Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 362


__ADS_3

Setelah mengambil beberapa foto, Tuan Adiguna dan keluarga naik ke dalam helikopter yang terparkir di depan istana. 


Perlahan baling-baling helikopter mulai berputar dan terbang. 


Mira, Gerry, Satya, dan Riska melambaikan tangan mengucapkan selamat jalan.


Keempat orang itu baru masuk ke dalam istana setelah helikopter itu telah terbang menjauh. 


"Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan. Ini waktu bebas," ujar Karina.


"Oke."


Karina duduk di samping Arion yang membaca majalah, menatap ketiga anaknya yang tengah asyik bermain dengan kakek dan nenek mereka, juga dengan nenek muda mereka, Alia Bram Wijaya.


"Jika begitu, Kakak mari kita melihat penangkaran."


Riska menggelayut manja pada Mira. Karina menaikkan alisnya. Arion melirik Karina. Begitu juga dengan Darwis, Satya, dan Rian.


"Penangkaran?"beo Sam dan Calvin.


"Iya penangkaran. Letakkan di sisi barat pulau," jelas Riska.


"Mira?"


Karina menatap Mira bertanya.


"Itu … aku mencari tahu dari para pelayan," gugup Mira.


"Oh. Pergilah. Sebentar lagi waktunya makan, kalian bisa mendapat pengalaman baru," ujar Karina, beralih menatap Biru yang kini melangkah ke arahnya.


"Baiklah."


"Aku juga ikut," ucap Joya berdiri, Darwis ikut berdiri juga.


"Aku juga," timpal Lila diikuti Elina, Siska, dan Raina.


Keenam pasangan itu keluar dari istana untuk melihat tempat penangkaran menyisakan Amri, Maria, Karina, Arion, dan Star Boy. 


"Oh iya sisanya kemana?"tanya Karina yang tidak mendapati kakek Tio, nenek Mina, Hamdan, Rasti, Angga, dan Santi.


"Pasangan tua juga butuh waktu berduaan, Sayang," jawab Maria.


"Benar juga. Lantas kalian?"


Karina menoleh ke pada Star Boy yang nyaman berbaring di permadani.


"Kami lelah. Lagian masih ada hari esok," jawab Dae-Hyun.


"Katakan saja kalian mau mengobrol dengan kami tanpa mereka," sela Arion, menoleh ke arah Star Boy, tersenyum tipis.


"Hehehe. Kak Ar memang paling mengerti," sahut Dae-Hyun.


"Setelah beberapa bulan tidak bertemu, ternyata sudah ada banyak perubahan. Dulu hanya Tuan Li saja yang sudah menikah sekarang Tuan Gerry juga sudah menikah. Dulu belum ada seorang bayipun kecuali Nona Alia. Tapi sekarang … semua yang ikut liburan sudah memiliki bayi. Keluarga kalian menjadi semakin hangat dari waktu ke waktu," tutur Hyun Ki.


"Itu benar. Kami sudah punya tiga anak, bagaimana dengan kalian? Apa tidak ada niatan untuk memiliki kekasih dan membangun sebuah rumah tangga?"tanya Karina.


"Mengenai itu … kau tahu sendiri kepadatan jadwal kami bukan?"


Yeon-Ji menjawab. Karina mendengus senyum.


"Jadwal kami juga padat," ucap Arion.


"Hah. Kalian itu pimpinannya sedangkan kami adalah boy group yang bekerja di bawah arahan manager," ucap Dae


Shim.


"Perlukan ku akuisisi perusahaan kalian?"


Mata Star Boy melebar.


"Tidak perlu!"tolak meraka.


"Ini bukanlah hal aneh di negara kami. Terlebih kami sedang berada di puncak karier. Prioritas kami sekarang adalah membahagiakan penggemar kami. Mengenai keinginan berkeluarga, itu selalu ada tapi sekarang bukanlah waktunya. Jika sudah saatnya, kami pasti akan menikah," ucap Han.


"Lagian masih banyak grup di luar sana yang usianya lebih tua dari kami tapi belum juga berkeluarga. Karina … di beberapa negara karier terkadang lebih penting dari keinginan berkeluarga. Menikmati masa lajang tanpa beban apapun. Bebas tanpa ikatan," ucap Dae-Jung.


"Aku mengerti," sahut Arion menutup majalah.


"Intinya adalah bahagia. Cara mendapatkan kebahagian, masing-masing punya cara yang berbeda," ucap Arion tersenyum.


"Papa setuju," ujar Amri, mengalihkan tatapannya sejenak dari layar televisi yang tengah menampilkan pertandingan MMA.


"Ya bahagia itu memang sederhana tapi terkadang ada yang mencari cara sulit untuk mendapatkan," ucap Maria.


"Hm. Lupakan saja. Jika kalian menikah kelak, jangan lupa undang kami," ucap Karina.


"Sure!"sahut mereka serentak.


"Pa … melihat pertandingan ini hatiku berkata ingin battle dengan Papa. Apa Papa bersedia?"ucap Arion serius.

__ADS_1


"Are you seriously?"


Arion mengangguk mantap.


"Papa sanggupi. Tapi selesai pertandingan ini," sahut Amri.


"Setuju!"


Arion dan Amri berjabat tangan, senyum lebar terukir di bibir mereka.


"Eh iya, dimana Enji?"tanya Han.


"Di perpustakaan," jawab Karina.


"Wah rajin sekali ia," kagum Dae-Hyun.


"Hm," sahut Karina datar.


"Ar, Karina," panggil Maria, dengan nada serius.


Karina dan Arion menoleh kepada Maria. Amri melirik sekilas.


"Iya Ma?"jawab Karina.


"Ada yang ingin Mama tanyakan," ucap Maria.


"Apa itu?"tanya Karina.


"Ini mengenai keturunan dan para pewaris keluarga kita," ucap Maria.


"Katakan saja keraguan hati Mama," ujar Arion yang menangkap mata ragu Maria.


"Kalian berencana untuk memiliki tujuh orang anak, apakah itu termasuk Bima?"tanya Maria.


"Tidak baik membicarakan keturunan dan pewarisan di depan anak kecil. Kalian tolong bawa mereka bermain," pinta Amri kepada Star Boy.


Mengetahui bahwa arah pembicaraan yang serius, Star Boy segera berdiri dan bergegas menjauh dengan membawa keempat balita tersebut.


"Tentu saja tidak, Ma," jawab Arion.


"Ketujuh pewaris adalah anak yang aku lahirkan. Dengan Bima maka kami akan mempunyai delapan orang anak. Mengenai warisan, tentu saja Bima tidak termasuk di dalamnya," jelas Karina.


"Pewaris tetaplah anak yang memiliki darah keluarga Wijaya dan Sanjaya," tegas Arion.


"Jika begitu, bukankah secara tak langsung kalian mendorong Bima untuk dikucilkan?"komentar Amri.


"Tentu saja tidak akan ku biarkan, Pa. Tidak menjadi pewaris bukan berarti tidak punya kedudukan. Bima akan membawa namanya ke atas tanpa adanya warisan. Dia akan menjadi anak yang paling kuat karena dia berusaha sendiri untuk membuat namanya berharga dan berpengaruh," papar Karina.


"Benar. Para pewaris sudah punya nama dan kekuasan jauh sebelum mereka lahir. Tapi tidak dengan Bima, dia harus berusaha sendiri untuk itu," jelas Arion.


"Tapi bukankah artinya identitasnya sebagai anak angkat akan terungkap?"bingung Maria.


"Siapa yang mengatakan bahwa itu tidak akan terungkap? Saat Bima sudah mengerti kelak maka kami berdua yang akan memberitahunya sendiri," tegas Karina.


"Kalian akan tetap membantunya bukan?"


"Tentu saja, Pa. Terlepas dari hal apapun, Bima tetaplah anak kami dan kami adalah orang tuanya. Sudah menjadi kewajiban kami memastikan masa depannya cemerlang," ujar Arion.


"Papa setuju dengan itu. Itu cara yang bagus untuk menghadiri kecemburuan," ujar Amri.


"Jika itu keputusan kalian, maka Mama harus mendukungnya. Juga kalian jangan salah paham dengan Mama. Mama hanya ingin memastikan dan apapun jawaban kalian tadi Mama akan menerimanya. Apapun keputusan kalian tidak akan mengubah sikap Mama terhadap Bima," tutur Maria.


Karina dan Arion tersenyum lepas. 


"Huwah Kakak!"teriak Enji.


Karina, Arion, Amri, dan Maria menoleh ke arah perpustakaan. Enji datang dengan langkah cepat, duduk dan memeluk Karina dari belakang.


"Ada apa?"tanya Karina heran.


"Aku sangat sedih dan kesal," lirik Enji.


Arion menatap sebal tangan Enji yang melingkar di perut Karina. 


"Apa komikusnya tidak tepat janji?"tanya Karina yang membuat tiga lainnya heran.


"Komikus?"


"Komik?"


"Jadi gara-gara komik."


Amri menarik kesimpulan.


"Hm. Janjinya akan crazy up tapi satupun tidak ada yang di up," aduh Enji.


"Haih. Anak ini. Tunggu saja kemungkinan tepat up. Biasanya jam berapa itu up?"hibur Karina.


"Jam delapan malam," jawab Enji.

__ADS_1


Tak.


Arion, Maria, dan Amri menepuk dahi mereka bersamaan. Karina terkekeh pelan.


"Ini baru jam lima sore, Zi. Ya jelas belum up dong," kekeh Karina.


"Eh tapi di laptopku sudah jam delapan."


"Auh."


"Ini luar negeri adikku sayang," gemas Karina.


Enji mengerjap. 


"Astaga! Kakak aku benar-benar lupa," pekik Enji, menunduk malu.


Hahahahaha 


Tawa renyah pun bergema di ruang tengah. 


Tepat pukul delapan malam waktu setempat, Enji bersorak gembira kala komik favoritnya crazy up. Enji dengan cepat membaca komik tersebut. Tak sampai lima menit, sudah bersambung. Enji menghela nafas kasar.


"Nunggunya jamuran bacanya sedekip mata," gerutu Enji kesal.


Enji menutup laptopnya, berdiri menuju balkon kamar. Menatap langit malam yang tampak mendung. Gemuruh ombak tetap terdengar bersahutan, menjadi melodi di malam sunyi, bagi Enji.


Enji meletakkan kedua tangannya di atas pembatas balkon. Senyum tipis Enji torehkan. 


Ku kira masih sendiri rupanya sudah beranak satu, batin Enji geli. 


Enji menoleh ke dalam kamar saat mendengar suara ketukan pintu.


"AYAH APA KAU DI DALAM?"


Senyum Enji mengembang, bergegas membuka pintu.


"A…."


"Kau di sini?"


"Tentu saja. Aku akan tidur dengan Ayah," jawab Bayu.


"Benarkah? Apakah tidak masalah?"ragu Enji.


"Tidak. Pelatih sudah memberikan kami waktu bebas sampai besok pagi. Tapi sebelumnya harus laporan dulu kepada petinggi. Aku yang pertama jadi aku langsung mencari Ayah," jelas Bayu.


"Jadi yang lain masih laporan?"


Bayu mengangguk.


"Baiklah!"


Enji langsung menggendong Bayu, berputar - putar sesaat kemudian berbaring di ranjang, bersebelahan. Rambut mereka berantakan dengan wajah bahagia.


"Ayah aku sangat tidak menyangka kita akan bertemu di sini," ujar Bayu.


"Apalagi Ayah," sahut Enji.


"Ini hal yang jarang terjadi. Mengapa waktunya begitu tepat?"heran Bayu.


"Jika sudah ditakdirkan pasti akan terjadi, Yu. Awalnya Ayah mengira ini rencana kakakmu, ternyata kakak juga tidak tahu," sahut Enji, memejamkan mata.


"Sang Pencipta adalah penulis skenario terbaik," kagum Enji.


"Ah Ayah apa ada yang berubah dariku?"tanya Bayu, berbalik, menyangga dagu dengan kedua tangan.


"Banyak," jawab Enji.


"Oh. Banyak ya. Baru sembilan bulan saja sudah banyak bagaimana jika sepuluh tahun? Ku rasa Ayah tidak akan mengenaliku lagi," tutur Bayu.


"Bagaimana mungkin Ayah tidak bisa mengenali darah daging ayah sendiri? Mau sebanyak apapun perubahanmu nanti, Ayah akan tetap mengenalimu," balas Enji.


"Ayah serius?"


"Apa Ayah pernah bercanda?"


"Sering," cibir Bayu.


"Ah Ayah lupa. Terlalu banyak perubahan dalam waktu singkat."


Enji menghela nafas pelan.


"Jadi ini efek keretakan tulang tengkorak Ayah. Tapi untunglah Ayah tetap mengingat kami," ucap lega Bayu.


"Semua berkat doa anak tampan Ayah."


Enji membuka mata, memiringkan tubuhnya menghadap Bayu, mencubit hidung Bayu.


"Ayah pokoknya malam ini kita tidak akan tidur. Ayah harus mendengarkan ceritaku selama belajar!"seru Bayu.

__ADS_1


"Ayah juga banyak yang mau diceritakan denganmu," jawab Enji.


__ADS_2