
Raina menunggu hasil pemeriksaan dokter terhadap suaminya. Hamdan dan Santi juga ikut menunggu dengan cemas. Di ranjang, dokter memeriksa kondisi Calvin dengan seksama.
Tadi pagi, saat bangun, Raina merasa aneh dengan Calvin yang menggigil. Suhu kamar memang dingin tapi tidak pernah Calvin kedinginan seperti ini, terlebih selimut cukup menghangatkan. Heran, Raina memeriksa suhu tubuh Calvin. Panas, tapi menggigil.
Calvin membuka mata, dengan bibir yang bergetar. Wajah Calvin pucat, ia memegang tangan Raina yang masih menyentuh dahinya.
"Kamu demam," ucap Raina cemas. Calvin menggeleng lemah.
"Aku enggak papa. Cuma dingin saja," ucap lemah Calvin.
Raina menarik tangannya, lalu turun dan keluar kamar. Calvin menatap kepergian Raina tanpa bergerak dari posisinya. Tubuhnya terasa lemas, tubuhnya semakin terasa dingin. Calvin mengeratkan selimut membungkus tubuhnya.
Tak lama, Raina kembali dengan membawa baskom dan handuk kecil. Raina duduk di samping Calvin. Calvin membuka mata dan menatap lemah Raina.
Dengan telaten, Raina mengompres Calvin.
"Cuma demam ringan kok Ra. Enggak perlu cemas. Aku enggak papa kok," tutur Calvin lagi. Raina menunjukkan wajah kesalnya.
"Panas begini kamu bilang enggak papa? Kamu pasti kelelahan bekerja. Makanya kalau aku bilang istirahat ya istirahat! Diingatkan makan ya makan, dibawain makanan ya dimakan! Jangan diangguri! Disiapkan vitamin ya diminum, jangan dibuang! Kamu pikir aku enggak memperhatikan kamu?"
Raina kesal. Memang seminggu terakhir ini, Calvin selalu lembur. Perginya pagi sebelum Raina bangun, pulangnya malam saat Raina sudah tidur. Seminggu ini, hanya kertas ucapan selamat pagi dari Calvin yang Raina jumpai saat membuka mata dan meraba ranjang. Untung saja Calvin tidak mengabaikan panggilan teleponnya, jika ia, Raina pasti akan menghampiri Calvin ke perusahaan.
Awalnya sih Raina senang melihat Calvin masih tidur, belum pergi kerja, tapi jadi khawatir dengan kondisi Calvin.
"Maaf." Calvin menutup mata sejenak, matanya menunjukkan rasa bersalah.
"Kamu sering ingatkan aku untuk jangan lelah, bahkan bujuk aku untuk resign, takut aku kelelahan, nanti aku sakit. Nanti kehamilan aku terganggu, nyatanya? Malah kamu yang sakit!" Raina menghela nafas kasar, nada bicaranya masih datar.
"Maaf." Calvin menyentuh dan menggenggam jemari Raina.
"Kalau kamu enggak bisa jaga kesehatan kamu sendiri … bagaimana bisa kamu menjaga kesehatan aku dan anak kita?" Nada bicara Raina melemah, ia membawa tangan Calvin yang menggenggam jemarinya ke pipi. Mata Raina memerah, tapi tidak turun hujan di sana. Hanya ada mendung saja.
"Aku panggil dokter ya," ucap Raina. Calvin menggeleng.
"Enggak usah. Bentar lagi juga sembuh. Minum obat pereda panas saja," pinta Calvin.
"Biar cepat sembuh Vin. Tubuh kamu panas tapi dingin. Enggak kayak demam biasa. Aku telepon dokter Evan dulu," tegas Raina, hendak beranjak tapi Calvin menahan. Matanya memelas.
"Jangan … aku enggak mau! Cukup temani aku saja ya. Kamu cuti ya, rawat aku," bujuk Calvin.
Melihat wajah Calvin, Raina mengalah dan mengangguk, menyetujui permintaan Calvin. Calvin tersenyum. Raina kemudian mengambil handphone dan mengirim pesan pada Karina dan Lila.
Seusai itu, Raina kembali mengompres Calvin. Calvin kembali tertidur, Raina beranjak keluar kamar. Menuju dapur untuk membuat bubur.
Karena biasanya di jam segini Raina siap-siap untuk ke kantor, kini memasak bubur di dapur. Bahkan Santi saja terkejut melihat Raina di dapur. Ia terkesiap saat mendengar penjelasan Raina. Dengan segera ia menuju kamar Raina dan Calvin.
"Bagaimana kamu bisa sakit?"tanya Santi.
Calvin membuka mata.
"Mana Calvin tahu Ma. Memangnya Calvin bisa tahu bakalan sakit?"jawab Calvin, kesal.
"Makanya jaga kesehatan. Kamu kerja enggak sarapan, makan siang juga apa kabar, makan malam apalagi. Enggak teratur. Kamu tahu enggak? Raina itu selalu muram seminggu ini. Sekarang Mama tahu alasan Raina selalu semangat kerja dan tetap sehat, jadwal yang teratur. Vin, sepenting apapun masalah yang kamu hadapi, kesehatan tetap number one! Uang … tidak sebanding dengan kesehatan." Bukannya menanyakan perasaan Calvin atau memeriksa suhu tubuh dan mengganti kompres Calvin, Santi malah mengomeli Calvin.
Calvin berdecak sebal walaupun pelan.
"Ma … Calvin sakit loh. Bukannya menyemangati … malah ngomelin. Bukannya sembuh tambah parah iya!"kesal Calvin.
Santi menghela nafas panjang, tatapan mata yang semula garang melunak, menatap cemas Calvin. Santi kemudian duduk dan mengganti kompres Calvin.
Saat makan, Calvin mual dan muntah. Bubur yang baru masuk langsung keluar dan berceceran di lantai. Kepala Calvin terasa sangat pusing. Sendi dan ototnya juga terasa nyeri. Calvin benar - benar merasa lemah. Tapi ia tetap saja merengek agar Raina tidak memanggil Dokter. Tidak menurut, Riana menghubungi dokter Evan.
__ADS_1
Dokter Evan tiba dua puluh menit kemudian, segera memeriksa kondisi Calvin.
"Bagaimana Dok?"tanya Raina cepat setelah dokter Evan selesai memeriksa Calvin. Calvin menatap dokter Evan dan Raina penasaran.
"Dari hasil pemeriksaan saya dan gejala yang ditunjukkan … Tuan Calvin terkena demam berdarah," ujar dokter Evan.
"Demam berdarah?"beo Raina memastikan. Dokter Evan mengangguk.
"Nyamuk kurang ajar mana yang menggigit anakku?"geram Santi, marah dengan nyamuk.
"DBD? Berarti Calvin harus dirawat?"tanya Hamdan mengabaikan ucapan Santi. Dokter Evan mengangguk.
"Enggak! Aku enggak mau ke rumah sakit!"tolak Calvin lemah. Ia bahkan mencoba untuk duduk. Raina menahan, ia menunjukkan wajah memohon pada Calvin agar mau dirawat. Demam berdarah termasuk ngeri - ngeri sedap.
"Kalau tidak mau dirawat di rumah sakit … maka kamu akan dirawat di rumah. Benarkan Ma, Pa?"
Raina menoleh ke arah Santi dan Hamdan meminta dukungan. Tentu saja kedua orang itu setuju. Calvin, memang tidak suka rumah sakit. Kalau bukan keadaan darurat ataupun mendesak, Calvin tidak akan menginjakkan kaki di rumah sakit.
"Baiklah, saya akan menangani Tuan Calvin segera," tukas dokter Evan.
*
*
*
Setibanya di perusahaan, Enji tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Ia bolak-balik melihat jam juga handphone.
Laptopnya sendiri, masih melacak keberadaan Bayu.
Tidak tahan, Enji bergegas keluar ruang kerjanya. Memberi pesan pada sekretarisnya lalu turun dari lift khusus langsung ke basement.
Sepanjang jalan, ia memikirkan alasan Bayu meninggalkan dirinya. Ia percaya Bayu tidak diculik, sebab ia mendapat rekaman kamera pengawas dimana Bayu memasuki sebuah mobil dengan santai. Plat mobil tertutup, serta tidak ada orang yang membawa Bayu yang terlihat.
Semakin ia pikirkan dan cari, semakin sulit ia menemukan jawabannya. Ia merasa ia tidak pernah berselisih ataupun bertengkar dengan Bayu. Saat memarahi Bayu pun, ia juga kena marah balik sama Bayu.
Baginya, Bayu selalu blak - blakan. Bahkan saat mengatakan bahwa ia ingin Jessica menjadi ibu untuknya, tegas, lugas dan serius. Tidak ragu.
Bayu, selalu bersikap sesuai dengan hatinya. Jika ia suka, ya suka. Jika tidak ya tidak, kalau nekat bersiaplah mendengar ucapan ketus dan pedas Bayu. Sejauh ini, hanya Lia yang tahan dengan ucapan ketus dan pedas Bayu.
"Apa yang salah? Apa yang mengganggu hati Bayu? Apa yang membuatnya kesal denganku? Kemana perginya Bayu?" Enji bertanya - tanya.
Kini, ia tiba di parkiran luar perusahan KS Tirta Grub. Enji segera masuk ke lobby, menuju meja resepsionis.
"Sudah ada janji Tuan?"tanya resepsionis tegas.
"Katakan saja pada presdir kalian, Enji ingin bertemu," ucap Enji.
Resepsionis itu mengangguk dan segera menghubungi Karina.
Beberapa saat kemudian, resepsionis itu mempersilahkan Enji untuk naik lift menuju ruangan Karina. Enji bergegas menuju lift.
Selama di lift, Enji bersandar pada dinding lift dengan mata terpejam, ia sudah siap jikalau Karina marah nanti. Karyawan yang satu lift dengan Enji, menatap Enji sekilas dengan wajah datar. Mereka hanya penasaran, bagi mereka … pria tampan sudah biasa.
Lila dan Sasha heran dengan Enji yang langsung masuk ke ruangan Karina tanpa sepatah kata pun terhadap mereka. Karina yang masih fokus membaca dokumen, mengangkat kepala dan melihat ke arah pintu. Enji masuk dengan wajah serius dan langsung duduk di hadapan Karina.
Karina meletakkan dokumen yang ia baca, lalu melepas kacamata yang ia kenakan.
"Hal mendesak apa yang membuatmu tidak sabar sampai harus menemuiku di perusahan?"tanya Karina menyelidik Enji. Enji menatap lekat Karina.
"Di mana Bayu?"tanya Enji to the point. Karina menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Kamu ayahnya mengapa bertanya padaku? Aku baru kembali kemarin sore, tidak ada waktu memikirkan yang lain selain tidur," ujar Karina.
"Jangan berbohong. Yang terakhir dihubungi Bayu adalah Kakak. Apa yang Bayu adukan, sampai Bayu pergi dari rumah. Pasti ini rencana kalian kan?"desak Enji.
"Ya kemarin Bayu memang menghubungiku. Dia memang mengeluh tentangmu. Apa kamu pikir aku yang membawa Bayu? Bukti?" Karina jujur.
Enji mengeluarkan handphone dan menunjukkan sebuah rekaman sebagai bukti. Karina melihatnya. Ia tersenyum tipis.
"Ini mobil markas kan? Dan yang membawa Bayu orang kakak kak? Ayo lah jujur Kak. Awalnya memang aku kira Bayu diculik, tapi aku sudah menunggu selama ini menunggu kabar dari penculik, andainya benar diculik. Aku juga mengerahkan orangku, tapi semua zonk. Dari semua yang ku dapat, aku berani menarik kesimpulan bahwa Bayu pergi sukarela dan bersama Kakak," papar Enji.
"Lalu?"
"Di mana Bayu?"
Karina mengendikkan bahu. Memang ia kini tidak tahu Bayu dan Aleza berada di mana. Gedung perusahannya besar dan luas.
"Aku anggap Bayu bersama Kakak. Apa Kakak tahu, alasan Bayu pergi dari apartemen?"tukas Enji.
"Dia hanya mengatakan, kamu terlalu fokus pada calonmu sampai mengabaikannya. Kamu tahu artinya?"
"Aku mengabaikan Bayu?" Enji menunjuk dirinya sendiri dengan wajah terkejut. Karina mengangguk.
"Tidak pernah sekalipun aku mengabaikan Bayu Kak. Dia adalah prioritas utama dan yang paling penting bagiku. Mana mungkin aku mengabaikan dirinya demi pendekatan dengan Jessica! Aku tidak tahu apa yang sebenarnya Bayu lihat dari sikapmu terhadap Jessica," tegas Enji.
Karina menggeleng.
"Hal penting, bisa menjadi tidak penting seiring bertambahnya waktu. Jika ia sudah tidak penting lagi, mereka akan lebih dilupakan. Bayu adalah salah satu yang berharga dalam hidupku. Jika Bayu berubah, menghilang, itu sangat menyakiti diriku. Hal yang penting belum tentu berharga dan sebaliknya. Perhatikan ucapanmu!"
Enji tertegun. Ia mencerna ucapan Karina. Belum selesai Enji mencerna, Karina sudah lanjut berucap.
"Ternyata kamu belum memahami dan mengerti Bayu. Bayu adalah orang yang mudah cemburu, walaupun hal sepele. Bayu akan kesal, jika yang sudah menjadi rutinitas jika dijalankan. Ia akan marah, jika perhatianmu terbagi dengan jumlah yang tidak sebanding. Seharusnya kamu sudah tahu ia marah atau kesal hanya lewat tatapan mata," lanjut Karina, menunjukkan senyum mengejeknya. Mata Enji terbelalak sekilas, ia merasa sesak, bersalah.
Akhirnya Enji sadar.
"Ternyata itu," gumam Enji.
"Sederhana bukan? Tapi sangat berbahaya," ucap Karina.
"Lantas di mana Bayu sekarang?"tanya Enji.
"Tidak tahu!"jawab Karina.
"Kak!"rengek Enji.
"Lebih baik kami kembali ke kantormu. Apa kamu tidak khawatir pacarmu mencarimu?"usir Karina halus.
"Ayo lah Kak. Aku ingin bertemu dengan Bayu. Katakan padaku Kak!"kekeh Enji.
"Aku tidak tahu Bayu di mana sekarang. Lebih baik kami kembali! Pekerjaanku menumpuk. Jangan membuatku pusing dengan rengekanmu. Kamu mau berpisah dengan Bayu selamanya?"ancam Karina.
"Apa?"
"Pergi atau kemarin pagi adalah terakhir kamu melihat Bayu," ulang Karina.
"Jangan lakukan itu!"
"Aku akan pergi, tapi …." Bayu mengeluarkan jam tangan dan handphone dari balik jasnya. Karina melirik kedua benda yang berada di atas mejanya.
"Katakan pada Bayu untuk menelfonku. Aku rindu suaranya dan dirinya," pesan Enji.
"Okey!"
__ADS_1