
Keesokan harinya, Karina tersenyum puas mendengar, membaca dan melihat kehancuran perusahaan MHZ. Perusahaan itu diluluhlantahkan oleh Li, Gerry dan juga Amber. Kehancuran MHZ, mengundang banyak tanya dari berbagai pihak. Di antaranya adalah para mafia di dunia bawah. Secara MHZ adalah salah satu produsen senjata terbesar selain Pedang Biru.
Bagi publik, pihak yang berwenang tentu senang, karena perusahaan yang menjadi incaran mereka telah lenyap, tanpa mereka harus turun tangan. Hanya sayang, semuanya hancur meledak dan terbakar berikut orang-orangnya.
Karina tersenyum sembari mengarahkan pandangannya ke arah jendela ruang kerjanya yang menghadap ke menara 2. Tak lama, senyum itu pudar, digantikan dengan tatapan datar. Karina mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dengan kening berkerut.
"Sepertinya aku lupa sesuatu," gumam Karina kemudian, menghela nafas dan lanjut bekerja.
*
*
*
"Ma, Papa merasa ada yang kurang," ujar Amri pada Maria.
Mereka kini berada di taman kota, jalan-jalan bersama Alia. Maria yang mendorong kereta bayi Alia menghentikan langkahnya dan menatap wajah suaminya.
"Mengenai apa Pa?" tanya Maria. Amri kemudian duduk di bangku taman yang terletak di sebelahnya.
"Entahlah, ada rasa tak tenang di hati setelah semua tenang," jawab Amri. Maria ikut duduk di samping Amri dan memasang wajah tak mengerti.
"Mungkin Papa kebanyakan pikiran, menyebabkan lupanya hal-hal yang kecil dan sederhana," ujar Maria. Amri diam tidak menanggapi. Ia berusaha untuk mengingat dan mencari kekurangan yang ia rasakan.
"Bisa Mama ceritakan apa yang terjadi selama beberapa minggu belakang ini?" pinta Amri. Maria mengeryit, tak lama mengangguk mengiyakan. Maria segera menceritakannya. Dari awal keberangkatan mereka ke Korea Selatan, tragedi pesawat meledak dan mereka mendarat di kapal pesiar, pertemuan dengan kakek Bram, penculikan dan penyelamatan Alia dan Nita, hingga kematian kakek Bram dan Nita. Maria menceritakan semuanya.
"Saat penyelamatan, Mama ada mendengar sesuatu yang penting?" tanya Amri, serius. Maria menggeleng.
"Mama kan menunggu di mobil setelah itu ke rumah sakit bersama Enji dan Alia," jawab Maria. Amri mendesah pelan. Ia memijat pelipisnya.
"Tanya saja pada Karina dan Arion, mungkin mereka tahu apa yang kurang menurut Papa," saran Maria.
"Ah ya, Mama benar!" seru Amri. Segera mengambil handphone dan mencari nomor kontak sang anak. Akan tetapi, tidak dijawab-jawab padahal masuk.
"Anak ini kemana? Apa dia meeting?" pikir Amri kesal.
"Sudahlah Pa, kita ke rumah mereka saja nanti malam," ujar Maria.
"Baiklah, kalau begitu mari kita lanjut jalan-jalannya," sahut Amri, berdiri dan menjulurkan tangannya pada Maria. Maria menerimanya dengan tersipu. Gantian Amri yang mendorong kereta bayi Alia dengan satu tangan, sedangkan satu tangan lagi menggenggam tangan Maria.
*
*
*
"Hei Gerry! Mengapa kau jadi begini?" seru Gerry pada dirinya sendiri saat bangun tidur. Yang setelah begadang menyelesaikan misi dan kembali saat fajar terbit, membuatnya bangun di jam 14.00 siang. Dan hebatnya lagi, dia malah bermimpi hidup bersama dengan Mira.
"Ini benar-benar gila!" teriak Gerry menepuk dahinya. Alhasil, ia mengaduh sakit sendiri akibat perbuatannya. Karena Gerry tak mengaktifkan mode kedap suara untuk kamarnya, alhasil penjaga yang lalu lalang di koridor lantai di mana kamarnya berada mengetuk pintu dan menanyakan keadaannya.
"Aku baik!" sahut Gerry tegas.
"Benarkah Tuan? Saya harap Anda lekas bergegas sebab Tuan Li sudah menunggu Anda untuk melapor lisan kepada Queen," jelas dan beritahu penjaga tersebut dari luar kamar dengan suara yang tegas pula.
"Baiklah. Aku segera tiba," jawab Gerry.
__ADS_1
Gerry kemudian mengedarkan pandangannya dan jatuh pada handphone yang sedang diisi dayanya.
Dengan segera mencabut kabel pengisi daya dan mengaktifkan handphone-nya.
"Aku penasaran, siapa sebenarnya pria yang telah berhasil mendapat Mira dan mengapa Mira jadi janda di usia segitu," gumam Gerry. Meletakkan handphone kemudian bangkit untuk mandi. Tubuhnya terasa lengket dan juga bau kecut. Selepas mandi, ia memilih pakaian kasual tak lupa menyisir rambut dan menyemprotkan parfum, tanpa sadar, ia terlalu banyak memakai parfum.
Melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 15.00, Gerry segera melangkah keluar kamar. Saat berpapasan dengan orang lain, orang-orang atau anggota lainnya merasa heran sedangkan Gerry cuek dengan wajah datarnya.
"Wangi parfum ini, seperti wangi kasmaran," bisik salah seorang anggota pada temannya.
"Akan mengejutkan jika seorang Gerry Herlambang jatuh cinta. Secara semenjak aku menjadi bagian Pedang Biru, tak pernah sekalipun aku mendengar ia bersama wanita selain dari Queen dan antek-anteknya. Aku bahkan dulu mengira dia gay dengan Tuan Li, akan tetapi malah terpatahkan saat Tuan Li menikah," jawab panjang temannya itu. Yang berucap, malah mendengus kesal.
Setibanya di parkiran, Li dan Elina sudah menunggu di sana.
"Mana Amber?" tanya Gerry melihat sekitar.
"Dia sudah kembali ke pulau. By de way, dia loh yang menggendongmu saat kau pingsan kelelahan," ujar Li memberi tahu. Wajah Gerry memucat. Ia mengingat saat ia bangun dan memeriksa tubuhnya.
"Aku tidak dinodai olehnya kan?" tanya Gerry serius. Senyum jahil terukir sekilas di bibir Elina. Ia menahan Li yang hendak menjawab.
"Li tidak tahu, sebab dia begitu kembali langsung tidur di kamar. Namun, saat aku lewat kamarmu aku mendengar suara desahan intens seperti saat aku dan Li bermain. Hm, suaranya membuat setiap yang lewat tersipu dan malu," ucap Elina. Gerry membulatkan matanya.
"Bohong! Wanita itu tidak akan merusak rekannya sendiri," pekik Gerry tidak terima. Ia malah mengingat pertanyaan penjaga tadi, apa dia baik-baik saja?
"Hei, bukankah dengan begini kau dan Mira seimbang? Kau kan sudah tidak perjaka lagi dan Mira sudah tidak disegel lagi," ucap Li, menaik-turunkan alisnya.
"Hentikan!" seru Gerry. Menetralkan jantungnya yang berlari kencang. Ia menatap serius Li dan Elina.
"Kalian membohongiku!" ketus Gerry. Malah disambut gelak tawa Li dan Elina.
"Amber langsung pamit saat kalian pulang," jelas Elina mendapat tatapan selidik dari Li. Li ingat, ia tertidur saat perjalanan pulang dan begitu bangun sudah di kamar.
"Hei, ayo ke KS Tirta Grub, kalian mau jadi patung?" gerutu Gerry kesal.
"Iya-iya," sahut Li. Membukakan dan menutupkan pintu untuk Elina lalu capcus ke tempat tujuan.
*
*
*
Pukul empat sore di Jaya Company, Arion merenggangkan tubuhnya setelah semua pekerjaannya selesai. Untunglah hari ini tidak begitu banyak, jadi dia bisa pulang lebih awal dan menyambut Karina pulang. Dengan semangat, ia merapikan jasnya. Bersiap untuk pulang. Saat hendak melangkah keluar, wanita yang menggantikan Ferry sebagai sekretaris selama tiga hari, datang dengan membawa nampan di atasnya terdapat secangkir kopi. Arion mengernyit. Wanita bernama Laras itu tersenyum.
"Anda sudah mau pulang Tuan?" tanyanya dengan sopan.
"Hm, minggir," jawab Arion datang.
"Tapi Tuan, saya sudah membuat kopi untuk Anda, saya kira Anda pulang sesuai jadwal," ujar Laras, menunduk.
"Untukmu saja. Aku harus segera kembali," ucap Arion tegas, menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan Laras dari jalannya.
"Tapi Tuan Muda," tahan Laras, namun Arion tak menggubris melenggang memasuki lift.
Wajah Laras menggelap, ia meletakkan kasar nampan di atas meja kerjanya hingga membuat isinya muncrat.
__ADS_1
Di dalam lift, Arion menelpon HRD, memerintahkan agar sekretarisnya diganti.
"Huh, tampilan sopan tapi otak licik. Memaksaku lembut meminum kopi. Heh? Aku hanya minum buatkan istri tercintaku," gumam Arion. Saat keluar lift, pegawai yang berada di lobby menunduk hormat dan menyapa Arion.
*
*
*
"Hm, jadi … anak bungsu pemilik MHZ itu dibawa oleh Amber?" tanya Karina menyangga dagunya. Li dan Gerry saling pandang mendengar pertanyaan Karina dan pernyataan Elina.
"Ya, dia mengatakan anak itu sesuai dengan kriterianya, kau tahu penurut dan polos," ujar Elina santai.
"Wanita itu tidak pernah berubah," ucap Karina datar.
"Apa dia akan jadi Sugar Mommy?" tanya penasaran Gerry.
"Ya, dia sudah punya harem di pulau dan isinya pria tampan dan sesuai kriteria rampasan perang dan misi," jelas Karina, menggelengkan kepalanya mengingat anteknya yang unik itu.
"Wah, tak takut kena virus dia?" kagum atau cibir Elina. Karina menaikkan bahunya tak tahu.
"Sudahlah, senjata yang Amber beli hancurkan semua. Senjata cacat, tidak masuk kriteria!" titah Karina tegas.
"Hei Karina, biaya pembeliannya sangat mahal," ujar Elina tidak setuju.
"Oh, lalu? Kan uang kas bukan uang pribadimu," sahut santai Karina.
"Bukan dihancur Elina, tapi dilebur kembali," ujar Li menenangkan. Elina melirik dan menatap heran.
"Ah, segera rilis dua senjata itu," tegas Karina lagi.
"Baik," jawab Li dan Gerry bersamaan. Elina masih bingung. Karina mengibaskan tangannya, menyuruh Li, Elina dan Gerry keluar dan menjalankan titah Karina.
*
*
*
Setibanya di rumah, Arion naik ke kamar lalu menyegarkan tubuhnya. Dengan memakai celana selutut dan memakai kaos, Arion menuruni tangga dan menuju dapur.
"Makan malam, saya saja yang masak Bik," ujar Arion melihat Bik Mirna yang baru saja memasak nasi. Bik Mirna mengangguk.
"Kalau begitu, saya mengerjakan pekerjaan lain ya Tuan," ujar Bik Mirna. Arion mengangguk pelan dan segera memakai apron. Dengan iseng, ia memakai topi chef.
"Wah, memakai apapun kau tetap tampan Ar," kekeh Arion melihat dirinya di pantulan pintu kulkas. Setelah puas menjadi merak, Arion membuka kulkas dan melihat isinya. Pilihannya jatuh pada ikan dan hati. Arion segera berperang dengan alat-alat dapurnya. Bik Mirna dan Naina mengintip dari jendela.
"Ternyata dia jago masak juga," bisik Bik Mirna.
"Ya, wanginya sih enak, rasanya tak tahu," balas Naina.
"Hm, kau sudah memandikan Miu? "tanya Bik Mirna penasaran. Naina nyengir.
"Belum," jawab Naina.
__ADS_1
"Ya sudah mandikan sana, aku aku melihat taman," suruh Bik Mirna. Naina mengangguk.