Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 360


__ADS_3

Enji melangkah keluar dari kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 07.00. Menuruni tangga ternyata yang lain sudah berkumpul di meja makan. Meja makan  panjang dan lebar yang mampu menampung mereka. Terlihat satu kursi yang kosong di sebelah Arion. 


"Morning," sapa Enji.


"Morning too, Zi."


Dijawab serentak yang membuat Enji mendengus senyum.


"Zi."


Enji menoleh saat Rian memanggilnya.


"Sorry atas ucapanku tadi malam. Aku nggak tahu kalau sekarang kamu sendiri," sesal Rian.


Enji menaikkan satu alisnya.


"Ooo aku sudah melupakannya. Santai saja, brother," sahut Enji yang membuat Rian bernafas lega.


"Kalian sarapan duluan saja. Aku mau ke dapur dulu," ucap Enji.


"Lekas selesai apa yang mau kau lakukan. Kita sarapan bersama!"tegas Karina, melirik Enji tajam.


Enji menelan ludah, mengangguk dan segera menuju dapur.


Di dapur, Enji mencari kopi instan di lemari penyimpanan. Setelah mencari begitu lama, akhirnya Enji menemukan apa yang ia cari. Segera Enji merebus air untuk menyeduh kopi. 


Saat menunggu air mendidik, Enji mengedarkan pandang mengamati dapur. Tatapannya terkunci pada satu titik. Titik itu berada di sebelah kulkas dan sangat mirip dengan pintu sebuah lift. Enji menghampiri titik itu, mencari tombol seandainya itu memang sebuah lift. Sayangnya Enji tidak menemukan tombol apapun.


Enji menggaruk kepalanya bingung. Ia tidak heran jika seandainya Karina membangun ruang rahasia. Di kediamannya saja, Karina membangun garasi dan ruang bawah tanah. 


Enji kemudian mengingat mekanisme yang Karina gunakan untuk membuka pintu rahasia. Mekanisme yang tidak hanya satu, membuat Enji harus mencobanya satu persatu. 


Dari menginjak-injak lantai, meraba dinding yang berada di luar titik, mode suara, hingga membuka kulkas. Enji menyentuh dagunya saat tidak ada yang tepat. 


"Atau pakai kartu akses? Tapi di mana nempelinnya?"gumam Enji, menatap titik tersebut.


Saat masih tenggelam berpikir, tiba-tiba titik tersebut terbuka. Titik yang mirip dengan pintu lift itu kini terbuka lebar. Enji dan siapa yang berada di lift tersebut terkejut, terbelalak tidak percaya. 


"Bayu/ Ayah?!"seru Enji dan salah seorang anak di dalam lift tersebut.


"Bagaimana bisa Ayah/kau berada di sini?"seru keduanya lagi. 


Ya titik tersebut memanglah sebuah lift. Di dalam lift tersebut adalah Bayu, Syaka, dan ke delapan anak lainnya yang meninggalkan markas untuk belajar.


Syaka menyuruh Bayu keluar. Bayu menatap lekat Enji begitu juga sebaliknya.


"Kalian keluarlah lebih dulu. Kami akan segera menyusul," ucap Syaka pada kedelapan rekannya.


"Si," jawab mereka serentak, meninggalkan Enji, Bayu, dan Syaka.


"Ayah … ini benar kau kan? Aku tidak bermimpi kan?"tanya Bayu dengan suara bergetar menahan tangis.


"Anakku, ini Ayah Sayang. Kamu tidak bermimpi," jawab Enji, matanya memerah.


"Tapi bukankah ayah masih koma? Dan bagaimana mungkin kemari? Aku pasti berhalusinasi," ucap Bayu menggeleng keras.


Tak!


Enji menyentil dahi Bayu.


"Kau menyumpahi aku tidur selamanya hah?"geram Enji.


"Tidak! Aku selalu berdoa agar ayah cepat sadar. Ayah aku sangat merindukanmu!"bantah Bayu.


"Anak tengil, ayah juga sangat merindukanmu!"


Ayah dan anak yang telah berpisah selama sembilan bulan itu saling berpelukan melepas kerinduan yang bersarang di dalam hati. Syaka yang menjadi penonton, mengusap 


sudut matanya yang memanas.


"Ayah aku sangat bahagia kau sudah sadar," ucap Bayu.


"Aku juga senang melihatmu baik-baik saja," sahut Enji.


"Tapi tunggu!"

__ADS_1


Bayu melepas pelukannya.


"Ayah kamu benar-benar baik-baik saja kan? Sebelum Ayah baik seperti ini apakah Ayah mengalami lumpuh, hilang ingatan, geger otak, atau operasi lanjutan?"cerca Bayu menatap lekat tubuh Enji.


"Selain hilang ingatan akan tidak mengalami itu," jawab Enji.


"Hilang ingatan sebagian? Itu artinya apa Ayah …."


"Tidak ingat. Aku tidak mengingat apapun tentangnya. Sekarang ayah dan dia sudah bukan kekasih. Maafkan ayah Nak. Insiden itu terjadi karena keegoisan Ayah," sesal Enji, kembali memeluk Bayu.


"Tidak Ayah. Itu adalah salahku. Seandainya saja…."


"Shut."


Enji meletakkan telunjuknya di bibir Bayu.


"Semua sudah berlalu. Jangan lagi mengingat ataupun menyesali masa lalu," ujar Enji lembut, telunjuknya naik mengusap bulir kristal yang membasahi pipi Bayu.


"Baik, Ayah. Tapi bagaimana Ayah bisa berada di sini?"tanya Bayu, melakukan hal yang sama.


"Ayah liburan bersama yang lain. Mereka ada di ruang makan. Kalau kamu?"tanya Enji.


"Tentu saja belajar," jawab Bayu.


"Jadi kalian belajar di ruang rahasia?"


"Ya. Ayah kemampuan bahasaku meningkat drastis. Aku sudah menguasai enam bahasa," ucap Bayu.


"Benarkah?"


"Emm. Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Korea dan Mandarin."


"Good! Bagaimana denganmu, Syaka?"


Enji mencari Syaka saat tidak mendapati anak itu di tempatnya. Ternyata Syaka berada di dekat kompor. Karena rasa bahagia bertemu dengan Bayu, Enji sampai lupa bahwa ia sedang merebus air. Untung ada Syaka yang sigap mematikan kompor.


"Ah saya hanya mengusai tiga bahasa, Tuan. Inggris, Jerman, dan Mandarin. Kecepatan saya belajar masih jauh di bawah Bayu. Terlebih saya lebih menonjol di fisik ketimbang IQ," jawab Syaka.


Enji mengangguk.


"Pergilah," sahut Enji. 


Bayu dan Syaka meninggalkan dapur sedangkan Enji menyeduh kopinya kemudian menyusul ke meja makan.


Saat Bayu melihat Karina, ia ingin berteriak memanggil Karina. Akan tetapi Bayu urungkan. Syaka menepuk pundak Bayu dengan mata bertanya.


Bayu menggeleng pelan.


"Ayo," ajak Bayu, melangkah tegas.


Syaka berdecak lidah, mengikuti langkah Bayu.


"Mengapa kau lama …."


Belum selesai Rian protes, semua mata di meja makan, kecuali Karina yang hanya menaikkan satu alisnya terbelalak melihat Bayu dan Syaka. 


"Bayu?!"


"Queen," sapa Bayu dan Syaka bersamaan, membungkuk hormat pada Karina.


Karina mengangguk.


"Sejak kapan kalian berada di sini?"tanya Karina datar.


"Kemarin pagi, Queen," jawab Bayu.


"Dari mana pelatih kalian tahu tempat ini dan di mana kalian seharian semalam?"tanya Karina lagi.


"Kami tidak tahu pasti darimana pelatih tahu lokasi ini. Kami hanya mengikuti arahan beliau. Selama di sini, kami berada di ruang rahasia dan baru keluar untuk latihan praktek," jelas Syaka.


Karina mengangguk paham.


"Di mana dia?"tanya Karina.


"Beliau masih di ruang rahasia, Queen."

__ADS_1


"Baiklah. Kalian boleh pergi," ujar Karina.


Bayu dan Syaka kembali memberi hormat Karina serta berpamitan pada yang lain. 


Arion, Li, dan Gerry menatap heran Karina. 


"Posisinya sekarang adalah anggotaku maka ia harus bertindak layaknya seorang bawahan kepada pimpinan. Bayu sudah semakin dewasa," ucap Karina tegas.


"Itu benar. Anakku sudah dewasa," timpal Enji yang baru masuk, segera duduk di samping Arion.


"Pantas saja lama, ternyata ada adegan pelepasan rindu," kekeh Gerry.


"Lekaslah sarapan. Setelah ini kita akan menjelajahi bawah laut," ujar Karina.


"Karina maksudmu kita akan menyelam?"tanya Dae-Hyun, leader Star Boy.


"Hm."


Karina masih berada di meja makan dengan seorang pria paru baya. Yang lain menyiapkan keperluan untuk menyelam, terlebih urusan anak yang tetap berada di istana.


Pria itu menunduk dalam menghadapi tatapan tajam Karina.


"Darimana kau tahu istana ini? Dan bagaimana dengan izin?"tanya Karina dingin.


"Queen … apakah Anda lupa bahwa Anda mempercayakan istana ini pada saya? Saya adalah bawahan yang mengawasi jalannya pembangunan istana. Anda juga yang memberikan kartu akses pada saya. Hamba mohon ampun jika hamba menggunakan istana ini untuk belajar tanpa izin dari Anda."


Pria itu langsung berlutut.


Dahi Karina berkerut dalam, mengingat.


"Hamba bersedia dihukum atas kelancangan hamba ini," ujarnya lagi.


"Aku ingat sekarang. Kali ini aku mengampunimu!"tegas Karina.


"Terima kasih, Queen," ucap pria itu lega.


"Tadi Bayu mengatakan bahwa kalian akan latihan praktek. Latihan apa itu?"


"Menjalankan kapal selam, Queen."


"Kapal selam? Kau benar-benar mendidik mereka menjadi prajurit tangguh di medan apapun," ucap Karina.


"Pergilah. Mereka sudah menunggu untuk latihan," ujar Karina, berdiri dan meninggalkan meja makan.


"Saya akan melakukan yang terbaik untuk mendidik mereka. Saya yakin Anda akan puas dengan hasilnya kelak," ujarnya, melangkah keluar dari istana.


Tadinya Karina berniat untuk menjelajahi laut menggunakan kapal selam. Akan tetapi diurungkan karena para nahkoda dan awaknya masih berlajar. Alhasil Karina memutar kegiatan untuk menyelam.


Saat ini mereka telah berada di atas kapal. Karina, Arion, Sam, Elina, Calvin, Raina, Satya, Rian, Darwis, Li, dan Enji serta Star Boy sudah mengenakan lengkap pakaian selam juga tabung udara untuk mereka diving. Sedangkan yang lain kecuali Mira dan Riska akan melakukan snorkeling.


Dalam hitungan ketiga, mereka masuk ke dalam air. Yang snorkeling langsung mengeksploitasi keindahan laut di kedalaman maksimal 5 meter sedangkan yang diving menuju ke area yang lebih dalam. 


Terumbu karang serta aneka biota laut langsung menyambut mereka. Aneka jenis ikan penghuni terumbu karang berenang tanpa terganggu dengan orang-orangku yang berenang di dekat mereka. 


Warna yang bervariasi sangat mampu membuat mata fresh. 


Sedangkan yang diving mendapati  biota laut yang tidak didapati pada kedalaman snorkeling. 


Karina menunjuk ke arah beberapa hiu karang yang asyik berenang di antara terumbu karang. Selain itu mereka juga mendapati pari manta, penyu, ikan napoleon, tuna, juga hiu lonjor.


Sementara yang lain menikmati kegiatan snorkeling dan diving, Riska dan Mira duduk bersantai atas kapal pesiar, menikmati keindahan laut dari atas juga pulau-pulau hijau yang tersebar di beberapa titik. Angin yang bertiup, mengibarkan rambut mereka.


Mereka tetap bisa menikmati keindahan bawah laut dari atas dengan siaran langsung dari bawah.


Riska dan Mira tertegun sejenak melihat sekumpulan lumba-lumba yang berenang mendekati kapal.


"Kakak … bagaimana bisa semua biota ini hidup dalam satu kawasan? Ini lebih lengkap daripada tempat menyelam terkenal di negara kita," ujar Riska heran.


"Karena kawasan pantai dan laut ini di bawah kekuasaan Karina. Yang artinya ini adalah wilayah konservasi. Coba lihat hiu lonjor ini, di negara kakak ini sudah hampir terancam punah," ujar Mira.


"Artinya akan lebih banyak biota lain yang belum kita lihat?"


"Kakak sudah mencari tahu dari para pelayan. Di sisi barat pulau ada lokasi penangkaran. Jika cuacanya mendukung kita akan melihatnya sore nanti," jawab Mira.


"Wah! Ini benar-benar pulau impian!"seru Riska kagum.

__ADS_1


Mira tersenyum lebar. Riska yang baru melihat beberapa saja sudah terkagum dan terheran apalagi dirinya?


__ADS_2