Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 124


__ADS_3

"Eli, siapa Enji dan Miu itu?" tanya Marlena pada Elina.


"Enji itu pria yang mau Eli nikahi Bu. Namun batal dan Miu adalah macam kesayanganku dulu yang Karina ambil," jelas Elina. Marlena berusaha mengingat. Ia memejamkan matanya.


"Ah. Mereka rupanya.," seru Marlena setelah ingat.


"Iya. Karina benar, hari sudah petang lebih baik kalian pulang besok pagi saja," timbal Arion.


"Saya juga mau mengenal Elina lebih jauh. Tinggallah barang semalam di sini," bujuk Li.


"Saya mengundang anda berdua untuk menghadiri resepsi adik saya dan Li. Mohon diterima," sambung Gerry. Elina dan Marlena bertatapan. Tidak enak hati mau menolak. Akhirnya mereka hanya bisa mengiyakan. 


Elina dan Marlena segera bersiap dibantu oleh para pelayan markas. Busana mereka diambil dari walk in closet di markas yang tersedia untuk siapapun, asalkan ada hubungannya dengan Pedang Biru. Satu ruangan besar berisikan aneka jenis pakaian, wanita maupun pria tersedia di dalam markas. 


Karina dan Arion juga bersiap menuju lantai tiga, lantai pribadi Karina. Li dan Gerry menuju kamar masing-masing untuk bersiap. Mereka akan kembali ke Tirta Hotel setelah magrib.


Pukul 19.00, Karina, Arion, Li, Gerry, Elina dan Marlena meluncur meninggalkan markas Pedang Biru menuju Tirta Hotel. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Elina tampak anggun dengan dress berwarna hijau mint serta rambut disanggul. Ia satu mobil dengan Li, untuk mengenal lebih dekat.  Sedangkan Marlena satu mobil dengan Gerry mengendarai mustang classic bawaan Elina dan Marlena.


Sedangkan Karina, seperti biasa warna dress hitam. Arion memakai pakaian senada dengan Karina. 


Tepat pukul 19.30, mereka tiba di Tirta Hotel. Terlihat dua buah helikopter terparkir cantik di sana. Satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna putih. Arion menatap Karina, Karina tersenyum dan menaikkan bahunya.


Arion menggelengkan kepalanya dengan senyum yang terbit. Kagum dengan ketepatan perkataan Karina. Janji yang Karina ucapkan tak pernah ia ingkari. Li dengan Elina bergandengan tangan memasuki hotel menyusul Karina. Gerry yang tak membawa pendamping, terpaksa menjadikan Marlena sebagai pendamping. Tak apalah, asalkan ada yang mendampingi.


Kilatan lampu flash kamera silih berganti terpancar saat memasuki ballroom.


Red karpet terbentang di jalan menuju pelaminan. Semakin malam, tamu semakin banyak. Ballroom penuh dengan tamu. Keempat mempelai tampak berdiri di pelaminan dan menerima ucapan selamat. Senyum bahagia tetap terukir.


Karina menunjukkan wajah datarnya saat memasuki ballroom. Terdengar bisik-bisik suara yang membicarakan dirinya mengenai hadiah yang ia berikan pada Lila dan Raina. Sudah biasa. Pro dan kontra pasti ada. Ada yang menganggapnya terlalu royal, pamer, sombong dan memamerkan kekayaannya. 


Arion melotot tajam pada orang-orang yang bergosip. Karina menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah para penggosip. Kebanyakan dari mereka adalah istri dari pengusaha yang terkenal dengan bibir pedas dan kenyinyirannya. Mereka diam saat melihat pelototan Arion dan tatapan datar Karina.


"Ada masalah dengan hadiah saya, Madam?" tanya Karina datar.


Para wanita penggosip itu saling bertatapan satu sama lain. Mereka menggeleng takut. Nyali mereka ciut.


"Jika tidak, mengapa kalian bergosip mengenai istriku? Toh istriku tak merugikan kalian. Jika kalian merasa rugi ataupun keberatan silahkan sampaikan secara langsung! Jangan ghibah saja kerjaan kalian," ucap Arion tajam. 


"Aku lebih suka terang-terangan daripada sembunyi. Jika kalian iri, maka menikahlah  akan ku beri kalian hadiah yang sama," ujar Karina mendekati salah seorang wanita yang Karina nilai adalah pangkal penggosipnya.


"Namun setelah aku mengambil nyawa kalian," bisik Karina pada wanita itu dengan seringai khasnya. Wanita itu bergidik dan berdebar. Meruntuki kebodohannya menggosipkan pemilik KS Tirta Grub ini.


"Maaf," cicit wanita itu. Karina tersenyum dan segera berbalik.

__ADS_1


Arion memeluk pinggang Karina dan segera jalan kembali. Li dan Elina duduk satu meja, tak ada yang mengganggu. Gerry dan Marlena bergabung dengan Sasha dan Aleza. 


Arion dan Karina menghampiri Amri dan Maria yang belum pulang. Mereka menginap di hotel khusus hari ini. 


"Karina, Ar, kalian lama sekali perginya," ujar Maria memeluk Karina. 


"Maaf Ma," sesal Karina melepas pelukan.


"Sudahlah. Ya penting kalian sudah kembali. Kita foto bareng pengantin yuk," ajak Amri.


Arion dan Karina mengangguk. Mereka beranjak naik pelaminan. Namun saat Karina baru menginjak anak tangga pertama, ada yang memanggilnya dengan sebuah Nyonya presdir.


Karina menoleh. Arion, Amri dan Maria pun ikut menoleh. Ternyata yang memanggilnya adalah Reza dengan Joya dan Darwis di belakangnya. Karina mengeryit dan saling pandang dengan Arion.


"Bisa kita berbicara Nyonya?" tanya Reza penuh harap.


"Mama sama Papa duluan ya. Selesaikan dulu urusanmu Sayang," ucap Maria. Karina mengangguk. Amri dan Maria melanjutkan langkah mereka.


Arion yang tak mau mengganggu, sebab merasa tak ada urusannya dengan dirinya mengikut pada orang tuanya setelah mengecup kening Karina. Tinggallah Karina sendiri, Reza, Joya dan Darwis. Mereka menuju salah satu meja yang sudah kosong.  


"Mau bicara apa?" tanya Karina datar.


"Masalah tekanan perusahaan Anda terhadap perusahaan saya. Saya harap Anda dapat menariknya sekarang," jawab Reza. Karina menarik senyum tipis. Tahu apa maksud dan tujuan Reza. Jika tidak bagaimana mungkin Reza sabar menunggu kehadirannya di sini?


"Sudah," jawab Reza melirik Joya. Joya mengangguk dan menghela nafas.


"Karina, aku tak akan mengganggumu dan Arion lagi. Aku tak akan mengganggu pernikahan kalian. Tenang saja, aku sudah menemukan tambatan hatiku. Jadi aku minta tarik tekananmu," terang Joya serius. Ia memegang jemari Darwis yang berada di atas meja. Karina menaikkan alisnya dan menatap Darwis dengan tatapan datar.


"Tuan muda kasino Heart of Queen, tangkapan yang besar,"ucap Karina tersenyum miring. Darwis dag dig dug dalam hati. Ia berusaha tersenyum ramah pada Karina. Karina membalasnya dengan senyum tipis.


"Hmm," sahut Joya.


"Apa jaminannya kau tak mengganggu suamiku?" tanya Karina lagi. Setiap kesepakatan harus mempunyai jaminan dan bukti yang kuat dan berlandaskan hukum agar tak ada yang mengganggu gugat atau berkilah di masa yang akan datang. 


"Saya akan menikah dengan Darwis. Dua minggu lagi. Ini undangannya, saya harap Anda dapat menghadirinya," jawab Joya menyodorkan undangan bertuliskan nama Darwis dan Joya di sana serta nama Karina dan Arion sebagai tamu undangan. Karina mengambilnya dan membaca isinya sekilas.


"Baik. Tetapi untuk lebih meyakinkan, harus ada perjanjian tertulis dan bermaterai. Saya akan tarik tekanan saya namun setelah perjanjian tertulis dibuat," ujar Karina yang membuat Reza dan Joya berpandangan. Mereka tampak bingung. Lain halnya dengan Darwis yang mulai lebih santai dan mengenal Karina.


"Apa tak terlalu berlebihan, Karina suamimu itu bukan berlian ratusan milyar untuk apa kau segitunya memagarinya?" kecam Joya tak suka. Karina berlebihan menurutnya.


"Dia memang bukan berlian, dia suamiku. Lebih berharga dari apapun di dunia ini. Akan ku jaga sebisaku," tegas Karina.


"Oke. Akan ada perjanjian tertulis. Akan segera saya siapkan," putus Reza, tak ada gunanya berdebat dengan Karina.

__ADS_1


"Aku tunggu," sahut Karina beranjak dari kursinya menyusul Arion dan lainnya. Meninggalkan Reza, Joya dan Darwis yang saling pandang. Tak lama, mereka memutuskan untuk pulang, urusan mereka telah selesai. Reza menghubungi Dion untuk membuat perjanjian tertulis masalah Karina, Joya dan Arion. Keposesifan Karina terlihat sangat jelas.


Kini Karina telah berada di pelaminan, memeluk Lila dan Raina bergantian, Sam dan Calvin mengucapkan banyak terima kasih. Mereka sadar, hadiah yang besar butuh pertanggung jawaban yang besar juga. Bukan hanya hadiah yang dijaga dengan baik tetapi juga istri mereka kini.


 Tak berselang lama, Li dan Gerry serta pasangan mereka ikut bergabung. Kedua pasangan melihat Elina dan Marlena dengan wajah penasaran.


"Sayang, mereka siapa?"tanya Maria berbisik pada Karina, ngeri melihat wajah cantik namun sangar Marlena. 


"Mereka pasangan Li dan Gerry, Ma," jawab Karina. Maria melirik Marlena dan Gerry.


"Wanita tua itu pasangan Gerry?" tanya Amri dengan nada tak percaya.


"Bukan Pa. Dia itu ibunya Elina, pasangan Li," jelas Arion. Maria dan Amri ber oh ria.


"Halo semua, perkenalkan saya Elina Anjasmara, kekasih Li," ujar Elina ramah memperkenalkan dirinya.


"Aku Marlena, ibu dari Elina. Kau berdua pasti adik Gerry kan? Jika anakku menikah dengan kakakmu ini, kalian harus memperingati dan mengawasi kakak kalian ini agar tak menyakiti putriku," ujar Marlena berkacak pinggang. Menatap tajam Li kembali memberi peringatan.


Lila dan Raina berpandangan.


"Baik. Tetapi jika anak Anda yang menyala maka kami yang akan mengeksekusinya," jawab Raina membalas peringatan Marlena.


"Hm," gumam Marlena.


"Kakak ipar, ayo kita berfoto. Kami belum berfoto denganmu," ajak Sam merangkul Lila.


"Oke," jawab Karina. Mereka segera mengambil pose. Marlena dan Elina pun turut berfoto. Potograper segera bersiap dalam posisi. Siap menjepret dengan kameranya.


Karina dan lainnya larut dalam sua foto. Keluarga inti kedua mempelai lelaki ikut bergabung setelah selesai menyapa para tamu mereka. 


"Eh, kuat gak pelaminannya? Nanti jebol jadi ambyar?" tanya kakek Tio saat semua telah selesai berfose.


"Kakek, kau meragukan kontruksi hotel ini?" tanya Karina balik. 


"Ya gak papa kan? Coba lihat jumlah kita sekarang. 6 tambah 6 tambah 2 tambah 4 jadinya 18 orang, kalau zaman kakek saya dulu sudah jebol," terang kakek Tio yang membuat semuanya menepuk dahi mereka.


"Kau ini, itu zaman tahun berapa? Ini tahun berapa, kayak gak pernah undangan saja kau ini. Ingat dulu waktu kita menikah, berapa banyak tamu yang naik ke pelaminan?" kesal nenek Asmina mencubit perut kakek Tio.


"Hmph. Kakek kalau takut turun, ya turun saja," dengus Angga.


"Tak perlu. Aku percaya ini kuat. Jika jebol mungkin sudah takdir," sahut kakek Tio. 


Semua mengangguk. Dan lanjut bersua foto. Mulai dari gaya formal, semi formal, sampai gaya absurd sekalipun. Mereka tak merasa terganggu dengan tatapan para tamu. Apa salahnya mengekspresikan kebahagiaan bersejarah sekali seumur hidup?

__ADS_1


Para tamu pun ada yang mengambil handphone mengabadikan moment kebersamaan tiga keluarga besar itu.


__ADS_2