
Arion langsung menuju kamar mereka di lantai tiga di ikuti oleh Karina. Sesampainya di kamar Arion langsung masuk ke kamar mandi. Karina berjalan mendekati balkon menikmati indahnya matahari terbenam.
Dua puluh menit kemudian Arion keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk. Karina langsung nyelonong gantian masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dengan membawa baju gantinya.
Waktu menunjukkan pukul 19.00. Karina menyelesaikan acara mandinya dan keluar dengan menggunakan pakaian kasual.
Entah apa yang merasuki Arion maupun Karina, selama berada di dalam kamar tidak ada satu pun pembicaraan yang terucap. Jika itu Karina merupakan hal wajar karena ia adalah orang yang irit berbicara jika itu tak penting. Sedangkan Arion, entahlah mungkin ia merasa bersalah pada Karina.
Waktu makan malam pun tiba. Arion dan Karina segera keluar menuju ruang makan. Di sana sudah menunggu Maria dan Amri.
Mereka makan malam dalam keheningan karena tak ada satu pun yang buka suara. Hingga akhirnya Marialah yang memulai pembicaraan.
"Karina bagaimana harimu?" tanya Maria setelah selesai makan.
Karina melirik Arion kemudian melihat Maria.
"Seperti biasa Ma. Aku bahagia," jawab Karina.
"Hmm … dan kamu Arion? Pasti kamu bahagiakan jika dibawakan bekal setiap hari sama Karina," ujar Maria pada Arion.
Arion yang baru selesai makan pun langsung menjawab.
"Senang dong Ma. Tapi jangan setiap hari. Kasian Karina tiap hari bolak-balik ke kantor aku. Diakan masih ada kerjaan juga," sahut Arion.
"Astaga … Mama lupa Sayang," ucap Maria.
"Ya sudah Ma. Arion ke kamar dulu ya," pamit Arion langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya di lantai tiga.
"Eh … tunggu Sayang …," cegah Maria namun sudah tidak terdengar lagi oleh Arion. Maria kembali menatap Karina. Karina hanya menaikkan bahunya.
"Ma, Karina juga ke kamar duluan ya," pamit Karina.
"Oh … ya sudah sana. Jangan bertengkar-bertengkar dulu. Kalian masih pengantin baru," pesan Maria. Karina hanya tersenyum dan langsung menuju kamar Arion di lantai tiga.
Sesampainya di kamar, Karina menemukan Arion tangah duduk bersandar pada kepala ranjang dengan membaca sebuah berkas. Karina mengambil tempat di samping Arion.
"Bagaimana?" tanya Karina.
Arion berhenti membaca berkasnya. Ia tak mengerti arah pembicaraan Karina.
"Bagaimana apanya?" tanya Arion.
"Meeting-mu tadilah dengan KS Tirta Grub," jelas Karina.
"Buruk," jawab Arion meletakkan berkas yang dibacanya tadi di nakas dan langsung membaringkan tubuhnya untuk tidur. Arion menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.
"Maaf," ucap pelan Arion namun masih bisa didengar oleh Karina.
"Untuk apa?" tanya Karina.
"Kejadian hari ini," jawab Arion.
Karina hanya menggelengkan kepalanya. Merasa Arion sudah tertidur Karina mengeluarkan laptopnya. Ia memeriksa data-data perusahaan dan cafenya.
Satu jam sudah berlalu. Dua jam menuju tengah malam. Karina yang terbiasa tidur larut malam pun melanjutkan pekerjaannya.
Karina telah selesai memeriksa data perusahaan dan cafe. Ia melirik Arion yang tertidur di sampingnya.
Jangan salahkan aku, batin Karina.
Karina berniat melihat-lihat data perusahaan Jaya Company. Karina yang aslinya adalah seorang hacker dapat dengan mudah mengakses data-data itu. Karina mencari proposal kerja sama yang diajukan Jaya Company pada perusahaannya.
Karina dengan cepat menemukannya dan membaca isinya. Karina tersenyum tipis membacanya.
Kau memang punya kemampuan Arion. Proposalmu ini sebenarnya dapat lulus pada meeting hari ini. Namun, salah dirimu sendiri membuat CEO-nya kesal, batin karima tersenyum sinis.
Tengah malam pun tiba. Karina mulai mengantuk. Dengan cepat ia menutup laptopnya dan menyimpannya. Karina menggerakkan lehernya ke kanan ke kiri untuk mengusir rasa pegal dan langsung berbaring dan tidur.
***
Pagi hari pun tiba. Sinar matahari yang masuk dan menerobos dari jendela kaca mengusik tidur Karina.
Untung saja alarm tak berbunyi. Karina perlahan membuka matanya dan bangun seraya merentangkan kedua tangannya. Ia melirik orang yang tidur di sampingnya namun tak menemukan Arion.
Waktu menunjukkan pukul 07.00. Karina langsung berdiri dan masuk ke kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian Karina keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana jeans dan juga baju kaos.
__ADS_1
Karina berjalan mendekati meja rias dan merias sebentar wajahnya. Tak lama ia langsung keluar menuju dapur.
"Kar … kamu sudah bangun? Mama kira kamu masih tidur karena tadi malam," ujar Maria yang melihat Karina berjalan mendekatinya.
"Tadi malam? Memang kenapa Ma?" tanya Karina membuka kulkas dan mengambil susu.
"Tadi katanya Arion, Mama jangan bangunin kamu … katanya kamu kecapekan sehabis bertempur tadi malam," jelas Maria dengan wajah berseri.
Karina mengenyit heran.
Bertempur? batin Karina.
"Hmm … iya Ma bertempur melawan nyamuk," jawab Karina asal.
"Eh …," respon Maria salah sangka. Dia mengira Arion dan Karina sedang membuat cucu untuknya.
"Arion mana Ma?" tanya Karina.
"Arion dia sudah berangkat ke kantor katanya ada urusan penting," jawab Maria.
"Owh … kalau Papa?" tanya Karina pagi.
"Papa ke rumah kamu. Katanya khawatir sama Kakek," jawab Maria.
***
Waktu menunjukkan pukul 08.00. Karina berpamitan pada Maria untuk pergi ke cafe. Tapi bukannya menuju ke cafe, Karina malah mengemudikan mobilnya menuju perusahaan.
"Selamat pagi Nona," sapa Lila dan Raina bersamaan setelah Karina tiba di depan ruangannya.
"Pagi," jawab Karina singkat langsung masuk ke dalam ruangannya diikuti Lila dan Raina.
"Nona … kita menerima pengajuan kerja sama dari Alantas Company," ujar Raina.
"Bukankah itu perusahaan yang dipimpin oleh Calvin?" tanya Karina yang membuat Raina salah tingkah saat Karina menyebutkan nama Calvin.
"I-iya Nona," jawab Raina gugup.
"Letakkan saja di meja proposalnya. Nanti akan ku pelajari lebih dulu," ujar Karina membuka membuka laptop di mejanya.
"Lila, apakah kita punya saham di Jaya Company?" tanya Karina.
"Ada Nona tapi tidak cukup banyak. Kita hanya memiliki saham sebesar 20% di Jaya Company," jawab Lila.
"20%? Lebih banyak dari dugaanku. Aku mau dalam waktu satu bulan ke depan saham itu berubah menjadi 30%," perintah Karina.
"Baik Nona," jawab Lila.
***
Jam pulang kerja pun tiba Arion segera melajukan mobilnya pulang. Wajahnya tampak masam. Sepanjang hari Joya menghubunginya minta bertemu namun diabaikan oleh Arion.
Ia memilih menghindar dari Joya. Sesampainya di rumah ia langsung masuk kamar tanpa melihat dan berbicara dengan Karina aslinya baru pulang. Karina yang sedang duduk di ruang keluarga yang menatap sekilas Arion.
Makan malam pun tiba. Arion tetap dalam kebungkamannya yang membuat Karina dan Maria bingung. Amri belum kembali dari rumah Karina kerena memutuskan menginap di sana. Arion hanya berbicara jika ditanya itupun jawabannya hanya iya dan tidak.
Begitulah seterusnya Arion menghindar dari Karina maupun Joya. Tak terasa dua minggu sudah berlalu setelah pernikahan mereka. Arion masih saja menghindar.
Ia selalu bangun lebih awal dan langsung berangkat ke kantor tanpa sarapan. Alasan yang diberikan Arion pada Maria pun selalu sama yaitu urusan penting.
Hari ini hari senin. Bagi sebagian orang hari senin adalah hari yang menyibukkan dan menjengkelkan. Entah apa alasannya ? Arion bangun dari tidur. Ia melirik jam di nakas.
Jam 5, batin Arion.
Arion memalingkan wajahnya melihat Karina di sampingnya. Namun, ia tak menemukannya.
Arion mengedarkan pandangannya ke arah lain dan menemukan Karina tengah duduk manis di sofa dengan melipat kedua tangannya di bawah dada. Karina menatap tajam dirinya.
"Mengapa? Mengapa kau menghindar dariku?" tanya datar Karina.
"Hmm … masalah itu ya. Aku tak menghindar darimu. Aku ada urusan penting," jawab Arion.
"Apa? Urusan apa?" tanya Karina lagi. Bisa dibilang Karina saat ini tengah menginterogasi Arion. Arion duduk di tepi ranjang.
"Perusahaan," jawab singkat Arion.
__ADS_1
"Mengapa kau harus berbohong? Apa kau berhubungan lagi dengan kekasih lamamu itu?" tanya Karina terkekeh pelan.
Arion terdiam mendengar pertanyaan Karina. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati jendela.
"Tidak. Aku juga menghidarinya," jawab Arion.
"Maksudmu??" tanya Karina heran.
Arion menarik nafas panjang lalu berbalik menatap Karina yang masih duduk di sofa.
"Kau mau mendengarkan ceritaku?" tanya Arion sendu.
Karina diam tak lama ia mengangguk.
"Jelaskan," ujar Karina.
"Hmm … sebenarnya aku tidak mencintaimu! Aku masih mencintai Joya," ujar Arion.
Mendengar itu Karina diam sejenak. Lalu menghela nafas pelan.
"Lanjutkan," ujar Karina.
"Aku menikahimu kerena ancaman orang tuaku. Jika aku tak menikah dalam waktu dekat aku akan kehilangan semuanya," lanjut Arion.
"Jadi sikapmu selama ini palsu?" tanya Karina. Nada bicaranya mulai berubah jadi dingin.
"Awalnya hanya sandiwara. Tapi sekarang inilah sikapku," jawab Arion.
Prok ....
Prok ....
Prok ....
Karina bertepuk tangan dan berdiri dari sofa. Wajahnya menunjukkan ekspresi senang.
"Selamat Arion Wijaya. Jika kau menjadi aktor pasti kau akan mendapatkan juara piala Oscar. Namun bagiku kau masih pemula! Aku sudah banyak bertemu orang sepertimu!" ujar Karina mendekati Arion.
"Aku apresiasi kejujuranmu. Tidak adil jika hanya kau seorang yang jujur," lanjut Karina.
"Maksudmu??" tanya Arion.
"Aku juga tidak mencintaimu. Aku menikah denganmu karena air mata nyonya Wijaya. Pernikahan ini palsu tapi nyata," ucap Karina mendekatkan wajahnya ke telinga Arion.
"Jadi … kita tak saling mencintai. Kau tak mencintaiku tapi mencintai Joya. Aku juga tak mencintaimu. So, kita imbang," lanjut Karina. Arion masih mencerna ucapan Karina.
"Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini. Aku tak mau jadi istri yang terabaikan," ucap Karina yang membuat Arion membulatkan matanya.
"Tidak!!" tolak tegas Arion.
"Mengapa? Jika kita bercerai kau akan bisa bersama dengan Joya. Lagipula kau kan tidak akan kehilangan warisanmu," tanya Karina.
"Aku tak mau bercerai denganmu. Aku mulai ada rasa denganmu. Mama dan Papa tidak akan setuju aku bercerai denganmu dan menikah dengan Joya. Mereka tak akan menyetujui hubunganku dengan Joya. Aku masih membutuhkanmu," jawab Arion memegang pundak Karina.
"Kau sungguh egois!!" ketus Karina.
"Ya aku egois. Aku tak akan membiarkanmu pergi dariku. Kau milikku," ujar Arion memeluk Karina.
"Jika begitu kita harus pindah rumah. Aku tak mau melihat air mata Nyonya Wijaya jika tahu anak dan menantunya tak saling mencintai. Itulah syarat pertama jika kau mau aku tetap bersamamu," tegas Karina melepaskan pelukan Arion.
"Hanya itu saja syaratnya?" tanya Arion.
"Itu yang pertama. Yang kedua kau bisa berhubungan dengan Joya tapi kau tak bisa melarangku dekat dengan siapapun. Termasuk Li dan Gerry. Yang ketiga berikan aku 5% saham Jaya Company," lanjut Karina.
"Untuk syarat pertama dan kedua aku setuju. Tetapi syarat ketiga aku tak bisa," ujar Karina.
"Astaga … Arion Wijaya!! Aku mempertaruhkan kebahagianku untuk kebahagianmu dan sekarang aku hanya meminta 5% sahammu kau sudah menolaknya. Aku tak bisa hidup denganmu!" tegas Karina menuju lemari dan mengambil kopernya.
Arion gelagapan. Dua syarat dari Karina memang menguntungkannya. Tapi untuk syarat ketiga itu mustahil. Saham itu akan ia tunjukkan untuk Joya. Arion berkelut dalam pikirannya.
Hanya 5% kan. Maaf Joya aku akan memberikan saham yang seharusnya milikmu kepada Karina, final batin Arion.
"Aku setuju semua syaratmu," ucap keras Arion yang membuat Karina berhenti memasukkan barang-barangnya ke koper.
"Baguslah. Aku yakin kau tak akan bisa menolak syaratku," ucap Karina tersenyum puas mendengar itu.
__ADS_1