
Keesokan harinya, Karina dan Arion sudah kembali ke perusahaan mereka masing-masing. Star Blue tentu saja ikut dengan Karina. Di ruang kerjanya, sudah disediakan box bayi lengkap dengan antek-anteknya.
Seorang ibu yang masih menyusui memang dibolehkan membawa bayi mereka ke perusahaan. Di sini terdapat beberapa ruangan khusus untuk tempat penitipan yang dijaga oleh perawat berpengalaman dan berkualitas. Tidak ada biaya, gratis ditanggung perusahaan.
*
*
*
Tak terasa sudah delapan bulan berlalu. Bintang dan Biru tumbuh dengan cepat. Keduanya sudah bisa berdiri tanpa dibantu, bahkan berjalan walau masih harus berpegangan pada dinding.
Keduanya sangat aktif walaupun Biru lebih cenderung tidak banyak bersuara. Lebih berisik Bintang yang seakan tak lelah memanggil Karina yang sedang bekerja dengan suaranya yang imut.
Kembarannya hanya melirik dengan tetap memainkan sebuah permainan bongkar pasang. Rata-rata mainan mereka semua bongkar pasang, untuk melatih motorik mereka berdua. Sudah diajarkan untuk memecahkan masalah sedari dini.
Karina yang baru menyelesaikan salah satu berkas, berdiri dari kursinya, melangkah mendekati sebuah area berbentuk persegi empat dengan dinding kaca, memakai sudut ruangan.
Dinding kaca tersebut bisa diatur ketinggiannya. Saat Karina meeting maka dinding akan mencapai langit-langit, serta mode kedap suara diaktifkan. Saat Karina selesai meeting ketinggian dinding menjadi sepinggang Karina.
Saat Karina mendekat, Bintang yang sudah berdiri dengan berpegangan pada dinding kaca langsung mengangkat kedua tangannya, meminta Karina menggendongnya.
"Gendong?"
Karina menaikkan salah satu alisnya.
Bintang mengangguk, merengek yang membuat Karina terkekeh pelan, langsung membungkuk dan menggendong Bintang.
Biru sendiri mendongak, menatap Bintang yang sibuk ingin membuka kancing baju Karina.
"Makanya jangan teriak-teriak. Jadi haus kan," keluh Karina, membuka kancing bajunya dengan satu tangan.
Bintang langsung menyusu begitu pakaian dalam bagian atas Karina dibuka. Karina duduk di kursi seraya memperhatikan Biru yang kembali asyik menyusun puzzle, mulai memperlihatkan gambar yang akan disusun.
Setelah kenyang, Bintang mendongak menatap Karina, menarik kerah baju Karina. Menyadarkan sang mama yang terfokus menatap sang adik.
Karina menunduk.
"Sudah?"
"Baiklah," ujar Karina, berdiri dan menurunkan kembali Bintang di samping Biru.
"Ma … ma … ma … ma," celoteh Biru menunjukkan puzzle susunannya yang sudah selesai.
Karina tersenyum lebar, susunannya tidak ada yang tidak tepat.
Biru menatap wajah Karina meminta pujian.
"Biru memang cerdas. Mama bangga sama kamu, Nak," puji Karina.
Biru mengembangkan senyum. Bintang yang sifatnya campuran Karina dan Arion tapi kebanyakan menuruni sifat petakilan dan jahil mereka, dengan atau tanpa sengaja merusak susunan puzzle yang sudah finish.
Karina sedikit membulatkan matanya, menanti reaksi Biru yang diam menatap puzzle yang kembali berantakan. Bintang kini malah menatap Karina minta dipuji.
Plak.
Tanpa aba-aba, Biru menepuk dahi Bintang. Tatapannya jelas kesal. Karina menunjukkan wajah herannya ketika Bintang dan Biru adu mulut dengan bahasa yang belum bisa Karina mengerti.
Karina hanya bisa menebak bahwa Biru menyuruh Bintang untuk menyusun kembali puzzle itu ketika melihat tangan mungil Bintang mulai meraih satu demi satu potongan puzzle dan meletakkannya pada papanya.
"Ma … ma … ma," celoteh Biru menunjuk ke arah laptop Karina.
Karina mengangguk mengerti, mengambil handphone kemudian memutar video edukasi untuk anak balita.
Indera yang paling aktif saat usia balita adalah pendengaran. Perhatian Biru kini terpusat pada handphone di hadapannya, menonton video.
"Mama akan kembali bekerja. Panggil Mama jika kalian ingin sesuatu," ujar Karina, melangkah kembali ke kursinya.
*
*
__ADS_1
*
Pekerjaan Karina tidak terlalu banyak hari ini jadi Karina bisa pulang tepat waktu sesuai dengan jam pulang kerja. Jika ia lembur, biasanya Arion yang menjemputnya. Karina segera membereskan meja kerjanya kemudian mengambil kereta bayi kedua anaknya.
Sebelum keluar dari ruang kerjanya, Karina terlebih dahulu mengganti pempers Bintang dan Biru. Sepuluh menit kemudian, Karina mendorong kedua kereta bayinya keluar. Di luar Karina mendapati Sasha dan Aleza yang baru selesai membereskan meja, bersiap untuk pulang juga.
"Nona, tuan muda dan nona muda kecil," sapa keduanya membungkuk hormat.
Karina hanya mengangguk, segera menuju lift untuk turun ke basement pribadinya.
Di sana Pak Anton sudah menunggu. Mobil yang Karina gunakan untuk ke kantor pun berganti menjadi alpha.
Cukup repot memang. Tapi Karina lebih tenang dengan begini. Kedua anaknya ada di dekatnya, menambah semangat kerjanya. Terlebih Karina bisa mengamati dan melihat perkembangan Bintang dan Biru dari waktu ke waktu.
Setelah semua selesai, Pak Anton segera masuk ke mobil, melajukan mobil keluar basement.
*
*
*
Tiba di rumah, Karina mendapati Arion tengah menunggu di kursi beranda depan dengan membaca koran serta menikmati secangkir kopi. Arion langsung berdiri begitu melihat mobil Karina berhenti di depan rumah, membukakan pintu mobil, menyambut anak-anak dan istrinya.
Arion menggendong Bintang dan Biru bersamaan. Karina keluar dari mobil dengan membawa tasnya.
Saat digendong, Biru meronta. Arion yang sudah paham karakter anaknya ini langsung menurunkan Biru. Biru berdiri dengan berpegangan pada kaki Karina.
"Aku masih heran dengan Biru. Mengapa ia lebih memilih jalan sendiri daripada ku gendong? Anaknya Calvin dan Sam saja maunya nempel terus sama Papanya," heran Arion, menatap Karina yang hanya mengendikkan bahu.
"Dan kakaknya ini lagi, eh … astaga. Apakah gendonganku sangat nyaman? Lihat Bintang sudah tidur."
Arion sedikit pusing dengan sifat Bintang dan Biru.
"Kayak nggak tahu Bintang saja. Aktifnya minta ampun. Di mobil saja masih sempat-sempatnya bertengkar dengan Biru. Lihat tuh … dahinya merah. Sudah tahu adiknya kalem-kalem galak malah diganggu," omel Karina seraya merapikan poni pendek Bintang.
"Sudahlah. Ayo masuk," ajak Arion.
"Oke-oke. Sudah lebih jauh dari kemarin," ucap Karina, kembali menggendong Biru.
Biru mengembangkan senyum mungilnya, meletakkan kedua tangan dan kepala pada dada Karina.
Sudah jalan jauh pastilah haus. Karina segera menyusul Arion yang sudah berada di kamar Bintang dan Biru.
"Ke kamarlah lebih dulu. Aku akan menyusul setelah menyusui Biru," ujar Karina duduk lesehan di lantai yang dilapisi dengan permadani.
"Aku akan menunggu di sini," ucap Arion, duduk di samping Karina setelah membaringkan Bintang di box bayinya.
"Hm. Tapi jangan macam-macam," ancam Karina dengan tatapan tajam.
"Tentu. Aku tidak akan macam-macam. Lagian itu kan untuk kedua anakku. Jika aku ambil jatah, aku takut rahimmu akan kontraksi. Juga nanti anakku kurang gizi," sahut Arion santai, membelai lembut rambut Biru.
"Heh? Sekarang tidak, nanti malam?"gerutu Karina.
Arion tertawa.
"Dosa loh nolak ajakan suami. Lagipula kan sudah lepas masa nifas. Aku rindu Karina. Ciuman saja terasa kurang," rengek Arion.
"Ya sudah kalau kurang. Tak usah ciuman lagi!"
"Eh? Tidak! Ciuman adalah menu pembuka dan penutup hariku!"ucap Arion, memalingkan wajah Karina kepadanya dan langsung mencium bibir Karina.
Karina yang sudah biasa, apalagi selain membalas. Di mulut menolak tapi saat dilakukan menerima.
*
*
*
Setelah kenyang, Biru menarik bajunya sendiri, meminta mandi. Sudah kebiasaan saat pulang kerja, setelah menyusu minta mandi.
__ADS_1
Bintang juga terbangun, langsung duduk dan mengoceh memanggil Karina ataupun Arion.
Karina dan Arion menarik nafas panjang. Jelas lelah, tapi ini adalah kebahagiaan tersendiri. Mengurus anak dengan tangan sendiri menciptakan momen berharga setiap waktu.
Setelah makan malam juga Bintang dan Biru yang telah tertidur nyenyak dan biasanya baru bangun di jam empat pagi, Arion langsung mengajak Karina ke kamar.
8
8
8
Tap. Alarm kamar Karina dan Arion berbunyi di pukul 04.00. Keduanya yang masih enggan bangun, lelah karena aktivitas panas tadi malam. Arion hanya membuka mata setengah, menekan tombol alarm agar diam kemudian kembali tidur, kembali memeluk Karina.
Karina membuka mata sekitar sepuluh menit kemudian. Mengerjap perlahan kemudian bangun. Karina mengedarkan pandangan kemudian menyalakan lampu.
"Astaga!"
Karina langsung turun ranjang dan berlari keluar kamar setelah melihat jam dinding.
Arion yang terganggu dengan itu membuka mata dan melihat sampingnya kosong. Sudah tahu kemana perginya.
Karina mendengus senyum melihat Bintang dan Biru yang sudah bangun dan kini tengah bermain dengan mainan mereka. Saling mengobrol dan berceloteh dengan ria.
*
*
*
Agenda setiap weekend adalah piknik keluarga, entah itu di dalam atau keluar kediaman. Seperti pagi ini, setelah sarapan pagi, Karina dan Arion bersiap untuk piknik di Tirta Garden. Setelah memasukkan semua keperluan Bintang dan Biru, serta memasukkan keduanya ke mobil, Arion segera melajukan mobil menuju Tirta Garden.
Perlahan yang ceria. Dengan menyetel lagu anak mengajak Bintang dan Biru bernyanyi. Bintang dan Biru bernyanyi walaupun dengan bahasa yang belum mereka berdua mengerti.
Setibanya di Tirta Garden, Arion dan Karina menggendong anak mereka. Arion menggendong Biru sedangkan Karina menggendong Bintang. Menggunakan gendongan ransel untuk memudahkan mereka membawa Bintang dan Biru bersepeda.
Setelah lelah bersepeda, Arion menggelar tikar di bawah pepohonan rindang kemudian menyusun bawaan mereka tengah tukar.
Bintang dan Biru langsung melangkah ketika tempat duduk mereka telah siap. Biru meminta mainan puzzlenya sedangkan Bintang menonton video edukasi anak mengenai alam.
Karina dan Arion mengamati dengan tangan Arion merangkul Karina.
Arion yang kini gemas dengan pipi chubby Bintang, menyentuh pipi Bintang kemudian menguyel-uyelnya dengan gemas. Bintang yang merasa terganggu langsung memberikan tatapan kesal.
"Anak nonton diganggui! Huh!"kesal Karina.
Arion tertegun, mengalihkan tatapan kepada Karina.
"Mengapa tatapan kesal kalian bertiga sama?"celetuk Arion.
Biru yang merasa terpanggil, mendongak kemudian ikut-ikutan memberikan tatapan kesal.
"Nah benarkah."
"Kenapa memangnya hah? Mereka akan anak-anakku," ketus Karina.
"Nggak ada yang salah. Cuma heran saja mengapa mereka hanya Bintang yang menuruni sifat petakilanku. Anaknya terlalu aktif, aku saja hampir tidak sanggup menjaga mereka berdua saat kamu mandi tadi," ujar Arion.
"Aku setiap saat Ar. Tahu rasanya setiap saat dipanggil sama Bintang? Ributnya sekali. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka kan anak kita, darah daging kita!"
"Istriku memang wanita hebat. Kau bisa menjaga dan merawat anak sekaligus dengan bekerja," puji Arion.
"Menyambi adalah keahlian wanita, Ar," jawab Karina.
Keduanya tersenyum lepas. Bintang menatap Karina dan menunjukkan layar handphone, ada sebuah panggilan.
"Li?"gumam Karina mengambil handphone.
"Ada kabar baik, Queen," ujar Li setelah Karina menjawab panggilannya.
"Kabar apa itu?"tanya Karina penasaran.
__ADS_1