
Di kediaman Wijaya, Maria mondar-mandir di ruang jengah dengan terus menatap layar handphone. Amri fokus pada majalah bisnis yang ia baca. Amri merasa bangga dengan prestasi anak bangsa yang sanggup dan mampu bersaing di kancah internasional.
Memang ini yang membuat negara maju. Mahasiswa tidak hanya mengharap bekerja pada orang lain setelah lulus, akan tetapi Mahasiswa bisa menciptakan suatu lowongan kerja yang mampu merangkul pencari kerja di luaran sana. Tantangan adalah jalan untuk maju. Perubahan yang pesat, mendorong insan muda semakin kreatif dan mumpuni.
Amri terkejut saat Maria melempar handphone kasar ke atas meja. Amri berdecak sebal.
"Mereka ini … keluar negeri tidak memberi kabar pada kita. Dihubungi juga tidak ada yang aktif. Dilacak Enji mereka berada di negara K. Apa mereka kira kita enggak khawatir mereka tiada kabar sampai sekarang?"
Maria mengomel kesal pada Karina dan Arion yang tidak ada kabar setelah berpisah dengannya di mall kemarin lusa. Amri yang melihat Maria mondar-mandir, merasa pusing dan kesal. Untunglah Alia sedang tidur siang di kamar, jika tidak pasti akan menangis mendengar omelan Maria.
"Itukan urusan pribadi mereka Ma. Kita tidak bisa ikut campur, lagipula kita kan beda atap dengan mereka. Karina itu CEO perusahan besar, akhir tahun pasti ia sibuk. Terlebih Papa dengar ada tangan kanannya yang berselisih yang mengharuskannya turun tangan. Mama tidak perlu khawatir, mereka pandai menjaga diri," ujar Amri memberi pengertian. Maria menatap sekilas Amri, kemudian duduk dengan kasar di samping Amri.
"Tetap saja. Karina itu sedang hamil tua, rentan perjalanan jauh. Mama kan khawatir, seandainya Karina mengalami masalah pada kehamilannya dan mengharuskannya melahirkan prematur. Dia hamil anak kembar loh Pa. Walaupun ada Arion, tetap saja Mama cemas. Arion terkadang atas gesrek- gesreknya Pa," sahut Maria mencembikkan bibirnya. Amri meletakkan majalah di atas meja lalu memegang pipi Maria.
"Walaupun gesrek, dia lelaki yang bertanggung jawab. Coba Mama hubungi lagi, mana tahu sudah ada yang aktif," ujar Amri, mencubit pelan pipi Maria. Maria menepis tangan Amri, pipinya kerih diunyel-unyel oleh Amri.
"Bisa melar pipi Mama Papa gituin," ketus Maria meraih handphone. Amri tersenyum dan lanjut membaca majalah.
Maria menunggu harap-harap cemas. Tersambung, tapi tak kunjung dijawab. Mira mendengus, sudah dua kali mencoba, belum juga dijawab.
"Apa handphone mereka mode diam? Atau sedang tidur? Tapi masa' sih jam 16.00 mereka tidur? Atau sedang meeting? Ah Mama kirim pesan saja," putus Maria, mengetikkan dengan cepat pesan untuk Arion.
"Mama khawatir tidak beralasan. Lebih baik Mama buatkan kopi," tukas Amri memberi perintah. Maria dengan raut wajah yang masih kesal berdiri dan berjalan menuju dapur. Amri menggeleng dengan tingkah Maria. Sebenarnya Arion memberi kabar padanya tadi pagi, tapi ia sengaja merahasiakannya, ingin melihat wajah kesal Maria. Amri sangat suka dengan wajah kesal Maria, menambah kadar kecantikan yang tidak memudar di makan usia.
*
*
*
Tuan Adiguna dan Gerry fokus pada permainan catur mereka. Sebagai saksi hidup, Arion menjadi pengamat.
Sebuah ruangan VIP lengkap dengan meja makan, sofa, karaoke, piramida anggur merah, serta meja dan kursi untuk permainan catur dan sejenisnya yang bisa dimainkan one by one tanpa memakan banyak tempat.
Karina mengaktifkan handphone miliknya dan juga Arion. Ia duduk di sofa dengan segelas anggur merah di depannya. Elina dan Li, sibuk icip makanan. Keluarga Adiguna tersenyum lepas melihat suasana yang sederhana namun bermakna. Mira duduk cemas menunggu hasil permainan. Intan memegang lengan Mira, menenangkan anaknya itu, serta meyakinkan bahwa Gerry akan menang. Entah mengapa Intan memiliki keyakinan besar bahwa Gerry mampu mengalahkan suaminya. Menatap punggung Gerry, membuat Intan mengingat Eko. Intan merasa Eko kembali dalam sosok Gerry.
Riska sendiri, sedari tadi setelah masuk ke ruangan ini, selalu curi pandang terhadap Satya. Satya sendiri duduk dengan sebotol wine di tangan. Rian mencoba melarang Satya minum terlalu banyak, tapi tetap saja tidak bisa. Tatapan kesedihan Satya, membuat Rian luluh. Alhasil, Rian ikut minum dengan Satya.
__ADS_1
Untuk Darwis dan Joya sendiri, keduanya memilih istirahat di kamar hotel. Joya merasa tubuhnya sangat lelah, Darwis menemani Joya tidur.
"Ma, Pa, semuanya, kami undur diri duluan ya," ucap Rena menyita perhatian segenap yang ada di ruangan ini, kecuali Satya. Pria itu menutup mata, menikmati sisa minuman yang masih terasa di mulut.
"Loh Ren, kok buru-buru sih? Enggak bisa ditunda besok pagi saja? Hari sudah gelap loh," tahan Intan khawatir.
"Maunya gitu Ma, tapi besok pagi Mas Raka ada meeting penting, enggak bisa ditunda," jawab Rena.
"Benar Ma, meeting besok sangat berpengaruh terhadap perusahaan. Raka harus mengecek kembali berkas untuk besok," timpal Raka. Pria itu menggendong Reksa.
"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati di jalan. Terutama kamu Raka, jangan meleng menyetir mobil. Papa akan suruh bawahan Papa mengawal kalian," ucap tegas Tuan Adiguna. Rena ingin menolak tapi Intan sudah menimpali setuju. Tidak mau mengecewakan kedua orang tua itu, Rena dan Raka mengangguk menyetujui.
Selepas Rena, Raka dan Baby Reksa keluar dari ruangan ini, permainan catur yang tertunda kembali berlanjut.
Karina beranjak keluar ruangan, Arion memanggil Karina tepat ketika Karina berada dia ambang pintu.
"Mama dan Papa," beritahu Karina. Arion mengangguk.
Karina menelpon balik Maria. Tak butuh waktu lama, Maria sudah menjawab panggilannya. Maria mengomel khawatir, juga menyatakan kekesalannya. Karina menghela nafas seraya duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan.
Alasan Karina dan Arion sudah pasti mengenai pekerjaan. Tidak ketinggalan juga Karina menyampaikan permintaan maaf sebab membuat Maria, Amri, Enji, dan Bayu khawatir. Maria kini merasa tidak enak pada Karina. Karina mencairkan pembicaraan, Karina menjanjikan oleh-oleh spesial untuk mereka. Tentu saja Maria langsung menyambar mau.
"Tunggu, maksud kamu, jika besok urusan kamu belum selesai juga, Arion akan pulang duluan dan kamu pulang belakangan?"terka Maria. Karina tersenyum tipis.
"Iya," jawab Karina.
"No Karina. Kamu harus tetap sama Ar di sana. Ar pulangnya bareng kamu saja, Mama lebih tenang kalau kamu bersama Ar. Masalah perusahaan serahkan pada Mama, Papa juga Rian. Santai saja di sana ya," tutur Maria. Karina mengeryit, tak lama menghembuskan nafas pelan.
"Ya sudah. Karina tutup dulu ya Ma," setuju Karina.
"Oke. Assalamualaikum," ujar Maria.
"Waalaikumsalam Ma," jawab Karina. Karina menyunggingkan senyum dan kembali masuk ruangan acara.
"Kau kalah!"ungkap Tuan Adiguna datar. Karina menaikkan alisnya mendengar hal itu. Wajah Gerry tampak tegang, tatapannya lekat pada papan catur dengan beberapa pion yang masih berdiri.
Karina mendekati meja permainan, kedua tangan bertumpu pada pundak Karina. Karina menilik lekat papan catur. Arion menoleh ke samping.
__ADS_1
"Aku tidak percaya," bisik Karina yang dijawab senyuman tipis Arion. Tuan Adiguna beranjak menghampiri Mira yang nafasnya seakan hilang. Mira tidak percaya Gerry kalah, Intan mengesah kasar.
"Kau harus melepas Mira kembali," ujar Tuan Adiguna. Mendengar itu, seketika Satya membuka mata dan menatap Tuan Adiguna. Bunga yang layu, mendapat tanda akan kembali mekar. Satya, bukan manusia munafik, ia tidak membohongi hati, bahwa ia berharap kata-kata Tuan Adiguna benar.
"Pa, Papa bercanda kan? Mira baru menikah sudah Papa suruh pisah?"protes Intan, memeluk Mira yang tubuhnya terasa lemah tidak berdaya.
"Itu kesepakatan!"jawab acuh Tuan Adiguna.
"Tidak! Mira akan ikut denganku ke negara Y. Anda kalah Papa Mertua," ungkap Gerry, mengangkat wajahnya menatap Tuan Adiguna. Tuan Adiguna yang berkacak pinggang, menoleh remeh pada Gerry. Ia menaikkan kedua alisnya seraya menggeleng.
"Anda terlalu berambisi mengalahkan saya. Gerakan Anda memang cepat dan mematikan, akan tetapi Anda melupakan perlindungan terhadap raja. Pertahanan Anda sangat lemah, terlebih Anda tidak menyadari pancingan saya," kecam Gerry menggerakkan bidak caturnya dan berakhir dengan kata skatmat!
Tuan Adiguna mendekat, melihat hasil pergerakan Gerry. Ia melongo tidak percaya.
"Bagaimana bisa kamu menggunakan taktik berbahaya seperti ini?"heran Tuan Adiguna.
"Taktik berbahaya, memiliki tantangan yang besar. Mendapatkan Mira tidak semudah permainan catur biasa. Mira lebih dari ini semua. Terlebih saat mentor saya adalah Karina, saya tidak takut kalah dari siapapun," jelas Gerry. Tuan Adiguna melirik Karina dan Arion. Kedua orang itu tersenyum lebar.
Arion segera memutuskan bahwa Gerry menang dalam permainan ini. Tuan Adiguna bertepuk tangan kagum, ia bangga pada Gerry. Sejujurnya, sekalipun Gerry kalah, Mira dan Gerry akan tetap bersama, hal tadi hanya menguji Gerry. Gerry memenuhi semua kriterianya.
Mira segera menghambur ke pelukan Gerry. Bahagia Gerry menang. Satya mengepalkan kedua tangannya erat, sorot matanya berubah kecewa.
Aku benar-benar kalah, batin Satya nanar.
*
*
*
Sekitar 30 menit kemudian, Tuan Adiguna menerima panggilan dari markas pusat, mau tidak mau Tuan Adiguna harus meninggalkan acara, Intan ikut dengannya.
Karina dan Arion juga ikut pamit, mereka mau istirahat di pentahouse hotel. Riska tidak pulang, ia beranjak berpindah ruangan, hari ini ia ada acara reuni SMP di hotel ini juga.
Gerry dan Mira juga beranjak, menuju kamar pengantin yang telah disediakan. Tinggallah Satya yang masih minum ditemani Rian. Rian mengusap punggung Satya, pria itu kembali menangis. Rasanya tidak tega melihat Satya terpuruk.
Rian bimbang harus tetap tinggal atau pergi ke kasino. Ada staff yang menghubunginya, mengabarkan ada masalah cukup serius. Satya menolak ikut dengan Rian, sekeras apapun Rian membujuk, pria itu malah makin menjadi, Satya menangis kencang.
__ADS_1
Kesal, Rian keluar meninggalkan Satya seorang diri dalam keadaan setengah mabuk. Rian mengirim pesan pada Darwis. Berharap Darwis segera mengatasi masalah Satya. Di dalam, Satya kembali menenggak wine dengan tatapan mata kosong. Pria itu benar-benar jatuh, dan seakan kehilangan arah. Menghilangkan kejenuhannya, Satya memilih karaokean sendiri. Bernyanyi sesuka hati melampiaskan kesedihan di dalam hati. Mau ia teriak seperti tarzanpun tidak masalah, ruangan ini kedap suara.