Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 97_SAM DAN LILA


__ADS_3

Gelap berganti cerah. Bulan di langit berganti dengan matahari. Mentari pagi menyambut mahkluk hidup dengan sinarnya yang menghangatkan. Ciutan burung terdengar sayup-sayup di kediaman Wijaya, Waktu menunjukkan pukul 07.30.


Amri dan Maria bersiap menjemput Bayu di sekolah, sebab acara perkemahan musim panas telah usai dan wali murid di minta untuk menjemput anaknya masing-masing. Kini mereka tengah berada di meja makan sebelum pergi menjemput Bayu. Bersiap mengisi lambung agar lebih bersemangat. 


Namun ada kurang pagi ini yaitu Karina dan Arion yang belum memunculkan diri mereka keluar kamar. 


"Tumben lama sekali mereka berdua. Mentang-mentang libur bangunnya kesiangan begitu?" sungut Amri sedikit kesal. Ya memang hari ini tanggal merah selain hari Minggu. Maria menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


"Papa kayak gak tahu saja," ucap Maria mulai mengambilkan sarapan untuk Amri.


"Maksud Mama mereka … tadi malam … begituan?" tanya Amri memastikan. Maria mengangguk. 


"Lebih baik kita sarapan duluan saja. Biar mereka nanti makan berdua," saran Maria.


"Hmm … okelah," sahut Amri mulai membaca doa makan kemudian menyantap sarapan paginya. Menu sederhana nasi goreng seefood buatan chef Maria.


Selepas sarapan, mereka segera menuju mobil. Sebelumnya Maria berpesan kepada Bik Susan jika anak dan menantunya bertanya tentang mereka, maka katakan bahwa mereka pergi menjemput Bayu di sekolah.


Perlahan mobil yang di kendarai Amri dengan Maria di sampingnya meninggalkan kediaman Wijaya.


***


Dua jam berlalu, di kamar Arion dan Karina, mereka berdua masih asyik menjelajahi mimpi setelah begadang sampai subuh. Tak ada niat untuk bangun. Dengan posisi saling berpelukan, Karina terus membenamkan wajahnya ke dada polos Arion.


Membuat Arion sedikit terganggu. Kelopak matanya mulai bergerak pelan. Menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk. Tangan kanannya bergerak memegang kepalanya, merasa sedikit pusing. Arion menoleh ke samping, menatap Karina yang masih tertidur dengan pulas dengan selimut sebatas dada.


Tangan Arion bergerak membelai wajah Karina. Tak lama ia kembali menariknya. Batinnya kembali berperang. Jujur saja, yang kemarin itu adalah bagian dari rencana. Bingung harus memilih balas dendam atau cinta? Arion melirik jam dinding, waktu menunjukkan pukul 09.45.


"Emm …," gumam Karina terus memeluk Arion.


"Karina, Sayang, bangun. Kita kesiangan. Mama sama Papa pasti sudah siap dengan sejuta pertanyaan," ujar Arion seraya menyentuh hidung Karina.


"Bentar lagi. Aku masih ngantuk," jawab Karina pelan. Melepaskan pelukan pada Arion dan beralih memeluk guling.


"Karina ayolah …," bujuk Arion menepuk pelan pundak Karina.


"Lima menit lagi. Aku capek," sahut Karina. Arion memanyunkan bibirnya.


"Haih … Sayang, ayolah. Atau aku akan memakanmu lagi sebagai sarapan pagi," bujuk Arion lagi disertai ancaman. Benar saja mata Karina langung terbuka sempurna. Berbalik menatap Arion yang semula memunggunginya.


"Gak. Aku gak mau," tolak Karina tegas.


"Kalau begitu cepat bangun."ucap Arion bersedikap tangan.


Karina langsung membungkus dirinya dengan selimut dan ngacir ke kamar mandi. Meninggalkan Arion yang terkesima melihat dirinya sendiri.


"Aiya? Mengapa aku jadi polos lagi?"tanyanya langsung mencari celana. 


***


Lain halnya dengan Karina, asisten pribadinya yaitu Lila tengah mengemudikan mobilnya ke kediaman Anggara. Ya, ke rumah calon suami dan mertuanya.


Pagi buta, Nyonya Anggara menghubunginya agar datang ke rumahnya. Katanya mau membicarakan tentang kelanjutan persiapan mereka. Mumpung hari libur, jadi Nyonya Anggara berniat menghabiskan waktu bersama calon mantu.


Sebenarnya Lila agak malas bertemu dengan Sam semenjak ia tahu akan apa yang akan mereka perbuat kepada Nonanya. Tapi apa daya, pesan Karina membuatnya menerima ajakan itu. Apalagi calon mertuannya sangat baik padanya.


Dua puluh menit kemudian, Lila membunyikan klason mobil di depan gerbang utama kediaman Anggara. Penjaga gerbang yang tahu persis mobil siapa itu sigap membuka gerbang, mempersilahkan Lila dan mobilnya masuk.

__ADS_1


Lila memarkirkan mobilnya di halaman Anggara yang luas, model rumahnya hampir sama dengan kediaman Wijaya, gaya klasik bercampur modern.


 


Lila keluar dari mobil, ia disambut senyuman ramah Rasti, mamanya Sam.


"Halo Honey. Kamu lama sekali. Mama nungguin kamu dari tadi," sambut Rasti seraya merentangkan tangannya.


Lila memeluk Rasti.


"Maaf Ma. Lila tadi ada kerjaan sedikit. Mama pasti tahukan," sesal Lila melepas pelukannya.


"Apa Nonamu itu tak tahu bahwa ini hari libur? Harusnya kan free bebas kerjaan. Mungkin saja dia masih tidur di ranjang dengan suaminya itu," celetuk Rasti agak kesal dengan Karina. 


"Jika di hari libur berikutnya dia masih saja membebanimu dengan pekerjaan akan Mama labrak dia," ucap Rasti dengan semangat berkobar. Layaknya api yang membumbung tinggi, siap membakar apapun yang dijangkau olehnya.


Lila menggelengkan kepalanya kecil seraya tersenyum. Jujur saja, sekarang dia tahu dari mana datangnya sifat Sam, pasti turunan dari mama mertuanya ini.


"Memangnya Mama berani?" tanya Lila penasaran. Rasti tersentak. Semangat yang telah berkobar mulai menyurut layaknya kerupuk yang terkena air.


Rasti menyentuh kepalanya dan tersenyum malu.


"Mama gak berani sih? Nonamu itu lirikannya saja sudah buat Mama pengen lari apalagi jika mama labrak. Bisa jadi rempenyek Mama. Tapi kalau Sam yang bilang sama Arion terus disampaikan pada Karina pasti bisa," ucap Rasti dengan semangat kembali berkobar.


"Akan mama bujuk Sam," tambah Rasti langsung menarik tangan Lila ke dalam.


Lila yang belum siap refleks memekik kaget. Namun tak dihiraukan oleh Rasti. Ia baru melepaskan pegangan tangannya pada Lila saat sudah tiba di ruang keluarga.


Di meja terdapat beraneka macam perhiasan, entah sudah dibeli atau belum secara Rasti sekalian memboyong pemiliknya ke rumah.


Hamdan, papanya Sam tengah santai dengan membaca majalah. Secangkir kopi hitam ikut menemaninya.


Lila mengerutkan keningnya heran. Ia berpaling menatap Rasti yang sedang berbicara panjang lebar penuh semangat menjelaskan detail perhiasan yang dipilih olehnya.


"Bukannya Sam biasanya rajin bangun pagi ya Pa?" tanya Lila.


Hamdan mengendikan bahunya tak tahu.


"Coba saja kamu lihat di kamar lantai atas. Kalau kamu bingung yang mana kamarnya, di depannya ada tagname "Sam"," ujar Hamdan yang membuat Lila membelakakan matanya.


Ocehan Rasti sudah masuk kanan keluar kiri saja padanya. Bukannya tak ingin mendengarkan, tetapi pembicaraan dengan calon papa mertua ini lebih menarik ketimbang melihat perhiasan yang berjajar di meja.


"Papa serius? Nanti kalau Lila masuk tanpa izin terus mata Lila melihat sesuatu yang belum sah dan hal untuk dilihat bagaimana?" tanya Lila polos.


Bukan tanpa alasan, sebab dari cerita Rasti, Sam jika tidur di kamarnya kadang tak menggunakan apapun. Hanya selimut sebatas pinggang.


"Gak papa. Kan bentar lagi sah dan halal untuk itu. Kalau kelewatan ya tinggal Papa majuin saja pernikahan kalian menjadi nanti malam," jawab Hamdan enteng.


"Ya sudah deh Pa. Lila ke kamar Sam. Tapi nanti Papa yang tanggung jawabnya kalau Sam marah," ucap Lila menyatakan penawaran. Hamdan mengangguk mantap. Lila segera melangkahkan kaki menuju tangga dan menaikinya.


Hamdan menatap Lila sampai punggung Lila menghilang. Suara cempreng langsung membuatnya terkejut.


"Ma stop. Biar Lila saja yang memilihnya. Lagian juga sudah Mama beli semuanya. Terus ngapain dia masih di sini?" seru Hamdan. Rasti langsung berhenti mengoceh. 


"Eh? Lilanya mana?" tanya Rasti bingung.


"Papa suruh ke kamar Sam," jawab Hamdan.

__ADS_1


"Ke kamar Sam? Serius? Mama mau nguping ah." Jiwa kepo Rasti menguap seketika. Ia langsung melambaikan tangannya menyuruh orang yang mengantar penghiasan yang ia pesan kembali. Selepas itu, Rasti langsung menaiki tangga dengan semangat.


"Haduh … jiwa kepo Mama berkuasa. Semoga saja Sam dan Lila gak tahu," harap Hamdan.


"Papa ayo. Emangnya Papa gak penasaran?" seru Rasti di atas tangga. Hamdan tersentak. 


"Iya Papa nyusul," sahut Hamdan meletakkan majalah dan menyeruput kopi kilat, lalu menyusul Rasti.


Saat tiba di depan kamar Sam, Rasti dan Hamdan terkejut mendengar teriakan kencang Lila dari dalam kamar. Rasti yang terkejut repleks memeluk Hamdan.


"Pa … mereka ngapain? Kok Lila teriak kesakitan gitu," tanya Rasti curiga.


"Mana Papa tahu Ma," jawab Hamdan. Rasti melepaskan pelukannya dan mulai menempelkan telinganya di daun pintu. Bersiap menguping.


"Ahh … pelan sakit tahu Sam." Terdengar suara Lila meringis.


"Iya. Ini juga sudah paling pelan. Kamu tahan ya." Suara Sam menjawab.


Rasti dan Hamdan berpandangan. Pikiran mereka melayang membayangkan apa yang anak mereka tengah lakukan.


"Pelan Sam. Makin sakit jadinya. Kamu kasar banget sih jadi cowok," kesal Lila.


"Pelan kayak mana lagi? Ini standarnya tahu," ucap Sam.


"Eh sudah mau gol? Dikit lagi ayo dikit lagi masuk … Gol! Hore Gol. Akhirnya masuk juga. Akhirnya," pekik Sam kegirangan.


"Pa? Memang harus seheboh itu? Perasaan Papa gak gitu dulu?" tanya Rasti heran. Hamdan menggeleng.


"Gol sih gol tapi kaki aku sakit kamu duduki. Cepat bangun," ketus Lila.


"Iya bawel. Gimana? Lebih enakan?" tanya Sam.


"Hmm … lebih keras lagi …  Ah akhirnya," ucap lega Lila.


"Sudah sana kamu. Aku mau ke kamar mandi," usir Lila.


"Eh? Habis manis sepah dibuang ini?" tanya kesal Sam.


"Hehehe … kita bakal punya cucu Pa," kekeh Rasti. 


"Papa panggil Penghulu sekarang," ujar Hamdan.


 


Ceklek. Suara pintu kamar terbuka. Sontak, Rasti dan Hamdan bertingkah layaknya sengaja lewat. Wajah mereka canggung. Mereka sedikit heran melihat Sam yang keluar dengan 


"Mama sama Papa ngapain di sini?" tanya Sam penuh selidik.


"Eh itu … tadi Mama sama Papa dengar teriakan Lila dari kamar kamu. Jadi Mama sama Papa berniat memeriksa tapi malah disambut oleh suara romantis kalian berdua," jawab Rasti.


"Gimana? Sukseskan? Papa dengar kalian semangat sekali," tanya Hamdan.


Dahi Sam mengerut.


Mama sama Papa salah paham deh. Lila sih pakek acara teriak begitu, batin Sam kesal.


"Mama sama Papa salah paham. Sam sama Lila bukan ngelakuin hal itu. Gak berani belum sah dan halal," ralat Sam tegas.

__ADS_1


"Salah paham maksudnya?" tanya Rasti tak paham.


"Maksudnya adalah yang terjadi adalah …," ucapan Sam terpotong karena akhir kata episode ini. 


__ADS_2