
"Apa yang terjadi di sini, Karina?"tanya Amri seraya mengedarkan pandangan. Ia tahu bahwa di sini telah terjadi sebuah perkelahian. Tapi ia ingin detailnya.
Tatapannya terkunci pada api yang masih menyala membakar sisa tubuh.
Karina yang masih dalam pelukan Arion hanya menunjuk bercak darah yang berserakan dan apa yang menyala.
Bawahan Karina tentu paham apa yang terjadi. Mereka menghela nafas lega karena Karina baik-baik saja.
"Uh dagingnya meletup."
Sam terkesiap. Ia menjauh dari api menjadi di belakang Lila.
"Wah Karina bukannya membakar ikan kau malah membakar manusia. Apa kita akan memakan ini?"
Tak.
Raina memukul pelan dahi Calvin.
"Kau saja yang makan sana!"ketus Raina.
"Siapa yang menyerangmu?"tanya Elina. Elina juga baru tahu. Dia kan bergabung belum ada satu tahun.
"Bukan hal baru. Tahun baruku dibuka dengan darah. Apa kalian ada yang mengatakan aku berada di sini?"jawab Karina setelah Arion melepas pelukan.
Kini Arion memeriksa setiap jengkal tubuh Karina.
"Sudah tahu begitu mengapa kamu tetap kemari? Karina jangan membahayakan dirimu sendiri! Terlebih kamu tidak sendiri. Kami keluargamu," ucap Maria yang marah dengan sikap Karina.
"Benar. Kita keluarga. Setidaknya jika kamu tidak datang ke pesta, beritahu kami kamu di mana. Di sini juga nyaman. Hanya saja bau daging dan darah membuatku sendiri mual," tambah Sam.
Karina tersenyum.
"Uh."
Karina mengeluh sakit saat Arion menyentuh lehernya.
"Sayang kamu terluka?!"ucap Arion panik.
"Telat deh. Telingaku juga terluka, bantu aku mengobatinya," sahut Karina.
Dengan segera Arion mengambil kotak obat.
"Lebih baik kita kembali ke rumah. Karina terluka, di sini juga bukan tempat yang nyaman," saran Amri yang disetujui semuanya.
"Kemana para pengawalmu?"tanya Gerry, mempertajam penglihatan dan pendengarannya.
"200 meter dari sini," jawab Karina.
"Sudah diam dulu," suruh Arion.
Karina hanya tersenyum mendengar omelan Arion. Yang lain menunggu di mobil masing-masing kecuali Gerry.
Setelah memplester luka Karina, Arion memapah Karina ke mobilnya. Mobil yang digunakan Karina tadi dibawa oleh Gerry.
Mereka pulang ke rumah masing-masing. Rencananya besok mereka akan berkumpul di kediaman Karina.
*
*
*
"Istrimu sudah tidur?"tanya Rian pada Darwis.
"Hm," sahut Darwis.
"Ku dengar Karina sudah menemukan obat untuk Joya, benar?"tanya Rian lagi.
Darwis mengangguk.
"Ya tinggal uji coba. Ku harap uji cobanya berhasil. Aku sangat berharap Joya bisa sembuh total. Aku tidak tega melihatnya sakit dibalik senyum. Jujur aku merasa seperti suami yang tidak berguna," ucap sendu Darwis.
Rian menepuk pundak Darwis.
"Kau suami yang sempurna. Rasa sakit itu wajar, yang ia derita bukan penyakit biasa. Aku juga sangat berharap dia sembuh. Tidak, kami semua berharap Joya sembuh. Dia sangat bahagia dengan perhatian orang-orang di sekitarnya. Aku juga salut dengan Karina. Padahal mereka mempunyai hubungan masa lalu yang buruk. Biar bagaimanapun Joya itu kan mantan Arion, bahkan sempat menjadi duri," ucap Rian.
Darwis yang awalnya mendengarkan dengan serius berubah menjadi suram ketika Rian menyinggung kata mantan.
"Itu hanya masa lalu. Karina juga pemilih dalam hubungan masa lalu. Joya tidak pernah berubah, lingkunganlah yang membuatnya berubah agar bisa bertahan. Hatinya tetap murni, ia memang pernah menjadi duri karena masih menganggap Arion adalah miliknya. Tapi sekarang semua berubah. Kita sudah punya jalan masing-masing. Semua bahagia dengan kehidupan masing-masing. Dan satu lagi, Joya menganggap penyakitnya ini adalah karma untuknya. Jadi jangan pernah menyinggung mengenai hubungan Joya dan mantannya itu juga mengenai dirinya di masa lalu! Dia milikku! Selamanya akan menjadi milikku!"tegas Darwis dengan tatapan tajam pada Rian.
Rian mengangguk paham. Ia tidak takut dengan tatapan Darwis.
"Baiklah. Aku paham. Sekarang tahun baru, ayo minum sampai pagi," ajak Rian.
__ADS_1
"Tidak. Minumlah sewajarnya. Kita di sini untuk membahas rencana kita," tukas Darwis cepat.
Rian mengernyit, belum paham maksud Darwis.
"Yo kalian sudah mabuk?"
Satya datang dengan langkah yang sudah tidak stabil.
"Hei kau yang sudah mabuk, Satya!"seru Rian tidak terima.
Dia bahkan baru minum seteguk.
"Cuci mukamu dulu, Ya!"suruh Darwis menunjuk ke arah kamar mandi.
"Aku tidak mabuk. Hanya kepalaku saja yang pusing."
Satya malah menghempaskan tubuhnya di sofa dengan posisi berbaring.
"Dia kenapa sih?"tanya Darwis heran dengan alasan mabuk Satya.
Padahal sudah dapat restu, apalagi yang membuatnya tertekan?
"Entahlah. Ku rasa dia masih bimbang dengan keputusannya. Anak ini … padahal Karina sudah tidak ikut campur lagi. Dia bebas mengambil pilihan," sahut Rian mengedikkan bahu.
"Ku rasa dia bingung bersikap dengan istrinya nanti. Siapa kemarin yang mengatakan bahwa ia harus menahan nafsu?"ujar Darwis.
Darwis dan Rian terdiam lupa.
"Ah lupakan. Hei Satya ayo bangun, ini bukan saatnya tidur!"
Rian menggoyangkan tangan Satya. Satya yang sudah menutup mata hanya menggumam tidak jelas, malah berbalik.
"Satya! Ya! Aihs dia membuatku kesal!"gerutu Rian, duduk kesal di sofa.
"Sudahlah. Biarkan saja dia tidur, ayo kita mulai!"ujar Darwis menengahi.
Darwis berdiri, di depan mereka sudah terdapat layar besar. Satya juga berdiri menuju meja yang merupakan layar hologram.
"Meksiko adalah kartel narkoba terbesar di dunia. Negara ini terkenal dengan segudang mafia dan bandar kelas kakap. Setiap hari mereka mampu menghasilkan puluhan ton obat - obatan terlarang untuk dikirim ke penjuru dunia, termasuk negara ini. Mereka termasuk target internasional yang sangat licin melebihi belut," ucap Darwis mulai menjelaskan.
"Mereka ini terkenal kejam dan brutal. Mereka tidak segan memenggal, menghilangkan korbannya dengan cairan asam, menyiksa mayat. Mereka juga tidak pandang bulu, wanita dan anak-anak pun dihabisi. Aku ingin sekali mematahkan leher mereka," geram Darwis dengan mata melotot, Rian sedikit bergidik.
"Kau membuatku takut. Tapi ini bukan tugas kita bukan?"tanya Rian.
"Hm. Lantas siapa saja mereka?"tanya Rian.
"Mereka adalah …."
Layar menunjukkan siapa saja yang menjadi target internasional. Kecepatan untuk mendapatkan informasi apapun sangat hebat di sini. Kasino ini merupakan pusat informasi dunia.
"Hei tunggu dulu. Bukankah dia, dia, dan dia sudah kita tangkap?"tahan Rian.
"Mereka?"
Darwis menunjuk foto ketiga orang yang ditunjuk oleh Rian.
"Kau lupa? Itu dua tahun lalu. Kalau tidak salah kita menangkap mereka di Italia, Milano," ungkap Rian.
"Hm?"
"Hish yang pria berbadan besar macam gajah itu bos narkoba Amerika, yang kurus macam ikan teri itu mafia dari Italia, dan satu lagi itu yang gondrong itu bos narkoba dari Kuba. Mereka sudah dead, end. Okey?"jelas Rian.
"Ah aku ingat. Lupakan saja," sahut Darwis.
"Kau ini," keluh Rian.
Darwis terkekeh pelan. Mereka kembali fokus.
Darwis memisahkan target mana yang berasal dari negara. Sisa foto yang lain ia simpan.
Dari lima foto yang tersisa, di bawahnya terdapat diagram pohon menunjukkan hubungan target dengan sekitar.
"Dari mereka semua, dia adalah yang paling besar. Tapi dia sudah tiada beberapa hari lalu. Kabarnya terkena serangan jantung. Ckckck … melawan serangan jantung saja tidak bisa."
Darwis menggelengkan kepala, entah itu ejekan atau simpatik.
"Lantas? Dari kelima anaknya siapa yang menjadi pewaris?"tanya Rian.
Darwis menekan beberapa foto yang merupakan anak dari bos narkoba terbesar.
"Yang ini. Putra ketiganya. Why? Karena yang empat lagi sudah mati," jawab Darwis dengan tertawa.
"Mereka tertembak waktu sedang pesta, kau tahu siapa yang menembaknya? It's yours, kau dan Satya."
__ADS_1
Rian mengernyit.
"Kapan?"
"Sekitar dua atau tiga bulan lalu," jawab Darwis.
"Oh iya, aku ingat."
"Baguslah. Aku akan lanjutkan," ucap Darwis.
Sekarang di layar hanya ada foto si anak ketiga dengan beberapa panah menunjukkan ciri, dan mengenai si anak ketiga dengan lengkap.
"Di antara kelima anaknya, hanya dia yang paling luar biasa pintar. Bahkan sangking pintarnya ia direncanakan untuk didepak dari calon pewaris. Tapi setelah kematian kelima saudara dan ayahnya, kini si jenius ini menjadi bos kartel narkoba terbesar," jelas Darwis dengan nada merendahkan.
"Bukankah ini sama saja dengan menjerumuskan diri kepada kehancuran? Bagaimana bisa dia memimpin kerajaan bisnis? Aku berani taruhan bahwa dalam sebulan mereka pasti hancur," komentar Rian yakin.
"Yakin?"
Darwis malah menaikkan alisnya.
"Kau salah. Dia hanya boneka. Sebenarnya sang Ibu, dan adik dari ayahnya lah yang mengendalikan kerajaan bisnis . Kau tahu ... ibu dan adik ayahnya itu selingkuh bahkan sudah seperti suami istri. Satu lagi mereka bahkan sempat punya anak tapi digugurkan. Huh … ternyata walaupun kaya dan berkuasa tidak menjamin kebahagiaan hidup."
Foto bertambah. Bagan pun bertambah.
"Okay. Aku paham sekarang. Kita harus hancurkan dulu bonekanya untuk bisa menjangkau pemainnya. Tapi bagaimana cara mendekati bonekanya? Dari yang ku amati penjagaan terhadap boneka ini sangat ketat."
Rian kini sibuk memainkan jarinya di layar hologram.
Darwis menyilangkan kedua tangan di dada, bibirnya tersenyum penuh misteri.
"Melakukan kekerasan terhadap pria? Menikah dengan pria. Ini terlalu jelas bahwa dia gay?"
Rian membulatkan mata. Darwis mengangguk.
"Yap. Dia gay. Tapi suaminya itu tewas tertembak musuh. Aku sudah mengirim ciri-ciri pria favoritnya terhadapmu."
Satya langsung membuka kiriman Darwis. Ia membaca dengan serius.
Pria tinggi tampan rupawan.
Badan sixpack.
Berkulit kuning langsat.
Mata coklat memikat.
Karakter anggun.
Punya nama unik.
Bibir tipis menggoda.
Kalau berbicara suara tenang teratur.
Kalau kesal tetap tampan dan memikat.
Perfect menggunakan apapun.
"Apa-apaan ini?"pekik Rian terkejut.
"Cari di mana pria seperti ini? Apa kita akan menculik pangeran untuk umpan?"
Rian mengacak-acak rambut.
"Dasar gay sialan. Sudah menyimpang banyak syarat lagi!"gerutu Rian lagi.
Wajahnya sangat kesal.
"Aku sudah mencoba untuk mencarinya tapi tidak ada yang cocok. Tapi sekarang aku menemukan yang cocok dan pasti berhasil," beritahu Darwis.
Rian menoleh dengan mata bertanya.
"Siapa itu?" tanya Rian.
Darwis tersenyum lebar yang membuat dirinya semakin penasaran. Telunjuk Darwis menuju arah Satya yang masih menutup mata.
"Satya?"kaget Rian. Ia tidak percaya Darwis menjadikan rekan sendiri sebagai umpan.
"Hei!"
Tiba-tiba saja Satya langsung duduk tegak dengan tatapan tajam, beradu pandang dengan Darwis.
"Kau bilang apa hah?!"seru Satya lagi.
__ADS_1
Darwis hanya tersenyum sebagai jawaban.