Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 180


__ADS_3

"Dengarkan saya ya Kakak berdua yang tak mau disalahkan padahal salah. Di sini jelas-jelas kakak ini yang nabrak saya, kok malah Anda yang marah? Kalau celana Anda kotor itu atas kesalahan Anda sendiri. Saya diam baik berdiri sambil minum Anda tabrak. Emangnya saya ada salah sama kamu? Jumpa saja baru ini, huh," kesal Bayu.


"Ya kamu ngapain berdiri di sana? Itukan termasuk jalan, memangnya ini mall milik kamu? Ada tempat duduk ngapain berdiri? Kamu ganggu tahu, buat sempit jalan," ucap sang wanita.


"Ck, terserah saya dong, saya nyamannya berdiri ya saya berdiri. Lagian jalannya lebar begini, truck gandeng saja muat, atau kakak berdua lebarnya melebihi truck gandengnya? Kasat mata sih ramping dan seksi tapi kalau pakai mata batin badannya melar ya?" Bayu mendongak, menatap tajam kedua orang itu.


"Kamu, bukannya ganti rugi malah mengejek, mana orang tua kamu?"tanya sang wanita, mengangkat tangannya hendak memukul Bayu. Sebelum mengenai Bayu, tangan wanita itu ditangkap oleh Enji, Enji tak mengumbar wajahnya, ia memakai masker, topi dan kacamata.


"Berani sekali kamu hendak menampar putraku!" ucap marah Enji.


Enji menghempaskan tangan wanita muda itu dengan kasar. Wanita itu tampak terkesiap dengan nada bicara Enji.


"Oh jadi ini anak Anda, lihat perbuatan anak Anda, celana saya jadi kotor. Anda tahu berapa harga celana ini? Mahal," ucap sombong pria muda itu.


"Oh ternyata harga celana merk ini mahal ya? Padahal kw lo, kamu kena tipu ya?" ledek Enji setelah meneliti celana jeans putih yang dikenakan pria muda itu.


"Siapa bilang ini kw? Ini asli! Jangan sembarangan bicara!" tegas pria muda itu. Tak terima dengan ucapan Enji, wajahnya memerah padam.


"Huft, darah muda memang membara. Baiklah anak muda akan aku ganti celanamu, akan ku belikan yang aslinya bukan kw-nya," ujar Enji, merangkul pria muda itu menuju toko dengan brand celana tersebut.


Bayu memutar bola matanya malas dan mengikuti Ayahnya, sedangkan wanita muda itu menatap mereka dengan tatapan rumit.


Mirip banget sama idola aku, tapi mana mungkin diakan gak punya anak, jangankan anak, pacar saja entah ada atau tidak, batinnya, segera menyusul ketiga orang itu.


***


"Nah ini baru yang ori, lain kali jangan bilang asli kalau kw. Bergaya lah sesuai dompet dan realita, dan lain kali lebih hati-hati, see you next time," ujar Enji menepuk bahu pria muda itu. Enji masih setia memakai masker, kacamata serta topi hitamnya.


Wajah pria muda itu tertunduk malu. Ia mengangguk pelan. Enji tersenyum sedangkan Bayu cuek-cuek bebek.


"Maaf ya Dik, Kakak salah tapi malah ngegas," ucap pria muda itu.


"Hm, iya deh, lain kali kalau jalan pakai spion dan hati-hati, jangan meleng," ujar Bayu. Usia boleh masih 7 tahun 8 tahun, tapi pemikiran bisa lebih dewasa dari usia.


"Ya sudah, kami pergi," ujar Enji, menggandeng tangan Bayu, meninggalkan kedua anak muda itu. 


"Kak kamu beruntung banget," ujar sang gadis menatap pria yang merupakan kakaknya itu.


"Ya, kalau begitu mari kita pulang, ayah dan ibu pasti khawatir kita keluarnya lama sekali," ajak sang kakak.


Sang adik mengangguk. Keduanya berjalan beriringan menuju pintu keluar mall yang merangkap sebagai pintu masuk.


Sedangkan di pinggir jalan depan mall, Enji dan Bayu berjalan santai. Enji membawa beberapa paperbag barang belanjaannya dan Bayu.


"Naik taksi kan Yah?" tanya Bayu, saat mereka hendak menyebrang jalanan.


"Gak usah, jalan saja, restoran kak Karina gak terlalu jauh dari sini, makanya dia enjoy ninggalin kita berdua," jawab Enji.


"Oh," sahut Bayu. Enji setia menggandeng tangan Bayu dan membawa menyebrang jalanan.


***


"Ada yang bisa dibantu Nona?" tanya resepsionis lobby gedung BHE.


Karina yang memakai masker dan lengkap dengan kacamatanya memberikan kartu namanya pada resepsionis tersebut. Resepsionis itu tampak tercenggang. Ia menatap rumit Karina.


"Saya ingin bertemu dengan direktur kalian," ujar Karina.

__ADS_1


"Ah saya akan segera menghubungi beliau, Anda bisa duduk sembari menunggu," ujar resepsionis itu tersenyum. Karina mengangguk.


Sembari menunggu, Karina mengambil handphonenya dan membuka kontak, mencari nomor kontak yang mau ia hubungi.


"Kalian di dorm kan? Jemput aku di bawah, lama sekali menunggu direktur kalian itu," ucap Karina dengan nada memerintahnya.


"Hm, cepatlah!" Karina menutup panggilan.


Setelah menunggu kurang lebih lima menitan, ada yang menghampiri Karina.


"Presdir Karina, selamat datang di perusahaan kecil saya ini," tutur pria itu yang merupakan direktur BHE. Mengulurkan tangan berjabat tangan.


"Hm, lama tak berjumpa, Anda tampak lebih gendut dan aura bahagia sedikit takut terpancar dari wajah Anda. Tenang saya hanya mau membahas bisnis dengan bertemu dengan salah artismu," ujar Karina. Membalas uluran jabat tangan direktur BHE.


Sang Direktur tertawa kecil. Memang benar ia senang bercampur takut dan waspada. 


"Baiklah, kalau begitu mari ke ruangan saya. Anda pasti mau membahas tentang mereka yang mau menjadi brand restauran baru Anda bukan?" ajak CEO, mempersilahkan Karina jalan duluan.


"Bukankah itu sudah ditandangani kontraknya? Bukan yang itu, tapi bisnis baru," ralat Karina.


Sang CEO mengeryit dan hendak bertanya namun tak jadi sebab terhalang panggilan dari seseorang.


"Karina," panggil seseorang. Karina tahu suara siapa itu. Siapa lagi kalau buka Agus. Padahal tadi yang dihubungi adalah leadernya.


"Aku merindukanmu."


Agus tanpa ragu memeluk Karina, membuat Sang CEO sedikit menyingkir.


"Tapi aku tak merindukanmu, lepaskan pelukanmu, perutku sesak kau memeluk terlalu erat," ucap Karina. Agus melepas pelukannya dan menatap sedih dan khawatir Karina.


"Wah ternyata tukang swag bisa jadi kucing manja," kekeh Papa Bear, mengesampingkan dulu ucapan Karina.


"Eh tunggu bahas bisnis dulu baru ke sana. Mari presdir," tahan direktur.


"Saya ke dorm dulu saja, atau kita bahas saja di dorm," ujar Karina.


"Nah itu lebih efisien," ujar Agus.


"Baiklah ayo," ucap direktur. Ketiga lantas menaiki lift dan naik menuju lantai dorm para member berada.


Setibanya di dorm, Karina langsung disambut dengan suka cita member lainnya. Sang Direktur menghampiri beberapa stafnya dulu.


"Akhirnya yang ditunggu janjinya hadir juga, kau memberi kami kejutan Karina," ujar Koya.


"Hm," gumam Karina. Mendudukkan tubuhnya di empuknya sofa. 


"Oh ya kau sendirian saja? Arion hyung mana?" tanya RJ.


"Dia sedang bekerja," jawab Karina.


"Kalau Enji dan Bayu? Apa mereka juga ikut?" tanya Kuki penasaran.


"Mereka ke mall," jawab Karina. 


"Wih belanja gak ngajak-ngajak mereka," ucap Chimmy.


"Kenapa? Mau gratisan?" Karina melirik Chimmy sinis. Chimmy tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"By de way, happy birthday for you Mochi," ucap Karina.


"Telat, ulang tahunku sudah beberapa waktu lalu," sahut Chimmy.


"Ya penting aku ngucapin walaupun telat," balas Karina. Chimmy mengerucutkan bibirnya.


"Hm, apa perjalananmu menyenangkan? Sepertinya kau terlihat sedikit kesal." Mang menatap Karina penasaran.


"Ya perjalananku selalu menyenangkan, eh V mana?" Karina baru sadar bahwa Tata tak ikut bergabung. 


"Dia ke toilet," jawab Kuki.


"Oh, eh di mana abang tadi?" Karina melupakan sang direktur perusahaan tempatnya berada sekarang.


"Maaf lama Presdir, silahkan nikmati sajian sederhana dari kami." Sang direktur datang dengan nampan berisi sajian untuk Karina sebagai tamu.


Karina langsung menyambar minumannya. 


"Bisnis baru apa yang mau Anda tawarkan lagi Presdir?" tanyanya penasaran, menyambung pembicaran tadi. 


"Saya ingin menawarkan kerjasama lagi. Bagaimana jika artis Anda ini dan artis perusahaan saya berkolaborasi? Kerja sama yang itu kan terlepas dari perusahaan dan organisasi. Tenang bukan dengan girlband, bisa solo atau boyband, bukankah perusahaan Anda sedang naik daun, dan akan bisa lebih naik daun lagi jika kita bekerja sama," ucap Karina.


Sang direktur terdiam sejenak, dahinya berkerut. Para member boy band itu tampak tercengang dengan ucapan Karina. Mereka mulai ribut dan berbisik-bisik. Karina melirik mereka tajam, hening seketika.


KS Entertaiment, perusahaan Karina yang bergerak di bidang industri hiburan, telah banyak artis besutannya yang mencapai kesuksesan gemilang. Artisnya pun jarang terkena masalah dan jikalau terkena, pihak kuasa hukumnya segera bertindak. 


Menunggu jawaban, Karina melihat jam tangannya. Sudah memasuki jam makan siang. Tata sudah bergabung dengan mereka. 


"Ya sudah Anda pikirkan dulu, saya tunggu jawaban Anda. Dan satu lagi, saya pinjam dulu ketujuh orang ini, makan siang di luar, bisakah?" Karina tersenyum. Abang direktur terkesiap dan mengangguk.


Blue Boys tersenyum. Mereka segera mengambil barang yang mau mereka bawa. 


"Gus, kau denganku, kau yang menyetir," ucap Karina, melemparkan kunci mobilnya pada Agus. Agu menangkapnya dan mengangguk.


Setibanya di tempat di mana Karina memarkir mobil, Agus langsung menekan tombol membuka kunci mobil. Karina dan Agus segera masuk. Sedangkan keenam member lain menuju mobil mereka. 


****


"Selamat atas konser online yang sukses untuk beberapa waktu lalu," ucap Karina, tanpa menoleh kepada Agus yang fokus menyetir.


"Kau menonton konsernya Karina?" tanya Agus tak percaya, menatap Karina sekilas.


"Tidak, hanya teaser dan beritanya saja. Untuk apa aku harus menonton online jika bisa menonton langsung?" Karina tersenyum.


Agus berdecak lidah. 


"Ya kau kan Queen," ucap Agus.


"Apa pendapatmu tentang penawaranku tadi?" tanya Karina, biasanya ia tak peduli pendapat orang mengenai keputusan atau penawarannya. 


"Membuatku terkejut. Kau ini memang selalu bisa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," jawab Agus, tersenyum lebar.


"Ya hidup harus punya banyak rencana serta plan per rencana. Aku akan memikirkan semuanya dari berbagai segi. Bukan sekedar satu arah saja.  Sejak lama aku memikirkan hal ini namun baru sekarang tersampaikannya," ucap Karina.


"Kau ini aneh juga, ada ribuan karyawan dan banyak tangan kanan, malah menunggu selama ini untuk itu," heran Agus.


"Terserahku dong, kan aku yang pegang kendali atas apa yang aku miliki." Karina tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2