
Dylan menggeliat sebelum akhirnya bangun. Mengucek mata, mengusir kantuk seraya mengedarkan pandangan. Karina, Arion, dan keenam anak mereka sudah tidak ada di tempat tidur. Dylan mendapati mereka tengah sibuk bersiap untuk rutinitas mereka. Bintang, Biru, dan Bima yang sibuk merapikan penampilan sebelum akhirnya merapikan penampilan adik-adik mereka. Sedangkan Arion dan Karina sendiri masih di ruang ganti.
"Eh Dylan kau sudah bangun?" Bahtiar yang pertama kali melihat Dylan yang sudah bangun dan kini menatap mereka heran.
Dylan mengangguk pelan.
"Tuan dan Nona muda akan berangkat sekolah?"tangannya pelan.
"Yups. Kamu lekaslah cuci muka," sahut Bintang.
"Baik." Dylan tidak melangkah ke kamar mandi melainkan keluar kamar.
"Hei-hei Dylan mengapa kau keluar?"seru Bintang bingung.
"Kan mau cuci muka dan gosok gigi. Sikat gigi saya kan berada di koper," jawab Dylan.
"Ah baiklah." Bintang melambaikan tangan membiarkan Dylan keluar. Dylan mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Eh Mama bagaimana keadaan orang tua Dylan? Belum Mama buka kuncinya kan?" Biru langsung melayangkan pertanyaan saat Karina baru keluar dari ruang ganti dengan setelan jas.
"Astaga! Hampir saja lupa!" Karina berseru lupa, menepuk dahinya sendiri.
"Cepat buka sana. Nanti mereka kehabisan nafas pula di sana," ujar Arion.
"Oke."
Karina langsung melangkah keluar dengan terburu-buru.
"Dylan nya mana?"tanya Arion yang tidak mendapati Dylan di tempat tidur. Bahkan karpet dan selimut di lantai saja sudah tidak ada.
"Keluar Pa. Mandi kali," sahut Bintang yang sibuk merapikan kerah baju Bahtiar.
"Oh sendirian?"
"Lalu?" Biru membuat Arion berdecak sebal.
"Lihat sana. Temani dia!" Arion menunjuk Biru.
"Oke." Satu sahutan, Biru langsung bergegas keluar. Baru saja tiba di depan pintu, Dylan ternyata sudah di depan pintu.
"Papa, Dylan nya sudah di sini," teriak Biru.
"Tuan Muda, Mama dan Papa …."
"Ikuti aku!"ucap Biru,melangkah memimpin jalan. Dylan mengikut dengan cepat, tetap menjaga jarak langkah dengan Biru.
"Dan apa kalian sudah siap?" Arion menatap satu persatu anaknya.
"Ya." Menjawab serentak.
"Ya sudah ayo kita turun."
*
*
*
Karina membuka pintu ruangan di mana Satya dan Riska berada. Karina menaikkan alisnya mendapati keduanya tidur berpelukan dengan pakaian yang tidak lengkap.
"Hei bangun!"teriak Karina yang berakibat mereka berdua hanya menggeliat pelan.
"Huh berapa lama mereka bertengkar? Woi bangun!"teriak Karina lagi hanya digubris dengan gumaman tak jelas Satya.
"Ck!" Karina berdecak sebal. Kebetulan Karina membawa sebotol air, langsung saja Karina guyurkan air itu ke Satya dan Riska.
"Banjir!" Riska langsung terbangun dan gelagapan.
"Tsunami!" Satya juga terbangun dan sibuk melihat kanan kiri dengan mata masih terbuka setengah.
"Wah banjir tsunami? Kalian mau menghancurkan rumahku hah? Berani sekali kalian!"geram Karina menghadiahi keduanya pukulan keras.
"Queen?"ucap keduanya setelah sepenuhnya sadar.
"Benahi pakaian kalian!"suruh Karina. Keduanya refleks melihat tubuh mereka dan sontak langsung mengambil pakaian yang tergeletak di lantai.
"Untuk apa malu-malu? Lekaslah keluar dan membersihkan diri. Penerbangan kalian dua jam lagi!"
Karina memutar langkah keluar sedangkan keduanya masih terkejut.
"Dua jam lagi?"
"Astaga!" Baru saja mereka hendak melangkah, Biru dan Dylan datang. Dylan langsung berlari dan memeluk Mama dan Papanya. Keluarga kecil itu berpelukan. Biru bersandar pada bingkai pintu, tersenyum tipis mendengar tangis haru mereka.
"Papa, Mama ini bau apa?" Dylan mencium bau aneh dari Satya dan Riska. Keduanya langsung tersadar dan tersenyum malu.
"Dylan kamu sama tuan muda Biru dulu ya," ucap Satya, segera menarik Riska keluar. Dylan mengerjap bingung, menatap Biru yang dibalas menaikkan bahu. Biru sebenarnya tahu apa yang terjadi tapi ia tidak ingin meracuni otak polos Dylan.
"Sudah jangan dipikirkan. Yang penting Paman dan Tante sudah baikkan." Biru menepuk pundak Dylan.
__ADS_1
Dylan mengangguk, senyumnya mengembang lebar. Wajah berseri mendapati keluarganya sudah baik-baik saja.
"Tuan Muda, saya sangat bahagia."
"Aku turut bahagia untukmu."
*
*
*
Riska keluar lebih dulu mencari Dylan. Belum juga ketemu, Riska ditahan oleh Joya dan Angela yang sudah sangat penasaran. Tak ada alasan untuk menghindar sebab Dylan duduk tenang bersama dengan anak-anak lain. Riska menceritakan garis besarnya yang dapat mudah dipahami keseluruhannya oleh keduanya.
Hal itu juga terjadi pada Satya. Hanya saja jika para wanita itu sibuk membahas masalahnya, tiga pria ini kini sibuk membahas menyelesaian akar masalahnya.
"Bukankah rumah sakit itu di bawah naungan KS Tirta Group?"tanya Rian.
"Benar," sahut Darwis.
"Dan keluarga Alfarizi juga bekerja di KS Tirta Group kan?"tanya Rian lagi memastikan.
"Hm." Satya langsung emosi.
"Tekan saja keluarganya, ancam mereka untuk tidak mengganggu kalian lagi. Suruh pindah rumah sakit atau ganti dokter. Kalau tidak pergi kirim selamanya keluar negeri dan dilarang kembali ke negara kita, selamanya!" saran Rian.
"Huh mengapa dia tidak mati saja?!"gerutu Satya merasa sangat kesal, tangannya mengepal ingin memukul.
"Membuatnya mati itu gampang. Hanya saja akibatnya bisa berdampak pada perusahaan. Lebih baik kirim saja ke luar negeri untuk selamanya," ucap Darwis.
"Heh? Aku harap ia segera mati!"gerutu Satya.
"Jika begitu … kau minta izinlah pada Queen," ucap Rian menatap Satya.
"Oke."
*
*
*
Selesai sarapan, mereka langsung berangkat. Sebelum menuju bandara, terlebih dahulu ke sekolah mengantar Bintang, Biru, Bima, Alia, Ali, dan Laith. Setelah itu barulah menuju bandara. Di tengah jalan, Marlena dengan mustang merahnya mendahului barisan mobil mewah yang sengaja memperlambat lajunya. Marlena menghidupkan klakson dengan tangan melambai keluar. Kini Marlena mempimpin jalan, kemudian berbelok ke kanan menuju jalan pulang ke kota B.
Tiba di bandara, tiga tuan muda kasino Heart of Queen beserta keluarga berpamitan, membungkuk hormat pada Karina. Karina mengangguk.
Joya dan Karina berpelukan erat.
"Kau juga!"balas Karina.
Yang pertama naik adalah Rian, Angela, dan Azura. Disusul oleh Darwis, Joya, dan Gibran. Sedangkan Satya masih berbicara empat mata sejenak dengan Karina. Riska memberi tatapan penasaran.
"Aku setujui!" Satya tersenyum lebar, menunduk hormat pada Karina.
"Queen, terima kasih." Dylan membungkuk penuh hormat. Karina tersenyum, mengangkat bahu Dylan agar berdiri tegak.
"Jadilah pagar untuk hubungan orang tuamu," pesan Karina.
"Pasti, Queen!" Karina memeluk Dylan. Satya dan Riska bergandengan erat dan tersenyum penuh arti. Tertanam di dalam hati, berjanji akan menjadi orang tua yang baik dan hubungan mereka langgeng terus biarpun cobaan silih berganti.
Setelah selesai berpelukan, Satya, Riska, dan Dylan kembali berpamitan dan naik ke pesawat.
"Hah selesai juga masalahnya!" Karina merenggangkan tubuhnya.
"Saatnya ke kantor," ucap Enji, undur diri lebih dulu karena ada jadwal meeting.
"Kami juga harus kembali ke markas." Li, Elina, Gerry, dan Mira pamit undur diri.
"Jangan lupa kirim laporan!"peringat Karina yang diangguki Li, Elina, dan Gerry.
Tinggallah keluarga Wijaya. Hari ini Brian, Bara, dan Bahtiar tidak ikut ke Karina melainkan tetap di rumah bersama dengan Amri dan Maria. Karina ada jadwal ke luar kota hari ini untuk sidak dadakan.
"Hati-hati di perjalanan. Kabari aku jika sudah sampai," pesan Arion, mengecup kening Karina.
"Oke."
"Mama cepat pulang ya." Tiga anak itu menunjukkan wajah memelas.
"Mama usahakan." Karina mencium kening tiga anak termudanya.
"Jangan nakal ya," pesan Karina.
Ketiga anak itu hanya mengangguk. Karina berpamitan dan segera naik ke dalam pesawat. Setelah pesawat lepas landas barulah Arion, Amri, Maria, dan anak-anak meninggalkan bandara.
*
*
*
__ADS_1
Beberapa hari berlalu. Helian datang ke markas, menyusuri markas mencari sesuatu.
Helian tersenyum samar saat mendapati apa yang ia cari ada di depan mata.
"Aldric!"
Aldric yang tengah fokus memainkan pedangnya menoleh ke arah Helian, wajah bertanya. Aldric menyarungkan pedangnya saat Helian mendekat.
"Anda siapa?" Nada datar.
"Bertarunglah denganku!" Menyatakan sebuah tantangan. Aldric tentu saja tidak langsung menerima. Tatapan menilai dan mengingat siapa yang berada di depannya ini.
"Kau takut?"
"Kau siapa?"
"Jika kau menang kau mendapat restuku jika kau kalah kau harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan Sasha. Apa kau takut, Aldric?"
"Aku ingat kau. Apa tangan yang biasa berhubungan dengan komputer bisa bermain pedang?" Nada menyindir. Helian berdecak sebal, melangkah mengambil sebilah pedang untuknya.
"Bisa atau tidaknya, ayo kita buktikan!" Helian mengacungkan pedangnya pada Aldric. Pria Timur Tengah itu langsung merasa tertantang. Ia mengangguk menyetujui.
Pertarungan dimulai. Salah satu di antara mereka dinyatakan memang apabila pedang terlepas dari genggaman atau mengaku kalah. Dilarang melukai satu sama lain.
Aldric tercengang dengan ilmu pedang Helian. Gerakan yang halus dan teratur, kecepatan yang cocok dan tatapan mata yang fokus. Senyum Helian terbit melihat keterkejutan Aldric.
Sesaat Aldric terdesak namun secepatnya bisa menyeimbangkan pertarungan. Bunyi pedang yang saling beradu menarik perhatian anggota lain. Bahkan Gerry saja ikut menonton. Sasha yang kebetulan ke markas, langsung menuju arena ketika mendengar Aldric dan Helian bertarung.
"Bodoh!"gerutu Sasha. Gerry menoleh.
"Tenang Sasha. Kekasih barumu itu bisa seimbang dengan Helian. Dia punya kesempatan!"
"Ya. Tapi apa alasan mereka bertarung? Helian? Apa dia masih marah karena ku tolak dan aku belum memberinya kepastian tentang menjadikannya sebagai kakak angkatku?" Sasha menerka alasan di balik pertarungan ini.
"Jika ku lihat, Helian tidak seperti pria yang marah karena ditolak. Tatapan matanya tenang tanpa emosi. Gerakannya juga teratur. Ia lebih kepada menguji. Seperti seorang kakak yang menguji kekuatan calon iparnya. Apakah dia memang kakakmu?"
"Kakakku?" Sasha tertegun. Tatapan matanya meredup, mengingat masa lalu. Gerry membiarkan Sasha melamun mengingat masa lalu.
Sasha tersadar saat mendengar pedang terjatuh. Mata Sasha membulat mendapati Aldric kalah dan berlutut dengan memegang lengan kanannya.
"Aldric! Helian!"seru Sasha menerobos arena. Kedua pria itu terkejut, Helian langsung menjatuhkan pedangnya.
"Kau ke markas?"
"Apa ini? Bukankah dilarang melukai? Helian kau melanggar peraturan!"
"Aku tidak sengaja. Itu kecelakaan."
"Tetap saja!" Sasha menatap marah Helian. Helian terdiam dengan mata mengikuti pergerakan Sasha yang membalut luka Aldric. Hati Helian berdenyut sakit.
"Ini hanya luka kecil, Sha. Ini juga bukan salahnya. Ini kecerobohanku sendiri," tutur Aldric.
"Apapun alasannya dia tetap salah!"tegas Sasha. Helian tersenyum simpul.
"Aku menang secara kemampuan tapi aku kalah karena kecerobohan. Anggap saja kita seri. Setelah lukamu sembuh kita bertarung lagi!" Helian melangkah untuk meletakkan pedangnya.
Aldric menatap heran Helian. Helian acuh dan turun dari arena.
"Tunggu!" Sasha berdiri dan mengejar Helian. Aldric berdiri dengan memegang lengan kirinya yang lukanya sudah terbalut kain.
"Ada apa?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku? Oh mengenai pertarungan tadi."
Sasha memberi tatapan membenarkan.
"Bukankah sudah jelas aku menguji kemampuannya. Jika ia tidak bisa melindungi dirinya sendiri bagaimana bisa melindungimu kelak? Aku hanya melakukan tugasku!"
Sasha mengeryit tidak suka.
"Apa hakmu?! Siapa kau yang bisa menguji pasanganku?"
Helian diam. Sorot matanya rumit, ada keraguan di sana. Bibirnya ingin menjawab tapi lidahnya terasa keluh.
"Kau bukan siapa-siapaku! Kau tak punya hak untuk itu! Bahkan jika aku menyetujuimu menjadi kakak angkatku kau tetap tidak berhak!"kecam Sasha menunjuk Helian. Gerry yang masih di arena memilih duduk di bangku dan menikmati adegan di depannya ini.
"Mengapa diam? Sebenarnya apa motif dan tujuanmu? JAWAB!" Helian tetap diam biarpun Sasha membentaknya.
"Sasha cukup. Jangan diperpanjang lagi," ucap Aldric memegang lengan Sasha.
Sasha mendengus.
"Baik. Tidak akan ku perpanjang lagi. Tapi berjanjilah untuk tidak menerima tantangannya lagi. Kau tidak boleh bertarung lagi dengannya!"tegas Sasha.
Aldric menatap Helian sekilas. Tatapan Helian masih tidak bisa ia artikan. Aldric mengangguk sebagai jawaban.
"Ayo ke klinik!" Sasha berbalik dan mengajak Aldric turun dari arena.
__ADS_1
Tidak! Tidak Helian! Aku tak bisa lagi menutupinya!
"SASHA! AKU BERHAK KARENA AKU KAKAK KANDUNGMU! AKU KAKAKMU, SAKTI!"teriak Helian, langsung berlari mengajar Sasha. Mendengar itu, Sasha menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Tatapannya semakin rumit melihat Helian mengejarnya dan kini menariknya dalam pelukan Helian. Kakak membeku kaku. Aldric juga tercengang, Gerry hanya menaikkan alisnya.