Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 297


__ADS_3

"Mengapa lama sekali mereka? Sudah hampir satu jam aku menunggu," gumam kesal Enji dengan melihat jam tangannya.


Setelah Bayu mengirim pesan padanya atas nama Karina, Enji secepat kilat bersiap dan menuju kediaman Graham. Sikap tiba lebih awal sudah menjadi bagian dari Enji, akan tetapi kali ini terlampau awal.


Kini ia berada tak jauh dari gerbang pintu kediaman Graham dengan mengendarai sepeda motor sportnya. Wajahnya sudah kusut, rambutnya yang semula rapi terlihat sedikit kacau. 


Ia mencoba menghubungi Karina, Arion, dan Bayu, sayang semua tidak ada yang menjawab, handphone Bayu malah tidak bisa dihubungi.


"Tunggu. Apa aku dikerjai?"pikir Enji. 


"Kakak tidak mungkin seterlambat ini. Pasti anak nakal itu yang memalsukan jamnya. Awas saja kau anak nakal!"geram Enji pada Bayu.


Enji berpikir ini salah satu cara Bayu membalas dirinya. 


Sungguh anak tidak pandang bulu, apa yang diinginkan olehmu sehingga sifat anak kita seperti ini?


Enji menatap langit biru, melamun mengingat almarhumah ibu Bayu. 


Aku rindu padamu.


Jujur saja, walaupun ia dan Jessica kini menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius, tidak menghapus cintanya untuk ibu Bayu.


Wanita yang melahirkan anaknya itu punya tempat spesial yang tidak akan hilang dan tergantikan, mengisi sebagian besar hatinya. 


Enji menghela nafas kasar. Kini ia menjadi galau. Kepalanya terasa sedikit pusing. Biasanya Enji akan merokok untuk menghilangkan pikiran berat.


Enji bukan perokok, ia hanya merokok di saat tertentu dan merasa tertekan. 


Enji membuka tas kecil yang ia bawa. Mengeluarkan bungkus rokok berwarna hitam beserta dengan pemantiknya.


Tangannya mengambil sebatang rokok, belum menyentuh bibir, Enji memasukkan kembali rokok yang ia pegang ke dalam bungkusannya.


Bisa-bisa aku kenal hukum sama Kakak. 


Karina benci rokok. Terakhir, Enji kembali memasukkan rokok dan pemantiknya ke dalam tas.


"Kakak cepatlah datang. Aku lelah menunggu, dan aku ingin mengadu," gumam Enji, menunduk dengan kedua tangan di kepala. 


Enji mengangkat wajahnya saat mendengar deru mobil. Wajahnya yang semula kusut langsung berubah ceria mengetahui itu adalah mobil Arion. Enji langsung merapikan penampilannya.


Mobil hitam Arion berhenti di samping motor Enji. Karina menurunkan kaca jendela, menatap heran Enji yang tersenyum lebar padanya.


"Hai Zi," sapa Arion.


"Hai Brother Ar, How are you?"tanya Enji.


"I'm fine and I'm happy," jawab Arion. 


"Kau kenapa? Sudah berapa lama menunggu?"tanya Karina.


Karina menangkap perubahan Enji sebelum mobil berhenti. 


"Tanyakan saja pada adik dan keponakan tersayang Kakak. Mana anak itu? Biar ku kasih pelajaran dia!"jawab Enji, mengintip dari jendela ke kursi belakang.


Terlihat Bayu dan Syaka malah asyik bermain handphone, sepertinya mereka tengah bermain game.


"Ck. Apakah anak ini tidak punya perasaan? Bayu kau tega menjahili ayahmu seperti ini?"kesal Enji.


Bayu tidak merespon. Ia memakai handset, terlalu fokus pada game yang dimainkan. Sedangkan Syaka, hanya melirik sekilas.


Ayahnya sangat muda?


Syaka kembali melihat Enji. Ia sedikit membulatkan mata, sesaat ia menelantarkan handphone. Namun, lirikan tajam Bayu kembali membuat Syaka bermain.


Apa ayahnya muka muda usia tua? Orang ini setidaknya baru berusia 23 tahunan. Bayu berusia 8 tahun. Berarti mereka menikah di usia 16 tahun? Atau bisa juga ibunya Bayu lebih tua dari ayahnya. Ah latar belakang anak ini membuatku penasaran.


Syaka selain tenggelam dalam game juga tenggelam dalam pemikirannya mengenai Bayu dan orang tuanya.


"Sudah jangan marah. Anggap saja balasan darinya. Sekarang ayo masuk. Waktu kalian terbatas," ucap Karina.


Enji mengangguk. Arion kembali menjalankan mobil menuju gerbang kediaman Graham, diikuti Enji dengan motornya.


Penjaga gerbang menghampiri mobil Arion, mengetuk kaca jendela dan menanyakan identitas serta keperluan.


Arion membuka kaca jendela, ia menoleh dan melepas kacamata yang ia gunakan. 


"Katakan saja, keluarga Wijaya berkunjung," ucap Arion.

__ADS_1


Penjaga gerbang menilik sejenak, mengingat wajah Arion dan Karina. 


"Jaya Company?"tanyanya memastikan.


"Ya."


Penjaga gerbang tersebut bergegas masuk. Tak berselang lama, pintu gerbang terbuka lebar, mempersilakan mobil Arion masuk. Namun pada saat Enji masuk, ia dihadang oleh penjaga gerbang.


"Hei aku ini bagian keluarga Wijaya. Kau mau berurusan denganku hah?"bentak Enji, kesal.


"Ah maaf Tuan, boleh identitas Anda?"


"Kau tuli kah? Kakak!"panggil Enji lantang.


Karina yang baru keluar dari mobil menoleh ke gerbang. Karina mengangguk. Penjaga gerbang yang mendapat persetujuan, menyingkir lalu membungkuk meminta maaf.


"Maaf Tuan."


"Tidak apa. Kerja kalian bagus," sahut Enji, memberi pujian.


Enji segera memutar gas motor masuk.


"Adikmu itu tetap menjual namamu," komentar Arion, ia bersandar di body mobil. 


"Aku kakaknya, wajar ia berlindung padaku," jawab Karina, mengerling pada Arion.


Arion tertawa kecil. Ia kemudian mengetuk kaca jendela bagian Syaka. Syaka segera turun dengan handphone yang sudah berada di dalam tas.


"Masih nge game?"tanya Arion pada Syaka. 


"Ku rasa tidak. Kami sudah siap mabar. Aku rasa dia tengah membuka media sosial," jawab Syaka.


"Suruh dia keluar," ucap Arion.


Syaka mengangguk. Arion melangkah mendekati Karina. Enji membuka helm dan turun dari motor. Enji kembali merapikan penampilannya yang membuat Karina melirik sebal.


"Yu ayo turun, kita sudah sampai," ujar Syaka, menyenggol lengan Bayu.


Bayu yang masih memakai handset, menatap Syaka dengan wajah bertanya.


"Lepas handset-mu. Ayo turun, Queen, Suami Queen dan Ayahmu menunggu," ucap Syaka lagi.


"Oh sudah sampai," ucap Bayu, terdengar menyebalkan di telinga Syaka.


Ternyata memang telinga badak!gerutu Syaka, keluar dari mobil. Bayu keluar, ia dengan santai merenggangkan badan, ditatap datar oleh ketiga Karina, Arion, dan Enji.


Kok aku merasa tidak enak ya?


Bayu membalikkan badannya saat melihat ada sebuah bayangan mendekatinya. Ia terlonjak kaget mendapati Enji berdiri di belakangnya dengan wajah yang siap menerkam.


"Kyaii … Ayah kau menakutiku," seru Bayu, mengusap dada.


"Anak tengil kau sungguh berani ya! Minggat dari apartemen, tidak menjawab telepon dan membalas pesanku. Kau bahkan memblokirku dari pertemananmu! Hari ini kau mengerjaiku dan sekarang kau tidak hormat padaku? Apa kau masih mengganggap aku sebagai ayahmu hah?"kesal Enji, menjewer telinga Bayu.


Bayu meringis. Ia memegang tangan Enji.


"Ayah kau yang membuatku begini. Jangan salahkan aku," ucap Bayu.


"Heh? Jadi ini caramu menghukum ayahmu?"


"Aku hanya memberimu peluang lebih banyak bersama Tante Jesicca. Ayah bisa fokus menjalin hubungan dengannya. Aku kan membantumu Ayah,  mengapa Ayah malah marah?"ungkap Bayu. 


"Tapi tidak begini juga Bayu!"


Nada bicara Enji melunak. Ia melepas jewerannya.


"Lanjutkan nanti saja drama kalian," ucap Arion, merasa jengah dengan tingkah Bayu dan Enji.


Jika ini di rumah mereka sendiri, tidak masalah. Tapi ini di kediaman orang lain, jaga image dong.


Karina melirik ke pintu masuk. Sebenarnya keluarga Graham sudah keluar untuk menyambut mereka setelah penjaga gerbang melapor.


Sayangnya drama Enji dan Bayu membuat Karina dan Arion mengabaikan mereka. Sedangkan Syaka, ia berdiri kaku di samping mobil sembari membaca suasana.


Untuk keluarga Graham sendiri, mereka hanya bisa menonton. Menahan tawa mendengar perdebatan Bayu dan Enji.


Enji mengedarkan pandangan. 

__ADS_1


Menghanguskan rumor perjodohan? Keluarga ini lumayan, tapi jika Bayu tidak suka apa boleh buat?


"Ayo," ucap Enji, menggandeng tangan Bayu.


Bayu mendengus, ia merasa sudah tidak harus dipegangi lagi saat berjalan.


Tapi aku rindu ini.


"Ayo Syaka," ucap Karina.


Syaka mengangguk. 


"Selamat datang di kediaman kami yang sederhana ini, Tuan dan Nyonya Muda Wijaya," sambut kepala keluarga Graham.


Karina dan Arion mengangguk. 


Sederhana?


Syaka melirik sekitar. Kediaman ini memang lebih kecil dari kediaman Karina namun masih tergolong mewah.


"Mari … silahkan masuk. Anggap saja rumah sendiri," ucapnya lagi.


l Lagi-lagi Karina dan Arion mengangguk. Mereka segera memasuki rumah ini, diikuti Enji, Bayu, dan Syaka.


Di ruang tamu, semua keluarga sudah berkumpul. Tapi Bayu menemukan ada yang kurang.


"Lia!"ucap lirik Bayu.


Penampilan keluarga Graham sangat rapi, lengkap dengan senyum ramah. Karina menajamkan pengamatannya. 


Setelah mempersilakan Karina dan lainnya duduk, kepala keluarga menyuruh pelayan memanggil Lia.


"Mereka ramah, mengapa kau menolak lamaran mereka? Ku rasa gadis kecil yang mau melamarmu cantik, seleramu yang bagaimana?"bisik Syaka pada Bayu.


"Diamlah. Kalau kau tertarik ambil saja," balas Bayu.


"Wanita bukan barang. Ingat ini, hari ini kau menolak bisa jadi esok kau berlutut memohon agar ia menerima dirimu. Jangan terlalu membenci seseorang dan jangan terlalu mencintai seseorang. Segala yang berlebihan tidak baik," saran Syaka, berbisik lagi. 


"Hm."


Kecuali Karina, Arion, dan Bayu, semua yang ada di ruang tamu menoleh ke arah yang sama saat mendengar suara tabrakan antara alas kaki dan lantai.


Syaka menatap takjub Lia. Gadis kecil itu tampil elegan dengan gaun berwarna biru muda polos, sedikit hiasan di rambut panjang yang digerai serta tambahan beberapa perhiasan. 


"Halo," sapa Lia, sopan.


Hanya dibalas dengan mengangguk. Lia mengambil tempat duduk di antara kedua orang tuanya. Ia tersenyum ramah nan lembut, tatapan matanya tertuju pada Bayu seorang. 


"Apakah kedatangan Tuan dan Nyonya kemari untuk membalas lamaran perjodohan yang kami ajukan?"tanya kepala keluarga Graham.


"Benar."


Karina menjawab.


"Lantas apa keputusan Anda sekalian?"tanya kepala keluarga Graham lagi.


Jujur semua anggota keluarga berdebar. Lia bahkan menggenggam erat kedua tangan orang tuanya.


"Keputusannya bukan di tanganku tapi di tangan yang bersangkutan, Bayu," ucap Karina, melempar pandang pada Bayu.


Bayu yang sibuk melihat kuku jarinya, mengangkat kepala begitu Karina menyebut namanya.


Anak ini tidak pandang bulu, bahkan di tempat orang lain ia bisa bertingkah cuek dan sedikit bod*h, batin Syaka, menyenggol Bayu agar serius.


Bayu mengedarkan pandangan. Ia melepas kacamata lalu menyilangkan kaki, kedua tangan ditumpuk di atas paha.


Tatapan yang semula acuh berganti dengan tatapan tajam. Aura seorang tuan muda terpancar serius darinya. Syaka terkesiap dengan perubahan kilat Bayu. Ia berdecak kagum.


"Aku menolak!"


Dua kata tersebut berhasil membuat keluarga Graham menghela nafas kasar. Terkecuali Lia, gadis itu membeku dengan tatapan nanar tidak percaya. Ia menunduk, menahan rasa sedih dan juga malu. 


"Alasannya? Apa alasan Anda menolak putri kami?"tanya Lestari, ibunda Lia. 


"Aku tidak suka pada putri Anda!"jawab datar Bayu.


"Apa putriku tidak menarik? Apa yang kurang darinya? Ia cantik, sifatnya baik, cerdas, serta dari keluarga terpandang. Ia juga memiliki rasa yang tulus padamu Nak. Tidak bisakah kamu memberi putriku satu kesempatan? Apakah semua perjuangan putriku untuk mendapatkan hatimu sama sekali tidak berarti?"tanya beruntun Lestari.

__ADS_1


Jelas ia tahu betul bagaimana perubahan Lia, dari gadis nakal yang tidak tahu apapun menjelma menjadi gadis rajin dan berbudi pekerti. Semua itu adalah pengaruh rasa suka Lia pada Bayu. 


Bayu menarik satu sudut bibirnya.


__ADS_2