
Seminggu telah berlalu, tiba sudah saatnya Emir, Osman, dan Rayan kembali ke Maroko. Sebelum ke bandara dengan diantar oleh Li dan Gerry, Emir ingin menyampaikan sesuatu pada Karina. Emir awalnya ragu dengan sorot tajam Karina padanya. Tapi biar bagaimanapun ia seorang pria, pangeran klan Anfa!
Emir menarik nafas kemudian membuangnya perlahan.
"Aku ingin menjadikan Aleza sebagai isteriku!"ucap lantang Emir yang mengejutkan semua orang yang berada d aula utama. Karina menyipitkan matanya, dahinya berkerut tipis. Sejak kapan Aleza dan Emir punya hubungan? Hanya seminggu, bagaimana bisa menetapkan keputusan ingin menikah? Terlebih kapan mereka bertemu dan berinteraksi? Aleza super sibuk, bahkan di usia yang menginjak 26 tahun belum ada tanda-tanda jatuh cinta apalagi menikah.
"Emir apa yang kau katakan?!"seru Osman, tidak setuju dengan keputusan Emir.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu?"sela Karina.
"Aku sangat yakin!" Karina tersenyum kecil.
"Emir … jangan gegabah mengambil keputusan. Ku tanya padamu, apa kau mencintai Aleza?"
"Aku menyukainya! Tolong izin kan aku mempersunting Aleza!"ucap Emir mantap. Wajah Osman menggelap, jelas sekali ia tidak suka.
"Aku tidak melarangmu menikah dengan anggotaku. Tapi aku tidak setuju jika kau memang berniat menjadi Aleza istri siri. Aku tahu betul watak kalian, jika pun kau memang benar - benar ingin menjadikan Aleza istri sah, apa pria tua di sampingmu setuju?" Karina mengalihkan tatapan pada Osman.
"Aku tidak setuju! Siapa itu Aleza? Bagaimana karakternya aku tidak tahu! Emir jangan jadikan wanita itu pelampiasan atas kesedihanmu?!"ucap Osman.
Karina mengernyit tipis, pelampiasan? Tangannya mengepal marah. Raut wajahnya menjadi suram.
"Pelampiasan apanya?! Aku sudah menjelaskannya tempo hari. Aku menyukai Aleza, aku akan tetap mempersunting dirinya!"bantah Emir. Anak dan ayah itu bertatapan tajam.
Brak!
Karina memukul meja di depannya. Emir dan Osman terkejut, begitu juga dengan yang lain.
"Menyukai belum tentu mencintai. Tapi melihat sikapmu ini, aku bisa memberikan izin asalkan Aleza juga bersedia. Yang menjalani kehidupan pernikahan kelak adalah kalian!"putus Karina setelah pertimbangan.
"Aku setuju hanya jika menjadi istri siri!"
"Tidak Ayah! Aku akan merubah kebiasaan itu! Aku Emir hanya akan punya satu istri yaitu Aleza!"tolak Emir.
"Kau!"
"Aku tidak ingin ada perebutan kekuasan sesama saudara seayah lagi! Aku sudah mengalaminya! Semua saudaraku mati di tanganku, aku tak ingin anakku kelak juga begitu! Lagipula mempunyai banyak istri itu menyebalkan!"ucap Emir dengan sorot mata dingin. Ada kesedihan mendalam di sana, ditutupi dengan sikap arogan kecuali di hadapan Karina. Emir tertegun dengan ucapan Emir.
Karina tersenyum tipis, jelas ia tahu seluk beluk keluarga klan ini. Peristiwa yang sama layaknya konflik kerajaan, perebutan tahta sesama saudara. Karina menutup matanya, sepertinya keputusannya mengenai pewaris kerajaan bisnisnya tepat.
"Ayah jika kau tidak setuju, aku rela melepaskan posisiku sebagai pewaris!"ancam Emir.
"Tidak!" Osman berteriak lantang. Anaknya hanya tinggal Emir. Jika Emir benar-benar melepas posisinya maka posisi pangeran selanjutnya ada di tangan Rayan. Rayan hanyalah anak siri dari adik laki-lakinya, tak cocok menjadi pewaris. Sepupu Emir hanya tinggal Rayan, semua sepupunya gugur dalam pertempuran baik sesama saudara maupun dengan pihak luar mempertahankan kekuasaan. Seorang perempuan tidak boleh menjadi pewaris.
Rayan tersenyum dingin. Emir begitu percaya padanya, jika pun Emir melepas posisinya, Rayan juga tidak mau jadi pengganti. Rayan akan mengikuti Emir kemanapun sepupunya itu pergi.
"B-baik. Aku setuju, aku setuju dengan keputusanmu ini!"putus Osman, duduk lemas dengan wajah menunduk. Emir tersenyum puas. Rayan menghela nafas lega.
"Ayahku sudah setuju. Apakah kau memberiku izin?" Karina tertawa.
"Izinku tergantung pada keputusan Aleza!"
"Dia akan setuju. Siapa yang bisa menolak Pangeran ini!"
"Meraknya hampir sama denganmu," bisik Karina pada Arion. Arion tersenyum simpul.
"Merakku nyata sedangkan dia belum tentu," balas Arion, berbisik pula.
"AKU MENOLAK!" Aleza masuk ke dalam aula dengan wajah kesal, menatap tajam Emir. Emir malah melengkungkan senyum, menghampiri Aleza, memegang tangan lalu mencium punggung tangan Aleza. Osman dan Rayan membulatkan mata, Pangeran arogan itu membungkuk di hadapan Aleza.
"Bidadariku, dua kata itu sangat menusuk. Katakan itu hanyalah candaan," ujar Emir, menatap Aleza lembut.
Emosi Aleza yang sudah di ubun-ubun langsung meledak. Aleza menarik tangannya.
Plak!
"Siapa yang mau menikah denganmu, Pria mesum!"
__ADS_1
Bugh!
"Pria ba*jingan sepertimu tidak pantas menjadi suamiku! Pria cabul, otak kotor aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mencari masalah tapi kau membuatku semakin marah dan membencimu! Ingin mempersunting diriku? Mimpi saja kau!"
Mesum? Cabul? Otak kotor? Aku tidak percaya!batin Rayan. Hendak melangkah menghentikan Aleza yang masih memukul Emir.
"Tenang. Pangeranmu tidak akan mati kok," tahan Li. Rayan melirik Li tajam, kembali duduk dengan wajah suram.
"Le-Leza aku benar-benar menyukaimu. Jangan panggil aku dengan umpatan itu. Hatiku yang lembut sungguh terluka. Itu hanya ketidaksengajaan." Emir terduduk di lantai dengan mata memelas.
"Ketidaksengajaan berulang kali? Kau mesum sialan beraninya berkilah!"ketus Aleza.
"Apa maksudmu, Leza?"
"Queen saya menolak pinangannya!"ucap Aleza tegas.
"Aku aku melakukan ini karena ingin bertanggung jawab!"ucap Emir.
"Hei Pangeran cabul, jika kau menikahiku karena merasa bersalah maka kelak berapa wanita yang akan kau nikahi?"sindir Aleza.
"Aku hanya akan memilikimu seorang!" Alis Aleza menyatu. Pengakuan yang cukup untuk membuat seseorang merasa bahagia, tapi tidak dengan Aleza.
"Benarkah? Apakah ucapanmu bisa dipercaya? Pangeran cabul, ku tanya padamu, apa alasannya aku harus menerimamu!"
"Yang pertama karena aku ingin bertanggung jawab. Yang kedua karena aku menyukaimu!"jawab Emir dengan mata penuh percaya diri. Aleza tertawa sinis.
"Jika aku harus menerimamu karena tanggung jawab, maka aku saat ini sudah mempunyai suami. Jika aku menikah denganmu hanya karena kau menyukaiku maka kau harus bersaing dengan pria-pria yang menyukaiku di luar sana. Dua alasan payah! Queen apapun kata Pangeran cabul ini, aku tetap menolaknya!"tegas Aleza, menatap Karina yang kini memberinya tatapan menyelidik. Aleza tetap mempertahankan wajah datarnya. Karina menarik senyum tipis. Agaknya ia tahu alasan di balik ini semua.
"Hamba izin undur diri." Aleza membungkuk hormat, Karina melambaikan tangan memberi izin.
"Aleza tunggu! Aleza! Aleza!" Emir yang hendak mengejar Aleza ditahan oleh Rayan.
"Wanita arogan!"ucap Rayan pelan, seakan berbisik pada dirinya sendiri.
"Sial! Mengapa tak seperti yang aku bayangkan?!"gumam Emir.
"Itulah yang membuatku menyukainya."
"Wanita yang tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Marah ya marah, meledak ya meledak. Tidak bermuka dua," ucap Emir.
Karina mendengus senyum. Aleza memang tidak bermuka dua tapi mempunyai dua sisi, sama seperti dirinya. Ada yang mengatakan devil itu kebanyakan berwajah tampan dan cantik. Hal itu cocok disematkan pada Karina juga bawahannya. Ah mereka punya dua sisi, angel and devil.
"Emir karena Aleza menolak maka aku juga tidak bisa memberikan izin."
"Tidak masalah. Tidak masalah aku berusaha lebih keras lagi. Mungkin ini memang terlalu cepat."
Emir sempat memutuskan untuk tinggal lebih lama, tapi tanggung jawab menghalanginya.
"Masalah selesai. Kalian segeralah ke bandara," putus Karina. Emir menghela nafas kasar, tersenyum tipis.
"Kalau begitu kami pamit," ucap Osman, memberi salam perpisahan pada semua yang ada di aula, begitu juga dengan Rayan diikuti oleh Emir yang berusaha tersenyum lebar dengan hati yang terasa retak.
"Silakan, kami berdua akan mengantar Anda ke bandara. Pesawat sudah menunggu," ucap Gerry.
"Baik-baik."
"Kaira, Tuan Arion, Aldric, semuanya kami pamit pulang. Semoga di kemudian hari kita bisa bertemu dan berkumpul lagi. Assalamualaikum," pamit Osman.
"Waalaikumsalam," jawab yang lain serentak.
Li dan Gerry memimpin jalan, Osman mengikut disusul Rayan dan Emir. Tadi sudah acara perpisahan anak-anak, anak-anak menatap kepergian mereka dengan tatapan sedih. Ketiga kakak menyemangati ketiga adik, mengusap lembut bahu mereka. Aldric menatap kepergian mereka dengan mata berkaca-kaca. Ia bukan lagi anggota klan Anfa melainkan Pedang Biru. Tuannya bukan lagi Osman dan Emir melainkan Karina. Hal biasa jika di awal ada rasa ketidakrelaan. Tapi sebisa mungkin Aldric hilangkan. Biarpun ia bukan lagi kelompok Anfa tapi di dalam darahnya tetap mengalir darah kelompoknya. Suatu saat ia pasti bisa kembali ke asalnya, layaknya seekor angsa yang pergi menjelajah pasti suatu saat akan kembali ke sarangnya.
"Tunggu Emir! Aku ingin berbicara berdua denganmu!"ucap Karina. Emir yang sudah berada di ambang pintu, menoleh dengan wajah heran.
Tanpa diminta, kecuali Karina semua yang berada di aula keluar teratur.
Emir kembali masuk. Li, Gerry, Osman, dan Rayan menunggu di pendopo halaman depan.
__ADS_1
"Ada apa, Kaira?"tanya Emir penasaran.
"Katakan alasan mengapa Aleza memanggilmu cabul mesum?"
"Eh?" Emir tampak salah tingkah. Gugup terlihat dengan jelas. Samar, Karina mendapati pipi Emir memerah.
"Kesalahpahaman apa yang terjadi? Aku sudah bisa menebak, tapi aku ingin mendengarnya darimu," ucap Karina.
"I-itu. Ah Kaira lebih jangan ditanyakan. Aku malu mengingatnya, Emir kecil bisa bangun," ucap Emir dengan nada pelan. Karina melebarkan mata sesaat, kemudian malah tertawa terbahak.
"Hahahahaha bagaimana bisa? Aleza itu tidak tinggal di sini. Ia ke sini saat ada urusan dengan markas ataupun berlatih. Katakan padaku di mana kalian bertemu pertama kali."
"Di area berlatih pedang. Aku terpesona dengan permainan pedangnya. Pantas saja anak-anak tertuamu tidak terpesona dengan permainan pedangku saat itu," jawab Emir, tersenyum lebar, mengingat hal itu.
"Lantas dari mana asal mula cabulmu?"
"Itu … aku menantangnya bertarung tapi tanpa sengaja aku merobek pakaiannya." Emir memalingkan wajahnya. Diinterogasi hal yang memalukan juga berkesan sangatlah berat.
"Oh pasti kau dihadiahi tamparan." Emir mengangguk.
"Tadi kata Aleza berulang kali, lantas bagaimana pertemuan kedua kalian?"
"Itu di kolam renang."
Karina mengernyit, kolam renang? Bukankah kolam renang pria dan wanita berbeda? Bagaimana bisa bertemu di kolam renang, kecuali Emir yang salah masuk.
"Itu terjadi sekitar tiga hari lalu. Aku tidak bisa tidur, tubuhku terasa lengket. Mandi saat dini hari katanya bagus untuk kesehatan jadi aku memutuskan ke kolam renang. Saat membuka kamar mandi ingin berganti baju, aku malah mendapati Aleza di dalamnya tanpa sehelai benangku! Kaira aku melihatnya dengan jelas! Aku melihat itu dengan jelas untuk pertama kalinya! Ah sial! Aku kembali dihantui!" Emir menuju meja, mengambil botol minum dan mengguyur kepalanya dengan air di dalam botol.
"Aku dihadiahi tendangan ke dalam kolam. Ia marah besar dan memakiku dengan kejam. Itu memang salahku, tapi aku juga tidak tahu itu kolam renang khusus wanita," lanjut Emir. Karina tercengang, tak lama tersenyum. Wah luar biasa. Untung saja Emir hanya ditendang ke kolam bukan ke kandang kucing besar markas.
"Lantas yang ketiga?"
"Sebentar lah dulu."
Setelah merasa cukup tenang, Emir kembali menjawab.
"Yang ketiga kami bertemu di arena berkuda. Itu terjadi dua hari yang lalu. Saat itu Aleza sedang berkuda dan aku melihatnya dari tempat tersembunyi. Tak terduga, kuda Aleza hilang kendali. Aku berusaha menyelamatkan dan itu berhasil. Hanya saja … hanya saja kami jatuh dengan bibir bersentuhan. Sialnya lagi tanganku berada di atas dadanya. Ahhh aku bisa gila mengingat itu!" Emir tanpa histeris juga tertekan.
"Kaira itu ciuman pertamaku!"
"Oh lalu hadiah apa yang ia berikan?"
"Aku sempat takut aku tidak bisa punya keturunan, syukurlah hanya cedera ringan. Kau tahu … aku diancam oleh pedang. Wanita itu menakutkan kalau sedang marah. Leherku terluka karena pedangnya," jelas Emir.
Karina mengangguk.
"Aku paham. Akan tetapi mengapa kau tanpa ragu menjelaskannya?"
"Karena kau salah satu orang terdekatku. Sekarang kau lebih mirip kepada seorang kakak bagiku. Selain itu kau juga Queen dari Aleza, aku yakin kau bisa membantuku mendapatkan hati Aleza," jawab Emir, sungguh-sungguh.
"Hati Aleza itu sangat keras. Tapi sekeras-kerasnya batu akan hancur dengan tetesan air. Kau boleh pergi. Akan aku pertimbangkan permintaanmu," putus Karina. Emir tersenyum sumringah.
Ia membungkuk hormat pada Karina, mengucapkan terima kasih kemudian melangkah keluar dengan hati yang gembira. Karina tersenyum tipis, memerintahkan agar Aleza menghadap dirinya segera.
Aleza segera datang, Karina menanyakan hal yang sama pada Aleza. Jawaban Aleza singkat yang intinya sama dengan jawaban Emir.
"Sudah aku putuskan, kau menjadi ketua pembangunan saluran air dan peternakan di kelompok Anfa!"titah Karina. Aleza terbelalak, seketika menolak dengan tegas. Karina menggeleng.
"Tidak ada penolakan. Aleza … ini bukan permintaannya melainkan keputusan yang baru aku ambil. Jika salah paham maka harus diluruskan. Aku tahu kau membencinya, tapi aku juga melihat ketertarikanmu padanya. Selesaikan tugasmu dengan baik agar kau bisa cepat kembali. Mengenai tugasmu di perusahaan, aku sudah kembali, bukan masalah besar. Aleza aku percaya padamu."
Aleza menatap Karina datar. Hatinya bergejolak dilema. Tidak! Karina pasti punya pertimbangan sendiri mengirimnya ke sana. Aleza tidak boleh mementingkan kebencian pribadi di atas kepentingan organisasi. Dan hati Aleza juga berbisik penasaran dengan Emir. Aleza menghela nafas pelan.
"Baik. Saya menerima tugas ini, Queen!"
"Bagus! Seminggu lagi kau akan berangkat!"
Aleza mengangguk kemudian izin undur diri. Di koridor, Aleza berhenti sejenak.
__ADS_1
Sebenarnya jika Queen menurunkan titah untukku menikah dengannya, aku juga tidak bisa menolak. Baiklah … akan ku lihat kemampuan pria cabul itu!