Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 285


__ADS_3

Karina tersenyum tipis menatap handphone dan jam tangan Bayu yang masih berada di atas mejanya. Ia menghela nafas lalu menaikkan bahu acuh. 


Karina kembali membaca dokumen yang sempat terjeda karena kedatangan Enji. Dua hari tidak ke kantor, banyak berkas yang harus ia tandatangani. 


Saat hendak mengecek email, Karina teringat atas pesan dari Raina. Penasaran dengan keadaan Calvin, Karina meraih handphone dan menghubungi Raina.


Karina hanya menaikkan alis mendengar jawaban Raina. 


"Semoga cepat sembuh," ucap Karina. 


"Terima kasih, Nona," jawab Raina.


"Demam berdarah? Sepertinya harus diadakan penyemprotan nyamuk di sini." Karina khawatir bawahannya terkena demam berdarah. Segera ia menghubungi instansi terkait untuk melakukan penyemprotan untuk besok, juga mengadakan kerja bakti membersihkan perusahaan. 


Jadi, besok karyawan Karina tetap datang ke kantor untuk melakukan kebersihan. 


Karina lalu memanggil Lila dan Sasha untuk menyebarkan perintahnya untuk besok. 


"Ada alasannya Nona? Secara agak aneh saja, kantor kan selalu bersih, pemeriksaan kebersihan pun rutin. Jadi, mustahil saja ada nyamuk yang bersarang," ujar Sasha. 


"Hanya bentuk pencegahan. Daripada kena DBD seperti suami Raina," jawab Karina datar.


"Calvin kena DBD?" Kedua wanita itu terkejut. Mereka saling pandang tidak percaya. Mereka kemudian menatap Karina memastikan. Karina mengangguk dengan wajah simpatinya. Kedua wanita itu percaya.


"Kasihan sekali," ucap Sasha.


"Kiraiin Raina liburan, tahunya malah jagain suami sakit," celetuk Lila, malu sendiri dengan dugaannya tadi.


"Hihi bayi besar kak Raina lagi tumbang. Tapi, ngomong - ngomong dirawat di rumah sakit mana?"tanya Sasha. 


"Mau ngapain?"tanya Lila, berubah curiga.


"Ya jenguk lah Kak. Masak mau dating?"sahut santai Sasha.


"Oh iya juga ya. Nona, di rumah sakit mana Calvin dirawat? Saya dan Sam ingin menjenguk," tanya Lila pada Karina. 


Ck. Karina mendengus.


"Rumah sakit Keluarga, kamar pribadi," ucap Karina.


"Rumah sakit Keluarga? Perasaan di kota ini enggak ada rumah sakit itu deh," heran Lila menatap Sasha. Sasha mengangguk, membenarkan ucapan Karina.


"Ada kok. Calvin rawat jalan di rumah mereka kan?" Karina mengangguk.


"Sudah! Kembali bekerja saja. Jangan lupa pemberitaannya!"usir Karina. Kedua wanita itu undur diri. Karina tersenyum geli.


Karina lalu memalingkan wajahnya menatap fotonya dengan Arion. 


"Mendadak aku merindukanmu, Ar." Karina tersenyum tipis dan kembali tenggelam dalam pekerjaannya. 


Saat waktu hampir tengah hari, awan menutup matahari. Awan hitam di langit mulai menurunkan hujan. Jendela kaca berembun, meneteskan air yang mengenainya. Suasana ruangan Karina semakin dingin. Tanpa bergerak dari tempatnya, Karina mengubah suhu menjadi lebih hangat. 


Tak lama berselang, Bayu masuk dengan wajah sumringah. Ia langsung duduk di kursi depan Karina. Karina melirik.


"Apa Ayah kemari?"tanya Bayu yang mendapati kedua barangnya berada di atas meja.


"Apa mereka datang sendiri?"tanya balik Karina tanpa menatap Bayu.


"Ayah tahu aku di sini?"


"Aku tak mengatakan kamu di sini," jawab Karina.


"Ah ya, Ayahmu tadi berpesan agar kamu menelponnya," ujar Karina. 


"Oh. Baiklah." Bayu beranjak, mendekati jendela yang berembun untuk menghubungi Enji. Karina melihat sekilas lalu melihat jam tangannya. 


Sedangkan Bayu menunggu Enji menjawab panggilannya. Panggilan pertama, tidak dijawab. Begitu juga dengan panggilan kedua dan ketiga. Bayu berdecak sebal. Ia menggerutu kesal pada Enji.


Dasar Ayah PHP!geram Bayu, memilih menonaktifkan handphone. 


"Mengapa?"tanya Karina yang melihat wajah kusut Bayu.


"Aku mau tinggal di rumah Kakak saja. Biarkan duda tua itu bersenang - senang!"ujar Bayu. 


"Oh. Enggak masalah," sahut Karina.


"Jadi kamu mau apa sekarang?"tanya Karina menaikkan alisnya.


"Tidur," jawab Bayu. Melepas kacamata dan berbaring di sofa.


"Sudah makan? Lebih baik kamu makan dulu baru tidur." Karina berdiri dari kursinya dan duduk di sofa tunggal.


"Aku sudah ke kantin tadi Kak. Kakak sendiri bagaimana? Kakak enggak boleh telat makan loh. Sudah jam makan siang ini kan?"tanya balik Bayu menatap Karina.


Karina tersenyum lembut. 

__ADS_1


"Sebentar lagi makan siang kakak datang." Bayu menunjukkan tatapan tidak percaya. Dan benar saja, tak berselang lama Aleza masuk membawa makan siang untuk Karina.


"Nah ini sudah datang." Karina tersenyum, Bayu tersenyum percaya lalu menutup matanya, tidur siang sekaligus menetralkan rasa kesal pada Enji.


"Terima kasih," ucap Karina pada Aleza.


"Sudah tugas saya, Nona." Aleza lalu membungkuk hormat kemudian pamit keluar. Karina membuka kotak makan siangnya. Nasi, ayam kecap, lalapan, dan sup brokoli menjadi menu utama, sedangkan untuk desert, cake chocolate. Karina makan sembari tetap mengecek handphone. Ada meeting dengan perusahaan Arion di pukul 14. 30 nanti. 


Habis juga, tapi masih ingin makan. Mau makanan yang nano - nano. Rujak kali ya?pikir Karina, membayangkan betapa segarnya potongan aneka buah segar dipadukan dengan bumbu rujak yang pedas nikmat.


Dengan segera Karina mengirim pesan pada Arion untuk membawakan dirinya rujak dari cafe sebelah kantor Arion yang merupakan cafe miliknya. 


Setelah mendapat jawaban Ya, Karina membereskan kotak makan lalu kembali ke kursi kerjanya. 


Mengurangi stres, Karina memutar lagu santai. Sebelum kembali tenggelam dalam pekerjaan, Karina menarik laci dan mengambil botol berisi vitamin untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuhnya berikut kedua buah hatinya. 


*


*


*


Enji baru saja keluar dari ruang meeting. Ia mengadakan meeting selama dua jam tanpa jeda. Entahlah, tidak bertemu dengan Bayu membuat Enji menyibukkan diri dengan pekerjaan. Handphone ia mode diam kan. 


Saat ia tiba di ruangannya,  Enji melepas jas dan menghempaskan tubuhnya kasar di atas sofa. Ia memejamkan mata seraya memejamkan mata dan memijat pelipisnya. 


Setelah merasa sedikit lega, Enji duduk tegak seraya membuka dua kancing kemeja atasnya. 


Ia lalu mengecek handphone. Matanya terbelalak melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Bayu. 


Gawat! Pasti Bayu semakin kesal padaku, runtuk Enji. Ia segera menghubungi balik Bayu. Sayangnya, handphone Bayu tidak aktif. 


Kalau berpesan itu ditepati! Jangan di PHP in! Sudah lebih baik Ayah sama Nona Jesicca saja! Aku tinggal sama Kakak. Dasar! Enji menekankan jari telunjuknya pada pelipis. Rasa bersalah semakin menimbun di hati. 


Baiklah. Aku akan fokus pada Jesicca dulu baru menjemput Bayu. Biarlah anak itu tenang bersama Kakak. Lagipula, rumah Kakak lebih baik dari apartemen kecilku, pikir Enji. Menghela nafas dan menenggak air mineral. Sekarang, setidaknya ia sudah lega tentang kabar Bayu. Mendengar suara anaknya walaupun ketus, sudah sangat berarti. 


*


*


*


Hujan sudah reda. Menyisakan langit yang mulai kembali cerah dengan air yang menetes dari dedaunan serta genangan air di tempat yang cekung atau rendah.


Setelah keluar dari lobby, Arion langsung menuju cafe yang hanya berjarak kurang dari semenit jalan kaki. Arion langsung memesan menu pada Siska. Ferry juga mengekor, ingin bertemu dengan istri tercintanya.


"Aku berangkat ya. Sampai nanti," pamit Ferry, mencium punggung tangan Siska penuh cinta. Siska tersipu, memukul lengan Ferry.


"Kebalik Mas," sungut Siska. Ferry terkekeh. Arion menatap jengkel.


"Si Bos jadi nyamuk," bisik Ferry pada Siska tapi masih terdengar oleh Arion.


"Mantan nyamuk ngejek yang dinyamukin," cibir Arion.


"Masa lalu Bos," sahut Ferry. 


"Masa lalu, juga kisah hidup bukan?" Ferry berdecak lidah. 


"Biarlah yang lalu berlalu," balas Ferry.


"Aduh duh. Sudah sana berangkat. Bos sudah menunggu rujaknya," suruh Siska. 


"Suamimu banyak tingkah," sahut Arion, segera beranjak keluar.


"Eh Tuan," panggil Siska pada Arion. Arion berbalik, dan menaikkan alisnya.


"Uangnya belum," ujar Siska menunjuk bungkusan yang Arion bawa. 


"Harus bayar?"tanya Arion heran. Siska mengangguk.


"Ferry bayar, cepat! Kita akan telat jika kamu banyak urusan lagi!"titah Arion. Ferry menjatuhkan rahangnya dengan tatapan menolak, Arion acuh dan kembali melangkah. 


"Mas," sentak Siska, menyentuh tangan Ferry.


"Ah ya?" Siska menyodorkan telapak tangannya meminta bayaran pada Ferry. Mau tidak mau, Ferry mengeluarkan dompet dan uang sejumlah harga rujak yang Arion bawa.


"Terima kasih. Semoga puas dengan pelayanan dan menu kami," ucap Siska bertindak sebagai karyawan cafe yang baik dan ttegas disertai dengan senyum pepsodent. Ferry mendengus.


"Yang makan juga bukan aku, tapi ya sudahlah. Bos royal sudah biasa, karyawan royal …."


"Sudah biasa! Sudah sana. Kalau enggak meledak nanti gunung api itu." Siska mendorong pundak Ferry. Ferry tersenyum dan segera menyusul Arion. 


Benar saja, setibanya di mobil, Ferry disambut wajah kesal Arion. 


"Sorry Bos," cicit Ferry takut dengan tatapan Arion.

__ADS_1


"Humph!"


*


*


*


 Setibanya di lobby perusahan Karina, Arion dan Ferry dipersilahkan untuk naik lift menuju ruang meeting. Ferry keluar di lantai meeting sedangkan Arion lanjut ke ruangan Karina. 


Ia menyapa sekretaris dan asisten Karina saat melewati meja keempat ketiga wanita itu, sedikit heran dengan satu meja yang kosong. Tak ambil pusing, Arion langsung masuk ke ruangan Karina. 


"Assalamualaikum," sapa Arion, tapi tidak dijawab lisan oleh Karina. Arion yakin Karina membalasnya pelan ataupun dalam hati. Arion mendapati Karina tengah melakukan meeting via video dengan perusahan cabang luar negeri. Juga mendapati Bayu yang masih tidur nyenyak. 


Arion mengambil pulpen dan kertas yang terdapat di atas meja depan sofa dan menuliskan kata dan pesan cinta untuk Karina. Tak lupa, ia mencium kertas itu dan meletakkannya di atas meja Karina, di bawah bungkusan rujak yang ia bawa tadi.


Aku meeting dulu. Sampai nanti, ujar Arion dengan isyarat tangan. 


Semangat!balas Karina mengedipkan matanya. Arion tersenyum dan bergegas menuju ruang meeting. 


*


*


*


Meeting ini dijadwalkan untuk membahas tahap finishing proyek kerja sama mereka yakni Tirta Garden. Sasha dan Aleza mewakili Karina memimpin rapat. Kedua wanita itu sudah terlihat sangat berpengalaman. 


Pertanyaan yang dilontarkan Arion, ataupun dari pihak perusahan lain yang ikut dalam kerja sama ini dijawab dengan baik. 


Keduanya juga menyampaikan ide mereka. Para peserta meeting, kagum dengan kecakapan Sasha dan Aleza. 


Meeting hanya berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Lima menit kemudian setelah membereskan semua berkas dan menerima salinan hasil meeting, Arion dan Ferry melangkah keluar ruangan. Arion menyuruh Ferry turun duluan dan menunggunya di lobby. 


Sedangkan Arion, kembali naik menuju ruangan Karina. 


Karina ternyata masih bergelut dengan pekerjaan, bahkan rujak di atas meja tidak terlihat sudah disentuh. Arion mengesah kasar. Bayu tidak berada di ruangan Karina.


Ia menarik kursi dan duduk di samping Karina.


"Mengapa belum dimakan? Kamu terlalu bekerja keras, Sayang," omel Arion, membuka bungkusan rujak. Arion terkesiap dengan bungkusan yang dingin seakan baru keluar dari kulkas. Karina melirik.


"Aku menunggumu, bagaimana meetingnya?"tanya Karina, menghentikan gerakannya tangannya pada mouse lalu menutup laptopnya. 


"Benarkan? Seharusnya tidak usah Sayang." Arion menatap Karina lembut , tangannya bergerak menyentuh rambut panjang Karina. Karina menggeleng, tersenyum. 


"Ini keinginan mereka." Karina membawa tangan Arion menyentuh perutnya. Arion membelalakan mata saat merasakan gerakan dari perut Karina. Ia tersenyum lebar. Hatinya bergemuruh kencang, tidak sabar menunggu kelahiran kedua buah hati mereka itu. Padahal, ini bukan kali pertamanya, tapi tetap saja rasanya sama, bahkan lebih terasa dan bergetar daripada tendangan pertama. 


"Lihat, mereka menyapa dirimu kan?"ucap Karina.


"Baiklah, kalau begitu, mari makan, Papa akan suapi kalian bertiga," ucap Arion, membalut buah bengkoang dengan bubur rujak lalu menyuapi Karina. 


"Lama, campur semua saja," rajuk Karina. Arion terkekeh. Ia segera mencampur semua buah dan bumbu. Untungnya terdapat dua sendok, serta lidi untuk menyantap rujak tersebut. Kedua orang itu saling suap - suapan.


"Ah iya, apa kamu sudah dapat kabar mengenai Calvin yang sakit?"tanya Karina penasaran.


"Calvin sakit?" Arion menggeleng tidak tahu. 


"Iya. Raina kan tidak masuk gara - gara merawat Calvin, DBD," ujar Karina memberitahu.


"Astaga! Bagaimana bisa ia kena DBD? Wah berani sekali nyamuk itu menggigit Tuan Muda Black Diamond," geram Arion. Seketika mendapat cubitan di pinggang.


"Memangnya kamu enggak pernah digigit nyamuk?"ketus Karina.


"Bercanda. Jadi kita harus menjenguknya. Di mana ia dirawat? Sekalian barengan sama Sam."


"Bercanda yang enggak lucu. Temanmu itu dirawat di rumah, Sam pasti juga sudah tahu dari Lila. Nanti jemput aku, malas nyuruh Pak Anton kemari," kesal Karina.


"Oh, tapi Sayang, Sam itu sahabatku bukan temanku," ralat Arion.


"Apa bedanya?"


"Kamu pasti sering mendengar ini, satu musuh kebanyakan, seratus teman masih kurang, akan tetapi satu sahabat cukup, jadi sahabat itu lebih dari teman. Sahabat, sudah bagaikan saudara yang selalu menemani di suka dan duka," jelas Arion tersenyum teduh.


"Baiklah aku mengerti."


"Tapi aku rasa kamu punya lebih dari satu musuh." Arion mencubit gemas hidung Karina. 


"Entahlah, untuk apa mengingat itu," jawab acuh Karina.


"Ya sudah, kalau gitu aku kembali ke perusahaan ya," pamit Arion, berdiri dan mengecup kening Karina.


"Okey, hati - hati."


"Sampai nanti. Assalamualaikum," pamit Arion lagi.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," sahut Karina. Arion segera melangkah keluar, segera menuju mobil di mana Ferry sudah menunggu dengan tidak sabaran.


__ADS_2