pikiran mereka. Apa dengan membuat mereka tunduk adalah balasan dari Karina untuk mereka? Elina memijat pelipisnya. Masalah ini tak bisa menggunakan kekerasan ataupun emosi. Kecuali jika tak menemui titik akhir, perang sebenarnya adalah jalannya.
"Lebih baik kita berdua menuju kediamanku dulu. Aku lelah adu mulut berdiri. Kau apa tidak lelah. Setahuku kau sedang berbadan dua."ajak Elina memikirkan cara agar tak menyinggung Karina. Biar bagaimana pun, ia lebih takut bertatap muka langsung dengan Karina daripada saat menyerang Karina secara sembunyi-sembunyi.
"Cepat sekali kau menerima kabarnya. Baiklah. Ayo."ujar Karina, terselip pujian yang membuat Elina tersenyum tipis.
"Queen."Gerry menahan tangan Karina.
"Aku ikut denganmu."ucap Arion tegas menatap Elina. Elina diam sejenak dan mengangguk.
"Tak perlu khawatir. Ada suamiku. Kalian awasi saja mereka agar tak menganggu."ujar Karina menenangkan Gerry dan lainnya. Ia melirik Amoy dan pasukannya.
Gerry sebagai perwakilan mengangguk menurut. Ia melepas tahanan lengan Karina. Karina dan Arion segera melangkah mengikuti Elina yang telah jalan duluan.
Elina menepuk kedua tangannya. Sebagai pelengkap diskusi tak ada salahnya menyajikan beberapa makanan dan minuman.
"Mengapa aku harus tunduk padamu? Aku Ketua, punya pasukan, punya keahlian, punya teknologi dan inovasi yang telah dipatenkan di dunia bawah."tanya Elina setelah menyeruput minumannya.
"Aku tahu. Tetapi apa itu semua di atas Pedang Biru? Kau hanya diakui di dunia bawah, sedangkan Pedang Biru mempunyai hak paten di dunia atas dan dunia bawah. Ditambah lagi dengan bergabungnya Black Diamond dengan Pedang Biru, maka posisi mafiaku semakin kokoh."ujar Karina melirik Arion. Elina membulatkan matanya mendengar nama Black Diamond.
Nama yang telah lama hilang kini diucapkan Karina.
"Apa katamu? Black Diamond? Mafia itu bergabung denganmu?"tanya Elina terkejut.
"Ya. Ketuanya adalah suamiku. Otomatis kami bergabung bukan? Lebih erat daripada kesepakatan."jawab Karina. Arion berdehem.
"Perkenalkan aku Arion Wijaya, saya rasa anda sudah tahu bukan? Dan satu lagi saya adalah leader dari Black Diamond."ujar Arion dengan wibawanya. Membuat Elina menutup mulutnya terkejut.
Kesulitan semakin meningkat, tak merasa kecil namun memang kecil, akan tetapi mereka bukan kecil yang bisa dianggap dan dipandang sebelah mata. Ibarat pepatah kecil-kecil cabe rawit, kecilnya semut rangrang jika menggigit sakitnya bukan main. Semut kecil dapat merobohkan gajah yang besar.
Tapi, dihadapan Pedang Biru yang telah bersatu dengan Black Diamond, Karina ibarat sekarang adalah ratunya semut sedangkan yang mereka adalah bawahannya.
Elina sulit mengambil keputusan.
"Pikirkan baik-baik Elina. Aku bukannya tak mau mengambi jalan perang senjata, tetapi itu akan merugikan kedua pihak kau dan aku. Menang jadi arang kalah jadi abu. Kau sangat peduli pada anggotamu bukan? Aku pun sama. Apa kau tak mau merasakan indahnya berkeluarga? Kau saja belum punya keturunan. Apa kau mau mati dalam kondisi masih perawan tua?"ujar Karina, lagi-lagi mengejek Elina sebagai perawan tua.
"Hmm."Elina hanya berguman menanggapi itu. Tak tersinggung dengan itu sebab apa adanya dan bukannya dia tidak laku, tetapi dia yang pemilih dan dengan kriteria yang mumpuni.
"Sayang, apa dia akan setuju?"tanya Arion berbisik.
__ADS_1
"Perkiraanku iya. Tetapi jalannya masih panjang."jawab Karina. Arion memegang tangan kanan Karina dan menciumnya. Melihat itu, Elina menjadi sedih. Jiwanya meronta menginginkan ia bekeluarga walaupun sampai ia mengandung.
"Jika aku tunduk padamu, sama saja aku merendahkan harga diriku. Aku tak mau dengan kata tunduk namun bergabung denganmu. Aku tak meragukan kekuatanmu tetapi apa kata para pasukanku jika aku langsung setuju tanpa uji kekuatan?"ujar Elina mengesampingkan kesedihannya.
"Mereka pasti akan mengiraku takut padamu. Mereka akan mengira aku lemah dan tak berwibawa. Mereka akan mencibirku."tambah Elina lagi.
Karina tersenyum. Kesempatan itu datang. Elina tak mau tunduk namun bergabung, itupun harus bertarung satu lawan satu antara pimpinan.
Kata bergabung lebih indah daripada tunduk. Jika tunduk bisa saja tunduk di depan, menusuk di belakang. Bergabung, Karina bisa menggabungkan Elina dengan dengan Li, hehehe Karina dapat menangkap tumbuhnya bunga cinta di hati Li dan Elina.
"Baiklah. Kau mau kita bertarung? Jika aku kalah, aku pulang tanpa hasil, jika kau aku menang kau bergabung denganku."ucap Karina mencoba memperjelas maksud Elina.
Elina mengangguk membenarkan ucapan Karina. Karina diam. Arion sontak melarang itu.
"Aku tidak setuju. Istriku tengah hamil. Lebih baik aku saja yang bertarung melawanmu. Aku tak peduli kau wanita, yang pasti jika kau berniat melukai istriku, aku tak akan tinggal diam dan menjadi benteng bagi istriku."tolak Arion tegas. Manatap Elina yang tersenyum miring.
"Ternyata kau memang tak pandang bulu. Prinsipmu yang tak mau melawan wanita pun tak tinggalkan."ledek Elina.
Arion geram. Itu dulu sekarang dia punya tanggungjawab. Dia harus melindungi anak dan istrinya, apapun dan siapapun lawannya!
"Aku setuju."ucap Karina yang membuat Arion menatap bingung Karina.
"Sayang, aku tak setuju. Kau malah setuju. Kau tak memikirkan kau sedang hamil hah?"kesal Arion membentak Karina.
Karina kembali diam. Elina malah memutar bola matanya malas.
"Hmm … aku sudah memperkirakan segalanya. Aku setuju dengan itu."tegas Karina.
Arion mengusap wajahnya kasar. Jika Karina tak mengandung ya bebas. Tetapi … ahgk … rasanya sulit melarang Karina jika Karina sudah berucap.
"Kau bodoh."desis Arion pelan.
"Aku tak bodoh. Percayalah. Aku akan menang dan dia akan baik-baik saja."balas Karina memegang pundak Arion.
"Pewaris darinya harus kuat baik saat di dalam kandungan maupun sesudah lahir, bukankah begitu Queen?"timpal Elina.
"Ar … ayolah. Aku bisa. Jangan terlalu khawatir."bujuk Karina lagi.
"Terserahmu saja. Dilarang pun kau tak bisa. Walaupun aku suamimu, kau jarang sekali mendengarkanku. Ingat surgamu ada di telapak kakiku. Aku kecewa padamu. Kau hanya peduli pada kekuasaan."ucap Arion menepis tangan Karina dari pundaknya yang berlalu keluar kediaman Elina dengan kekecewaan di dalam hati.
Karina membeku. Arion kecewa padanya? Ia hanya peduli pada kekuasaan? Dia hanya menilai sebentar dan itulah hasilnya.
Apa dia tak tahu apa yang aku lakukan adalah untuk melindungi orang-orang yang ku sayang? Apa dia tahu bagaimana perjuanganku selama ini dari aku lahir hingga sekarang?
Bagaimana sakitnya melihat orang yang ku sayang terbujur kaku di hadapanku? Keluargaku mati di tangan kerabatku sendiri? Aku memang sudah mafia di kala itu, tetapi aku belum punya cukup kemampuan dan kekuasaan? Ya, aku memang mulai mengembangkan kekuatan dan kekuasaanku. Salah satu alasannya adalah agar aku bisa melindungi semua yang ku sayang. Sakit Ar. 24 tahun bukan waktu yang singkat. Aku lebih banyak membalut luka daripada mengecap kebahagian.
Batin Karina berkecamuk. Sedih, kecewa bercampur menjadi satu.
Karina menghembuskan nafas kasar. Ia menatap Elina.
"Sepertinya aku harus pulang dengan tangan kosong sebelum bertarung denganmu, Elina. Ketidakpercayaannya padaku adalah kekalahanku. Terima kasih atas waktu dan kesabaranmu. Maafkan ledekanku tadi. Selamat tinggal."ucap Karina bangkit dari kursi dan bersiap keluar dari kediaman Elina.
Karina melangkahkan kakinya, ia mulia menyibak tirai yang memisahkan kediaman dengan halaman.
"Tunggu Karina."Elina menahan kepergian Karina. Karina menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Elina.
"Ya."jawab Karina.
__ADS_1
"Aku bersedia bergabung denganmu tanpa kita harus bertarung. Maafkan aku juga karena telah membuat kau bertengkar dengan suamimu."ujar Elina.