Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 89_Diskusi_


__ADS_3

"Periksa semua sekitar markas. Ada penyusup!" pekik Calvin memberi perintah pada semua bawahan. Serentak alarm tanda waspada berbunyi nyaring.


"Bagaimana bisa kita diintai. Markas ini jauh tersembunyi dari pemukiman. Apa ada yang ikuti kamu selama kemari?" tanya Sam cemas. Mereka masih dalam keadaan lemah apabila ada serangan.


Black Diamond akan kembali hancur seperti lima tahun lalu. Pondasi mereka masih labil. Kejadian lima tahun lalu masih terasa hingga saat ini. Kini mereka hanya bisa memasang pemancar dan membangun markas di tengah hutan.


"Gak ada. Tapi sepertinya ada yang ngelacak gue," balas Arion. Ia memeriksa seluruh tubuhnya. Tak lupa handphonenya juga ia periksa.


Arion memeriksa setiap inci handphonenya, matanya membulat menemukan sebuah alat pelacak super mini di sana. Bentuknya yang super tipis dan menyatu dengan casing. Sungguh tak pernah ia sadari.


Apa ini ulah Karina? batin Arion.


"Ar, kita harus siaga penuh. Tempat ini sudah disusupi musuh," ucap Calvin serius. 


Arion mengangguk.


"Gue curiga sama Karina. Hanya dia yang bisa menyentuh handphone gue dengan leluasa," ujar Arion yang membuat Sam dan Calvin membelalakan mata mereka.


"Serius loe? Gue sih gak percaya," ucap Sam.


"Hmm … mari kita cari tahu kebenarannya," titah Arion meremas alat pelacak yang telah berada di tangannya.


"Oke. Akan gue cari tahu sekali lagi!" sahut Calvin mengangguk menyetujui.


"Ketua … kami tak menemukan orang yang mencurigakan di sekitar maupun di dalam markas. Tetapi kami menemukan jejak ban mobil selain dari mobil Ketua," lapor salah seorang anak buah Black Diamond.


"Hmm … kalian boleh pergi," ucap Arion datar.


Seusai Sam, Calvin dan Arion berdiskusi serius tentang apa yang terjadi hari ini. Langkah apa yang akan mereka ambil serta mencari pengintai yang mengusik mereka.


***


"God Damn!!! Bagaimana ini bisa terjadi?" umpat Karina setengah mengeram dan memukul keras kemudi mobil. Ia sudah berada di jalan menuju markas Pedang Biru. Pikirannya kalut. Ekspresi wajahnya sulit untuk dijelaskan. Bingung bercampur dengan shock diikuti dengan kesedihan dan kemarahan. 


Aku menikah dengan musuhku sendiri? Bagaimana jika Arion tahu bahwa aku adalah orang yang telah menghancurkan Black Diamond? Apakah akan ada perang terbuka untuk kedua kalinya? batin Karina berkecamuk.


Kali ini ia tak punya solusi. Semuanya buntu. Sesampainya di markas, Karina segera menitahkan semua tangan kanan organisasi mafia di kota S berkumpul di ruang meeting.


Mendengar titah itu, serentak pengumuman bergema di semua penjuru markas. Tak menunggu lama, tangan kanan yang dimaksud tak lain tak bukan adalah Li dan Gerry ditambah Darwis, Rian dan Satya.


"Masalah serius apa yang membuat Anda melakukan meeting dadakan, Queen?" tanya Li sopan.


Karina diam tak menjawab. Ia menyambungkan hasil rekaman mata robot nyamuknya yang ia rekam dengan jam tangannya ke laptop dan menayangkannya melalui infokus.

__ADS_1


Li, Gerry, Darwis, Rian dan Satya menyaksikan rekaman itu. Rekaman berdurasi kurang dari lima menitan itu sukses membuat jantung mereka berdebar-debar. Li menoleh ke arah Karina yang mengerutkan dahinya. Tak tahu apa yang ada di pikiran Queennya ini


Rekaman berakhir. Tak ada yang mulai buka suara. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.  


"Apa saran kalian?" tanya Karina setelah selesai bergelut dengan pemikirannya.


Hening. Tak ada yang menjawab. Sampai akhirnya Rian lah yang buka suara.


"Suami Anda adalah satu dari tiga leader Black Diamond, sedangkan Anda adalah leader Pedang Biru. Kita musuh. Mereka pasti masih menyimpan dendam pada Pedang Biru. Sebaiknya Anda tidak berkunjung ke markas atau lost kontak dulu dengan kami," saran Rian. Karina melirik Rian. Sedangkan yang lain saling tukar pandang.


"Lost kontak?" gumam Karina. Dahinya kembali mengerut.


"Tidak mungkin!!" tolak tegas Karina.


"Bagaimana bisa kita putus kontak dengan Queen? Sedangkan beliaulah induk dari organisasi mafia ini!" timpal Gerry yang juga tak setuju.


"Aku setuju dengan Rian. Jika kita lost kontak sementara dengan Queen, kita bisa membuat rencana tanpa melibatkan Queen. Lagipula ini untuk menghindari kecurigaan suami Anda lebih jauh. Saya yakin saat ini mereka tengah waspada dan merancang rencana. Lalu apakah Anda tak curiga dengan sopir pribadi Anda? Anda selalu menempatkan orang yang Anda kenal dan pilih dari Pedang Biru. Bisa saja dia mata-mata dari suami Anda!" ucap Li. Li dan Gerry saling bertatapan tajam. Baru kali ini mereka berbeda pemikiran. 


Karina menampik segera akan pemikiran Li tentang Didi. Ya. Karina menjamin bahwa Didi setia padanya. Hanya walaupun awalnya dia adalah bawahan Arion.


"Lost kontak tak akan menyelesaikan masalah. Kita harus cari cara lain. Identitas Anda tidak boleh terungkap oleh suami Anda. Anda harus berpisah dengan suami Anda," ucap Darwis yang membuat semua membelalakan mata. 


Darwis sendiri sebenarnya tak tega mengatakan hal itu. Ia tahu bahwa Karina sangat mencintai Arion, terlihat dari sikap Karina pada saat mengetahui perselingkuhan Arion dan Joya yang terjadi akibat ambisi Joya.


"Apa maksudmu Darwis??" tanya Karina dingin. Aura mencekam ia keluarkan. Namun, Darwis tak gentar sedikitpun. Kebahagian dan keselamatan Karina adalah prioritas utamanya.


"Queen, kita bermusuhan dengan mereka. Dan kini Anda telah menikah dan satu atap selama lebih dari enam bulan. Bagaimana jika suami Anda tahu? Ada kemungkinan dia akan mencelakai Anda dan perkiraan saya hal yang paling kecil adalah suami Anda akan menceraikan Anda. Memang Anda tak luka secara fisik. Tapi hati Anda akan hancur berkeping-keping. Jadi untuk menghindari hal itu, lebih baik anda menceraikan suami Anda lebih dulu," jelas Darwis panjang lebar mengutamakan semua isi hati dan pikirannya.


Karina menghela nafas kasar. Agaknya meeting hari ini belum menemui titik terang. Karina lelah. Ia merasa ada yang aneh dari namun entah apa itu.


"Sudahlah. Kalian catat saja pemikiran kalian, lalu kirimkan kepadaku. Aku mau pulang," ucap Karina dengan nada tak bersemangat. Ia beranjak dari kursinya dan menuju pintu keluar.


Li, Gerry, Darwis, Rian dan Satya mengangguk. Selepas kepergian Karina mereka kembali berdiskusi. Tak lupa, tangan kanan Karina yang berada di markas lain ikut mereka hubungi. 


***


Sesampainya di cafe, Karina memanggil Didi. Mengajaknya pulang ke kediaman Wijaya. Memang sudah waktunya pulang kerja bagi karyawan cafe, yaitu pukul 18.30.


Karina segera beralih ke kursi penumpang, sedangkan Didi mengambil posisi mengemudi. Perlahan mobil kembali meninggalkan cafe menuju kediaman Wijaya. Selama di perjalanan, Karina memejamkan matanya. Kembali bergelut dengan opininya sendiri.


Apa yang harus aku lakukan? Mengapa aku jadi seperti ini? Mengapa aku jadi ragu mengambil suatu keputusan? batin Karina.


Karina tak hanya memikirkan dirinya, dia juga memikirkan Lila, Siska dan Rian, di mana mereka berdua juga punya hubungan khusus dengan Sam dan Calvin yaitu sebagai tunangan.

__ADS_1


Dan tinggal kurang lebih dua minggu lagi mereka akan menikah. Bagaimana jika Lila dan Raina tahu, bahwa calon suami mereka adalah musuhnya? Bagi semua bawahan Karina, musuh Karina adalah musuh mereka. Baik itu bawahannya dari Pedang Biru maupun perusahaan dan cafe.


Lagi-lagi Karina menghela nafas kasar. Ia butuh sesuatu untuk meredakan kekalutannya. Didi menatap ekspresi wajah Karina dari spion tengah mobil. 


Ada apa lagi dengan Nyonya? Apa Nyonya ada masalah tambahan lagi dari Tuan muda? batin Didi.


Jujur saja, ia tak merasa nyaman satu mobil dengan Karina saat ini. 


"Mengapa kau menatapku seperti itu, Didi?" tanya Karina dingin membuka matanya. Didi tersentak kaget. 


"Tidak ada Nyonya," jawab Didi canggung sebab ketahuan melirik Karina.


"Lain kali jangan seperti itu. Aku tak suka. Suasana hatiku buruk. Bisa saja kau jadi korbanku," ucap Karina kembali memejamkan matanya.


Didi mengangguk secepat kilat. Tak mau terkena masalah lagi. Pukul 19.10 mereka sudah tiba di kediaman Wijaya. Didi turun dan membukakan pintu untuk Karina.


Karina segera masuk dan menuju kamarnya. Saat memasuki pintu masuk, Karina mengubah ekspresinya menjadi senang, penuh senyuman dan suasana hati yang baik. Tak lupa ia menyapa ramah Maria dan Amri. 


Tak.


Tak.


Tak.


Suara langkah kaki Karina menaiki tangga menuju kamar. Sesampainya di kamar, Karina langsung menuju kamar mandi. Berharap dengan fisiknya yang segar dan bersih dapat memberinya pencerahan.


Selepas mandi dan berpakaian, Karina membuka kulkas mini yang tersedia di kamar. Mengambil satu botol wine dan menenggaknya perlahan. 


Aih … mengapa ini semakin rumit saja? Apa aku memang harus bercerai dengan Arion? Satu sisi dia musuhku dan di sisi dia terbukti menghianatiku, namun dia adalah orang yang aku cintai, batin Karina.


Ah … mengapa harus harus mencair sih? Mengapa aku harus jatuh cinta padanya? tanya Karina dalam hati frustasi. 


Tak terasa sudah separuh botol wine yang ia minum. Karina melirik jam dinding. Pukul 20.00, biasanya Arion sudah tiba di rumah.


Dan benar saja, tak berselang lama, ada yang membuka pintu kamar. Arion masuk dengan wajah sulit diartikan menghampiri Karina yang masih asyik minum di sofa.


"Jelaskan apa ini?" ucap Arion serius meletakkan handphone yang menampilkan sebuah rekaman. Karina meliriknya. Wine di tangan kanan dialihkan ke tangan kiri. Karina mengambil handphone Arion dan melihat. Dahinya mengerut.


Sial! Aku ceroboh!! Ternyata ada CCTV tersembunyi di sana, gerutu Karina dalam hati.


 Ia kembali meletakkan handphone Arion dan kembali minum. Rekaman yang Arion tunjukkan adalah rekaman saat ia bersembunyi di semak samping bangunan mewah yang Karina pastikan adalah markas Black Diamond.


"Apa yang mau kau tanyakan?" Bukannya menjawab, Karina malah melontarkan pertanyaan balik.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu mengintai dan mengikutiku? Dan satu lagi mengapa kau pasang pelacak di handphoneku?" tanya Arion yang sudah mengambil posisi duduk di samping Karina. Tak lupa ia juga mencoba mengambil botol wine di tangan Karina namun, tak berhasil.


__ADS_2