Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 353


__ADS_3

Darwis kembali menghubungi Karina. Karina yang kini berada di perusahaan segera menjawab panggilan via video di layar laptopnya. Bintang dan Biru hari ini tidak ikut ke perusahaan. Kedua pewaris itu berada di markas di bawah asuhan paman-paman mereka serta Nata dan Niki.


Karina melepas kacamatanya. Matanya tampak lelah, mengerjap beberapa kali mengusir rasa lelah itu. Di tempatnya, Darwis menunjukkan wajah khawatir melihat wajah Karina yang lelah. Joya sendiri hanya menatap Karina dengan wajah yang masih pucat, tapi tidak dengan matanya yang sangat bersemangat.


"Karina, are you okay?"tanya Darwis cemas.


Karina tersenyum.


"Bukanlah hal aneh jika aku lelah. Bagaimana kondisimu, Joya?"


Darwis mengesah kesal dengan jawaban Karina. Joya tersenyum.


"Seperti yang terlihat. Aku hanya tinggal masa pemulihan. Karina … terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku," ujar Joya, setulus hati. 


"Aku hanya membantu sedikit, yang menentukan hasilnya adalah Yang Kuasa, juga tekadmu yang tinggi untuk sembuh. Sebelum berterima kasih padaku, sudahkah berterima kasih pada-Nya dan juga pada dirimu sendiri?"


Joya tertawa.


"Baiklah-baiklah. Aku baru saja berterima kasih," sahut Joya.


"Ah ku dengar Enji juga sudah sadar, di mana dia sekarang?"


Joya menilik lekat layar handphone yang menampilkan wajah Karina.


"Dia ada di markas. Sama seperti dirimu, masa pemulihan. Kenapa? Kau penasaran dengan ruang kerjaku?"


Karina memutar layar laptop ke beberapa sudut. Joya berdecak sebal.


"Tidak bisakah kau berhenti memamerkan kekayaanmu?"keluh Joya.


Karina terkekeh.


"Apa yang aku pamerkan? Ruang kerja ini sangatlah sederhana dan senggang. Lihat … aksesorisnya hanya beberapa, tidak seperti ruang kerja ayahmu yang segudang," ledek Karina. 


"Hei-hei jangan bawa-bawa ayahku!"seru Joya mengacungkan telunjuknya pada Karina.


"Karina … biarpun hanya sedikit, aksesori-aksesori itu lebih mahal dari harga ruang kerja mertuaku. Semua itu punya nilai sejarah!"sela Darwis cepat yang melihat bahwa perdebatan ini akan tetap berlangsung jika tidak dipotong.


"Benarkah?"


Karina menunjukkan wajah tidak percaya.


"Benar atau tidak kau sendiri lebih tahu," jawab Darwis.


"Okay."


"Tapi melihatmu begini, aku rasa dalam dua minggu kau sudah pulih total. Joya kau tidak mengalami mati saraf kan? Kakimu masih berfungsi kan?"


Wajah Joya memerah kesal dengan pertanyaan Karina.


"Tentu saja iya! Memang apa alasannya kakiku mati syaraf? Aku kan koma karena melahirkan bukan kecelakaan!"omel Joya.


"Ah benar juga. Sepertinya otakku mulai bermasalah," ucap Karina dengan nada polos, memegang kepalanya dengan mata menujukkan rasa takut.


"Otakmu memang sudah bermasalah sejak lama," sambar Joya.


"Ku rasa iya. Tapi ya sudahlah. Yang penting tak mengurangi kecerdasanku."


Karina kini bertopang dagu, mengedipkan mata kanannya pada Joya. Joya menggerutu kesal.


"Kau sudah ketularan merak suamimu," gerutu Joya.


"Mau bagaimana mana lagi?"


Karina menaikkan kedua bahunya, acuh.


Hah.


"Lantas kapan kita berangkat? Aku jengah mendengar pertanyaan itu berulang kali dari Rian. Di antara kami ia yang paling bersemangat. Karina apa kau tidak memberi paket bukan madu untuk pernikahannya?"


Joya bertanya dengan sedikit berbisik. 

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku memberi mereka paket bulan madu sementara yang satu masih berduka dan yang satu bersuka? Aku harus adil. Suka bersama, duka saling merangkul. Sekarang keadaaan sepenuhnya menjadi suka, maka kita akan pergi dua minggu dari sekarang. Tiga malam empat hari. Itu sudah cukup kan?"


Darwis langsung mengangguk menyetujui, disusul oleh Joya. Karina tersenyum puas.


"Baiklah. Aku akan mengatur semuanya. Kalian jaga kesehatan, jangan sampai di hari H malah terbaring di rumah sakit," pesan Karina.


"Nanti kau pula yang mengalaminya, Karina. Lihat … ini sudah pukul 22.00, kau masih bekerja. Siapa sekarang yang tidak menjaga kesehatan?"sergah Joya. 


Karina tertawa kaku, melihat jam tangannya.


"Ah benar. Sudah jam 20.00. Aku harus kembali bekerja kemudian pulang. Bye-bye."


Karina langsung mematikan panggilan. Tersenyum dan kembali menyelesaikan beberapa berkas. 


Karina sudah mengirim pesan pada Arion bahwasanya ia akan lembur. Karina secepat mungkin menyelesaikan yang tersisa. 


Ketika semua selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Karina segera membereskan tasnya kemudian melangkah keluar, mendapati Sasha dan Aleza tengah berbincang. Kedua wanita itu tentu saja menunggu atasan mereka pulang barulah mereka pulang.


"Nona!"


"Hm."


Karina berlalu, menuju lift turun ke basement. Pak Anton membukakan pintu mobil untuk Karina. Karina duduk, memejamkan matanya, istirahat sejenak sembari menunggu tiba di markas.


*


*


*


Pagi harinya, Karina memanggil Li dan Gerry ke ruang meeting. Karena masih ada beberapa menit lagi sebelum berangkat, Arion ikut Karina ke ruang meeting. 


Setelah membahas beberapa yang penting, barulah Karina membahas rencana liburan. Hal itu disambut baik oleh ketiganya.


"Mengapa harus dua minggu lagi?"tanya Li yang merasa agak aneh.


"Karena banyak yang harus dipersiapkan," jawab Karina.


"Nggak juga sih," jawab Karina.


"Lantas?"


Gerry ikut bertanya.


"Ah aku tahu."


Arion berseru. Karina menaikkan alisnya meminta jawaban, Li dan Gerry menantikan ucapan Arion selanjutnya.


"Beberapa bulan lalu kan kau pernah berjanji untuk liburan bersama dengan siapa ya? Ah Star Boy. Juga pasti Sam dan Calvin juga ikut," papar Arion yang diangguki Karina.


"This true!"


"Astaga! Mau berapa pesawat yang kita gunakan? Tidak mungkin hanya satu pesawat bukan?"pekik Gerry, memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Eh benar juga. Karina setidaknya kita menggunakan dua pesawat. Jika hanya satu takutnya kelebihan muatan dan jatuh seperti Sinar Bangun yang tenggelam," tambah Li.


"Pesawat Black Diamond bisa digunakan. Pesawat keluarga Wijaya juga ada. Mengapa kalian heboh sekali? Bukankah Queen kalian ini punya maskapai penerbangan? Ku lihat di garasi ada beberapa pesawat lagi selain yang biasa digunakan Karina," heran Arion. 


Karina tertawa. 


"Benar sih," sahut Li dan Gerry bersamaan.


"Keluarga Anggara dan Alantas adalah keluarga terpandang selain kita di negara ini. Bukankah mereka ada pesawat pribadi? Aku sudah menanggung penginapan, konsumsi, transportasi selama di sana. Ku rasa mereka enjoy-enjoy saja jika menggunakan pesawat pribadi mereka," ujar Karina.


"Kalau tidak ada bahan bakarnya?"


"Pertanyaanmu konyol, Li. Apakah kau terlalu banyak bekerja hingga blank? Mana mungkin mereka tidak punya uang untuk membeli arthur!"sahut kesal Karina.


Li hanya tersenyum, menggaruk leher yang tegak gatal. Gerry terkekeh meledek Li. Arion hanya tersenyum tipis.


"Sayang," panggil Arion. 

__ADS_1


Karina menoleh.


"Aku harus berangkat sekarang," ujar Arion setelah melihat jam tangannya.


Karina mengangguk.


"Pergilah. Hati-hati di jalan. Aku menunggu untuk makan malam," ujar Karina.


"Kau tidak ke perusahaan?"


Karina menggeleng.


"Baiklah. Aku akan pulang tepat waktu. Aku juga akan menyampaikan pada Sam dan Calvin mengenai ini."


Karina mengangguk, mencium punggung tangan Arion. Seusai mencium kening Karina, Arion berbalik, keluar dari ruang meeting. 


"Ada yang ingin kalian laporkan lagi?"tanya Karina.


"Ada. Belakangan ini perbatasan di utara konflik dengan negara tetangga. Jenderal sudah menurunkan tim untuk itu, akan tetapi belum ada kata damai, malah sebaliknya. Bahkan sudah meluas hingga ke pemukiman. Haruskah kita membantu guna menekan jatuhnya korban jiwa?"jelas Li.


"Tak ku sangka bisa seserius itu. Apa Jenderal ada meminta bantuan kita?"tanya Karina.


"Sampai saat ini belum. Masalah ini juga sudah naik ke pengadilan dunia. Aku rasa ini akan jadi masalah yang berlarut-larut. Sedikit banyaknya juga mempengaruhi kita," jawab Li.


"Benar juga. Menurut kalian, apa yang harus kita lakukan?"


"Menurutku, kita harus mengirim tim ahli untuk menyelesaikan masalah ini. Semakin lama selesai akan semakin panjang masalah yang terjadi. Kita tidak membela siapapun, kita hanya melindungi nyawa tak bersalah yang menjadi korban kearoganan pihak yang tak bertanggung jawab," ucap Gerry.


"Hm. Kita sama - sama berdiri di dua negara, aku setuju dengan saran Gerry. Terlebih kita punya kekuatan di sana," timpal Li.


"Baiklah. Aku mau sebelum berangkat ke Maldives, semua masalah dua negara ini sudah selesai. Jika seandainya mereka meminta kalian ikut sebagai delegasi, maka pergilah," putus Karina.


"Si, Queen!"jawab Li dan Gerry, membungkuk hormat.


"Ah satu lagi, kalian sudah selidiki orang yang membantu Jessica untuk membayar pinalti dan membocorkan file perusahaan Enji?"tanya Karina.


"Sudah. Sejak awal kami sudah menyelidikinya. Hanya saja, melihat Anda yang tak ingin mendengar apapun tentang wanita itu, kami hanya menyimpannya," jelas Gerry.


"Katakan!"


"Orang itu bernama Leo Alexander, salah seorang pengusaha di negara A. Pemilik Alexander Company," jawab Li.


"Alexander Company? Negara A? Apa hubungannya dengan Enji?"


"Inilah yang membuat kami cukup kaget. Kau tahu Karina, tenyata wanita yang melahirkan Bayu adalah adik dari pria ini," jawab Gerry.


"Adik?"


Karina sedikit terkejut.


"Adiknya hilang setelah sehari dilahirkan. Agar tak membuat keluarga dan publik heboh, kedua orang tua mereka mengatakan pada Leo bahwa adiknya meninggal karena kondisi yang lemah. Saat itu, ia tengah menjalani camping musim panas," tutur Li.


"Beberapa tahun yang lalu, orang tuanya akhirnya memberitahu mengenai adiknya. Mungkin orang tuanya merasa bersalah. Sejak itu, Leo mencari adiknya. Hanya bisa bertemu dengan papan nisan," lanjut Li.


"Dasar keluarga angkat kurang ajar! Mereka tidak mengurusnya dengan baik malah menjilat! Untung saja aku sudah mengirim Bayu pergi! Turunkan tim Beta, bawa pria itu malam ini juga kemari!"geram Karina.


"Tenang dulu, Karina. Biar bagaimanapun ini bukan kesalahan Leo sepenuhnya. Enji juga ikut andil," tahan Li.


"Benar. Keduanya terpaksa karena ketidakjujuran dan keadaan. Lebih baik mempertemukan mereka agar masalah ini selesai tanpa darah!"


Karina menatap tajam Gerry.


"Baik. Tapi jika dia tidak bisa diajak kerja sama, jangan tahan aku untuk memotong-motong tubuhnya!"


Karina beranjak, keluar dari ruang meeting. Li dan Gerry menghembuskan nafas kasar.


"Ya namanya juga Queen Mafia. Lebih baik kita laksanakan perintahnya segera. Jika tidak ia akan meledakkan kita," ajak Gerry.


"Hm. Apakah Bintang dan Biru akan menuruni sifat itu juga? Dua psikopat digabungkan jadi satu, akan menjadi lebih gila lagi bukan?"tanya Li.


"Mungkin mereka akan memiliki kepribadian ganda. Satu sisi devil, satu lagi angel," sahut Gerry.

__ADS_1


__ADS_2