Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 223


__ADS_3

Kini Gerry berada di depan gedung Tirta Hospital, tepatnya di parkiran. Gerry menatap gedung itu sembari mengernyitkan dahinya. Setelah bergulat batin, akhirnya Gerry memantapkan hatinya. Dengan segera ia membuka pintu dan keluar, tak lupa melepas kacamata yang ia kenakan. Gerry berjalan dengan langkah lebar menuju lobby rumah sakit dan menghampiri salah satu meja resepsionis.


"Ada yang bisa dibantu Tuan Muda?"tanya ramah resepsionis tersebut berdiri dan memberikan senyum lebarnya.


"Hm, begini … apakah benar dokter atas nama Mira Rahmawati bekerja di rumah sakit ini?"tanya Gerry, dengan nada agak berbisik dan hati-hati. 


Bodoh! Mengapa kau tanya itu Gerry? Kau kan tahu dia bekerja di sini!runtuk Gerry dalam hati.


"Sebentar saya cek sebentar," ucap resepsionis muda tersebut sembari menggerakkan tangannya pada mouse komputernya. Gerry menyandarkan tubuhnya pada meja resepsionis, menghentakkan pelan kakinya yang berbalut sepatu, menciptkan irama yang unik.


"Benar. Beliau bekerja di sini sebagai dokter kandungan," lanjut resepsionis tersebut sopan. Gerry mengembangkan senyumnya.


"Tapi hari ini beliau tidak masuk, dan juga hari libur. Apakah Anda ingin melakukan konsultasi atau pemeriksaan kandungan istri Anda? Atau bagaimana? Jika iya, biar kamu sambungkan ke dokter kandungan selain dokter Mira," tutur resepsionis. Gerry membulatkan matanya.


"Aku belum menikah dan saya tidak ingin melakukan apa yang Anda katakan. Saya masih single!"tegas Gerry membantah ucapan resepsionis itu. Dahi resepsionis itu mengeryit sesaat tak lama menunduk memohon maaf.


"Ah, maaf Tuan Muda, saya kira Anda sudah menikah dan memiliki anak. Secara dari wajah dewasa Anda, seharusnya sudah di fase itu bukan?"sesal resepsionis tersebut.


Gerry mendengus dan menggerakkan tangannya tanda memaafkan.


Memangnya aku setua itu?batin Gerry.


"Lantas, apa yang Anda cari?"tanya resepsionis itu penasaran.


"Saya ingin mengetahui alamat rumah dokter Mira, bisakah?"tanya Gerry hati-hati.


Resepsionis itu mengeryit lagi. Menatap curiga Gerry.


"Anda ini aneh dan mencurigakan! Anda tidak memiliki istri, mengapa ingin tahu alamat dokter Mira? Atau Anda mencarinya untuk saudara atau orang terdekat Anda? Atau jangan-jangan Anda seorang penguntit yang mau mencelakai Dokter Mira? Jika iya, segeralah pergi sebelum saya memanggil keamanan!"oceh resepsionis itu melantur dan menerka. Gerry kesal seketika.


"Sembarang!"bentak Gerry memukul meja.


"Keamanan!"teriak resepsionis itu lantang. Tak lama, dua orang pria berseragam hitam datang. Mereka dengan segera memegang kedua tangan Gerry. Gerry semakin kesal namun mencoba merayu.


"Bawa orang ini keluar!"ucap resepsionis tersebut.


"Hei Nona, tunggu dulu! Apa wajahku terlihat seperti penguntit? Lihatkan dulu penampilanku! Apa aku terlihat seperti berandalan? Daripada melakukan itu, mendingan aku tidur di rumah! Kurang kerjaan sekali aku melakukan hal itu!" Gerry tidak bergeming saat kedua orang penjaga itu menariknya. 


Resepsionis itu meneliti penampilan Gerry. Walaupun terlihat sederhana, semuanya bermerk. Dengan harga yang gajinya sebulan saja belum mampu membeli satu dari pakaian yang dipakai Gerry. Kemudian ia menghela nafas.


"Sebenarnya saya adalah sepupu dari dokter Mira. Saya baru saja kembali dari luar negeri. Saat saya ke rumahnya yang saya ketahui, ternyata sudah berganti orang. Saya tidak bisa menghubungi, entah memang tidak aktif atau sudah berganti, saya tidak tahu. Saya ingin memberinya kejutan, sayangnya terhalang kediaman. Namun, saya mendengar dari Presdir Karina yang merupakan pasien dokter Mira, mengatakan bahwa Mira bekerja di sini, oleh sebab itu saya mencarinya kemari, sayang, malah dituduh yang tidak-tidak!"jelas Gerry panjang lebar, dengan setengah kebenaran, setengah kebohongan. Awalnya wajah resepsionis itu menunjukkan ketidakpercayaan, namun setelah nama Karina disebut, wajahnya berubah, menjadi ragu. 


Gerry tersenyum samar. Dua penjaga sudah kembali ke tempatnya.


"Anda, kenal dengan Presdir kami?"tanyanya tak percaya.


"Tentu, aku bekerja padanya," jawab Gerry jujur.


"Bisakah?"tanya Gerry mendesak.


"Baiklah, sebentar saya lihat dahulu," jawab resepsionis itu segera melihat data Mira. Tak berselang lama.


"Ah, maaf Tuan. Dokter Mira tidak mencantumkan alamat rumahnya, tidak lebih tepatnya dirahasiakan oleh perusahaan atas permintaan dokter Mira," ujar resepsionis dengan nada menyesal. Gerry menghembuskan nafas kasar. Tapi, bukankah mereka pantang menyerang? Harus pulang membawa tangan kosong? Sudah kepalang tanggung. 


"Bagaimana dengan nomor telepon? Pasti adakah?"

__ADS_1


Setelah melihat lagi, resepsionis itu tersenyum.


"Ada," jawabnya. Gerry segera memintanya. Setelah berada di dalam kontaknya, Gerry mengambil dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang ratusan. Resepsionis itu menggerakkan tangannya menyilang di dada.


"Maaf Tuan, kami hanya menerima yang merupakan keringat kami. Hanya bantuan kecil, semoga hari Anda menyenangkan!"tolaknya tegas. Gerry terdiam sesaat lalu menarik kembali uangnya.


"Baiklah, kalau begitu, semoga kita bertemu lain kali di luar dunia kerja, aku akan mentraktirmu makan, see you next time." Gerry memberikan senyuman manisnya, berbalik dan melangkah keluar lobby. Resepsionis itu terpaku dengan senyuman Gerry. Ia mengerjap sesaat lalu memegang dadanya.


Apa ini? Jantungnya berdebar? Pria itu? Ah sudahlah, bukankah aku sudah banyak menemui pria seperti itu? Tapi, yang ini rasanya beda, Tuan manis, ku pegang janjimu, batin resepsionis itu, lalu lanjut bekerja.


*


*


*


Mira mengeryit dan menggerutu kesal dengan dering handphonenya yang tidak mau diam. Nomor tidak dikenal, kekeh sekali menghubunginya. Kesal, dengan pertimbangan, Mira menjawab panggilan itu.


"Halo, dengan siapa ya?"tanya Mira dengan nada sopan.


"Akhirnya kau menjawab panggilanku dokter cantik!"


Suara pria, yang menelponnya seorang pria? Suaranya, Mira sepertinya pernah mendengarnya, diikuti dengan jantung yang mulai berdebar lebih kencang.


"Halo, dokter cantik?" Pria itu kembali menyapa.


"Dengan siapa ya?"tanya Mira.


"Kau tidak mengenal suaraku? Sedihnya diriku," keluh pria itu. Mira mengeryit dan menjadi lebih kesal.


"Ah, tunggu dulu, jangan diputus. Sabar dokter cantik, aku akan mengingatkanmu, kau ternyata pelupa ya ? Kita bertemu dua kali dan terakhir pada pesta pernikahan Tuan Ferry dan Siska," tahan pria itu. 


Otak Mira segera mencari, namun ia menggeleng.


"Aku bertemu banyak orang dalam pesta itu, bagaimana bisa aku mengingatmu, yang hanya bertemu dua kali? Dan kau menanyakan aku ingat atau tidak hanya dengan suara?"ujar Mira.


"Oh, baiklah. Akan ku perjelas. Kau ingat pria yang wajahnya dihinggapi selendang putih yang diterbang angin di pelabuhan? Bagaimana? Ingat?"tanya pria itu, yang ternyata adalah seorang Gerry Herlambang.


Ingatan Mira mencari, ia melepaskan tangan kirinya dari koper dan memegang siku kanannya. Dan akhirnya, Mira mengingatnya, kejadian saat ia hampir saja kehilangan barang pemberian sang suami.


"Oh, rupanya kau, bagaimana bisa kau mendapatkan nomor teleponku?"tanya Mira. 


"Bagaimana aku mendapatkannya tidaklah penting, yang penting adalah usaha dan hasilnya. Oh ya, apa kau ada waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu dinner, sebagai permintaan maafku atas sikap tidak sopanku di pelabuhan kemarin, bisakah?" Gerry menyampaikan niat pokoknya.


"Tidak bisa," jawab Mira cepat.


"Bagaimana dengan besok?" Gerry tidak mau menyerah.


"Tidak juga!"


 


"Lusa?


"Tidak bisa! Aku tidak bisa makan malam atau bertemu denganmu selama dua minggu kedepan bahkan lebih. Aku sedang cuti dan mau pulang kampung. Sekali lagi mohon maaf! Saya harus segera memutus panggilan, saya akan segera masuk ke pesawat!"ucap tegas Mira. Mira menunggu jawaban Gerry, hanya terdengar suara helaan nafas. Tiga puluh detik, satu menit, tidak ada jawaban. Mira hendak memutusnya, namun Gerry kembali bersuara.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu sampai kembali lagi ke negara ini. Maaf mengganggu waktumu. Semoga penerbanganmu menyenangkan dan kau pulang dan pergi dengan selamat. Selamat sore, dokter selendang calon masa depanku." 


Mira ingin membalas, namun layar handphonenya sudah menjadi hitam dan berganti dengan wallpaper layar yaitu foto pernikahan dengan sang suami. Wajah Mira terlihat memerah, mendengar masa depan.


Mira segera menyimpan handphonenya dan menarik kopernya untuk naik ke pesawat. Ia akan pulang ke negara sang suami, ke rumah mertuanya. Akan tetapi, kepulangannya ini berbeda dengan kepulangannya tahun kemarin. Ada yang hilang,  ada yang tertinggal, sesuatu yang berharga. Hatinya, hatinya melayang, seakan Gerry sudah pasti menjadi masa depannya.


Mira menghela nafas panjang dan melempar pandang ke arah jendela menatap awan. 


"Mas, apakah mereka akan setuju, aku menikah lagi?"gumam Mira.


*


*


*


Di ruangannya, Karina baru saja menandatangi dokumen terakhir. Sedangkan Arion duduk di sofa. Ia juga membantu Karina, tidak berpanggu tangan. 


Arion lantas berdiri dan menghampiri Karina. Arion mengajak Karina untuk duduk di sofa. Karina mengikut. Arion memposisikan tubuh Karina membelakanginya dengan posisi menyamping. Dengan penuh perhatian, Arion memberikan pijatan pada pundak Karina.


Karina memejamkan matanya menikmati pijatan Arion. Otot yang semua kaku dan menegang, kini terasa rileks dan lentur.


"Kau cocok menjadi tukang pijat Ar, nyaman sekali," lakar Karina. Arion mendehem.


"Hanya untukmu aku meminjat, maybe Mama dan anak-anak kita nanti," sahut Arion.


"Kau harus mengingat ucapanmu ini," balas Karina.


"Pasti!"jawab tegas Arion.


"Hm, apa yang akan kamu lakukan pada gay sialan itu?"tanya Karina geram, membalikkan badannya dan menatap Arion.


Arion menarik seringai.


"Tentu saja, mati! Kau mau ikut?"tawar Arion.


"Tidak, kau saja! Aku malas melihat darah!"tolak Karina.


Arion mengangguk dan berdiri, lalu mengecup singkat kening Karina. Kemudian melangkah keluar ruangan. Karina mendatarkan wajahnya.


"Hukuman? Hanya kematian yang pantas untuk mereka yang mau mengambil atau mengganggu milikku!"gumam Karina menyeringai.


Karina lantas berdiri dan berjalan menuju jendela. Membukanya sedikit menatap hijaunya dedaunan, warna warni bunga serta burung yang berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Karina menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap kilau kemilau cahaya mentari sore.


Mata Karina menangkap dua sosok yang Karina kenal dekat. Mereka adalah Li dan Elina yang duduk menikmati indahnya taman. Keduanya tersenyum lepas, Li memakaikan mahkota dari bungan dan rumput di kepala Karina. Tak lama, terlihat Gerry datang dengan wajah kusut dan duduk sendiri di bangku yang terbuat dari batu dan keramik yang dibentuk persegi.


Li dan Elina mendekati Gerry dan bertanya, samar Karina mendengar nama Mira disebut. Karina menarik senyum tipis.


"Restuku mudah didapat, akan tetapi aku ragu dengan keluarga itu?"gumam Karina dengan sorot mata sukar ditebak.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2