
Kini Arion dan Karina telah berada di ruangan bersama dengan seorang dokter dan satu orang pria yang akan menjadi pendonor bagi Arion. Mereka melakukan kesepakatan dan membahas segalanya mengenai donor mata. Usut punya usut ternyata yang akan mendonorkan matanya untuk Arion adalah orang yang pernah Karina tolong dulu. Sekitar tiga tahun lalu.
"Hidupku tak lama lagi Nona, aku menderita leukimia stadium 4. Aku akan lega dan pergi dengan tenang jika aku bisa membalas budi Anda dulu. Jadi ini adalah balas budi saya. Anda tak perlu menggantinya. Aku senang bisa berguna di umurku yang tinggal hitungan," tutur Ridho, pendonor untuk Arion. Karina tentu saja mengernyit. Banyak sudah orang yang tolong, ia lupa.
Melihat itu, Ridho tersenyum tipis.
"Anda ingat di jembatan di kota K? Pria yang mau bunuh diri karena frustasi dengan takdir hidupnya?"tanya Ridho.
Karina memejamkan matanya mencoba mengingat.
"Kau datang dan menghentikanku, namun aku nekat dan terjun. Kau tanpa pikir panjang pun ikut terjun. Kau menarik dan membawaku dari sungai dengan susah payah. Hingga akhirnya aku selamat. Kau mendesakku untuk menceritakan alasanku bunuh diri. Setelah aku selesai dengan ceritaku, kau memberiku harapan. Kau membangunkanku sebuah galeri lukis untuk aku mengekspresikan hobi dan bakatku. Kau adalah dewi bagiku Nona. Di saat semua anggota keluargaku menertawakan bakatku kau hadir saat aku kehilangan rasa ingin hidup," terang Ridho. Pria berusia 35 tahun itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
"Ah kau kah orang itu?"seru Karina tak percaya.
"Benar," jawab mantap Ridho. Karina tersenyum. Arion masih melakukan rangkaian pemeriksaan.
Namun, tak lama Karina menunjukkan wajah yang rumit diterka. Membuat Ridho mengernyit.
"Mengapa kau jadi penyakitan? Bagaimana dengan apa yang kau kelola? Bagaimana dengan statusmu? Apa kau sudah menikah?"tanya Karina beruntun. Ridho lagi-lagi tersenyum.
"Aku berhasil Nona, namaku sudah terkenal di kota K. Keluargaku telah mengakuiku. Aku belum menikah. Sebab aku berjanji jika aku berhasil maka aku akan mencari dan membalas budi padamu dulu. Tapi aku tak bisa menemukanmu. Tepat satu tahun lalu, aku merasakan kepalaku pusing dan darah keluar dari hidungku. Aku awalnya mengira itu karena aku kelelahan. Namun ternyata itu berlangsung terus-menerus," jelas Ridho panjang lebar.
"Dan kau periksa ke dokter dan mencovismu mengidap kanker darah." Karina menebak cerita selanjutnya dan ikut benar. Karina menghela nafas pelan.
"Aku tak bisa menerima balasan seperti ini. Teruslah hidup dan berjuang melawan kanker itu. Kau kuat pasti bisa," tegas Karina. Ridho menggeleng.
"Tidak Nona, terimalah balasanku. Aku ikhlas. Aku rela. Aku akan mati dengan tenang jika aku telah balas budi. Aku mohon," pinta Ridho bersimpuh di depan Karina.
"Keluargamu? Bagaimana?"tanya Karina.
"Itu hakku. Keputusanku!"tegas Ridho.
Karina diam. Ridho berharap Karina menerimanya. Tak lama, Arion kembali setelah selesai pemeriksaan. Dokter menyatakan bahwa kondisi Arion siap untuk menjalani operasi. Dan itu dijadwalkan tiga hari mendatang. Karina melihat binar bahagia di wajah Arion. Karina dilema. Satu sisi ia tak tega menerima balas budi orang yang telah ia selamatkan dengan resiko nyawa melayang. Karina menolong karena ikhlas bukan mengharap pamrih, saat itu ataupun masa depan nanti. Satu sisi binar bahagia Arion membuatnya tak tega mengatakan bahwa ia menolah mata donor dari Ridho.
Karina melirik Ridho. Wajahnya tegas, mantap dan penuh keyakinan. Tak ada keraguan di dalamnya.
Karina mengangguk pelan. Ridho memejamkan matanya lega. Akhirnya Ridho selama menunggu jadwal operasi di rawat di ruang VVIP. Karina dan Arion keluar dari rumah sakit kembali ke markas.
Pak Anton mengeryit melihat wajah banyak pikiran Karina. Namun tetap diam, tak mau membahasnya sekarang. Arion menyampaikan segala apa yang akan ia lakukan dan harapannya setelah ia dapat melihat kembali.
Karina hanya menanggapi singkat semua ucapan Arion. Tak mengherankan bagi Arion, direspon saja syukur.
Tak lupa Arion mengusap perut Karina yang mulai menonjol. Karina melemparkan pandangannya menatap jalanan. Melihat kendaraan yang tak henti-hentinya lalu lalang.
Karina dan Arion tiba di markas kala jam makan siang tiba. Mereka melangkahkan kaki menuju ruang di mana Blue Boys, Li, Elina, Gerry berkumpul dipandu oleh salah seorang pengawal.
Ternyata mereka semua berada di ruang makan. Tengah mengantri seperti mau makan di kondangan dengan piring di tangan. Li, Elina serta Gerry telah lebih dulu mengambil tempat.
Karina dengan menuntun Arion segera menghampiri mereka. Otomatis semua anggota yang berada di ruang makan menunduk hormat. Karina menaikkan satu tangannya.
"Di mana Darwis dan Joya?"tanya Karina yang tak mendapati dua orang itu di antara anggotanya.
"Di kamar Karina. Dunia milik mereka berdua, kami ini dianggap nyamuk," keluh Gerry.
__ADS_1
"Dia hanya peduli pada Joya, yang lain mah ia lupakan," tambah Li. Elina cuek. Bukan urusannya.
"Panggil mereka kemari!"titah Karina gemas. Karina belum menemui anggota barunya itu.
Seorang anggota pergi untuk memanggil Darwis dan Joya. Para anggota wanita langsung menyajikan makan siang untuk Queen dan suami Queen mereka. Blue Boys bergabung setelah piring mereka terisi dengan aneka sajian makan siang yang tersedia.
"Halo," sapa mereka.
"Hai, bagaimana?"balas Karina tersenyum seraya menyuapi Arion.
"Luar biasa," jawab Blue Boys antusias.
"Apa yang kau ajarkan pada mereka?"tanya Karina pada tiga tangan kananya.
"Cara memegang senjata, melepas dan merakitnya kembali, memberitahu jenis-jenis senjata laras panjang maupun pendek serta amunisinya. Dan menembak untuk pemula selama sepuluh menit," jelas Gerry.
"Benar, aku hanya bisa tembus di lingkaran 5," tambah Agus lesu.
"Menembak lebih sulit dari memanah, tapi sensasinya berbeda. Suara peluru yang keluar dari pistol sangatlah membuat jantung berdesir. Aku hanya bisa tepat di lingkaran ke 8," tutur Kuki.
"Yang lain?"tanya Karina.
"Hmm." Tata, Chimmy, Mang dan RJ saling tatap ragu dengan kondisi masih menguyah.
Koya, santuy dengan makan siangnya. Ia dapat skor sepuluh dalam hal itu, tetapi ia merusak beberapa properti yang membuat Gerry dan Li mengesah kesal. Apalagi saat waktu melepas dan merakit. Bisa melepas namun tak bisa merakitnya kembali.
"Aku dapat skor 7," ujar Tata.
"Aku dapat 6," ucap Chimmy.
"Aku 8," ucap Mang.
"Dan kau leader?"tanya Karina.
"10," jawab singkat Koya.
"Tapi kau merusak banyak properti. Nilai sepuluh setelah 3 sasaran tembak hancur sebelum ditembak, 2 pistol tak bisa dirakit kembali dan menuju tempat sampah," ketus Li.
Koya tertawa kecil. Kebiasaannya tak bisa hilang. Karina hanya menggelengkan kepalanya.
"Itu resiko Li, kau sudah membaca tentangnya bukan? Jadi jangan heran dengan itu." Karina menaikkan satu alisnya menatap Koya.
Li mencembikkan bibirnya. Elina malah menyentuh bibi Li gemas. Membuat Li memerah malu. Karina, Gerry dan Blue Boys terkekeh.
"Karina," sapa Darwis dengan menarik tangan Joya yang masih diam seperti pikirannya kosong.
"Hm," sahut Karina dingin. Suasana berubah sedikit panas. Blue Boys diam menyimak dengan melahap makanan mereka.
Darwis mendudukkan Joya, lalu duduk di sampingnya.
"Bagaimana kabarmu dan istrimu? Lalu anakmu?"tanya Karina datar. Darwis mengernyit.
Nada datar. Pasti dia dalam masalah.
__ADS_1
"Baik," jawab Darwis singkat.
"Darwis, aku memberimu kebebasan, tapi bukan berarti kau bisa mengabaikan saudaramu yang lain. Apa kau kira aku ini buta? Wajah istrimu saja seperti tak ada aura kehidupan, kenapa dia? Shock kah? Selama menjelang pernikahanmu aku memang yang mempermasalahkan kau yang fokus dengan rencana pernikahanmu. Sampai saat ini pun aku diam," ucap Karina. Darwis menunduk.
"Tapi kau lupa di mana kau sekarang, siapa dirimu, dan pastinya kau melewatkan tanggung jawabmu. Kasino hanya ditangani oleh Satya dan Rian. Kau tahukan betapa beratnya mengurus kasino itu? Oke aku bisa mengerti. Tapi aku juga pada saudaramu di sini. Tak peduli apapun kecuali pada Joya. Itu hakmu, tapi ingat kewajibanmu," tegas Karina mematahkan sumpit yang ia gunakan.
Darwis refleks bersimpuh di hadapan Karina. Sadar akan kelalaiannya. Joya diam saja, matanya hanya bergerak sekilas. Jiwanya masih terguncang dengan kenyataan Darwis adalah Pedang Biru, bawahan Karina, serta dia adalah Darendra.
"Hukumlah aku! Aku lalai!"pinta tegas Darwis.
Karina tersenyum, senyumnya membuat Blue Boys bergidik.
"Sesuai permintaan. Pergi ke ruang hukuman nomor 3, terima hukuman sampai selesai!"titah Karina. Li dan Gerry tertegun. Darwis hanya bisa terkejut dalam diamnya. Ruangan itu adalah salah satu yang ditakuti para bawahan. Darwis segera beranjak dan menuju ruang hukuman.
Karina beralih menatap Joya yang diam. Karina tersenyum miris dan mengangkat telunjuknya lalu memutarnya.
Tiba-tiba dari atas turun air yang mengguyur Joya. Joya mengerjap dan akhirnya jiwanya terkumpul merasakan dinginnya air mengguyur tubuhnya. Dinginnya terasa sampai tulang. Joya menggertakkan bibirnya kedinginan. Yang lain kaget. Karina malah menaikkan satu alisnya.
"Bawa wanita ini ke ruanganku, seret saja dia jika memberontak!"titah Karina tegas. Dua pengawal mendekat dan memegang Joya. Joya menatap Karina tajam, namun tak memberontak.
"Dia menyeramkan," bisik Kuki pada RJ.
"Namanya juga mafia," balas RJ berbisik juga.
"Aku suka caranya," gumam Agus.
"Kira-kira hukuman apa yang diterima oleh tuan tadi?"tanya Chimmy berbisik pada Mang.
"Aku dengar tadi istri tuan itu hamil,"ujar Koya.
"Kak aku mau nambah lagi, bolehkan?"tanya Tata pada Karina yang masih menyuapi Arion makan. Arion mah diam, toh bukan hak dia, untuk apa dia melarang. Apalagi di sini aturan dijunjung tinggi.
"Silahkan," ujar Karina.
"Apa acara kami selanjutnya?"tanya Mang.
"Hmm … beladiri," jawab Karina.
"Hah?"heran Blue Boys. Mereka saling pandang. Malas rasanya beladiri.
"Bisakah yang lain?"tanya Koya menatap harap Karina agar mengubah keputusannya.
"Hmm pantai yuk," ajak Kuki. Member lainnya menatap Kuki dengan tatapan setuju.
"Pantai? Nyari kepiting ya," semangat Koya.
"Pantai? Sisi utara markas ini adalah pantai, lihat saja dari lantai atas," ujar Karina santai.
"Ah ya, itu ide bagus. Karina kami juga sudah lama tak ke pantai, boleh kita buat acara panggang-panggangan?"tanya Li antusias.
"Boleh. Tapi ingat ya dipanggang itu ikan atau unggas, jangan markasku, oke," peringat Karina, melirik Koya.
"Itu aman!"jawab Koya yang diangguki lainnya.
__ADS_1
Akhirnya acara dimulai setelah Asar nanti, sedangkan selagi menunggu itu, Blue Boys, Elina, Li dan Gerry mencari ikan di pantai. Karina membawa Arion menuju lantai tiga pribadinya. Menunaikan ibadah lebih dulu baru berbicara dengan Joya