
"Ayo Ayah, ayo kejar aku," teriak Bayu seraya berlari menjauh.
Yap, kini mereka, Karina, keluarga Wijaya serta Boy Band yang kini sudah dianggap saudara tengah berada di pantai.
Enji dengan sigap mengejar dan berusaha menangkap Bayu. Saat selangkah lagi, tangan Enji berhasil meraih Bayu, Bayu mengubah arah larinya. Alhasil, Enji malah tersungkur dan mencium pasir pantai.
"Hahaha, Ayah kau menangkap apa disitu? Aku di sini Yah," ledek Bayu. Enji meludahkan pasir yang masuk ke mulutnya. Hal itu mengundang gelak tawa Karina, Arion, Maria, Amri dan lainnya. Sedangkan Alia yang berada dalam gendongan Maria hanya diam memperhatikan.
"Anak nakal!" umpat Enji kesal.
"Kau juga sama dulu Zi, bahkan lebih parah," tawa Karina ikut meledek Bayu. Bayu lari dan bersembunyi di balik tubuh Karina.
"Benarkah?" tanya Enji tak percaya seraya berdiri dan membersihkan pakaiannya dari pasir yang melekat.
"Hm," sahut Karina.
"Hyung, mari mandi di pantai, pasti segar sekali," ajak Mochi, melepaskan alas kakinya dan lari ke pantai.
"Bagaimana?" tanya Arion menaikkan alisnya.
"Mana bisa ditolak," sahut Mang dan langsung mengikuti hal yang sama seperti Mochi disusul dengan member lainnya.
"Ya sudah, mandi sana biar nanti di pesawat gak mandi lagi. Biar gak ngabisin air," ucap Karina. Maria dan Amri tersenyum geli melihat wajah cemberut Arion.
"Ish, kamu mah perhitungan banget," keluh Arion.
"Hehehe," kekeh Karina, melangkahkan kakinya mencari pohon yang rindang.
Amri dan Maria mengikuti Karina. Arion menyusul para member Boy Band yang telah masuk semua ke air dan bermain air tentunya.
Enji masih asyik bermain dengan Bayu. Bayu menjulurkan lidahnya melihat sang ayah yang tak kunjung bisa menangkapnya. Enji kesal sebab Bayu meledeknya terus. Ia mengumpat dalam hati dan bertanya sebenarnya Bayu itu anak siapa?
"Ayah kau lambat sekali, kau kurang olahraga ya?" tanya Bayu, menoleh ke belakang dengan terus berlari.
"Enak saja, aku olahraga rutin, kau ini apa mau jadi calon atlet lari?" sahut Enji.
"Yap, aku ingin menjadi pelari yang dapat melarikan hati wanita," jawab Bayu, tersenyum dan malah mengingat wajah Lia.
Eh, apa-apa ini? Mengapa aku jadi ingat gadis itu? Ck, menyebalkan! runtuk Bayu dalam hati.
Tiba-tiba saja tercetus ide lagi di kepala Bayu untuk menjahili sang ayah. Bayu mengedarkan pandangannya dan tersenyum melihat beberapa wanita berpakaian cukup sopan dengan jalan dan mengobrol bersamaan.
Bayu lari ke arah mereka, Enji mempercepat larinya, tatapannya hanya tertuju pada Bayu seorang.
Saat berada di hadapan keempat wanita tersebut, Bayu menghindar gesit dan beralih ke belakang. Namun tidak dengan Enji, Enji tak dapat ngerem dan menabrak salah satu di antara keempat wanita itu.
Gedebuk!
Suara Enji dan wanita itu jatuh menghantam pasir pantai dengan posisi Enji menimpa wanita itu. Ketiga teman wanita tersebut terkejut dan melongo.
"Apa ini? Apa di sini ada ubur-ubur?" gumam Enji merasa tangannya menyentuh sesuatu yang lembut. Ia memejamkan matanya. Wanita yang ditimpa olehnya mengeram marah.
"Brengsek! Singkirkan tanganmu dari dadaku!" pekiknya kesal setengah mati, menggunakan bahasa korea, antara malu dan marah.
"Eh? Dada?" Enji membuka matanya spontan dan menatap wanita di bawah tubuhnya tersenyum.
"Cantik!" ucap Enji.
__ADS_1
Wajah wanita itu memerah padam dan matanya mendelik kesal pada Enji.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Enji. Bayu si biang kerok meringis melihatnya. Wanita itu mendorong paksa Enji yang membeku.
Wanita bangun dan melempar pandang pada ketiga temannya.
"Mengapa kalian hanya menonton? Apa mata kalian buta melihatku dinodai oleh orang mesum ini?" pekiknya kesal. Ia merapikan bajunya.
Ketiga temannya yang tersenyum menahan tawa.
"Enak saja kau bilang aku mesum! Aku tak sengaja!" bela Enji, tak terima dibilang mesum.
"Jadi mengapa kau malah meremasnya? Malah sakit lagi, huhu dadaku sudah tak perawan lagi, kau harus tanggung jawab!" Wanita itu malah menangis dan berjongkok seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Nara jangan menangis, kami mohon, kami akan memberinya pelajaran," pinta salah seorang tadi ketiga temannya.
"Huah, kalau begitu suruh dia menikahiku! Kakak tahukan bahwa keluarga kita tak memperbolehkan siapapun menyentuh kita sebelum menikah? Tapi dia malah melecehkanku," tangis wanita yang bernama Nara itu semakin pecah dan mengundang perhatian.
"Ah, maaf semua, ini masalah pribadi, harap jangan mencampurinya agar masalah tak tambah runyam," ucap Enji, yang menyadari mereka jadi pusat perhatian.
"Hei Tuan, kau harus tanggung jawab pada adik kami, jika tidak nyawamu adalah gantinya!" ucap tegas wanita dengan rambut sebahu dan dibiarkan tergerai. Enji mengeryit merasakan aura intimidasi dari tatapan tajam wanita itu.
"Astaga? Hanya meremas sekali atas dasar ketidaksegajaan aku harus menikahinya? Oh please don't joke. Walaupun aku masih muda, aku sudah menikah dan memiliki anak dan sekarang istriku lagi mengandung anak kedua kami, jadi jangan berlebihan. Lagipula dada kecil begitu apa yang istimewa?" tegas Enji, ikut mengeluarkan aura intimidasinya. Ketiga wanita itu terkesiap.
Ayahkan belum pernah menikah? Dan katanya istriku tengah mengandung anak kedua? Jangan katakan itu adalah kakak! Ck, menyesal aku menjahilinya, pasti setelah ini aku akan dapat hukuman, batin Bayu, berusaha tenang.
"Kami tak peduli, yang penting kau harus tanggung jawab dan menikahi adik kami," ucap wanita berambut sepinggang.
"Ayah, maafkan aku," pinta Bayu, yang sedari tadi berada di belakang tubuh ketiga wanita yang masih berdiri.
"Ayah sekarang kita harus lari," ujar Bayu. Enji mengangguk. Keempat wanita itu tak mengerti bahasa yang digunakan Bayu dan Enji. Mereka hanya saling pandang dan menerka bahwa Bayu adalah anak Enji dilihat dari kemiripannya.
"Kak, bagaimana ini?" tanya wanita berambut sebahu berbisik pada wanita rambut sepinggang.
"Lanjut, dia mangsa yang luar biasa," balas wanita rambut sepinggang, berbisik juga.
"Satu, dua, tiga, Ayah lari!" seru Bayu. Enji dengan segera berbalik dan berlari menjauh. Sedangkan Bayu diam saja. Ketiga wanita itu tersentak kaget dan reflesk mengejar Enji, meninggalkan Nara yang masih berjongkok. Ia mengusap air matanya dan tersenyum tipis.
"Dasar wanita ular," cibir Bayu menyilangkan kedua tangannya dan menatap Nara penuh kerendahan. Nara tertegun dan menolehkan wajahnya ke belakang.
"Apa maksudmu anak kecil?" tanya Nara, dengan nada lirik seolah merasa tersakiti.
"Ck, tak usah pura-pura, kau itu kan ketua bungsu dari Blood Sweet Mafia, dan kau itu sering memamerkan sendiri tubuhmu pada musuh saat kalian terdesak. Mana mungkin remasan kecil tadi membuatmu merasa terlecehkan padahal kau sudah melecehkan banyak mata, ckck, empat wanita yang punya telepati kuat," jelas Bayu, mendecih pada Nara.
Nara membelakan matanya, dan segera menetralkan raut wajahnya.
"Apa maksudmu Nak? Apa itu Mafia Blood Sweet? Aku baru mendengar namanya? Dan aku tak pernah sukarela memamerkan tubuhku pada siapapun," tanya Nara, dengan nada lemah lembut. Ia tak mau memancing perhatian orang lagi.
Ck. Untung saja aku pernah membaca tentang mereka di ruang komputer. Jika tidak, pasti aku akan mendendangkan lagi Pip pip pip pip calon istri, batin Bayu. Benar, tadi Bayu memperhatikan wajah Nara dan ketiga kakaknya saat tengah berdebat dengan Enji.
"Hello Tante, jangan berlagak bodoh! Jika tak sukarela, pasti harus mendapat imbalan bukan? Kalian itu membuat malu nama mafia. Aku tahu siapa kalian dan semua tentang kalian, dan untuk ketiga kakakmu itu, aku ragu mereka akan baik-baik saja," ketus Bayu.
"Anak kecil? Siapa kau sebenarnya?" Nara tak bisa lagi mengelak. Tatapan Bayu mengartikan dia serius. Nara tersenyum tertahan.
"Menurutmu? I'm Pedang Biru," sahut Bayu, bertanya dan menjawab sendiri. Mata wanita itu membulat, tak lama ia tersenyum, tidak lebih tepatnya menyeringai.
__ADS_1
Bayu tak gentar, ia menatap tajam Nara. Seringaian Karina lebih mengerikan ketimbang Nara.
Nara melirik sekitarnya. Ternyata hanya ada mereka berdua. Yang lain memilih meninggalkan Nara dan Enji tadi setelah mendapat himbauan dari Enji.
"Anak kecil, kau mau mati dengan cara apa?" tanya Nara mengeluarkan pisau dari balik badannya.
"Yang pasti secara khusnul khatimah, pada hari Jum'at dan pada saat bersujud kepada Tuhan Yang Maha Kuasa," jawab santai Bayu.
"Ck, apa yang kau katakan?" tanya Nara, bersiap menghunuskan pisaunya pada Bayu. Bayu dengan sigap mengelak dan mengambil botol kecil dari balik bajunya yang berisi cairan merica dan cabai serta cuka dan menyemprotkannya tepat di mata Nara.
Nara refleks menjatuhkan pisau dan menyentuh matanya. Wajah memerah menahan sakit, perih dan rasa pedas di matanya. Ia berteriak dan berguling-guling di pasir. Matanya terus terpejam dan tampak mengeluarkan air mata.
"Dasar anak kurang ajar! Beraninya kau, ah sakit sekali! Awas kau, ah tolong aku!" racau Nara.
"Ckck, kau berisi sekali," keluh Bayu, menyimpan botol cairan merica dan cabai serta cuka dan mengambil sebuah setrum cilik dari saku celananya.
Ia menahan tubuh Nara agar diam, namun tak mampu. Dengan asal, Bayu menyentrum tubuh mana saja dari Nara yang tersentuh. Nara mengelinjang beberapa kali merasakan tubuhnya dialiri arus listrik sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
"Nah, ginikan bisa hening," ucap Bayu.
Bayu kemudian melihat jam tangannya, jam tangan yang waktu itu dibelikan oleh Karina. Dengan segera ia menekan fitur panggilan telepon dan menghubungi Amri.
"Halo Bayu, kamu di mana?" tanya Amri, dengan nada panik.
"Bayu masih di pantai Pa, jemput Bayu ya, Bayu kirim nih lokasinya," jawab Bayu.
"Ohw, baiklah, tapi kamu okey kan?" tanya Amri, juga terdengar suara Maria.
"Bayu okey Pa, cepat ya Pa," pinta Bayu.
"Iya," jawab Amri. Bayu segera mengirim lokasinya. Tak sampai lima menit, Amri, Kuki dan Chimmy atau Mochi datang. Ketiganya mengeryit melihat sekeliling yang kosong dan wanita yang terlentang pingsan dengan Bayu yang duduk di kedua kakinya.
"Papa," ucap Bayu, lari memeluk Amri. Amri mengusap rambut Bayu.
"Dia siapa Bay?" tanya Chimmy.
"Musuh kakak," jawab Bayu.
"Kamu sendiri yang melumpuhkannya?" tanya Kuki seraya meneliti wajah wanita itu dan memeriksa nafasnya.
"Kakak dia bukan mati!" ucap Bayu. Kuki melirik sekilas
"Bau merica, cabai kecil dan cuka, Bayu Ayahmu membekalimu itu?" tanya Amri. Bayu mengangguk.
"Dan setrum ini juga, sebenarnya kakak Karina yang menganjurkan. Aku belum dikasih pegang senjata, jadi dikasih ini saja," jelas Bayu menunjukkan setrum listriknya.
"Eits, Bayu, kamu jangan setrum kami ya," ringis Chimmy bergidik melihat Bayu.
"Asal tak menggangguku, untuk apa aku mengganggu kalian?" sahut Bayu.
"Lalu kita apakan wanita ini? Buang ke laut, tinggalkan di sini, bawa ke markas, atau kita mutilasi?" tanya Kuki. Chimmy mengeryit. Ia jadi ingat saat melihat Karina beraksi waktu itu.
"Woah, ternyata kau ketularan Karina ya?" takjub Amri.
"Bawa saja pada kakak Karina, biar dia yang menentukan nasib wanita ular itu," saran Bayu.
"Papa setuju, ayo kalian berdua bawa dia dan Bayu, ayo kita kembali," tukas Amri. Kuki dan Chimmy mengerucutkan bibir mereka.
__ADS_1
***